The Paradox of Social Comparison: Mengapa Membandingkan Diri dengan Orang Lain Lebih Sering Meracuni daripada Memotivasi
Pernahkah Anda membuka media
sosial, lalu melihat teman Anda
sedang liburan, yang lain baru
membeli mobil, yang lain lagi
menerima penghargaan. Awalnya
hanya scroll, tetapi semakin lama ada
rasa tidak enak. Anda membandingkan
hidup Anda dengan hidup mereka.
Lalu Anda merasa kecil. Padahal
sebelumnya Anda baik-baik saja.
Inilah yang disebut The Paradox
of Social Comparison.
Paradoks ini mengajarkan bahwa
membandingkan diri dengan
orang lain bisa menjadi dua hal.
Di satu sisi, perbandingan bisa
menyalakan semangat. Anda melihat
orang sukses, lalu merasa termotivasi.
Tetapi di sisi lain, perbandingan juga
bisa meracuni. Karena yang Anda
lihat biasanya hanya bagian depan
mereka, bukan isi perjuangannya.
Jika tidak hati-hati, Anda akan
merasa kalah terus.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Perbandingan Sosial
Mempengaruhi Suasana Hati
dan Kesejahteraan
Eksperimen Festinger (1954):
Teori Perbandingan Sosial
Leon Festinger mengembangkan teori
perbandingan sosial yang
menyatakan bahwa manusia memiliki
dorongan alami untuk mengevaluasi
dirinya dengan membandingkan diri
dengan orang lain. Ini bukan hal yang
buruk. Perbandingan membantu kita
memahami posisi kita dan
menetapkan standar.
Tetapi Festinger juga menemukan
bahwa arah perbandingan itu
menentukan efeknya. Perbandingan
ke atas, yaitu membandingkan diri
dengan orang yang lebih baik,
bisa memotivasi jika dilakukan
dengan benar. Tetapi bisa juga
melukai jika Anda merasa tidak
mampu mengejar.
Perbandingan ke bawah,
yaitu membandingkan diri dengan
orang yang lebih rendah, bisa
memberi rasa syukur. Tetapi juga
bisa membuat Anda sombong dan
berhenti berusaha. Jadi,
perbandingan sosial adalah pedang
bermata dua.
Eksperimen Vogel, Rose, Roberts,
dan Eckles (2014): Media Sosial
dan Perbandingan Sosial
Erin Vogel dan timnya melakukan
penelitian tentang bagaimana media
sosial memicu perbandingan sosial
yang merugikan. Partisipan diminta
mengingat penggunaan media sosial
mereka dan menilai seberapa sering
mereka membandingkan diri dengan
orang lain.
Hasilnya, partisipan yang lebih sering
membandingkan diri dengan
orang lain di media sosial melaporkan
tingkat kecemasan dan depresi yang
lebih tinggi. Mereka juga memiliki
harga diri yang lebih rendah. Media
sosial memperbesar perbandingan
ke atas, karena yang ditampilkan
hanyalah momen-momen terbaik.
Vogel menyimpulkan bahwa media
sosial memperburuk perbandingan
sosial karena ia menyajikan versi
hidup yang sudah disaring. Anda
membandingkan hidup Anda yang
utuh, termasuk bagian jeleknya,
dengan cuplikan terbaik dari hidup
orang lain.
Mengapa The Paradox of Social
Comparison Begitu Efektif?
Otak Anda cenderung mengambil
jalan pintas. Ia membandingkan apa
yang terlihat, bukan apa yang
sebenarnya. Di era media sosial, yang
terlihat itu sudah disaring.
Jadi semakin timpang.
Anda membandingkan hidup Anda
yang utuh dengan hidup orang lain
yang hanya bagian bagusnya.
Anda melihat teman yang liburan,
tetapi tidak melihat utangnya. Anda
melihat rekan yang dipuji atasan,
tetapi tidak melihat lelahnya. Anda
melihat puncak karier orang lain,
tetapi tidak melihat proses
panjangnya. Yang Anda lihat hanyalah
hasil akhir, dan itu membuat Anda
merasa kekurangan.
Paradoksnya adalah Anda pikir
membandingkan akan membuat Anda
lebih semangat. Padahal jika dasarnya
iri, itu malah membuat Anda lemas.
Anda pikir hidup orang lain lebih enak.
Padahal yang Anda lihat hanyalah
highlight, bukan behind the scene.
Tiga Langkah Keluar dari
The Paradox of Social
Comparison: Kisah Rina yang
Merasa Hidupnya Biasa Saja
Untuk memahami cara kerja paradoks
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia sering merasa hidupnya tidak
sebaik teman-temannya.
Langkah 1: Sadari Bahwa Anda
Sedang Melihat Cuplikan,
Bukan Keseluruhan
Rina membuka media sosial.
Ia melihat teman SMA-nya baru
pulang dari liburan ke luar negeri.
Ia melihat foto makanan mahal
dan pemandangan indah.
Pikiran: “Hidupnya enak sekali.
Dulu kita sama-sama.
Sekarang dia sudah sukses.”
Rina merasa kecil. Tetapi kemudian
ia bertanya, “Apa yang aku lihat ini
utuh? Apa aku tahu perjuangannya,
masalahnya, dan biaya yang dia
keluarkan?”
Rina sadar bahwa ia hanya melihat
beberapa detik dari hidup temannya
itu. Ia tidak tahu sisanya.
Langkah 2: Alihkan
Perbandingan ke Diri Sendiri
Rina memutuskan untuk berhenti
membandingkan dirinya dengan
temannya. Ia mulai membandingkan
dirinya hari ini dengan dirinya
kemarin.
Rina: “Tahun lalu aku belum punya
tabungan. Sekarang sudah mulai.
Tahun lalu aku belum berani ikut
pelatihan. Sekarang sudah selesai
satu.”
Perbandingan ini terasa lebih adil.
Rina melihat bahwa ia juga sedang
maju, meskipun tidak secepat
temannya.
Langkah 3: Gunakan
Perbandingan untuk Belajar,
Bukan untuk Menyiksa
Rina masih melihat pencapaian
temannya. Tetapi sekarang ia tidak
merasa iri. Ia merasa penasaran.
Rina: “Apa yang dia lakukan sampai
bisa seperti itu? Aku bisa belajar
dari caranya.”
Rina mulai mencari tahu. Ia bertanya
langsung kepada temannya tentang
perjalanannya. Dari situ,
ia mendapatkan wawasan yang tidak
ia dapatkan dari foto-foto di media
sosial.
Contoh Nyata dengan Dialog
Pikiran
1. Melihat Rekan yang
Dipromosikan
Raka melihat rekan kerjanya, Bima,
dipromosikan. Raka merasa iri.
Pikiran: “Kenapa dia yang naik?
Padahal aku juga kerja keras.”
Raka mulai membandingkan dirinya
dengan Bima. Ia merasa tidak
dihargai. Tetapi kemudian ia bertanya,
“Apa yang Bima lakukan sampai
dipromosikan?”
Raka mengamati. Ternyata Bima sering
mengambil tanggung jawab tambahan
dan aktif dalam proyek besar.
Raka belajar dari itu. Ia mulai
mengambil inisiatif lebih banyak.
Beberapa bulan kemudian, Raka juga
mendapat kesempatan naik.
2. Melihat Teman yang
Punya Usaha
Maya melihat temannya, Rina,
punya usaha yang sukses.
Pikiran: “Enak ya punya usaha
sendiri. Kayaknya gampang.”
Maya merasa hidupnya sebagai
karyawan tidak berarti. Tetapi setelah
bertanya, ia tahu bahwa Rina memulai
usahanya dari nol, sering gagal, dan
hampir menyerah di awal.
Maya: “Ternyata tidak segampang
yang terlihat.”
Maya jadi lebih menghargai
perjuangan Rina. Ia juga belajar
bahwa setiap pencapaian butuh
proses.
3. Melihat Kehidupan
Pasangan Lain
Bima membandingkan hubungannya
dengan pasangan lain yang terlihat
mesra di media sosial.
Pikiran: “Kenapa hubunganku tidak
seromantis itu?”
Bima merasa tidak puas.
Tetapi suatu hari ia mengetahui
bahwa pasangan yang terlihat mesra
itu baru saja bertengkar hebat. Bima
sadar bahwa apa yang ia lihat
hanyalah potongan.
Bima: “Setiap hubungan punya
masalah. Hanya saja tidak semua
dipamerkan.”
Cara Keluar dari Jebakan The
Paradox of Social Comparison
Jika Anda sering merasa kecil setelah
melihat hidup orang lain, ada
beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, ingat bahwa Anda
melihat cuplikan, bukan
keseluruhan. Hidup orang lain juga
punya bagian buruk. Mereka hanya
tidak memamerkannya.
Kedua, alihkan perbandingan
ke diri sendiri. Bandingkan diri Anda
hari ini dengan diri Anda kemarin.
Itu lebih adil.
Ketiga, gunakan perbandingan
untuk belajar. Jika ada orang yang
membuat Anda kagum, pelajari
caranya. Jangan hanya fokus pada
hasilnya.
Keempat, batasi konsumsi media
sosial jika perlu. Media sosial
memperbesar perbandingan yang
tidak sehat. Beri jarak.
The Paradox of Social Comparison
mengajarkan bahwa perbandingan
bisa menjadi alat untuk tumbuh atau
racun yang melemahkan, tergantung
cara Anda menggunakannya.
Jangan menilai hidup Anda dari
cuplikan orang lain. Anda sedang
menjalani cerita yang utuh, dengan
prosesnya sendiri. Dan cerita itu
tidak bisa dibandingkan dengan
potongan terbaik dari cerita
orang lain.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya The Paradox of Social
Comparison.
Lo pasti pernah ngalamin momen
iseng buka media sosial, terus liat
temen lo liburan, yang lain baru
beli mobil, yang lain lagi dapet
penghargaan. Awalnya cuma scroll,
tapi makin lama ada rasa nggak
enak. Lo bandingin hidup lo sama
hidup mereka. Terus lo ngerasa
kecil. Padahal sebelumnya lo
baik-baik aja. Nah, ini yang namanya
The Paradox of Social
Comparison.
Simpelnya, paradoks ini ngajarin
bahwa membandingkan diri lo
dengan orang lain itu bisa jadi dua
hal. Di satu sisi, perbandingan bisa
nyalain semangat. Lo liat orang
sukses, lo jadi termotivasi.
Tapi di sisi lain, perbandingan juga
bisa ngeracunin. Karena yang lo liat
biasanya cuma bagian depan mereka,
bukan isi perjuangannya. Dan kalau
lo nggak hati-hati, lo bakal ngerasa
kalah terus.
Contoh gampangnya gini.
Lo liat temen lo posting foto lagi
makan di restoran bagus. Lo ngerasa
hidup lo biasa banget. Tapi lo nggak
liat kalau dia juga lagi pusing mikirin
utang. Lo liat rekan kerja lo dipuji
bos. Lo ngerasa nggak dihargai.
Tapi lo nggak tau kalau dia tiap
malam lembur dan nyaris burnout.
Yang lo liat cuma hasilnya, bukan
prosesnya.
Nah, kalau lo ingat, di daftar lama
kita pernah bahas Social Proof
Exploitation dan False
Consensus Effect. Dua-duanya
masih nyambung ke gimana pikiran
lo bisa digiring lewat perbandingan
sosial. Tapi bedanya, dua teknik itu
dipake untuk nguasai orang lain.
Sedangkan Paradox of Social
Comparison ini tentang lo yang nggak
sengaja nguasai diri sendiri dengan
perbandingan yang timpang.
Contoh lain, lo bandingin awal karier
lo sama puncak karier orang lain.
Jelas lo kalah. Itu kayak lo bandingin
benih sama pohon. Lo marah karena
benih belum tinggi. Padahal dia juga
butuh waktu. Tapi karena lo fokus
ke yang udah jadi, lo nggak liat
kalau lo juga lagi tumbuh.
Kenapa ini terjadi? Karena otak lo
cenderung ngambil jalan pintas. Dia
ngebandingin apa yang keliatan,
bukan apa yang sebenernya. Dan
di era media sosial, yang keliatan itu
udah disaring. Jadi makin timpang.
Lo ngebandingin hidup lo yang utuh,
termasuk bagian jeleknya, dengan
hidup orang lain yang cuma bagian
bagusnya.
Di sinilah paradoksnya. Lo pikir
ngebandingin itu bikin lo lebih
semangat. Padahal kalau dasarnya
iri, itu malah bikin lo lemes.
Dan lo pikir hidup orang lain lebih
enak. Padahal yang lo liat cuma
highlight reel, bukan behind the
scene.
Cara pakainya gampang. Kalau lo
mulai ngerasa minder pas liat hidup
orang, berhenti. Jangan lanjut scroll.
Terus tanya, “Apa yang gue liat ini
utuh, atau cuma potongan?”
Terus, alihin bandingannya. Jangan
bandingin hidup lo sama hidup
orang lain. Bandingin lo hari ini
sama lo kemarin. Itu lebih adil,
karena yang lo lawan cuma diri
lo sendiri.
Lo juga bisa pake perbandingan buat
belajar, bukan buat nyiksa. Kalau
ada orang yang hidupnya bikin lo
kagum, pelajari caranya. Jangan
cuma fokus ke hasilnya. Tanya,
“Apa yang dia lakuin sampe bisa
kayak gitu?” Itu lebih sehat.
Jadi, The Paradox of Social
Comparison itu ibarat lo lagi nonton
cuplikan film. Lo pikir itu keseluruhan
cerita. Padahal itu cuma potongan
terbaik. Kalau lo nilai hidup lo dari
cuplikan orang lain, lo bakal ngerasa
nggak pernah cukup.
Gimana? Mulai kerasa kan kenapa
ngebandingin itu lebih sering
ngeracunin kalau nggak lo
kendaliin? Kalau lo siap lanjut,
berikutnya kita bahas
The Paradox of Independence.
Ini masih nyambung, tapi kali ini
soal kenapa lo justru lebih kuat
kalau mau bersandar ke orang lain.
Stay tuned.
