Seni Menulis Rencana Bisnis
Sahabat, kita lanjutkan pembahasan
buku The Art of the Start 2.0.
Tiga bab berikutnya membahas
tentang bagaimana menulis rencana
bisnis yang tidak bertele-tele,
bagaimana memulai dengan dana
sendiri tanpa bergantung investor,
dan bagaimana merekrut
orang-orang terbaik untuk timmu.
Mari kita selami satu per satu.
Bab 4: Seni Menulis Rencana
Bisnis
Guy Kawasaki membuka bab ini
dengan satu kenyataan yang
mungkin melegakan sekaligus
mengejutkan: sebagian besar
rencana bisnis terlalu tebal
dan jarang dibaca.
Banyak pendiri menghabiskan
waktu berminggu-minggu,
bahkan berbulan-bulan, menulis
dokumen setebal lima puluh
hingga seratus halaman yang
akhirnya hanya menumpuk
di meja investor tanpa pernah
dibuka sampai habis. Kawasaki
menyebut ini sebagai pemborosan
waktu yang tragis.
Solusinya bukan berarti tidak menulis
rencana bisnis sama sekali. Rencana
bisnis tetap penting, tetapi fungsinya
sering disalahpahami. Kawasaki
meluruskan: rencana bisnis
bukanlah jaminan sukses.
Tidak ada dokumen yang bisa
menjamin bahwa bisnismu akan
berhasil. Jika ada yang mengatakan
sebaliknya, mereka berbohong.
Rencana bisnis adalah alat untuk
menguji asumsi dan melatih
berpikir kritis. Ia memaksamu
untuk duduk, memikirkan setiap
sudut bisnismu, dan menuliskan
asumsi-asumsimu secara eksplisit.
Saat asumsi itu ditulis, ia bisa diuji.
Saat ia diuji, ia bisa diperbaiki
sebelum terlambat.
Kawasaki menyarankan untuk
membuat rencana bisnis yang
ramping. Lupakan dokumen setebal
novel. Buatlah ringkasan
eksekutif singkat yang mencakup
sembilan elemen kunci. Ringkasan
ini cukup ringkas untuk benar-benar
dibaca orang, tetapi cukup lengkap
untuk menguji seluruh logika bisnismu.
Kesembilan elemen tersebut adalah:
Mantra:
Tiga sampai empat kata yang
menjelaskan alasan keberadaan
bisnismu. Ini adalah kompas
yang sudah kita bahas di Bab 1.Masalah:
Jelaskan secara spesifik
masalah apa yang kamu
pecahkan. Gunakan bahasa
yang membuat pembaca
merasakan betapa
menyakitkannya masalah ini.
Jika masalahnya tidak terasa
nyata, tidak ada yang akan
peduli dengan solusimu.Solusi:
Bagaimana produk atau
layananmu menyelesaikan
masalah tadi? Jangan
bertele-tele. Jelaskan
dengan sederhana seolah
kamu berbicara kepada teman.Model bisnis:
Bagaimana kamu menghasilkan
uang? Siapa yang membayar?
Bagaimana aliran uangnya?
Ini adalah bagian yang sering
diabaikan oleh pendiri yang
terlalu jatuh cinta dengan
produknya.Keunggulan:
Apa yang membuatmu berbeda
dari pesaing? Apa teknologi,
paten, atau rahasia di balik
produkmu yang tidak mudah
ditiru? Jika kamu tidak bisa
menjawab ini, kamu hanya
akan menjadi pemain biasa
di tengah kerumunan.Rencana go-to-market
(rencana pemasaran dan
penjualan):
Bagaimana kamu akan
mencapai pelanggan?
Strategi apa yang akan kamu
gunakan? Ini menunjukkan
bahwa kamu tidak hanya
bisa menciptakan, tetapi juga
bisa menjual.Analisis kompetisi:
Siapa pesaingmu?
Apa kelemahan mereka?
Apa kelebihanmu dibandingkan
mereka?
Jangan pernah mengatakan
tidak ada pesaing; selalu ada
alternatif yang saat ini
digunakan pelanggan, bahkan
jika alternatif itu adalah
“tidak melakukan apa-apa”.Tim:
Siapa yang menjalankan bisnis
ini? Tunjukkan bahwa timmu
memiliki pengalaman,
keterampilan, dan kredibilitas
yang relevan.
Investor berinvestasi pada
orang, bukan hanya ide.Keuangan:
Proyeksi pendapatan,
pengeluaran, dan arus kas.
Angka-angka ini harus
masuk akal dan bisa
dipertahankan saat ditanya.
Contoh dalam praktik:
Kamu berencana membuka
kedai es krim yang berbeda dari
yang lain. Alih-alih menulis
rencana bisnis tebal, kamu
membuat ringkasan eksekutif
yang mencakup kesembilan
elemen di atas dalam tiga
halaman saja.Mantra: “Sehat tanpa mengalah.”
Masalah: “Es krim di pasaran
penuh gula, pewarna sintetis,
dan bahan yang tidak jelas
asalnya. Orang tua ingin
memberi camilan sehat untuk
anaknya, tapi pilihannya sangat
sedikit.” Solusi:
“Es krim dari buah asli, tanpa
gula tambahan, tanpa pewarna
buatan, dibuat segar
setiap hari.” Model bisnis:
“Penjualan langsung di kedai,
ditambah paket langganan
mingguan untuk keluarga.”
Keunggulan: “Resep dipatenkan
menggunakan teknologi
pembekuan cepat yang
mempertahankan serat buah.”
Go-to-market: “Uji coba di pasar
minggu, lalu buka di dekat
sekolah dasar, dengan sampling
gratis untuk anak-anak.”Di bagian analisis kompetisi,
kamu tidak berkata “tidak ada
pesaing.” Kamu menulis:
“Pesaing utama adalah es krim
supermarket yang murah tetapi
penuh gula. Kelemahan mereka:
orang tua semakin sadar
kesehatan dan mulai
menghindari produk dengan
label yang tidak mereka pahami.”Rencana bisnis tiga halaman ini
memaksamu untuk memikirkan
setiap aspek secara logis. Saat
kamu selesai menulisnya, kamu
sudah menemukan tiga asumsi
yang belum teruji:
apakah orang tua benar-benar
bersedia membayar lebih mahal
untuk es krim sehat?
Apakah lokasi dekat sekolah
cukup strategis?
Apakah langganan mingguan
diminati? Rencana bisnis ini
sekarang menjadi alat untuk
menguji asumsi-asumsi itu,
bukan sekadar dokumen yang
disimpan di laci.
Bab 5: Seni Bootstrapping
Di bab ini, Kawasaki membahas seni
yang sangat dekat dengan hatinya:
bootstrapping. Istilah ini berasal
dari frasa “to pull oneself up by one’s
bootstraps” (mengangkat diri sendiri
dengan tali sepatu sendiri),
yang artinya memulai dan
membangun bisnis dengan dana
sendiri, tanpa atau dengan sangat
sedikit suntikan dari investor luar.
Kawasaki menekankan bahwa
bootstrap bukanlah pilihan kelas dua
karena tidak bisa mendapat modal.
Justru sebaliknya, bootstrap adalah
strategi yang sangat kuat. Memulai
dengan dana sendiri memaksa
Anda fokus pada penjualan dan
pelanggan, bukan investor.
Ketika kamu tidak punya tabungan
investor untuk dibakar, setiap rupiah
menjadi berharga. Kamu tidak bisa
menyembunyikan kesalahan dengan
uang. Kamu harus benar-benar
menciptakan produk yang diinginkan
pelanggan, karena hanya pelanggan
yang akan menyelamatkanmu.
Kawasaki merinci aturan-aturan
bootstrap yang harus dipegang
teguh:
Laba kotor besar:
Bisnis yang dibangun dengan
bootstrap harus menghasilkan
laba kotor yang besar, karena
tidak ada dana cadangan untuk
bertahan dari margin tipis.
Pilih model bisnis yang setiap
penjualannya langsung
menghasilkan keuntungan
yang signifikan.Lindungi arus kas:
Arus kas adalah napas bisnis
bootstrap. Jangan biarkan
pelanggan menunda pembayaran.
Tagih segera. Negosiasikan syarat
pembayaran dengan pemasok
agar kamu bisa membayar lebih
lambat tetapi menerima
pembayaran lebih cepat.Jangan sewa kantor mewah:
Ini adalah jebakan gengsi yang
mematikan. Mulailah dari garasi,
dari rumah, dari kafe, dari
ruang kerja bersama yang murah.
Kantor mewah hanya
menghabiskan uang yang belum
tentu ada.Gaji kecil:
Sebagai pendiri, kamu harus rela
menerima gaji kecil, bahkan
sangat kecil, di masa-masa awal.
Uang yang ada digunakan untuk
mengembangkan bisnis, bukan
untuk gaya hidup. Kemewahan
datang nanti, setelah bisnis
benar-benar menghasilkan.Barter:
Jika kamu tidak punya uang,
tukarkan apa yang kamu punya.
Kamu bisa menukar produkmu
dengan layanan yang kamu
butuhkan. Negosiasikan dengan
pemilik gedung, dengan penyedia
jasa, dengan siapa pun yang bisa
diajak kerja sama tanpa uang
tunai.Jual dulu, baru bangun:
Ini adalah prinsip paling penting.
Jangan habiskan waktu
berbulan-bulan membangun
produk sempurna yang belum
tentu ada yang mau beli.
Tawarkan dulu idemu kepada
calon pelanggan. Dapatkan
komitmen pembelian,
uang muka, atau setidaknya
surat minat. Setelah ada yang
mau membayar, barulah kamu
bangun produknya.
Dari prinsip “jual dulu baru bangun”
ini, Kawasaki memperkenalkan
prinsip “Ship, then test” (Kirim,
lalu uji). Prinsip ini adalah lawan
dari pendekatan lama yang
perfeksionis. Alih-alih menunggu
produk sempurna, keluarkan versi
minimum yang sudah berfungsi.
Kirim ke pelanggan. Dengarkan
umpan balik mereka. Lalu perbaiki
berdasarkan umpan balik itu.
Produkmu tidak akan pernah
sempurna di versi pertama, dan
itu tidak apa-apa. Yang penting ia
sudah ada di tangan pelanggan
dan kamu sudah mulai belajar.
Contoh dalam praktik:
Kamu ingin memulai bisnis
pembuatan kaus oblong dengan
desain lokal.
Kamu tidak punya modal
besar untuk menyewa toko,
membeli mesin cetak sendiri,
dan memproduksi ribuan kaus
di awal. Maka kamu
menerapkan prinsip bootstrap.Kamu tidak menyewa kantor
mewah. Kamu bekerja dari
kamar kos, dan itu cukup
untuk sekarang.Kamu menerapkan
“jual dulu baru bangun.”
Kamu membuat lima
desain kaus oblong,
tetapi belum mencetaknya
dalam jumlah besar. Kamu
membuat akun media sosial,
memajang gambar desainnya,
dan membuka pre-order
(pemesanan awal) selama
seminggu. “Desain hanya akan
dicetak jika mencapai minimal
lima puluh pemesan,” tulismu.
Ini melindungi arus kasmu
karena kamu hanya
memproduksi apa yang sudah
terjual.Kamu menggunakan barter.
Temanmu bisa memotret
produkmu dengan bagus.
Alih-alih membayarnya, kamu
menawarkan dua kaus oblong
gratis dari koleksi pertamamu.
Ia senang, kamu tidak keluar
uang tunai.Setelah pre-order terkumpul,
kamu mencetak kaus oblong
sesuai jumlah pesanan.
Ada keluhan bahwa jahitannya
kurang rapi di bagian kerah.
Kamu mencatatnya. Di batch
berikutnya, kamu ganti jasa
konveksi. Inilah “ship, then test.”
Kamu mengirim produk yang
belum sempurna, mendapat
umpan balik, dan
memperbaikinya. Tiga bulan
kemudian, kualitas kausmu
sudah jauh lebih baik daripada
batch pertama. Pelangganmu
melihat peningkatan itu dan
semakin percaya.
Bab 6: Seni Merekrut
Kawasaki membuka bab ini dengan
satu prinsip yang sangat sederhana
namun sering diabaikan:
rekrut orang yang lebih cakap
dari Anda. Banyak pendiri, karena
rasa tidak aman atau ego, cenderung
merekrut orang yang lebih rendah
kemampuannya. Mereka takut jika
merekrut orang yang terlalu hebat,
posisi mereka sebagai pendiri akan
terancam. Kawasaki menyebut ini
sebagai kesalahan fatal. Bisnis yang
hebat dibangun oleh tim yang hebat,
dan tim yang hebat hanya bisa
terbentuk jika pendiri cukup percaya
diri untuk dikelilingi oleh
orang-orang yang lebih pintar darinya.
Selain kecakapan, Kawasaki
menekankan dua kriteria lain yang
tidak kalah penting.
Pertama, berbagi mimpi.
Kandidat harus percaya pada visi
yang sama. Bukan sekadar mencari
gaji, bukan sekadar melamar
pekerjaan, melainkan benar-benar
ingin membangun sesuatu yang
diyakininya.
Kedua, punya integritas.
Satu orang yang pintar tetapi
tidak jujur bisa merusak seluruh
budaya tim. Integritas bukanlah
bonus; ia adalah syarat mutlak
yang tidak bisa ditawar.
Kawasaki juga memberikan daftar
tipe orang yang harus dihindari
saat merekrut. Tipe pertama adalah
penurut. Ini adalah orang yang
selalu berkata “ya” pada semua
perkataanmu. Mereka tidak pernah
membantah, tidak pernah menantang
idemu, dan tidak pernah
menyampaikan pendapat berbeda.
Mereka terdengar menyenangkan,
tetapi mereka berbahaya.
Bisnis membutuhkan orang yang
berani mengatakan
“Saya tidak setuju, dan inilah
alasannya.” Tanpa itu, kamu akan
terus berjalan ke jurang tanpa ada
yang memperingatkanmu.
Tipe kedua yang harus dihindari
adalah pecundang. Kawasaki tidak
merujuk pada orang yang pernah
gagal, karena kegagalan adalah guru
terbaik. Ia merujuk pada orang yang
memiliki mentalitas korban, yang
selalu menyalahkan keadaan,
atasan sebelumnya, atau nasib
buruk atas semua masalah mereka.
Orang seperti ini akan membawa
energi negatif ke dalam tim dan
mencemari semangat juang.
Tipe ketiga adalah orang toxic
(beracun). Ini adalah orang yang
mungkin sangat pintar dan sangat
produktif, tetapi ia merusak
hubungan antar manusia di dalam
tim. Ia suka bergosip,
suka menjatuhkan rekan,
suka menciptakan drama, dan
membuat orang lain tidak betah.
Kawasaki menegaskan bahwa satu
orang toxic bisa menghancurkan
seluruh tim, dan lebih baik tidak
merekrut sama sekali daripada
merekrut orang seperti ini, tidak
peduli seberapa hebat
keterampilannya.
Dalam proses wawancara, Kawasaki
menyarankan untuk tidak membuang
waktu dengan pertanyaan basa-basi.
Wawancara harus menguji
kemampuan, bukan kepribadian
di permukaan. Jangan tanya
“Apa kelebihan dan kelemahan
Anda?” karena semua orang sudah
menyiapkan jawaban yang terdengar
bagus. Sebagai gantinya,
minta kandidat untuk benar-benar
melakukan pekerjaan yang akan
menjadi tanggung jawabnya. Jika ia
melamar sebagai penulis, minta ia
menulis sesuatu di tempat. Jika ia
melamar sebagai pemrogram, minta
ia menyelesaikan satu masalah teknis
kecil. Jika ia melamar sebagai tenaga
penjualan, minta ia menjual sesuatu
kepadamu saat itu juga.
Selain tes lapangan, Kawasaki
menekankan pentingnya referensi
yang diteliti dengan teliti.
Jangan hanya menelepon satu atau
dua nama yang diberikan oleh
kandidat, karena tentu saja mereka
akan memberikan nama orang yang
akan memuji mereka. Gali lebih
dalam. Cari tahu siapa yang pernah
bekerja dengan kandidat ini tetapi
tidak disebutkan sebagai referensi.
Tanyakan kepada mantan atasan,
mantan rekan, dan mantan bawahan.
Pertanyaan yang paling mengungkap
adalah: “Jika ada kesempatan,
apakah Anda akan bekerja dengan
orang ini lagi?” Jawaban atas
pertanyaan itu akan memberimu
gambaran yang jujur.
Contoh dalam praktik:
Kamu sedang membangun tim
untuk bisnis katering sehatmu.
Kamu mewawancarai seorang
kandidat kepala dapur bernama
Farid. Di atas kertas,
pengalamannya luar biasa.
Ia pernah bekerja di restoran
bintang lima dan memiliki
sertifikasi internasional.Alih-alih bertanya
“Apa kelebihan Anda?”,
kamu menyiapkan tes lapangan
sederhana. Kamu membawa
Farid ke dapur kecilmu dan
berkata, “Ini bahan-bahan yang
kami punya. Dalam tiga puluh
menit, buatkan satu menu
makan siang yang sesuai
dengan mantra kami:
”Makanan bersih, hidup
bertenaga.” Kamu mengamati
cara Farid bekerja. Apakah ia
memilih bahan dengan
hati-hati? Apakah ia menjaga
kebersihan? Apakah ia bisa
bekerja di bawah tekanan waktu?Setelah selesai, kamu mencicipi
hasilnya. Lalu kamu mengajukan
pertanyaan yang tidak terduga:
“Ceritakan tentang satu
kegagalan terbesarmu di dapur,
dan apa yang kamu lakukan
setelahnya.” Farid terdiam
sejenak, lalu bercerita tentang
satu kali ia salah memesan bahan
dan hampir membatalkan acara
besar. “Saya menelepon semua
pemasok cadangan dan berhasil
mendapatkan bahan pengganti
dua jam sebelum acara dimulai.
Sejak itu, saya selalu punya
daftar pemasok cadangan.”
Jawaban ini menunjukkan
integritas, tanggung jawab, dan
kemampuan belajar dari
kesalahan.Kamu kemudian meneliti
referensinya. Kamu tidak hanya
menelepon nama yang ia
berikan. Kamu mencari tahu
siapa kepala dapur yang
pernah bekerja dengannya
di restoran sebelumnya. Kamu
menelepon dan bertanya,
“Jika ada kesempatan, apakah
Anda akan bekerja dengan
Farid lagi?” Jawabannya:
“Segera. Tanpa ragu.” Referensi
ini lebih meyakinkan daripada
apa pun yang tertulis di CV-nya.
Sahabat, tiga bab ini adalah perangkat
praktis untuk membangun fondasi
bisnis yang kokoh. Rencana bisnis
yang ramping membantumu menguji
asumsi tanpa membuang waktu
menulis dokumen yang tidak akan
dibaca. Bootstrapping memaksamu
untuk fokus pada pelanggan dan
penjualan, bukan pada investor.
Dan perekrutan yang tepat akan
menentukan apakah bisnismu akan
terbang tinggi atau hancur dari
dalam. Dengan ketiga seni ini
di tangan, kamu siap melangkah
ke tahap berikutnya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, gaes. Kita lanjut lagi ngebahas
buku The Art of the Start 2.0.
Tiga bab berikutnya ini bakal
ngebahas gimana caranya lo nulis
rencana bisnis yang nggak cuma
jadi pajangan, gimana caranya lo
mulai bisnis dengan duit cekak
tanpa ngemis ke investor, dan
gimana caranya lo ngumpulin
orang-orang hebat buat jadi tim
lo. Yuk, langsung aja.
Bab 4: Seni Nulis Rencana
Bisnis, Jangan Sampe
Kayak Novel!
Guy Kawasaki buka bab ini dengan
fakta yang bikin lo bernapas lega:
sebagian besar rencana bisnis
itu terlalu tebel dan jarang
banget dibaca. Banyak pendiri
yang ngabisin waktu berbulan-bulan
nulis dokumen setebal novel,
eh ujungnya cuma numpuk di meja
investor. Kawasaki nyebut ini
pemborosan waktu yang tragis.
Dia ngelurusin, rencana bisnis itu
penting, tapi fungsinya sering
disalahpahami. Rencana bisnis
bukan jaminan sukses. Nggak
ada dokumen yang bisa ngasih itu.
Fungsinya adalah alat buat nguji
asumsi dan ngelatih lo berpikir
kritis. Dia maksa lo buat duduk,
mikirin setiap sudut bisnis lo, dan
nulis asumsi-asumsi lo dengan jelas.
Begitu asumsi lo tertulis, lo bisa
nguji. Begitu lo uji, lo bisa betulin
sebelum semuanya telat.
Makanya, Kawasaki nyaranin buat
bikin rencana bisnis yang
ramping. Lupakan dokumen tebel.
Bikin aja ringkasan eksekutif singkat
yang isinya sembilan elemen kunci.
Ringkasannya cukup pendek buat
beneran dibaca orang, tapi cukup
lengkap buat nguji seluruh logika
bisnis lo. Nah, ini dia kesembilan
elemennya:
Mantra:
3-4 kata yang ngejelasin alasan
bisnis lo ada. Ini kompas dari
Bab 1.Masalah:
Jelasin secara spesifik, bikin
pembaca ngerasain sakitnya
masalah itu.Solusi:
Gimana produk lo nyelesein
masalah tadi? Jelasin kayak
lo ngomong ke temen.Model Bisnis:
Lo ngasilin duitnya gimana?
Siapa yang bayar?Keunggulan:
Apa yang bikin lo beda?
Ada rahasia atau teknologinya?Rencana Pemasaran
& Penjualan:
Gimana caranya lo nyampe
ke pelanggan?Analisis Kompetisi:
Siapa saingan lo? Jangan
pernah bilang “nggak ada saingan”.Tim:
Siapa yang jalanin? Pamerin
pengalaman dan kredibilitasnya.Keuangan:
Proyeksi pendapatan,
pengeluaran, arus kas.
Harus masuk akal.
Contoh praktis: Lo mau buka kedai
es krim yang beda. Lo nggak nulis
rencana setebel bantal. Lo bikin
ringkasan 3 halaman. Mantra lo:
“Sehat tanpa ngeluh.”
Masalahnya: “Es krim di pasaran
penuh gula dan pewarna. Orang tua
bingung nyari yang sehat buat anak.”
Solusinya: “Es krim dari buah asli,
tanpa gula tambahan, tanpa pewarna.”
Model bisnisnya: jualan di kedai plus
paket langganan mingguan.
Di bagian kompetisi, lo jujur:
“Pesaing utama es krim murah tapi
penuh gula. Kelemahan mereka?
Orang tua makin sadar kesehatan.”
Rencana 3 halaman ini maksa
lo mikir logis dan nemuin
asumsi-asumsi yang harus lo uji.
Bab 5: Seni Bootstrapping,
Mulai Tanpa Modal Gede
Di bab ini, Kawasaki ngomongin
bootstrapping, yaitu seni
memulai dan ngebangun bisnis
dengan duit sendiri, tanpa atau
dengan dikit banget bantuan
investor. Ini bukan pilihan kelas
dua, gaes. Justru ini strategi yang
super kuat. Memulai dengan
dana sendiri itu maksa lo
buat fokus ke penjualan dan
pelanggan, bukan ke investor.
Begitu lo nggak punya tabungan
investor buat dibakar, setiap
rupiah jadi berharga.
Kawasaki merinci aturan mainnya:
Laba kotor gede:
Bisnis lo harus ngasilin untung
gede per penjualan, karena
nggak ada dana cadangan.Lindungi arus kas:
Ini napas bisnis lo. Tagih
pembayaran secepat mungkin.Jangan sewa kantor
mewah:
Mulai aja dari rumah, garasi,
atau kafe. Kantor mewah
cuma ngabisin duit.Gaji kecil dulu:
Lo sebagai pendiri harus rela
gaji kecil. Duit yang ada buat
ngembangin bisnis, bukan
buat gaya hidup.Barter:
Nggak punya duit? Tukar barang.
Lo bisa tuker produk lo sama
jasa yang lo butuhin.Jual dulu, baru bangun:
Ini yang paling penting! Jangan
ngabisin waktu bikin produk
sempurna. Tawarin dulu idenya,
dapetin komitmen pembelian,
baru lo bikin.
Dari sini, Kawasaki ngenalin prinsip
“Ship, then test” (Kirim, lalu uji).
Ini lawan dari perfeksionis. Keluarin
aja versi minimumnya, kirim
ke pelanggan, dengerin keluhan
mereka, baru lo perbaiki. Produk lo
nggak bakal sempurna di versi
pertama, dan itu nggak apa-apa.
Contoh praktis: Lo mau mulai bisnis
kaus desain lokal. Modal lo cekak.
Lo kerja dari kamar kos.
Lo bikin 5 desain, tapi belum lo
cetak. Lo pake akun medsos buat
buka pre-order selama seminggu,
dengan catatan
“dicetak kalau minimal ada
50 pemesan.” Ini ngelindungin
arus kas lo. Lo juga barter: temen
lo jago motret, lo bayar pake
2 kaus gratis. Pas kausnya dikirim,
ada komplain jahitan kurang rapi.
Lo catet, dan di batch berikutnya
lo ganti konveksi.
Inilah ship, then test. Lo kirim
produk yang belum sempurna,
dapet feedback, dan lo perbaiki.
Bab 6: Seni Merekrut, Cari
yang Lebih Jago dari Lo!
Kawasaki buka bab ini dengan prinsip
yang sederhana tapi sering diabaikan:
rekrut orang yang lebih cakap
dari lo. Banyak pendiri yang nggak
pede dan malah nyari orang yang
di bawah kemampuannya. Itu fatal!
Bisnis hebat dibangun sama tim
hebat.
Selain jago, ada dua kriteria lain
yang nggak kalah penting: berbagi
mimpi (mereka harus percaya visi lo,
bukan cuma nyari gaji) dan punya
integritas (ini syarat mutlak, nggak
bisa ditawar).
Kawasaki juga wanti-wanti soal tiga
tipe orang yang harus lo hindari:
Si Penurut: Orang yang selalu
bilang “iya”. Bahaya! Lo butuh
orang yang berani nentang dan
ngasih alasan.Si Pecundang: Bukan yang
pernah gagal, ya. Tapi yang
punya mental korban, selalu
nyalahin keadaan.Si Toxic (Beracun): Mungkin
pinter, tapi suka ngegosip,
ngejatuhin, bikin drama.
Satu orang toxic bisa ngancurin
seluruh tim.
Pas wawancara, jangan buang waktu
sama pertanyaan basi. Suruh aja
mereka ngelakuin kerjaan
beneran. Lagi nyari penulis?
Suruh nulis. Lagi nyari programmer?
Suruh ngoding. Abis itu,
gali referensinya dalem-dalem.
Jangan cuma nelpon nama yang
dikasih. Cari tahu mantan bos atau
rekan yang nggak disebut. Tanyain,
“Kalau ada kesempatan, apa lo bakal
kerja lagi sama orang ini?” Jawaban
dari pertanyaan itu jujur banget.
Contoh praktis: Lo lagi wawancara
calon kepala dapur buat bisnis katering
sehat. Lo nggak nanya “Apa kelebihan
lo?”. Lo langsung bawa dia ke dapur
kecil, kasih bahan, dan bilang,
“Dalam 30 menit, bikin satu menu
makan siang yang sesuai mantra kita.”
Lo ngamatin cara dia kerja.
Terus lo tanya,
“Ceritain satu kegagalan terbesar lo,
dan apa yang lo lakuin.”
Dia cerita pernah salah pesen bahan
dan hampir gagal acara.
“Gue nelpon semua pemasok
cadangan dan berhasil dapet bahan
pengganti dua jam sebelum mulai.
Sejak itu, gue selalu punya daftar
pemasok cadangan.” Nah, ini
jawaban yang nunjukin integritas.
Lo juga nggak cuma nelpon referensi
yang dia kasih. Lo cari tahu siapa
kepala dapur sebelumnya, dan lo
nelpon. Lo tanya, “Mau nggak kerja
lagi sama dia?” Jawabannya:
“Segera. Tanpa ragu.” Ini lebih
meyakinkan dari apa pun yang ada
di CV-nya.
Jadi, gaes, tiga bab ini adalah
perangkat praktis buat bangun
fondasi bisnis. Rencana bisnis yang
ramping, strategi bootstrapping
yang maksa lo fokus ke penjualan,
dan jurus merekrut orang-orang
terbaik. Siap lanjut ke langkah
berikutnya? 🔥
