buku

Bab 7 Timur Tengah: Harapan di Tengah Perpecahan

Setelah menyaksikan kekacauan
di Kongo dan keputusasaan
di Somalia, Simon Reeve melanjutkan
perjalanannya ke kawasan yang
mungkin paling rumit dan paling
emosional di dunia: 
Timur Tengah.
Ia menelusuri Israel, Tepi Barat,
Gaza, dan Irak. Kawasan ini adalah
pusat dari beberapa konflik paling
lama dan paling pahit dalam sejarah
modern. Berita tentang bom bunuh
diri, serangan udara, dan bentrokan
di perbatasan seolah tidak pernah
berhenti.

Simon datang ke sini dengan
kesadaran bahwa ini adalah tempat
di mana orang-orang sangat yakin
dengan kebenaran pihak
masing-masing. Di satu sisi, Israel
dengan klaim historisnya atas tanah
yang dijanjikan. Di sisi lain, Palestina
dengan perjuangannya untuk tanah
yang mereka yakini dirampas. Kedua
belah pihak memiliki luka yang dalam.
Kedua belah pihak memiliki cerita
yang memilukan. Dan di antara
keduanya, ada tembok beton setinggi
beberapa meter yang memisahkan
mereka secara fisik, dan kebencian
yang memisahkan mereka secara batin.

Simon berjalan di jalanan Yerusalem,
kota yang sakral bagi tiga agama besar
dunia. Ia mengunjungi Tepi Barat dan
melihat pos-pos pemeriksaan militer
di mana warga Palestina harus antre
berjam-jam hanya untuk pergi bekerja
atau mengunjungi keluarga. Ia pergi
ke Gaza, daerah kantong kecil yang
dihuni hampir dua juta orang dan
diblokade dari semua sisi. Di Gaza,
ia melihat bangunan-bangunan yang
hancur oleh serangan udara.
Ia bertemu dengan anak-anak yang
tumbuh tanpa pernah mengenal
dunia tanpa suara drone di atas
kepala mereka.

Di Irak, ia menyaksikan negara yang
masih berdarah-darah setelah
bertahun-tahun perang, invasi, dan
terorisme. Kota-kota yang dulu
menjadi pusat peradaban kini
dipenuhi puing-puing.

Melihat semua ini, Simon bisa saja
pulang dengan hati yang penuh
keputusasaan. Tapi di tengah semua
luka itu, ia menemukan sesuatu yang
tidak ia duga. Ia menemukan
kisah-kisah kerja sama lintas
batas
. Ia bertemu dengan para
aktivis perdamaian yang menolak
logika perang. Orang-orang yang
kehilangan anggota keluarga karena
kekerasan, tapi memilih untuk tidak
membalas dendam. Seorang ibu
Israel yang anaknya tewas dalam
serangan bunuh diri, namun
bergabung dengan kelompok yang
mendorong dialog dengan Palestina.
Seorang pemuda Palestina yang
rumahnya dihancurkan oleh buldoser
militer, namun memilih untuk
menjadi pembicara publik tentang
perdamaian.

Simon juga bertemu dengan warga
biasa yang menolak menyerah
pada kebencian
. Toko roti
di Yerusalem yang dimiliki bersama
oleh seorang Yahudi dan seorang
Arab. Dokter di Gaza yang bekerja
sama dengan dokter di Israel untuk
menyelamatkan anak-anak yang
sakit. Musisi yang menciptakan lagu
dalam bahasa Ibrani dan Arab,
berharap musik bisa menjembatani
apa yang tidak bisa dijembatani oleh
politik.

Di kawasan yang paling terpecah
di dunia, Simon menemukan bahwa
harapan tidak pernah sepenuhnya
mati. Ia seperti rumput kecil yang
tumbuh di celah-celah beton. Tidak
terlihat oleh kamera berita, tapi
ada di sana, hidup, dan nyata.

Perjalanan ke Timur Tengah ini
semakin menguatkan pelajaran yang
sudah mulai ia petik di Somalia.
Dunia tidak hitam-putih. Konflik
tidak pernah sesederhana
“orang baik melawan orang jahat”.
Ada nuansa. Ada kompleksitas.
Ada sejarah yang berlapis-lapis.
Ada penderitaan di semua sisi.
Perjalanan memaksanya untuk terus
mempertanyakan keyakinannya
sendiri. Apakah yang ia yakini
selama ini benar? Apakah ia terlalu
cepat menghakimi? Apakah ia sudah
mendengarkan kedua belah pihak,
atau hanya mendengarkan yang
paling keras?

Simon tidak menawarkan solusi
untuk konflik Timur Tengah.
Ia bukan politisi. Ia bukan diplomat.
Ia hanyalah seorang jurnalis yang
mencoba memahami. Tapi di akhir
perjalanannya, ia pulang dengan
keyakinan bahwa mendengarkan
adalah awal dari segalanya.
Sebelum kamu bisa berdamai,
kamu harus mau mendengarkan
cerita pihak lain. Dan itu sama
sulitnya dengan menyeberangi
gurun.

Bab 8: Cinta, Keluarga, dan
Langkah Berikutnya

Perjalanan Pulang yang
Sesungguhnya

Bab terakhir dari buku ini membawa
kita ke sebuah perjalanan yang
sangat berbeda. Bukan ke zona
perang. Bukan ke ladang
pembantaian. Tapi ke 
Tajikistan,
sebuah negara pegunungan di Asia
Tengah yang jarang dikunjungi orang.
Di sinilah, di tengah salah satu
tempat paling terpencil di dunia,
Simon Reeve menemukan sesuatu
yang tidak pernah ia cari sebelumnya.

Saat membuat film di Tajikistan,
ia bertemu dengan 
Anya, seorang
produser televisi yang bekerja
di kru yang sama. Anya berbeda
dari orang-orang yang biasa ditemui
Simon dalam perjalanannya.
Ia bukan narasumber. Ia bukan
pejabat. Ia adalah rekan kerja,
seseorang yang berbagi pengalaman
yang sama: berdiri di tengah hujan,
berkeringat di bawah terik matahari,
menunggu berjam-jam untuk
wawancara yang tidak kunjung datang.
Di sela-sela syuting, di antara jeda
dan logistik yang kacau, sesuatu mulai
tumbuh di antara mereka.

Simon tidak menceritakan kisah
cintanya dengan detail yang romantis
dan berlebihan. Ia menceritakannya
dengan sederhana, sebagaimana ia
menceritakan segala sesuatu yang lain.
Yang penting bukanlah bagaimana
mereka jatuh cinta. Yang penting
adalah apa yang terjadi setelahnya.

Pertemuan dengan Anya menandai
peralihan besar dalam hidupnya.
Selama bertahun-tahun, Simon
adalah seorang pencari sensasi.
Ia pergi ke tempat-tempat paling
berbahaya di dunia. Ia ditangkap
tentara anak-anak. Ia ditodong
senjata. Ia menyaksikan kengerian
yang tidak terbayangkan.
Ia melakukan semua ini dengan
dorongan yang sama yang dulu
membuatnya mencoba bunuh diri:
kegelisahan, ketidakpuasan,
pencarian akan sesuatu yang tidak
bisa ia sebutkan. Perjalanannya
adalah cara untuk lari dari dirinya
sendiri.

Tapi sekarang, untuk pertama
kalinya, ia ingin berhenti berlari.

Simon menjadi seorang suami.
Lalu menjadi seorang 
ayah.
Ini adalah peran yang sama sekali
baru baginya. Ia yang dulu tidak
bisa merawat dirinya sendiri, kini
bertanggung jawab atas kehidupan
kecil yang sepenuhnya bergantung
padanya. Anaknya tidak peduli
bahwa ayahnya pernah melintasi
Siberia. Anaknya tidak peduli
bahwa ayahnya pernah bertemu
bajak laut. Anaknya hanya peduli
bahwa ayahnya ada di sana,
di rumah, membacakan cerita
sebelum tidur.

Ini adalah tantangan yang berbeda
dari semua yang pernah ia hadapi.
Tidak ada senjata. Tidak ada bahaya
fisik. Tapi ada ketakutan yang sama
nyatanya. Ketakutan akan menjadi
ayah yang buruk. Ketakutan akan
mengulangi kesalahan orang tuanya.
Ketakutan bahwa kegelisahannya
akan kembali dan merusak semua
yang telah ia bangun.

Di akhir buku ini, Simon duduk dan
melakukan 
refleksi. Ia memikirkan
semua langkah kecil yang telah
membawanya ke titik ini. Masa
kecilnya di Acton. Depresinya.
Percobaan bunuh dirinya.
Pekerjaannya sebagai tukang pos.
Keberaniannya mengajukan ide
liputan pertama. Kereta Trans-Siberia.
Kamboja. Kongo. Somalia. Timur
Tengah.

Ia menyadari bahwa semua
langkah itu, termasuk yang
paling menyakitkan, telah
membentuk dirinya
. Setiap
kegagalan memberinya pelajaran.
Setiap luka memberinya kekuatan.
Setiap pertemuan dengan orang
asing di negeri jauh memberinya
perspektif baru. Ia tidak menyesali
masa lalunya. Bukan karena masa
lalunya indah. Tapi karena masa
lalunya adalah gurunya. Tanpa titik
terendah itu, ia tidak akan pernah
menghargai titik tertingginya.
Tanpa kegelapan itu, ia tidak akan
pernah bisa melihat terang.

Perjalanan fisik yang ia lakukan
selama bertahun-tahun, melintasi
benua dan zona perang, akhirnya
membawanya pulang. Bukan hanya
pulang ke rumahnya di Inggris.
Tapi pulang ke 
perjalanan batin
yang lebih dalam
. Sebuah
perjalanan yang berujung pada
tiga hal.

Yang pertama adalah syukur.
Simon tidak lagi marah pada dunia
atau pada dirinya sendiri.
Ia bersyukur untuk setiap langkah
yang telah membawanya ke sini.
Ia bersyukur untuk Anya.
Ia bersyukur untuk anaknya.
Ia bersyukur bahwa ia masih hidup,
setelah semua yang ia lalui.

Yang kedua adalah tanggung jawab.
Simon menyadari bahwa ia tidak bisa
lagi hidup hanya untuk dirinya
sendiri. Ia memiliki keluarga yang
bergantung padanya. Ia memiliki
platform yang bisa ia gunakan untuk
menceritakan kisah-kisah yang
perlu didengar. Ia memiliki
tanggung jawab untuk menggunakan
suaranya dengan bijak.

Dan yang ketiga adalah keberanian
untuk terus melangkah
ke depan
. Simon tidak tahu apa
yang akan terjadi besok. Tidak ada
yang tahu. Tapi ia sudah belajar
bahwa langkah demi langkah, sedikit
demi sedikit, hidup bisa berubah.
Dari tukang pos menjadi jurnalis.
Dari jurnalis menjadi pembawa
acara. Dari seorang pemuda yang
ingin mati menjadi seorang ayah
yang ingin hidup selama mungkin.
Semua itu tidak terjadi dalam
semalam. Semua itu terjadi
selangkah demi selangkah.

Buku ini ditutup bukan dengan
kesimpulan yang rapi, melainkan
dengan undangan. Undangan untuk
melihat hidup kita sendiri dan
bertanya: langkah kecil apa yang
bisa kita ambil hari ini? Kita tidak
perlu melintasi Siberia. Kita tidak
perlu pergi ke zona perang. Kita hanya
perlu mengambil satu langkah. Satu
langkah kecil menuju sesuatu yang
lebih baik. Karena dari satu langkah
kecil itulah, seperti yang dibuktikan
oleh hidup Simon Reeve, segalanya
bisa berubah.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, lanjut nih obrolan kita. Kali ini
gue mau ngajak lo ke dua bab terakhir
dari buku Simon Reeve yang
bener-bener ngena di hati. Setelah
semua tempat mengerikan yang dia
datangi, Simon akhirnya nemuin
sesuatu yang mungkin selama ini dia
cari tanpa sadar. Dan percaya deh,
ini bukan soal petualangan seru, tapi
soal perjalanan batin yang bakal
bikin lo merenung.

Bab 7: Timur Tengah, Harapan
di Tengah Perpecahan

Lo pasti tau kan, Timur Tengah itu
kayak apa? Berita soal bom,
serangan udara, bentrokan
di perbatasan, kayaknya nggak
pernah habis. Simon datang ke sini,
ke Israel, Tepi Barat, Gaza, dan Irak.
Kawasan yang jadi pusat konflik
paling lama dan paling pahit dalam
sejarah modern.

Di sini, lo bakal nemuin dua pihak
yang sama-sama yakin kalau mereka
yang paling benar. Israel dengan
klaim historisnya atas tanah yang
dijanjikan. Palestina dengan
perjuangannya buat tanah yang
mereka yakini dirampas. Dua-duanya
punya luka yang dalem banget. Dan
di antara mereka, ada tembok beton
tinggi yang misahin secara fisik, dan
kebencian yang misahin secara batin.

Simon jalan di Yerusalem, kota yang
sakral buat tiga agama besar. Dia
ke Tepi Barat, ngeliat pos-pos
pemeriksaan militer di mana warga
Palestina harus antre berjam-jam
cuma buat pergi kerja atau
ngunjungin keluarga. Dia ke Gaza,
daerah kantong kecil yang dihuni
hampir dua juta orang dan
diblokade dari semua sisi. Di sana,
dia ngeliat bangunan hancur, dan
ketemu anak-anak yang tumbuh
tanpa pernah tahu dunia tanpa
suara drone di atas kepala mereka.
Di Irak, dia nyaksiin negara yang
masih berdarah-darah, kota-kota
yang dulu pusat peradaban,
sekarang cuma puing-puing.

Terus terang, ngeliat semua itu,
Simon bisa aja pulang dengan hati
penuh keputusasaan. Tapi, di tengah
semua luka itu, dia malah nemuin
sesuatu yang nggak dia duga.
Dia nemuin kisah-kisah kerja sama
lintas batas. Dia ketemu aktivis
perdamaian yang nolak logika perang.

Ada seorang ibu Israel yang anaknya
tewas dalam serangan bunuh diri.
Lo kira dia bakal penuh dendam?
Nggak, dia malah gabung sama
kelompok yang ngedorong dialog
sama Palestina. Ada pemuda
Palestina yang rumahnya dihancurkan
buldoser militer, tapi dia milih jadi
pembicara publik tentang perdamaian.
Simon juga ketemu warga biasa yang
nolak nyerah sama kebencian.
Toko roti di Yerusalem yang dimiliki
bareng Yahudi dan Arab. Dokter
di Gaza yang kerja sama dengan
dokter Israel buat nyelametin
anak-anak sakit. Musisi yang bikin
lagu pake bahasa Ibrani dan Arab,
berharap musik bisa menjembatani
sesuatu yang nggak bisa dijembatani
politik.

Di kawasan yang paling terpecah
di dunia, Simon nemuin harapan tuh
nggak pernah bener-bener mati.
Harapan itu kayak rumput kecil
yang maksa tumbuh di celah-celah
beton. Nggak keliatan kamera berita,
tapi ada, hidup, dan nyata.
Perjalanan ini makin nguatin
pelajaran yang udah mulai dia petik
di Somalia: dunia nggak hitam putih.
Konflik nggak pernah sesederhana
“orang baik lawan orang jahat”.
Ada nuansa, ada kompleksitas, ada
penderitaan di semua sisi. Simon
jadi terus-terusan nanya ke dirinya
sendiri, “Apa yang gue yakini
selama ini bener? Apa gue terlalu
cepet nge-judge?” Dia bukan politisi,
bukan diplomat, cuma jurnalis yang
nyoba ngerti. Dan dia pulang dengan
keyakinan bahwa mendengarkan
adalah awal dari segalanya. Sebelum
lo bisa berdamai, lo harus mau
dengerin cerita pihak lain. Dan itu
sama sulitnya kayak nyebrang gurun.

Bab 8: Cinta, Keluarga, dan
Perjalanan Pulang yang
Sesungguhnya

Nah, bab terakhir ini bener-bener
beda. Bukan lagi soal zona perang
atau ladang pembantaian. Ini soal
Tajikistan, negara pegunungan
terpencil di Asia Tengah. Dan
di sanalah, di tempat yang antah
berantah, Simon Reeve nemuin
sesuatu yang nggak pernah dia
cari sebelumnya.

Waktu bikin film di Tajikistan,
dia ketemu Anya, seorang produser
TV yang kerja di kru yang sama.
Anya bukan narasumber, bukan
pejabat, dia cuma rekan kerja.
Mereka bareng-bareng berdiri
di tengah hujan, keringetan
di bawah terik matahari, nunggu
berjam-jam buat wawancara yang
nggak datang-datang. Dan
di sela-sela semua kekacauan itu,
sesuatu mulai tumbuh di antara
mereka.

Simon cerita soal kisah cintanya ini
dengan simpel, nggak lebay. Yang
penting bukan gimana mereka jatuh
cinta, tapi apa yang terjadi
setelahnya. Pertemuan sama Anya
jadi titik balik gede dalam hidupnya.
Bertahun-tahun, Simon adalah tipe
petualang sejati. Dia pergi ke tempat
paling bahaya, ditangkep tentara
anak-anak, ditodong senjata,
nyaksiin kengerian. Dia ngelakuin
semua itu dengan dorongan yang
mirip kayak yang dulu bikin dia
nyoba bunuh diri: kegelisahan,
ketidakpuasan, nyari sesuatu yang
nggak bisa dia sebutkan.
Perjalanannya adalah cara dia
lari dari diri sendiri.

Tapi sekarang, untuk pertama kalinya,
dia pengen berhenti lari. Simon jadi
seorang suami, lalu jadi seorang ayah.
Ini peran yang sama sekali baru.
Dia yang dulu nggak bisa ngurus diri
sendiri, sekarang punya tanggung
jawab atas kehidupan kecil yang
sepenuhnya bergantung padanya.
Anaknya nggak peduli ayahnya pernah
ngelintasi Siberia, pernah ketemu
bajak laut. Anaknya cuma peduli
ayahnya ada di rumah, bacain cerita
sebelum tidur.

Jujur, ini jadi tantangan yang beda
dari semua yang pernah dia hadapi.
Nggak ada senjata, nggak ada bahaya
fisik. Tapi ada ketakutan yang sama
nyatanya. Takut jadi ayah yang buruk,
takut ngulangin kesalahan orang
tuanya, takut kegelisahannya balik
lagi dan ngancurin semua yang udah
dia bangun.

Di akhir buku, Simon duduk dan
merenung. Dia mikirin semua
langkah kecil yang bawa dia ke titik
ini. Masa kecil di Acton, depresi,
percobaan bunuh diri, kerja jadi
tukang pos, keberanian ngajuin ide
liputan pertama, kereta Trans-Siberia,
Kamboja, Kongo, Somalia, Timur
Tengah. Dia sadar, semua langkah itu,
termasuk yang paling nyakitin, udah
ngebentuk dia. Setiap kegagalan
ngasih pelajaran, setiap luka ngasih
kekuatan, setiap ketemu orang asing
di negeri jauh ngasih perspektif baru.

Dia nggak nyesali masa lalunya. Bukan
karena masa lalunya indah, tapi
karena masa lalunya adalah gurunya.
Tanpa titik terendah itu, dia nggak
bakal bisa ngargain titik tertingginya.
Tanpa kegelapan itu, dia nggak bakal
bisa ngeliat terang. Perjalanan fisik
selama bertahun-tahun, ngelintasi
benua dan zona perang, akhirnya
bener-bener membawanya pulang.
Bukan cuma pulang ke rumahnya
di Inggris, tapi pulang ke perjalanan
batin yang lebih dalem.

Perjalanan itu ngasih dia tiga hal.
Pertama, 
syukur. Simon nggak lagi
marah sama dunia atau dirinya
sendiri. Dia bersyukur buat setiap
langkah yang bawa dia ke sini, buat
Anya, buat anaknya, dan buat
kenyataan bahwa dia masih hidup.
Kedua, 
tanggung jawab. Dia sadar
nggak bisa lagi hidup cuma buat diri
sendiri. Dia punya keluarga yang
bergantung, platform yang bisa
dipake buat cerita, dan suara yang
harus dipake dengan bijak. Ketiga,
keberanian buat terus
melangkah.
 Dia nggak tahu apa
yang bakal terjadi besok, tapi dia
udah belajar, langkah demi langkah,
hidup bisa berubah. Dari tukang pos
jadi jurnalis, dari jurnalis jadi
pembawa acara, dari pemuda yang
pengen mati, jadi ayah yang pengen
hidup selama mungkin. Semua itu
nggak terjadi dalam semalam, tapi
selangkah demi selangkah.

Buku ini ditutup bukan dengan
kesimpulan rapi, tapi dengan
undangan. Undangan buat lo dan
gue, buat ngeliat hidup kita sendiri
dan nanya: langkah kecil apa yang
bisa kita ambil hari ini? Lo nggak
perlu ngelintasi Siberia atau pergi
ke zona perang. Lo cuma perlu
ambil satu langkah kecil menuju
sesuatu yang lebih baik. Karena dari
satu langkah kecil itulah, kayak yang
dibuktiin hidup Simon Reeve,
segalanya bisa berubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *