buku

Buku Soul of an Octopus Sy Montgomery and HighBridge, a Division of Recorded Books, Athena: Pertemuan dengan Jiwa di Balik Akuarium

Soul of an OctopusSy Montgomery and HighBridge, a Division of Recorded Books
Soul of an Octopus
Sy Montgomery and HighBridge, a Division of Recorded Books

Sahabat, kali ini kita akan menyelami
sebuah buku yang sangat berbeda dari
yang pernah kita bahas sebelumnya.
Soul of an Octopus karya Sy
Montgomery bukanlah buku tentang
astrofisika atau sejarah perang.
Ini adalah buku tentang lautan,
tentang makhluk bertubuh lunak
dengan delapan lengan, dan tentang
pertanyaan yang mungkin tidak
pernah terpikirkan oleh kita: bisakah
seekor gurita memiliki jiwa?
Mari kita mulai dari Bab 1.

Bab 1: Athena: Pertemuan
dengan Jiwa di Balik Akuarium

Sy Montgomery adalah seorang
naturalis dan penulis yang telah
menghabiskan bertahun-tahun
menjelajahi alam liar, dari hutan
Amazon hingga pegunungan
Himalaya. Ia pernah berenang
bersama lumba-lumba, ditatap oleh
harimau, dan dikelilingi oleh ular.
Tetapi tidak ada yang
mempersiapkannya untuk pertemuan
pertamanya dengan seekor gurita.

Di New England Aquarium, Boston,
terdapat sebuah akuarium besar yang
dihuni oleh seekor gurita Pasifik
raksasa bernama Athena. Beratnya
sekitar delapan belas kilogram,
dengan lengan-lengan yang bisa
merentang lebih dari dua meter.
Ketika Montgomery pertama kali
mendekati akuarium itu, ia tidak tahu
apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu
bahwa ia ingin bertemu dengan
makhluk ini, makhluk yang konon
memiliki kecerdasan luar biasa tetapi
sangat berbeda dari apa pun yang
pernah ia temui.

Apa yang terjadi selanjutnya
mengguncang pemahamannya
tentang kesadaran. Athena tidak
bersembunyi di balik batu atau
menyemprotkan tinta seperti yang
mungkin dilakukan oleh hewan yang
ketakutan. Sebaliknya, Athena
berenang ke permukaan air dan
mengulurkan lengannya ke arah
Montgomery. Lengan itu menyentu
h kulit Montgomery, dan ia
merasakan ratusan alat pengisap
kecil yang menempel dengan lembut,
menyelidiki, menjelajahi.
Montgomery menulis:
“I was completely unprepared for
what happened next.”

(Saya benar-benar tidak siap untuk
apa yang terjadi selanjutnya.)

Sentuhan itu bukanlah sekadar refleks
atau rasa ingin tahu yang acak. Athena
tampak dengan sengaja menyelidiki
Montgomery, merasakan tekstur
kulitnya, mungkin bahkan
menciumnya. Ya, mencium. Gurita
memiliki indra penciuman di setiap
alat pengisapnya. Ketika Athena
menyentuh lengan Montgomery,
ia tidak hanya meraba. Ia juga
mencium. Ia mengumpulkan
informasi kimia tentang siapa
manusia yang berdiri di depannya.

Yang lebih mengejutkan adalah bahwa
Athena tampak bisa mengenali dan
membedakan manusia.
Para sukarelawan di akuarium
menceritakan bahwa Athena memiliki
preferensi. Ia menyukai beberapa
orang dan jelas-jelas tidak menyukai
yang lain. Ketika seseorang yang tidak
disukainya mendekat, Athena akan
menyemprotkan air ke arahnya,
sebuah tindakan yang oleh para staf
akuarium ditafsirkan sebagai ekspresi
ketidaksukaan yang sangat jelas.
Ini bukanlah perilaku hewan yang
hanya bereaksi berdasarkan insting.
Ini adalah perilaku yang menunjukkan
penilaian, memori, dan mungkin
bahkan emosi.

Montgomery kemudian membahas
anatomi gurita yang benar-benar
radikal, yang membuat makhluk ini
begitu asing bagi kita. Gurita
memiliki tiga jantung. Dua jantung
memompa darah ke insang, dan satu
jantung memompa darah ke seluruh
tubuh. Ketika gurita berenang,
jantung yang memompa ke seluruh
tubuh berhenti berdetak. Inilah
mengapa gurita lebih suka merangkak
di dasar laut daripada berenang:
berenang itu melelahkan bagi mereka.

Darah gurita berwarna biru, bukan
merah. Warna biru ini berasal dari
hemosianin, protein yang
mengandung tembaga dan berfungsi
untuk mengangkut oksigen.
Hemosianin lebih efisien daripada
hemoglobin kita di lingkungan yang
dingin dan rendah oksigen, seperti
dasar laut. Inilah salah satu adaptasi
yang memungkinkan gurita bertahan
hidup di habitat mereka.

Tetapi fitur anatomi yang paling
mencengangkan adalah lengannya.
Setiap lengan gurita memiliki sistem
sarafnya sendiri, kumpulan neuron
yang sangat besar yang beroperasi
secara independen dari otak pusat.
Sekitar dua pertiga dari seluruh
neuron gurita berada di lengannya,
bukan di kepalanya. Ini berarti
bahwa setiap lengan bisa “berpikir”
sendiri, merasakan, dan bergerak
secara otonom. Ketika sebuah
lengan terputus, ia masih bisa
merayap dan bereaksi terhadap
rangsangan selama berjam-jam.
Montgomery menggambarkannya
seolah-olah gurita memiliki
sembilan otak: satu otak pusat
di kepala, dan delapan otak kecil
di setiap lengan.

Semua ini memperkenalkan gagasan
yang paling mendasar dari buku ini:
bahwa kesadaran bisa muncul dalam
bentuk yang sepenuhnya asing.
Kita cenderung berpikir bahwa
kecerdasan harus terlihat seperti
kecerdasan kita, bahwa kesadaran
harus terlihat seperti kesadaran kita.
Gurita membantah semua anggapan
itu. Mereka adalah makhluk yang
paling dekat dengan alien yang
pernah kita temui di planet ini.
Mereka tidak memiliki tulang
belakang, tetapi mereka bisa
memecahkan teka-teki. Mereka tidak
memiliki korteks serebral seperti kita,
tetapi mereka bisa mengenali wajah
manusia. Mereka hidup hanya
selama tiga sampai lima tahun,
tetapi dalam waktu singkat itu,
mereka belajar, beradaptasi, dan
menjalin hubungan.

Di akhir bab ini, Montgomery tidak
lagi bisa memandang gurita sebagai
sekadar hewan akuarium yang
menarik. Athena telah membuka
pintu ke dunia yang sama sekali baru.
Ketika Athena mati beberapa bulan
kemudian, setelah bertelur dan
menjaga telur-telurnya tanpa makan
selama berbulan-bulan sampai
akhirnya ia sendiri mati, Montgomery
merasakan kehilangan yang
mendalam. Ia baru saja mulai
mengenal makhluk ini. Ia baru saja
mulai memahami bahwa di balik
mata yang tampak seperti celah
horizontal itu, ada sesuatu yang
melihat kembali padanya, sesuatu
yang berpikir, merasakan, dan
mungkin, dengan caranya sendiri
yang asing, peduli.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Gaes, kali ini kita nyebur ke lautan
yang dalem, secara harfiah dan batin.
Bukunya beda banget dari yang
pernah kita obrolin.
Soul of an Octopus karya Sy
Montgomery ini bukan soal politik
atau bintang di langit. Ini buku
tentang makhluk bertubuh lunak
dengan delapan lengan yang tinggal
di dasar laut. Dan satu pertanyaan
besar yang mungkin gak pernah
kepikiran sama lo: bisakah seekor
gurita punya JIWA?
Yuk, kita mulai dari Bab 1.

Bab 1: Athena, Ketemu Jiwa
di Balik Kaca Akuarium

Sy Montgomery ini naturalis dan
penulis yang udah keliling alam liar.
Dia udah main ke hutan Amazon,
ke Himalaya, berenang sama
lumba-lumba, ditatap harimau,
dikepung ular. Tapi gak ada yang
nyiapin mentalnya buat pertemuan
pertama sama seekor gurita.

Di New England Aquarium, Boston,
ada akuarium gede yang isinya
gurita Pasifik raksasa. Namanya
Athena. Beratnya sekitar 18 kilogram,
dengan lengan yang kalo direntang
bisa nyampe lebih dari 2 meter.
Bayangin segede itu.
Pas Montgomery pertama kali
nyamperin, dia gak tau apa yang
bakal terjadi. Dia cuma pengen
ketemu makhluk ini, yang katanya
super cerdas tapi BENER-BENER
ASING dari apapun yang pernah
dia temuin.

Apa yang terjadi selanjutnya?
Itu ngeguncang pemahamannya soal
KESADARAN. Athena gak ngumpet
di balik batu atau nyemprotin tinta
kayak hewan ketakutan. Enggak.
Athena malah berenang ke permukaan
air. Dia JULURIN LENGANNYA
ke arah Montgomery. Lengannya
nyentuh kulit Montgomery.
Dan Montgomery ngerasain RATUSAN
alat pengisap kecil yang nempel
LEMBUT. Menyelidiki. Menjelajahi.
Montgomery nulis: 
“I was completely
unprepared for what happened next.”
 Gue bener-bener gak siap.

Sentuhan itu bukan cuma refleks atau
penasaran acak. Athena kayak
SENGAJA nyelidikin Montgomery.
Ngerasain tekstur kulitnya. Mungkin
bahkan… NGECIUM. Serius, gurita
punya indra penciuman di SETIAP
alat pengisapnya. Jadi pas Athena
nyentuh lengan Montgomery,
dia gak cuma ngeraba. Dia juga
NGENDUS. Dia ngumpulin info
kimia tentang siapa manusia yang
berdiri di depannya. Kayak ngobrol
pake kulit.

Yang lebih gila lagi, Athena kayak
BISA ngenalin dan ngebedain
manusia. Para sukarelawan
di akuarium cerita, Athena itu
PUNYA SELERA. Dia suka beberapa
orang, dan jelas-jelas GAK SUKA
sama yang lain. Kalo orang yang gak
dia suka mendekat?
Athena bakal NYEMPROTIN AIR
ke arahnya. Para staf akuarium
yakin ini ekspresi KESEBELAN
yang jelas banget. Ini bukan
perilaku hewan yang cuma nurutin
insting. Ini perilaku yang nunjukin
PENILAIAN, MEMORI, dan
mungkin… EMOSI. Ada perasaan
di situ.

Montgomery terus ngebahas anatomi
gurita yang BENER-BENER
RADIKAL. Bikin makhluk ini ASING
BANGET buat kita. Gurita punya
TIGA JANTUNG. Dua jantung
mompa darah ke insang, satu jantung
mompa darah ke seluruh tubuh. Pas
gurita berenang, jantung yang mompa
ke seluruh tubuh BERHENTI.
Makanya gurita lebih milih
ngerangkak di dasar laut daripada
berenang. Berenang itu BIKIN
CAPEK BANGET buat mereka.

Darah gurita warnanya BIRU, bukan
merah. Birunya dari HEMOSIANIN,
protein yang pake TEMBAGA buat
ngangkut oksigen, bukan besi kayak
hemoglobin kita. Hemosianin ini
LEBIH EFISIEN di lingkungan yang
dingin dan rendah oksigen, kayak
di dasar laut. Cocok banget kan
sama gaya hidup mereka?

Tapi bagian anatomi yang PALING
BIKIN MELONGO adalah
LENGANNYA. Setiap lengan gurita
punya SISTEM SARAF SENDIRI.
Kumpulan neuron GEDE BANGET
yang beroperasi MANDIRI dari otak
pusat. Sekitar DUA PERTIGA dari
seluruh neuron gurita ada
di LENGANNYA, bukan di kepala.
Ini artinya, setiap lengan bisa
“BERPIKIR” sendiri. Ngerasain
sendiri. Gerak sendiri secara otonom.
Kalo ada lengan yang putus, dia
masih bisa NGERAYAP dan bereaksi
terhadap rangsangan selama
berjam-jam. Montgomery
ngegambarinnya, gurita itu kayak
punya SEMBILAN OTAK. Satu
otak pusat di kepala, dan DELAPAN
OTAK KECIL di setiap lengan.

Semua ini ngenalin gagasan paling
mendasar dari buku ini. Kalo
KESADARAN itu bisa muncul dalam
bentuk yang SEPENUHNYA ASING.
Kita cenderung mikir kecerdasan
harus mirip kecerdasan kita.
Kesadaran harus mirip kesadaran kita.
Nah, gurita NGEBANTAH semua
anggapan itu. Mereka adalah makhluk
yang PALING DEKET DENGAN
ALIEN yang pernah kita temuin
di planet ini. Mereka gak punya
tulang belakang, tapi bisa mecahin
teka-teki. Gak punya korteks serebral
kayak kita, tapi bisa ngenalin muka
manusia. Hidup cuma tiga sampe
lima tahun, tapi dalam waktu
singkat itu, mereka BELAJAR,
BERADAPTASI, dan NJALIN
HUBUNGAN.

Di akhir bab ini, Montgomery gak bisa
lagi ngeliat gurita cuma sebagai hewan
akuarium yang menarik. Athena udah
BUKA PINTU ke dunia yang sama
sekali baru. Pas Athena mati beberapa
bulan kemudian, setelah bertelur dan
JAGA telurnya TANPA MAKAN
berbulan-bulan sampe akhirnya dia
sendiri mati, Montgomery ngerasain
KEHILANGAN YANG MENDALAM.
Dia baru aja mulai KENAL makhluk
ini. Baru aja mulai PAHAM. Kalo
di balik mata yang keliatan kayak
celah horizontal itu, ada SESUATU
YANG NGELIAT BALIK ke dia.
Sesuatu yang BERPIKIR,
NGERASAIN, dan mungkin, dengan
caranya sendiri yang asing, PEDULI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *