buku

Bab 5 Bertahan di Jantung Konflik: Kongo

Setelah Kamboja, Simon Reeve terus
mencari cerita di tempat-tempat
yang sulit. Ia tidak tertarik pada
tujuan wisata yang aman dan nyaman.
Ia tertarik pada tempat-tempat
di mana sejarah sedang ditulis
dengan darah. Dan tidak banyak
tempat di dunia yang lebih berdarah
daripada 
Republik Demokratik
Kongo
.

Kongo adalah negara yang sangat
kaya sekaligus sangat miskin.
Tanahnya menyimpan cadangan
mineral yang luar biasa: emas,
berlian, coltan yang digunakan
di setiap ponsel pintar. Tapi kekayaan
alam ini tidak pernah dinikmati oleh
rakyatnya. Justru sebaliknya,
kekayaan ini menjadi kutukan.
Berbagai pihak berebut menguasai
tambang. Negara tetangga ikut
campur. Pemberontak bersenjata
menguasai wilayah. Dan rakyat biasa
terjebak di tengahnya.

Perang saudara di Kongo telah
menewaskan jutaan orang. Ini adalah
salah satu konflik paling mematikan
sejak Perang Dunia Kedua.
Tapi karena terjadi jauh dari kamera
televisi Barat, dunia hampir tidak
memperhatikan. Simon datang
ke sini untuk melihat dengan
matanya sendiri.

Yang membuat Kongo sangat
mengerikan adalah penggunaan
tentara anak-anak. Anak-anak
yang seharusnya bersekolah dan
bermain justru direkrut, diberi senjata,
dan dipaksa menjadi pembunuh.
Mereka seringkali diberi narkoba dan
alkohol untuk menghilangkan rasa
takut dan rasa bersalah. Mereka
berubah menjadi mesin pembunuh
yang tidak stabil dan sangat berbahaya.

Simon mengalami langsung kengerian
ini. Saat sedang melakukan perjalanan
di wilayah konflik, ia dan krunya
ditangkap oleh sekelompok
tentara anak-anak yang mabuk
.
Mereka masih belasan tahun.
Beberapa mungkin bahkan belum
genap lima belas tahun. Tapi di tangan
mereka ada senapan serbu. Mata
mereka merah dan liar. Napas
mereka berbau alkohol.

Mereka menodongkan senjata
ke arah Simon. Mereka berteriak
dalam bahasa yang tidak ia mengerti.
Mereka mendorongnya,
mengancamnya, dan untuk beberapa
saat yang terasa seperti keabadian,
Simon benar-benar yakin bahwa ia
akan mati. Di tempat terpencil
di jantung Afrika, di tangan
anak-anak yang bahkan tidak
mengerti apa yang mereka lakukan.

Ini adalah pengalaman yang nyaris
merenggut nyawanya
. Simon
telah melalui banyak hal buruk
dalam hidupnya. Depresi.
Percobaan bunuh diri. Tapi belum
pernah sebelumnya ia berada dalam
bahaya yang begitu langsung dan
begitu fisik. Ini adalah momen
di mana ia harus menggunakan
semua ketenangannya, semua insting
bertahan hidupnya, untuk tidak
panik, untuk berbicara dengan suara
yang tenang, untuk menunjukkan
bahwa ia bukan ancaman.

Entah bagaimana, ia selamat.
Mungkin karena ia tetap tenang.
Mungkin karena seseorang yang
lebih tua muncul dan mengendalikan
situasi. Mungkin hanya
keberuntungan belaka. Tapi ia
keluar dari situasi itu dengan tubuh
yang utuh dan jiwa yang terguncang.

Di tengah semua ketakutan dan
kekacauan itu, Simon belajar sesuatu
yang paradoks. Ia menyaksikan
kekacauan total yang bisa
menimpa sebuah bangsa
.
Bagaimana tatanan sosial bisa
runtuh sepenuhnya. Bagaimana
manusia bisa berubah menjadi
binatang. Bagaimana anak-anak
bisa menjadi algojo. Ini adalah
sisi tergelap dari kemanusiaan,
dan ia melihatnya langsung.

Tapi di saat yang sama, ia juga
menemukan 
kilasan kebaikan
dari orang-orang biasa
.
Di desa-desa yang hancur oleh
perang, ia bertemu dengan para ibu
yang masih mencoba memberi makan
anak-anak mereka meskipun tidak
punya apa-apa. Ia bertemu dengan
para guru yang masih mengajar
di bawah pohon karena sekolah
mereka sudah dibakar. Ia bertemu
dengan para perawat yang bekerja
tanpa obat dan tanpa peralatan,
hanya dengan tangan kosong dan
hati yang besar.

Mereka tidak menyerah. Mereka
tidak menyerah pada kekejaman
di sekitar mereka. Mereka masih
bangun setiap pagi. Mereka masih
tersenyum. Mereka masih berharap.
Di tengah neraka yang
menyala-nyala, mereka adalah
lilin-lilin kecil yang menolak
untuk padam.

Ini adalah pelajaran yang terus
Simon bawa sepanjang kariernya.
Bahwa bahkan di tempat yang
paling gelap sekalipun, selalu ada
cahaya. Bahwa kemanusiaan tidak
bisa sepenuhnya dihancurkan.
Bahwa harapan, meskipun kecil
dan rapuh, selalu ada di suatu
tempat, menunggu untuk ditemukan.

Bab 6: Somalia dan Batas
Kemanusiaan

Dari Kongo, Simon melanjutkan
perjalanannya ke tempat yang bahkan
lebih ditakuti oleh dunia luar:
Somalia. Somalia adalah negara
yang sering disebut sebagai
“negara gagal”. Pemerintah pusatnya
runtuh pada tahun 1991. Sejak itu,
negara ini terpecah menjadi
wilayah-wilayah yang dikuasai oleh
panglima perang, kelompok militan,
dan bajak laut. Tidak ada hukum.
Tidak ada ketertiban. Hanya
kekerasan dan kelangsungan hidup.

Simon melakukan perjalanan
ke dua wilayah di Somalia:
Somaliland di utara, yang relatif
stabil dan telah mendeklarasikan
kemerdekaan meskipun tidak
diakui secara internasional, dan
Puntland di timur, yang terkenal
sebagai pusat pembajakan laut.

Di sinilah Simon bertemu langsung
dengan 
para bajak laut Somalia.
Sebelum kedatangannya, gambaran
tentang bajak laut di benaknya
mungkin sama dengan gambaran
di benak kebanyakan orang:
penjahat, monster, perompak haus
darah yang menyerang kapal-kapal
tak berdosa demi kekayaan. Tapi
apa yang ia temukan jauh lebih rumit.

Para bajak laut yang ia temui
bukanlah monster. Mereka adalah
mantan nelayan. Dulu, mereka
mencari nafkah dengan jaring dan
perahu kecil, menangkap ikan
di perairan yang kaya di lepas
pantai Somalia. Tapi kemudian
kapal-kapal penangkap ikan raksasa
dari negara-negara kaya datang dan
mengeruk habis laut mereka. Pada
saat yang sama, kapal-kapal Eropa
membuang limbah beracun
di perairan Somalia karena tidak
ada pemerintah yang bisa
menghentikan mereka.

Para nelayan itu kehilangan mata
pencaharian mereka. Laut yang
dulu memberi mereka kehidupan
kini kosong. Mereka tidak punya
pilihan lain. Tidak ada pekerjaan.
Tidak ada pendidikan. Tidak ada
masa depan. Maka, beberapa dari
mereka mengambil senjata dan
naik ke perahu kecil yang sama,
bukan untuk menangkap ikan,
tapi untuk menangkap kapal.

Simon belajar bahwa mereka
adalah 
produk dari keputusasaan
dan ketiadaan harapan
. Ini bukan
pembenaran untuk kejahatan mereka.
Tapi ini adalah penjelasan. Ketika
kamu tidak punya apa-apa, ketika
anak-anakmu kelaparan, ketika dunia
luar tidak peduli apakah kamu hidup
atau mati, maka moralitas menjadi
barang mewah yang tidak mampu
kamu beli.

Selain bertemu dengan bajak laut,
Simon juga bertemu dengan 
para
pengungsi kelaparan
. Somalia
telah dilanda kekeringan dan
kelaparan yang mengerikan.
Ia mengunjungi kamp-kamp
pengungsian di mana ribuan orang
tinggal di gubuk-gubuk yang terbuat
dari ranting dan plastik bekas.
Anak-anak dengan perut buncit
karena kekurangan gizi. Ibu-ibu
yang terlalu lemah untuk menyusui
bayinya. Laki-laki yang menatap
kosong karena tidak bisa berbuat
apa-apa.

Di tengah semua penderitaan ini,
Simon juga bertemu dengan
masyarakat yang mencoba
membangun kembali
peradaban dari puing-puing
.
Di Somaliland, ia melihat pasar
yang ramai. Ia melihat universitas
yang dibangun dengan dana
mandiri. Ia melihat semangat
kewirausahaan yang luar biasa.
Orang-orang yang menolak untuk
didefinisikan oleh kegagalan negara
mereka. Mereka membangun masa
depan dengan tangan mereka
sendiri, bata demi bata, harapan
demi harapan.

Bab ini mempertanyakan
prasangka yang sering kita pegang.
Kita melihat bajak laut di berita dan
langsung menghakimi. Monster.
Penjahat. Tapi kita jarang bertanya:
apa yang membuat seseorang
menjadi bajak laut? Keadaan apa
yang mendorong seorang nelayan
menukar jaringnya dengan senapan?
Apakah kita, jika dilahirkan dalam
keadaan yang sama, akan membuat
pilihan yang berbeda?

Simon tidak meminta kita untuk
bersimpati pada kejahatan. Tapi ia
meminta kita untuk melihat
manusia di balik label. Untuk
memahami sebelum menghakimi.
Untuk menyadari bahwa dunia ini
rumit, bahwa tidak ada yang
sepenuhnya hitam atau putih,
dan bahwa setiap orang memiliki
cerita yang layak didengarkan.

Inilah inti dari semua perjalanan
Simon Reeve. Ia pergi
ke tempat-tempat yang dihindari
orang lain. Ia berbicara dengan
orang-orang yang dilupakan dunia.
Dan ia kembali dengan cerita-cerita
yang mengubah cara kita
memandang planet ini dan sesama
manusia yang tinggal di atasnya.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, lanjut nih obrolan kita soal
petualangan Simon Reeve. Kali ini,
gue mau ajak lo masuk ke dua bab
yang bikin jantung deg-degan
sekaligus bikin kita mikir ulang
tentang arti jadi manusia. Simon
pergi ke tempat yang bahkan nama
negaranya aja udah bikin orang ngeri.
Yuk, kita mulai dari jantung Afrika,
Kongo.

Bab 5: Dihadang Tentara
Anak-Anak di Kongo

Lo tau Kongo? Negara di Afrika yang
punya kekayaan alam melimpah.
Emas, berlian, coltan, itu bahan buat
bikin hape lo, semua ada di sana.
Tapi, bukannya bikin rakyatnya kaya,
semua harta itu malah jadi kutukan.
Banyak pihak ribut, perang saudara,
dan yang paling ngenes, anak-anak
kecil direkrut jadi tentara. Bayangin,
bocah yang harusnya main bola,
malah disuruh nenteng senapan.

Simon datang ke sini bukan buat cari
emas, tapi buat cari cerita. Dan dia
beneran nemu cerita yang bikin bulu
kuduk lo berdiri. Di tengah perjalanan
di daerah konflik, dia dan krunya
tiba-tiba dihadang. Ditangkap sama
sekelompok anak buah bersenjata.
Tapi yang bikin merinding, yang
megang senjata itu bukan tentara
dewasa, mereka adalah anak-anak.
Masih belasan tahun, muka mereka
masih ingusan. Tapi mata mereka
merah, liar, dan napas mereka bau
alkohol. Mereka mabuk. Lo bisa
bayangin, mereka dikasih narkoba
dan minuman keras biar nggak
ngerasa takut pas disuruh bunuh
orang.

Mereka todongin senapan ke Simon.
Mereka teriak-teriak dalam bahasa
yang Simon nggak ngerti. Mereka
dorong-dorong dia. Jujur, di momen
itu, Simon beneran ngerasa ini
adalah akhir hidupnya. Gue nggak
bisa bayangin rasanya. Beberapa
tahun lalu dia hampir mati karena
overdosis di kamar kumuh. Sekarang,
dia hampir mati di hutan Afrika,
di tangan anak-anak yang bahkan
mungkin nggak ngerti kenapa
mereka ngelakuin ini.

Tapi, entah gimana, dia selamat.
Mungkin karena dia tetep berusaha
tenang, ngomong dengan suara
rendah, nunjukin kalau dia bukan
ancaman. Mungkin ada seseorang
yang lebih tua yang tiba-tiba muncul
dan ngendaliin situasi. Atau mungkin
cuma hoki aja. Yang jelas, dia keluar
dari situasi itu dengan selamat, tapi
jiwanya pasti keguncang banget.

Yang paling bikin gue terkesan adalah,
di tengah semua ketakutan itu, Simon
malah nemuin sesuatu yang paradoks.
Dia ngeliat langsung sisi paling gelap
manusia, di mana anak-anak bisa
diubah jadi algojo. Tapi di saat yang
sama, dia juga ngeliat kilasan
kebaikan. Di desa-desa yang hancur
lebur, dia ketemu ibu-ibu yang
masih berusaha ngasih makan
anaknya, padahal mereka sendiri
nggak punya apa-apa. Dia ketemu
guru yang masih ngajar di bawah
pohon karena sekolahnya udah
dibakar. Dia ketemu perawat yang
kerja tanpa obat, cuma modal tangan
kosong dan hati yang gede. Mereka
semua adalah lilin-lilin kecil yang
nolak buat padam. Mereka ngajarin
Simon, dan juga gue, bahwa
di tempat paling gelap sekalipun,
harapan tuh selalu ada, selama
kita mau nyari.

Bab 6: Somalia, Bajak Laut, dan
Pelajaran Soal Jangan Cuma
Nge-judge

Kalau lo denger kata Somalia, apa
yang pertama kali muncul di kepala
lo? Bajak laut? Negara gagal?
Perang saudara? Yup, itu semua
bener. Tapi Simon ngajarin kita
untuk ngeliat lebih dalem dari
sekadar label. Dia pergi ke Somalia,
negara yang sejak 1991 nggak punya
pemerintah pusat yang stabil.

Di sana, dia pergi ke Puntland, daerah
yang terkenal sebagai sarang bajak
laut. Dan lo tau, dia beneran ketemu
sama mereka. Tapi ini bukan adegan
kayak di film Pirates of the Caribbean.
Para bajak laut yang dia temuin
bukan monster bertopeng dengan
pedang dan kaki kayu. Mereka
adalah… mantan nelayan. Bayangin,
dulu mereka cari ikan pake jaring
dan perahu kecil. Tapi kemudian,
kapal-kapal raksasa dari negara
kaya datang dan ngeruk habis
laut mereka. Pada saat yang sama,
kapal-kapal Eropa malah buang
limbah beracun di perairan Somalia
karena nggak ada yang ngawasin.
Laut yang dulu jadi sumber
kehidupan mereka, sekarang kosong
dan keracunan.

Jadi, mereka kehilangan mata
pencaharian. Nggak ada kerjaan.
Nggak ada sekolah. Nggak ada masa
depan. Anak-anak mereka
kelaparan. Akhirnya, mereka
ambil senapan, naik perahu kecil
yang sama, dan bukannya nangkap
ikan, mereka nangkap kapal.
Ini bukan pembenaran buat
kejahatan mereka. Tapi ini adalah
penjelasan. Dan dari sini, gue
diajarin sama Simon, bahwa ketika
lo nggak punya apa-apa, moralitas
itu bisa jadi barang mewah yang
nggak sanggup lo beli.

Simon juga ngunjungin kamp
pengungsian. Di sana, dia liat
langsung penderitaan akibat
kelaparan. Anak-anak dengan perut
buncit, ibu-ibu yang terlalu lemah
buat nyusuin, laki-laki yang matanya
kosong. Bener-bener bikin hati lo
remuk. Tapi lagi-lagi, Simon nemuin
paradoks. Di Somaliland, yang relatif
lebih stabil, dia ngeliat pasar yang
rame, universitas yang dibangun
mandiri, dan semangat wirausaha
yang gila-gilaan. Orang-orang
di sana nolak buat cuma jadi korban.
Mereka bangun peradaban dari
puing-puing, bata demi bata.

Di bab ini, Simon kayak nanyain
ke kita, “Lo sering kan, ngeliat
berita dan langsung nge-judge?
Bajak laut itu monster! Tapi pernah
nggak lo nanya, apa yang bikin
seseorang jadi bajak laut? Kalau
lo ada di posisi mereka, lo bakal
ngapain?” Simon nggak minta lo
setuju sama kejahatan. Tapi dia
minta lo buat melihat manusia
di balik labelnya. Untuk ngerti dulu,
baru ngomong. Karena dunia itu
rumit, nggak ada yang hitam putih,
dan setiap orang punya cerita.

Inilah inti dari semua perjalanan
Simon Reeve. Dia pergi ke tempat
yang dihindari orang, ngomong
sama orang yang dilupain dunia,
dan balik dengan cerita yang bisa
ngubah cara kita ngeliat dunia ini
dan sesama kita. Keren banget, kan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *