Cahaya Tak Kasatmata (Invisible Light)
Sahabat, kita lanjutkan ke Bab 9 dan
Bab 10 dari buku Astrophysics for
People in a Hurry.
Setelah memahami mengapa planet
dan bintang berbentuk bulat, Neil
deGrasse Tyson kini membawa kita
melampaui apa yang bisa dilihat
oleh mata kita. Ada seluruh alam
semesta yang tersembunyi dalam
cahaya yang tidak kasatmata, dan
di tata surya kita sendiri, ada jauh
lebih banyak hal daripada sekadar
Matahari dan delapan planet.
Bab 9: Cahaya Tak Kasatmata
(Invisible Light)
Neil deGrasse Tyson membuka bab
ini dengan satu kenyataan yang
merendahkan hati: mata kita,
sehebat apa pun mereka, hanya
menangkap secuil kecil dari realitas.
Cahaya tampak, pelangi warna dari
merah hingga ungu yang bisa kita
lihat, hanyalah sepotong kecil dari
spektrum elektromagnetik yang jauh
lebih luas. Di luar merah,
ada inframerah, gelombang mikro,
dan gelombang radio. Di luar ungu,
ada ultraviolet, sinar-X, dan sinar
gamma. Seluruh alam semesta
bersinar terang dalam panjang
gelombang ini, tetapi kita buta
terhadapnya.
Tyson menyebut bab ini sebagai
perayaan terhadap spektrum
elektromagnetik di luar cahaya
tampak. Berkat teknologi, kita tidak
lagi buta. Kita telah menciptakan
“mata” baru yang bisa melihat apa
yang tidak bisa dilihat oleh mata
biologis kita. Setiap jenis teleskop,
yang disetel ke panjang gelombang
yang berbeda, mengungkapkan alam
semesta yang sama sekali berbeda.
Teleskop radio, misalnya, menangkap
gelombang radio terpanjang. Dengan
teleskop radio, kita bisa melihat awan
hidrogen dingin yang tidak
memancarkan cahaya tampak sama
sekali. Awan-awan ini adalah tempat
kelahiran bintang-bintang baru. Kita
juga bisa melihat pulsar, bintang
neutron yang berputar sangat cepat
dan memancarkan denyut radio yang
teratur seperti detak jam kosmik.
Kita bisa melihat inti galaksi aktif,
di mana lubang hitam supermasif
melahap materi dan memuntahkan
jet energi yang sangat besar.
Teleskop inframerah memungkinkan
kita melihat melalui awan debu tebal
yang menghalangi cahaya tampak.
Di dalam awan-awan ini,
bintang-bintang baru sedang
terbentuk, masih terbungkus dalam
kepompong gas dan debu.
Cahaya tampak tidak bisa
menembusnya, tetapi inframerah bisa.
Dengan teleskop inframerah, kita bisa
menyaksikan kelahiran bintang secara
langsung.
Teleskop ultraviolet, sinar-X, dan sinar
gamma membawa kita ke alam
semesta yang paling ekstrem dan
paling keras. Di sini kita melihat
bintang-bintang masif yang membakar
dirinya sendiri dengan cepat,
permukaannya bersuhu puluhan ribu
derajat Celsius. Kita melihat sisa-sisa
supernova, di mana gelombang kejut
dari ledakan bintang memanaskan gas
di sekitarnya hingga jutaan derajat,
membuatnya bersinar dalam sinar-X.
Kita melihat pusat galaksi, di mana
lubang hitam supermasif dengan
gravitasi yang begitu kuat sehingga
materi yang jatuh ke dalamnya
dipanaskan hingga suhu yang tidak
bisa dibayangkan, memancarkan
sinar-X dan sinar gamma dalam
jumlah yang sangat besar.
Tyson menekankan bahwa setiap
“mata” baru ini merevolusi
pemahaman kita tentang alam
semesta. Sebelum teleskop radio,
kita tidak tahu tentang pulsar.
Sebelum teleskop sinar-X, kita tidak
tahu tentang lubang hitam yang
sedang melahap materi. Sebelum
teleskop inframerah, kita tidak bisa
melihat ke dalam awan tempat bintang
dilahirkan. Kosmos yang tadinya gelap
kini menjadi terang benderang oleh
informasi, bukan hanya oleh cahaya
tampak, tetapi oleh seluruh spektrum
elektromagnetik. Alam semesta
berbicara kepada kita dalam banyak
bahasa, dan sekarang kita memiliki
penerjemahnya.
Bab 10: Di Antara Planet
(Between the Planets)
Jika kamu melihat diagram tata
surya di buku pelajaran sekolah,
kamu mungkin melihat Matahari
di tengah, dikelilingi oleh delapan
planet yang berbaris rapi dalam orbit
melingkar. Neil deGrasse Tyson
mengatakan bahwa gambar itu
menyesatkan. Tata surya tidak
hanya berisi Matahari dan delapan
planet. Di antara planet-planet itu,
ada wilayah-wilayah luas yang
dipenuhi oleh jutaan objek kecil:
asteroid, komet, dan planet kerdil.
Antara orbit Mars dan Jupiter,
terdapat sabuk asteroid. Ini adalah
kumpulan batuan ruang angkasa
dengan berbagai ukuran, dari
sebesar kerikil hingga sebesar
gunung. Asteroid terbesar di sabuk
ini adalah Ceres, yang begitu besar
sehingga diklasifikasikan sebagai
planet kerdil. Asteroid-asteroid ini
adalah sisa-sisa dari pembentukan
tata surya, material yang tidak
pernah berhasil bergabung menjadi
planet karena gravitasi Jupiter yang
sangat kuat terus-menerus
mengganggu mereka.
Jupiter, dengan massanya yang sangat
besar, memainkan peran ganda dalam
tata surya kita. Tyson menjelaskan
bahwa gravitasi Jupiter bertindak
sebagai perisai sekaligus ancaman
bagi Bumi. Sebagai perisai, Jupiter
menarik banyak asteroid dan komet
yang seharusnya bisa menabrak
Bumi. Gravitasi raksasa planet ini
menangkap mereka atau
membelokkan mereka menjauh.
Tanpa Jupiter, Bumi mungkin akan
lebih sering dihantam oleh
benda-benda langit yang mematikan.
Tetapi sebagai ancaman, gravitasi
Jupiter juga bisa mengganggu orbit
asteroid di sabuk dan mengirim
mereka meluncur ke arah tata surya
bagian dalam, termasuk ke arah
Bumi. Jupiter adalah pelindung
sekaligus pengacau.
Lebih jauh lagi, di luar orbit Neptunus,
terdapat wilayah yang disebut Sabuk
Kuiper. Ini adalah rumah bagi Pluto
dan planet-planet kerdil lainnya,
serta jutaan objek es yang merupakan
sisa-sisa dari pembentukan tata surya.
Pluto, yang dulu dianggap sebagai
planet kesembilan,
kini diklasifikasikan sebagai planet
kerdil, bukan karena ia tidak
penting, tetapi karena kita telah
menemukan begitu banyak objek
serupa di Sabuk Kuiper sehingga
kita harus membuat kategori baru.
Jauh lebih luar lagi, hampir satu
tahun cahaya dari Matahari, terdapat
Awan Oort. Ini adalah awan raksasa
berbentuk bola yang berisi triliunan
komet. Awan Oort adalah sumber
dari komet-komet periode panjang,
komet yang muncul di langit Bumi
sekali setiap ribuan atau jutaan tahun.
Ketika sebuah bintang lewat terlalu
dekat dengan tata surya kita,
gravitasinya bisa mengganggu Awan
Oort dan mengirim komet meluncur
ke arah Matahari. Itulah mengapa
komet-komet muncul di langit kita:
mereka adalah pengunjung dari
pinggiran paling jauh dari tata surya,
terbangun dari tidur panjang mereka
oleh tarikan gravitasi yang halus.
Tyson menutup bab ini dengan
sebuah pengingat yang penting.
Objek-objek kecil ini, asteroid,
komet, dan planet kerdil, bukanlah
sekadar puing-puing yang tidak
berarti. Mereka adalah fosil dari
masa lalu tata surya. Mereka adalah
sisa-sisa material yang membentuk
planet-planet 4,6 miliar tahun yang
lalu. Mempelajari mereka adalah
seperti mempelajari foto-foto bayi
tata surya kita. Mereka menyimpan
petunjuk tentang bagaimana kita
sampai di sini, bagaimana Bumi
terbentuk, dan mungkin, bagaimana
kehidupan dimulai. Setiap batu
di sabuk asteroid, setiap bola es
di Sabuk Kuiper, setiap komet yang
melintasi langit malam, adalah
potongan dari sejarah kita sendiri.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut ngobrolin buku
Astrophysics for People in a Hurry.
Setelah ngerti kenapa planet dan
bintang bentuknya bulat, sekarang
Neil deGrasse Tyson ngajak kita
ngelewatin batas kemampuan mata
kita sendiri. Ternyata, ada SELURUH
ALAM SEMESTA yang tersembunyi
dalam cahaya yang gak bisa kita liat.
Terus, di tata surya kita sendiri, isinya
JAUH LEBIH RAME dari cuma
Matahari dan delapan planet yang
biasa lo liat di buku sekolah.
Bab 9: Cahaya Tak Kasatmata
Tyson buka bab ini dengan kenyataan
yang bikin rendah hati. Mata kita,
sepintar apapun, cuma nangkep
SECUIL KECIL dari realitas.
Cahaya tampak, warna pelangi dari
merah ke ungu yang bisa lo liat,
cuma SEPOTONG TIPIS dari
spektrum elektromagnetik yang JAUH
LEBIH LUAS. Di luar merah, ada
inframerah, gelombang mikro,
gelombang radio. Di luar ungu, ada
ultraviolet, sinar-X, sinar gamma.
Seluruh alam semesta BERSINAR
TERANG dalam panjang gelombang
ini, tapi kita BUTA total. Gak bisa
ngeliat.
Tyson nyebut bab ini sebagai
PERAYAAN buat spektrum
elektromagnetik di luar cahaya tampak.
Berkat teknologi, kita gak buta lagi.
Kita udah nyiptain “MATA BARU”
yang bisa ngeliat apa yang gak bisa
diliat mata biologis kita. Setiap jenis
teleskop, yang disetel ke panjang
gelombang berbeda, NGUNGKAPIN
alam semesta yang BEDA TOTAL.
Teleskop radio, misalnya, nangkep
gelombang radio terpanjang.
Pake teleskop radio, kita bisa ngeliat
awan hidrogen DINGIN yang gak
mancarin cahaya tampak sama
sekali. Awan ini adalah TEMPAT
KELAHIRAN bintang-bintang baru.
Kita juga bisa liat pulsar, bintang
neutron yang muter cepet banget
dan mancarin denyut radio teratur
kayak DETAK JAM KOSMIK. Kita
bisa liat inti galaksi aktif, di mana
lubang hitam supermasif lagi
ngelahap materi dan muntahin jet
energi GEDE BANGET.
Teleskop inframerah bikin kita bisa
NGINTIP LEWAT AWAN DEBU
tebel yang ngahalangin cahaya tampak.
Di dalem awan ini, bintang baru lagi
DIBENTUK. Masih kebungkus
kepompong gas dan debu. Cahaya
tampak gak bisa nembus, tapi
inframerah BISA. Pake teleskop
inframerah, kita bisa NYAKSIIN
langsung proses kelahiran bintang.
Kayak punya kamera tembus
pandang buat ngeliat “dapur” kosmik.
Teleskop ultraviolet, sinar-X, dan sinar
gamma bawa kita ke alam semesta
yang PALING EKSTRIM dan PALING
BRUTAL. Di sini kita liat bintang masif
yang BAKAR dirinya sendiri dengan
cepet, permukaannya panasnya
puluhan ribu derajat. Kita liat
sisa-sisa supernova, di mana
gelombang kejut dari ledakan bintang
manasin gas sekitar sampe JUTAAN
DERAJAT, bikin dia bersinar dalem
sinar-X. Kita liat pusat galaksi,
di mana lubang hitam supermasif
dengan gravitasi super kuat bikin
materi yang jatuh ke dalemnya
DIPANASIN sampe suhu yang gak
kebayang, mancarin sinar-X dan
sinar gamma JUMLAH
GILA-GILAAN.
Tyson nekanin, setiap “mata baru” ini
MEREVOLUSI pemahaman kita.
Sebelum teleskop radio, kita gak tau
pulsar.
Pulsar itu sebenernya
BINTANG MATI yang super padet.
Bayangin lo punya bintang yang
massanya jauh lebih gede dari
Matahari kita. Pas bintang itu
kehabisan bahan bakar dan meledak
(jadi supernova), intinya runtuh jadi
bola super mungil tapi beratnya minta
ampun. Namanya bintang neutron.
Bola ini diameternya cuma sekitar
20 kilometer, tapi massanya bisa
1,5 kali Matahari. Jadi kebayang kan
padetnya kayak apa? Satu sendok teh
materi pulsar aja beratnya miliaran
ton.
Nah, pulsar ini adalah bintang neutron
yang MUTER CEPAT BANGET. Kayak
balerina yang lagi puteran,
tapi kecepatannya gila. Ada yang bisa
muter ratusan kali per detik. Sambil
muter, dia nyemburin sinar radiasi
kuat dari kutub magnetnya. Sinar ini
mirip kayak lampu sorot di mercusuar.
Setiap kali sorotannya ngadep
ke Bumi, teleskop kita nangkep sinyal
“bip” yang teratur. Makanya pulsar itu
kayak detak jantung kosmik, ritmenya
presisi banget.
Contoh gampangnya gini:
lo lagi di pantai malem-malem, terus
ngeliat mercusuar di kejauhan.
Lampunya muter terus, dan setiap kali
lampunya ngarah ke lo, lo liat kilatan
cahaya. Pulsar kerjanya mirip gitu.
Cuma ini terjadi di luar angkasa, dan
sinarnya bukan cuma cahaya biasa,
tapi gelombang radio atau sinar-X.
Ilmuwan manfaatin keteraturan
denyutnya buat ngukur waktu dengan
akurat, kayak GPS-nya alam semesta.
Jadi intinya, pulsar itu mercusuar
kosmik yang dibikin dari bintang mati
padet yang muter kenceng.
Sebelum teleskop sinar-X, kita gak tau
lubang hitam yang lagi ngelahap materi.
Sebelum teleskop inframerah,
kita gak bisa ngintip awan tempat
bintang dilahirin. Kosmos yang
tadinya gelap, sekarang jadi TERANG
BENDERANG sama informasi. Bukan
cuma oleh cahaya tampak, tapi oleh
SELURUH spektrum elektromagnetik.
Alam semesta NGOMONG ke kita
dalam BANYAK BAHASA, dan
sekarang kita udah punya
penerjemahnya.
Bab 10: Di Antara Planet
Kalo lo ngeliat diagram tata surya
di buku pelajaran, lo mungkin liat
Matahari di tengah, dikelilingi
8 planet yang berbaris rapi kayak
antrian. Neil deGrasse Tyson bilang,
GAMBAR ITU MENYESATKAN.
Tata surya tuh gak cuma isinya
Matahari dan 8 planet. Di antara
planet-planet itu, ada wilayah LUAS
yang dipenuhi JUTAAN objek kecil.
Asteroid, komet, dan planet kerdil.
Antara orbit Mars dan Jupiter, ada
SABUK ASTEROID. Ini kumpulan
batuan ruang angkasa dengan
ukuran macem-macem. Dari yang
segede kerikil sampe segede gunung.
Asteroid terbesarnya Ceres, gede
banget sampe diklasifikasiin sebagai
planet kerdil. Asteroid ini adalah
SISA-SISA pembentukan tata surya.
Material yang GAGAL gabung jadi
planet karena gravitasi Jupiter yang
SUPER KUAT terus-terusan ngusik
mereka. Jadi Jupiter tuh kayak
preman yang gangguin mereka
bikin geng sendiri.
Ngomongin Jupiter, planet gede ini
mainin PERAN GANDA di tata surya
kita. Tyson jelasin, gravitasi Jupiter
bertindak sebagai PERISAI sekaligus
ANCAMAN buat Bumi. Sebagai
perisai, Jupiter narik banyak
asteroid dan komet yang harusnya bisa
nabrak Bumi. Gravitasi raksasanya
NANGKEP mereka atau ngebelokin
menjauh. Tanpa Jupiter,
Bumi mungkin bakal lebih sering
DIHANTAM benda langit yang
mematikan. Tapi sebagai ancaman,
gravitasi Jupiter juga bisa NGACAK
orbit asteroid di sabuk dan ngirim
mereka meluncur ke tata surya bagian
dalem, termasuk ke arah Bumi. Jadi
dia tuh kayak bodyguard yang kadang
khilaf ngelempar batu ke rumah kita.
Lebih jauh lagi, di luar orbit
Neptunus, ada SABUK KUIPER.
Ini rumah buat Pluto dan
planet-planet kerdil lainnya.
Juga jutaan objek es sisa
pembentukan tata surya. Pluto, yang
dulu dianggep planet kesembilan,
sekarang cuma jadi planet kerdil.
Bukan karena gak penting, tapi
karena kita udah nemuin BANYAK
BANGET objek serupa di Sabuk
Kuiper, sampe kita harus bikin
KATEGORI BARU. Pluto itu kayak
dulu anggota geng planet, sekarang
turun jabatan jadi ketua RT planet
kerdil.
Jauh lebih luar lagi, hampir SATU
TAHUN CAHAYA dari Matahari,
ada AWAN OORT. Ini awan raksasa
berbentuk bola yang isinya
TRILIUNAN komet. Awan Oort
adalah SUMBER komet-komet
periode panjang. Komet yang
muncul di langit Bumi sekali setiap
ribuan atau jutaan tahun. Pas ada
bintang lain yang lewat terlalu
deket sama tata surya kita,
gravitasinya bisa NGUSIK Awan Oort
dan ngirim komet meluncur ke arah
Matahari. Itulah kenapa komet
muncul di langit kita. Mereka adalah
PENGUNJUNG dari pinggiran paling
ujung tata surya, kebangun dari
TIDUR PANJANG oleh tarikan
gravitasi yang halus.
Tyson nutup bab ini dengan
pengingat penting. Objek kecil ini,
asteroid, komet, planet kerdil,
BUKAN cuma puing gak penting.
Mereka adalah FOSIL dari masa
lalu tata surya. Sisa-sisa material
yang membentuk planet 4,6 miliar
tahun lalu. Mempelajari mereka
kayak MEMPELAJARI FOTO BAYI
tata surya kita. Mereka nyimpen
PETUNJUK tentang gimana kita
sampe di sini, gimana Bumi
terbentuk, dan mungkin, gimana
kehidupan dimulai. Setiap batu
di sabuk asteroid, setiap bola es
di Sabuk Kuiper, setiap komet yang
ngelintas di langit malam, adalah
POTONGAN dari SEJARAH KITA
SENDIRI.
