Ujian Sesungguhnya
Sahabat, kita sampai di dua bab
penutup yang menjadi bukti dari
seluruh perjalanan Nick. Setelah
belajar dan berlatih, kini tiba saatnya
ia menghadapi ujian sesungguhnya.
Berikut adalah Bab 5 dan Bab 6
Bab 5: Ujian Sesungguhnya
Keesokan harinya, matahari bersinar
cerah dan Nick pergi ke taman untuk
bermain. Suasana di taman
digambarkan ramai dengan
anak-anak lain yang sedang berlarian,
bermain perosotan, dan tertawa.
Nick berjalan dengan langkah ringan,
matanya langsung tertuju pada satu
benda yang paling ia inginkan:
sebuah ayunan kosong yang
bergoyang pelan tertiup angin.
Nick tersenyum lebar.
Ia membayangkan dirinya duduk
di ayunan itu, mengayun
tinggi-tinggi, merasakan angin
menerpa wajahnya. Pikirannya
sudah penuh dengan rencana
menyenangkan itu.Ia mulai berjalan cepat menuju
ayunan, tetapi tepat sebelum ia
tiba, seorang temannya melompat
dan duduk lebih dulu di ayunan
itu. Temannya itu bahkan tidak
melihat Nick datang; ia hanya
ingin bermain ayunan juga.Nick berhenti mendadak.
Ilustrasi di halaman ini
menunjukkan ekspresinya yang
langsung berubah: matanya
membelalak, tangannya
mengepal di sisi tubuhnya,
dan rahangnya mengeras.
Gunung berapi di perutnya mulai
memanas. Lava itu naik dengan
cepat. Pikirannya berteriak bahwa
itu adalah ayunannya, bahwa ia
sudah sampai lebih dulu, bahwa ini
tidak adil. Semua pola lama muncul
kembali, siap meledak seperti yang
terjadi pada istana baloknya.
Namun, di tengah kepanasan yang
menjalar di perutnya, sebuah
suara kecil muncul di kepalanya.
Suara itu bukan teriakan, melainkan
irama yang lembut dan akrab:
Stop and count to four. Breathe in
deep, then count some more.
Berhenti: Nick menghentikan
langkahnya. Ia tidak berlari
ke arah ayunan, tidak
mendorong temannya, dan tidak
membuka mulut untuk berteriak.
Ia hanya diam di tempatnya,
kakinya tertanam di tanah.Memejamkan mata:
Ia menutup matanya rapat-rapat,
persis seperti yang ia latih
bersama ibunya. Dunia
di sekitarnya yang ramai ia
blokir sejenak.Menarik napas dalam:
Nick menarik napas panjang
dan dalam. Ilustrasi
menunjukkan perutnya yang
mengembang, udara
memenuhi paru-parunya.
Ia membayangkan lilin yang
ia tiup pelan-pelan saat berlatih.Menghitung: Dalam hatinya,
ia menghitung. Satu, dua, tiga,
empat. Lalu ia mengembuskan
napasnya perlahan, dan
menghitung lagi.
Dan kemudian, sesuatu yang aneh
terjadi. Lava di gunung berapinya
tidak naik lebih tinggi.
Malah sebaliknya, ia perlahan turun.
Panas di perutnya mulai mereda,
digantikan oleh rasa tenang yang
sebelumnya tidak pernah ia rasakan
di saat-saat seperti ini. Narasi
menggambarkan bahwa amarah itu
mengecil, seperti balon yang
mengempis pelan-pelan, bukan
meletus.
Ketika Nick membuka matanya
kembali, dunia masih sama.
Ayunan itu masih diduduki
temannya. Tapi perasaan Nick
sudah berbeda. Ia tidak lagi
merasa ingin berteriak atau
menangis. Ia menyadari bahwa
ia bisa menerima kenyataan
itu tanpa ledakan.
Bab 6: Aku Lebih Kuat dari
Amarah
Bab terakhir ini dibuka dengan
sebuah kesadaran yang membuncah
di dalam dada Nick. Ia berdiri
di taman, di bawah sinar matahari,
dan ia menyadari sesuatu yang
sangat besar: ia berhasil
menenangkan dirinya sendiri.
Nick merasakan sebuah
perasaan baru yang
menggantikan amarahnya:
rasa bangga. Dadanya terasa
ringan, dan sebuah senyuman
kecil muncul di sudut bibirnya.
Ini bukan senyum karena
mendapatkan sesuatu,
melainkan senyum karena ia
berhasil melakukan sesuatu
yang sulit.Ia melihat temannya yang masih
bermain ayunan,
lalu mengalihkan pandangannya
ke area bermain lain. Di sana,
ada sekelompok anak yang
sedang bermain pasir,
membangun istana dan
gunung-gunung kecil.Nick memutuskan untuk
bergabung dengan mereka.
Ia berjalan ke arah kotak pasir,
berlutut, dan mulai ikut
membangun. Ilustrasi
menunjukkan Nick yang kini
tertawa bersama teman-teman
barunya, pasir menempel
di tangannya, dan wajahnya
kembali cerah seperti di awal
buku.
Di momen inilah, narasi
menyampaikan kalimat yang
menjadi judul dan pesan utama
dari seluruh buku ini. Nick
berkata pada dirinya sendiri,
dengan suara lirih namun
penuh keyakinan:
“Aku lebih kuat dari amarahku.”
Kalimat ini bukan sekadar kata-kata.
Ini adalah deklarasi kemenangan.
Nick telah membuktikan bahwa
gunung berapi di perutnya tidak
mengendalikan dirinya; justru
dialah yang bisa mengendalikan
gunung berapi itu.
Buku ini ditutup dengan pesan
yang ditujukan langsung kepada
pembaca cilik. Narasi mengatakan
bahwa setiap anak bisa menjadi
pahlawan atas emosinya sendiri.
Tidak perlu menjadi sempurna,
tidak perlu tidak pernah marah.
Tetapi setiap kali amarah datang,
sajak ajaib itu selalu ada untuk
digunakan:
Stop and count to four. Breathe
in deep, then count some more.
Halaman terakhir menunjukkan
Nick yang berdiri dengan pose
percaya diri, mungkin dengan
tangan di pinggang atau dada
yang dibusungkan, dengan
senyuman bangga di wajahnya.
Latar belakangnya cerah, penuh
warna, menandakan bahwa
perjalanannya telah mencapai
titik yang membahagiakan.
Sahabat, demikianlah akhir dari
kisah Nick si dinosaurus. Dari
anak yang mudah meledak, ia
belajar bahwa amarah itu wajar,
tetapi ia tidak harus dikuasai
olehnya. Dengan pelukan ibunya,
sajak sederhana, dan latihan
yang tekun, Nick membuktikan
bahwa ia, dan setiap anak yang
membaca buku ini, bisa berkata
dengan lantang:
“Aku lebih kuat dari amarahku.”
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Gaes, ini dia momen puncak yang kita
tunggu-tunggu! Setelah belajar dan
latihan keras, si Nick akhirnya harus
ngadepin ujian beneran.
Apakah jurus “stop and count” dari
ibunya bakal mempan pas lagi
di lapangan? Yuk, kita saksikan aksi
heroik Nick di Bab 5 dan 6!
Bab 5: Ujian Sesungguhnya
di Taman
Keesokan harinya, cuaca lagi cerah
banget dan Nick pun pergi ke taman
buat main. Suasananya rame banget,
gaes. Banyak anak-anak lain yang
lagi pada lari-larian, main perosotan,
dan ketawa-ketawa. Mata Nick
langsung ngunci ke satu benda yang
paling dia incer: sebuah ayunan
kosong yang bergoyang pelan kena
angin.
Lo bisa bayangin, Nick udah senyum
lebar. Di kepalanya, dia udah
ngebayangin dirinya duduk
di ayunan itu, ngayun tinggi-tinggi,
ngerasain angin sepoi-sepoi kena
muka. Udah rencana asik banget.
Dia pun mulai jalan cepet ke arah
ayunan. Tapi, pas dia hampir
nyampe… jleb! Seorang temennya
tiba-tiba udah ngelompat duluan
dan duduk manis di ayunan itu.
Temennya itu kayaknya bahkan
nggak nyadar Nick juga lagi
ngejar ayunan yang sama.
Nick langsung berenti mendadak.
Coba lo liat ilustrasinya: mata Nick
melotot, tangannya langsung ngepal
di samping badan, dan rahangnya
ngeres. Gunung berapi di perutnya
langsung panas lagi, lavanya naik
cepet banget. Di pikirannya, dia
pasti ngerasa itu ayunan dia,
dia kan yang udah duluan, ini nggak
adil! Semua pola lama langsung balik,
kayak pas insiden istana balok dulu.
Tapi, di tengah panas yang mulai
menjalar di perutnya, tiba-tiba ada
suara kecil yang muncul
di kepalanya. Suara ini bukan
teriakan, gaes. Suaranya lembut dan
familiar: Stop and count to four.
Breathe in deep, then count some
more.
Berhenti: Nick langsung ngerem
langkahnya. Dia nggak jadi lari
ke ayunan, nggak ngedorong
temennya, dan nggak buka
mulut buat teriak. Dia cuma
diem di tempat, kakinya nancep
di tanah.
Merem: Dia nutup matanya
rapet-rapet, persis kayak yang
dia latih sama ibunya. Dunia
di sekitarnya yang rame dia
blokir dulu sejenak.
Narik Napas Dalem: Nick narik
napas panjang dan dalem. Ilustrasinya
nunjukin perut Nick yang ngembang,
paru-parunya terisi penuh.
Dia ngebayangin lilin yang dia
tiup pelan-pelan pas latihan.
Ngitung: Di dalem hati, dia
ngitung. Satu, dua, tiga, empat.
Terus dia ngembusin napasnya
pelan-pelan, dan ngitung lagi.
Dan coba tebak apa yang terjadi?
Lavanya si gunung berapi itu nggak
naik lebih tinggi. Malah sebaliknya,
dia turun pelan-pelan.
Panas di perutnya mereda, digantiin
rasa tenang yang belum pernah dia
rasain sebelumnya di saat-saat kayak
gini. Narasinya bilang, amarah itu
menciut, kayak balon yang bocor
pelan-pelan, bukan meledak.
Pas Nick buka matanya lagi, dunia
masih sama. Ayunannya masih
didudukin temennya. Tapi perasaan
Nick udah beda. Dia udah nggak
pengen teriak atau nangis lagi.
Dia sadar, dia bisa nerima kenyataan
itu tanpa harus ngamuk.
Bab 6: Deklarasi Kemenangan,
“Aku Lebih Kuat dari
Amarahku!”
Bab pamungkas ini buka dengan
sebuah kesadaran yang meledak
di dada Nick. Dia berdiri di taman,
di bawah sinar matahari, dan dia
nyadar satu hal yang gede banget:
dia berhasil nenangin dirinya
sendiri!
Nick ngerasain perasaan baru yang
nggak kalah dahsyat dari amarahnya:
rasa bangga. Dadanya kerasa
plong, dan senyum kecil muncul
di ujung bibirnya. Ini bukan senyum
karena dapet mainan, ya.
Tapi senyum karena dia berhasil
ngelakuin sesuatu yang susah banget.
Dia ngeliat temennya yang masih
asik main ayunan, terus ngeliat
ke area main lain. Di sana, ada
anak-anak yang lagi asik main pasir,
bikin istana dan gunung-gunungan.
Nick akhirnya mutusin buat gabung
sama mereka. Dia jalan ke kotak
pasir, duduk, dan mulai ikutan
ngebangun. Ilustrasinya pasti
nunjukin Nick yang sekarang ikut
ketawa bareng temen-temen barunya,
tangannya belepotan pasir, dan
mukanya balik cerah.
Nah, di momen inilah, narasinya
ngomong kalimat yang jadi judul
dan pesan utama buku ini. Nick
bilang ke dirinya sendiri, dengan
suara pelan tapi penuh keyakinan:
“Aku lebih kuat dari amarahku.”
Kalimat ini sakti, gaes.
Ini bukan cuma bualan. Ini adalah
pengakuan kemenangan. Nick udah
ngebuktiin kalau gunung berapi
di perutnya itu nggak bisa
ngendaliin dia. Justru dia yang
bisa ngendaliin gunung berapi itu.
Buku ini akhirnya ditutup dengan
pesan yang langsung nyampe
ke pembaca cilik: setiap anak bisa
jadi pahlawan buat emosinya
sendiri. Nggak perlu sempurna,
nggak perlu nggak pernah marah.
Tapi setiap kali amarah itu dateng,
sajak ajaib itu selalu siap dipake:
Stop and count to four. Breathe in
deep, then count some more.
Halaman terakhirnya pasti
nunjukin Nick yang berdiri dengan
pose pede, mungkin dengan tangan
di pinggang atau dada yang
dibusungin, sambil senyum bangga.
Latar belakangnya cerah, penuh
warna, nandain perjalanannya udah
nyampe di akhir yang bahagia.
Gimana, gaes?
Perjalanan Nick keren banget, kan?
Dari dinosaurus yang suka ngamuk,
dia belajar kalau amarah itu wajar,
tapi dia nggak harus dikuasai.
Dengan pelukan ibunya, sajak simpel,
dan latihan, Nick (dan kita juga) bisa
bilang dengan lantang:
“Aku lebih kuat dari amarahku!”
