Seni Bertanya dan Mengalirkan Percakapan
Sahabat, kita lanjutkan perjalanan
21 hari komunikasi efektif. Dua bab
berikutnya akan membekali kita
dengan keterampilan yang langsung
bisa dipraktikkan: cara bertanya yang
membuat orang lain nyaman, dan
cara menyampaikan isi hati dengan
tegas tanpa menyakiti. Berikut adalah
Bab 5 dan Bab 6
Bab 5: Seni Bertanya dan
Mengalirkan Percakapan
Ian Tuhovsky membuka bab ini
dengan meluruskan kesalahpahaman
besar: banyak orang mengira bertanya
adalah cara menggali informasi
dengan cepat. Akibatnya, percakapan
berubah menjadi interogasi. Penulis
menegaskan bahwa bertanya dalam
komunikasi efektif memiliki tujuan
yang berbeda, yaitu membuka ruang
dialog dan membuat lawan bicara
merasa diundang, bukan diperiksa.
Tuhovsky memperkenalkan kekuatan
pertanyaan terbuka. Ini adalah
pertanyaan yang dimulai dengan
kata tanya seperti:
“Apa…”
“Bagaimana…”
“Ceritakan tentang…”
Pertanyaan jenis ini tidak bisa dijawab
dengan “ya” atau “tidak”. Pertanyaan
ini memaksa lawan bicara untuk
mengembangkan ceritanya,
mengungkapkan pendapatnya, dan
berbagi lebih dalam. Contoh yang
diberikan penulis: alih-alih bertanya,
“Apakah harimu baik?” yang hanya
akan dijawab singkat, tanyakan,
“Ceritakan hal paling menarik yang
kamu alami hari ini.” Satu perubahan
kecil ini bisa mengubah percakapan
dua menit menjadi obrolan yang
hidup.
Setelah pertanyaan dilontarkan dan
lawan bicara merespons, Tuhovsky
mengajarkan dua teknik untuk
menjaga agar percakapan terus
mengalir tanpa macet:
Parafrase: Teknik ini dilakukan
dengan mengulangi kembali isi
pembicaraan lawan bicara
menggunakan kata-katamu
sendiri. Tujuannya bukan
sekadar membeo, melainkan
menunjukkan bahwa kamu
benar-benar mendengarkan dan
memastikan pemahamanmu
tepat. Kalimat parafrase biasanya
dimulai dengan,
“Jadi, maksudmu…”, “Kalau aku
pahami dengan benar, kamu
merasa…”, atau “Menarik, jadi
yang kamu alami adalah…”.
Lawan bicara akan merasa
didengarkan dan memiliki
kesempatan untuk membenarkan
jika ada pemahaman yang meleset.Menyelami kata kunci:
Tuhovsky menyebut teknik ini
sebagai key word diving. Saat
lawan bicara bercerita, selalu
ada satu atau dua kata yang ia
ucapkan dengan penekanan,
emosi, atau pengulangan. Kata itu
adalah pintu masuk menuju
lapisan cerita yang lebih dalam.
Misalnya, seseorang berkata,
“Mingguku cukup melelahkan,
banyak drama di kantor.”
Kata kuncinya adalah “drama”.
Alih-alih mengabaikannya dan
pindah topik, kamu bisa
menyelam di situ:
“Drama seperti apa yang terjadi?”
atau “Sepertinya ada cerita
di balik kata ‘drama’ itu.”
Teknik ini menunjukkan bahwa
kamu tidak hanya mendengar
kalimatnya, tetapi juga
mendengarkan apa yang tersirat.
Tuhovsky menutup bab ini dengan
mengingatkan bahwa tujuan akhir
dari seni bertanya dan teknik
mengalirkan percakapan ini
sederhana: membuat orang lain
senang berbicara dengan kita.
Bukan karena kita lucu atau
menghibur, melainkan karena
di dekat kita, mereka merasa
didengarkan, dipahami, dan
cerita mereka menjadi berharga.
Bab 6: Komunikasi Asertif,
Jujur Tanpa Menyakiti
Di bab ini, Ian Tuhovsky membahas
salah satu keterampilan komunikasi
yang paling menantang:
menyampaikan kejujuran, kebutuhan,
dan penolakan tanpa melukai
hubungan. Ia membuka dengan
membedakan tiga gaya komunikasi
yang sering tidak kita sadari.
Tiga Gaya Komunikasi:
Pasif: Gaya ini ditandai dengan
mengalah terus-menerus,
menahan pendapat, dan berkata
“ya” padahal ingin berkata “tidak”.
Orang dengan gaya pasif
cenderung menghindari konflik
dengan cara mengorbankan
dirinya sendiri. Akibatnya,
kebutuhannya sendiri tidak
pernah tersampaikan, dan dalam
jangka panjang, frustrasi
menumpuk di dalam.Agresif: Gaya ini adalah
kebalikannya. Kebutuhan sendiri
disampaikan dengan cara
menyerang, menyalahkan, atau
merendahkan lawan bicara.
Kalimat-kalimat agresif biasanya
dimulai dengan “Kamu selalu…”,
“Kamu tidak pernah…”, atau
penuh nada menuntut. Gaya ini
mungkin membuat kebutuhan
tersampaikan, tetapi
mengorbankan hubungan dan
rasa hormat.Asertif: Inilah titik tengah yang
diajarkan oleh Tuhovsky.
Komunikasi asertif berarti
menyampaikan apa yang kamu
pikirkan, rasakan, dan
butuhkan secara jujur dan
langsung, tetapi dengan tetap
menghormati perasaan dan hak
lawan bicara. Asertif bukan
tentang menang atau kalah;
ini tentang jujur tanpa menyakiti.
Teknik Menyampaikan Perasaan
dengan “Saya merasa…”:
Penulis mengajarkan bahwa
perubahan paling sederhana namun
paling ampuh adalah mengganti
kalimat “Kamu…” dengan
“Saya merasa…”. Kalimat
“Kamu selalu memotong
pembicaraanku” bersifat
menyalahkan. Bandingkan dengan,
“Saya merasa tidak didengarkan
ketika ucapan saya terpotong.”
Kalimat kedua tetap jujur, tetapi
tidak menempatkan lawan bicara
sebagai musuh.
Menolak Permintaan dengan
Sopan:
Tuhovsky mengakui bahwa menolak
adalah salah satu hal tersulit,
terutama bagi para people-pleaser.
Ia memberikan langkah sederhana:
ucapkan terima kasih atau hargai
permintaannya dulu, lalu sampaikan
penolakan tanpa alasan berbelit-belit.
Contohnya, “Aku menghargai kamu
memintaku, tapi kali ini aku tidak
bisa. Terima kasih sudah mengerti.”
Penulis menekankan bahwa kamu
tidak perlu memberikan alasan
panjang yang justru membuka
celah untuk dinegosiasi.
Formula “DESC” untuk Situasi
Sulit:
Untuk percakapan yang lebih
kompleks atau sensitif, Tuhovsky
memperkenalkan formula empat
langkah yang disebut DESC:
D – Describe
(Deskripsikan): Jelaskan
situasi atau perilaku yang
menjadi masalah secara objektif
dan tanpa penilaian. Fokus pada
fakta, bukan tafsir. Contoh:
“Tadi pagi saat rapat, saya belum
selesai berbicara dan kamu
melanjutkan ke poin berikutnya.”E – Express (Ungkapkan):
Sampaikan perasaanmu
menggunakan kalimat “saya”.
Contoh: “Saya merasa frustrasi
karena pendapat saya belum
selesai disampaikan.”S – Specify (Tentukan):
Sebutkan dengan jelas apa yang
kamu butuhkan atau harapkan
ke depannya. Contoh:
“Saya ingin kita sepakat untuk
membiarkan setiap orang
menyelesaikan kalimatnya
sebelum pindah ke poin berikutnya.”C – Consequence
(Konsekuensi):
Jelaskan dampak positif jika
kebutuhan itu dipenuhi, atau
dampak negatif jika diabaikan.
Contoh: “Dengan begitu, semua
pendapat bisa didengar dan
rapat kita jadi lebih efektif.”
Tuhovsky menutup bab ini dengan
pesan bahwa komunikasi asertif
adalah keterampilan yang
memerlukan latihan. Awalnya
mungkin terasa tidak nyaman,
terutama bagi mereka yang terbiasa
pasif atau takut dianggap agresif.
Namun dengan formula DESC dan
fokus pada “Saya merasa…”, setiap
orang bisa belajar jujur tanpa harus
menyakiti.
Sahabat, dua bab ini adalah
perlengkapan yang sangat praktis.
Seni bertanya membuat orang lain
terbuka, dan komunikasi asertif
membuat diri kita tetap jujur tanpa
merusak hubungan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, kita lanjut lagi petualangan
21 hari komunikasi efektif!
Dua bab berikutnya ini bakal
ngebekali lo dengan jurus yang
langsung bisa lo praktekin hari ini
juga: gimana caranya nanya yang
bikin orang nyaman cerita, dan
gimana caranya ngomong jujur tanpa
bikin orang lain tersinggung. Yuk,
kita bongkar Bab 5 dan 6.
Bab 5: Jurus Bertanya Biar
Obrolan Ngalir Terus
Ian Tuhovsky buka bab ini dengan
ngebenerin salah paham yang sering
banget terjadi. Banyak orang ngira,
ngajak ngobrol itu artinya lo harus
pinter nanya biar dapet info
sebanyak-banyaknya. Hasilnya?
Obrolan malah jadi kayak interogasi.
Lo kayak detektif yang lagi
ngorek-ngorek keterangan.
Penulis nekenin, tujuan lo nanya
dalam komunikasi yang sehat itu beda.
Tujuannya adalah membuka ruang
dialog dan bikin lawan bicara lo
ngerasa diundang, bukannya diperiksa.
Caranya? Kuasai dulu jurus andalannya:
pertanyaan terbuka.
Ini adalah jenis pertanyaan yang
diawali dengan kata tanya kayak:
“Apa…”
“Gimana…”
“Ceritain dong soal…”
Intinya, pertanyaan ini nggak bisa
lo jawab cuma dengan “ya” atau
“nggak”. Pertanyaan ini maksa lawan
bicara lo buat ngembangin ceritanya,
ngungkapin pendapatnya, dan berbagi
lebih dalem. Contoh simpel dari buku:
daripada lo nanya,
“Hari lo menyenangkan, nggak?”
yang paling banter cuma dijawab
“Biasa aja”, coba ganti jadi,
“Ceritain dong, hal paling seru yang
lo alamin hari ini!” Cuma beda
dikit, kan? Tapi efeknya bisa bikin
obrolan dua menit jadi hidup dan seru.
Nah, pas lawan bicara lo udah mulai
cerita, Tuhovsky ngajarin dua teknik
buat ngejaga obrolan biar terus ngalir
tanpa mati gaya:
Parafrase: Ini teknik simpel
tapi ampuh. Lo ulangi lagi isi
omongan dia pake kata-kata
lo sendiri. Tujuannya bukan
buat ngebeo, tapi buat nunjukin
kalau lo beneran dengerin dan
buat mastiin pemahaman lo
udah pas. Biasanya kalimat
parafrase dimulai dengan,
“Jadi, maksud lo…”,
“Kalau gue paham dengan
bener, lo ngerasa…”, atau
“Oh gitu, jadi yang lo alamin
tuh…”. Dijamin, lawan bicara
lo bakal ngerasa didengerin.Menyelami Kata Kunci:
Ini yang lebih jago lagi.
Pas orang lagi cerita, pasti ada
satu atau dua kata yang dia
ucapin dengan penekanan atau
emosi. Nah, kata itu adalah
pintu masuk buat lo nyelam
lebih dalem. Misalnya, temen
lo bilang, “Minggu gue
lumayan capek, banyak drama
di kantor.” Kata kuncinya jelas:
“drama” . Daripada lo abaikan
dan ganti topik, lo bisa langsung
nyamber di situ:
“Drama gimana tuh?” atau
“Kayaknya ada cerita seru
di balik kata ‘drama’ itu, deh.”
Teknik ini nunjukin kalau lo
nggak cuma denger kalimatnya,
tapi juga nyimak apa yang
tersirat.
Tuhovsky nutup bab ini dengan
ngingetin, tujuan akhir dari semua
jurus bertanya ini simpel:
bikin orang lain seneng ngobrol
sama lo. Bukan karena lo lucu, tapi
karena pas di deket lo, mereka
ngerasa didengerin, dipahami, dan
cerita mereka jadi berharga.
Bab 6: Komunikasi Asertif, Jujur
Tanpa Bikin Orang Tersinggung
Di bab ini, Tuhovsky ngomongin salah
satu skill paling susah dalam
komunikasi: gimana caranya ngomong
jujur, nyampein kebutuhan, atau
nolak permintaan, tanpa bikin
hubungan jadi rusak. Dia buka
dengan ngebedain tiga gaya
komunikasi yang sering nggak kita
sadari:
Pasif (Nurut Aja):
Ini tipe yang selalu ngalah,
nahan pendapat, dan bilang
“iya” padahal hatinya teriak
“nggak”. Orang model gini
cenderung menghindari konflik
dengan cara ngorbanin dirinya
sendiri. Akibatnya,
kebutuhannya nggak pernah
kesampean, dan lama-lama
frustrasi numpuk di dalem.Agresif (Nyerang):
Ini kebalikannya. Kebutuhan
sendiri disampein dengan cara
nyerang, nyalahin, atau
ngerendahin. Kalimatnya
sering dimulai dengan
“Lo tuh selalu…”, “Lo nggak
pernah…”, atau penuh nada
nuntut. Gayanya mungkin bikin
kebutuhan lo tersampaikan,
tapi ngorbain hubungan.Asertif (Tegas & Hormat):
Nah, ini dia titik tengah yang jadi
andalan. Komunikasi asertif
artinya lo nyampein apa yang
lo pikirin, rasain, dan butuhin
secara jujur dan langsung, tapi
tetap menghormati perasaan
lawan bicara. Asertif bukan soal
menang atau kalah, tapi soal
jujur tanpa nyakitin.
Terus, gimana caranya biar lo bisa
asertif? Tuhovsky ngasih beberapa
jurus:
Pake “Saya merasa…”,
bukan “Kamu…”:
Ini perubahan paling simpel
tapi ampuh banget. Kalimat
“Lo selalu motong omongan
gue” itu nadanya nyalahin.
Coba bandingin sama,
“Gue ngerasa nggak didengerin
pas omongan gue kepotong.”
Kalimat kedua tetap jujur, tapi
nggak naro lawan bicara
sebagai musuh.Nolak Permintaan dengan
Sopan: Tuhovsky ngakuin,
nolak itu susah banget, apalagi
buat lo yang hobi nyenengin
orang. Dia ngasih langkah
simpel: hargai dulu
permintaannya, baru tolak
tanpa alesan berbelit-belit.
Contohnya gini, “Gue hargai
banget lo minta tolong, tapi
kali ini gue nggak bisa.
Makasih ya udah ngerti.”
Nggak perlu ngasih alesan
panjang yang malah jadi
celah buat dia nego.Formula “DESC” buat
Situasi Sulit: Nah, buat
obrolan yang lebih rumit atau
sensitif, Tuhovsky punya jurus
pamungkas, formula empat
langkah namanya DESC:D – Describe (Gambarin
Situasinya):
Jelasin masalahnya secara
objektif, tanpa nge-judge.
Fokus ke fakta. Contoh:
“Tadi pagi pas rapat, gue
belum selesai ngomong dan
lo langsung lanjut ke poin
berikutnya.”E – Express (Ungkapin
Perasaan Lo): Sampein
perasaan lo pake kalimat
“gue”. Contoh: “Gue ngerasa
frustrasi karena pendapat
gue belum selesai disampein.”S – Specify (Sebutin
Kebutuhan Lo):
Bilang dengan jelas apa yang
lo butuhin ke depannya.
Contoh: “Gue pengen kita
sepakat buat ngebiarin setiap
orang nyelesaiin kalimatnya
dulu sebelum pindah
ke poin lain.”C – Consequence (Jelasin
Dampaknya): Kasih tau
dampak positifnya kalau
kebutuhan lo dipenuhi.
Contoh: “Dengan gitu, semua
pendapat bisa didenger dan
rapat kita jadi lebih efektif.”
Tuhovsky nutup dengan pesan,
komunikasi asertif ini butuh latihan.
Awalnya mungkin kerasa nggak enak,
apalagi buat lo yang biasa pasif. Tapi
dengan formula ini, lo bisa belajar
jujur tanpa harus bikin hubungan lo
sama orang lain jadi rusak.
Gimana, gaes? Dua bab ini isinya
praktis banget, kan? Jurus bertanya
bikin orang lain nyaman cerita, dan
jurus asertif bikin lo bisa jaga
kejujuran tanpa drama. Keren! 🌱
