Buku Step By Step Simon Reeve, Titik Terendah: Masa Kecil dan Depresi

Simon Reeve
Simon Reeve membuka bukunya
bukan dengan petualangan seru
di hutan Amazon atau di tengah zona
perang. Ia membukanya di sebuah
tempat yang jauh lebih gelap dan jauh
lebih pribadi: di dalam kepalanya
sendiri, di masa paling hancur dalam
hidupnya.
Ia tumbuh di Acton, London Barat,
sebuah daerah yang biasa saja. Bukan
daerah kumuh yang berbahaya, bukan
juga daerah elit yang nyaman. Acton
adalah tempat orang-orang biasa
hidup dengan rutinitas biasa.
Keluarganya juga biasa. Ayahnya
bekerja. Ibunya mengurus rumah.
Tidak ada tragedi besar yang bisa
ditunjuk sebagai penyebab
kehancurannya nanti. Tidak ada
kekerasan. Tidak ada penelantaran.
Hanya kehidupan normal yang, entah
mengapa, tidak bisa ia jalani dengan
normal.
Masalahnya dimulai di usia remaja.
Ini adalah usia yang sulit bagi banyak
orang, tapi bagi Simon, ini lebih dari
sekadar canggung atau memberontak.
Ia mulai merasa bahwa ada sesuatu
yang salah dalam dirinya. Bukan salah
secara fisik, tapi salah secara
fundamental. Seperti ada kabel yang
putus di suatu tempat di dalam
otaknya, dan tidak ada yang bisa
memperbaikinya. Ia mulai kehilangan
minat pada sekolah. Bukan karena ia
bodoh. Tapi karena ia tidak bisa
melihat gunanya. Untuk apa belajar?
Untuk apa bangun pagi? Untuk apa
melakukan apa pun?
Ia putus sekolah. Tidak ada
upacara perpisahan. Tidak ada
pelukan dari guru yang bangga.
Ia hanya berhenti datang. Pintu
kelas tertutup di belakangnya,
dan ia tidak pernah menoleh.
Setelah putus sekolah, hidupnya
mulai bergerak tanpa arah. Ia tidak
punya rencana. Ia tidak punya tujuan.
Ia hanya ada, mengambang dari hari
ke hari, tanpa pegangan.
Dan di ruang kosong yang
ditinggalkan oleh ketiadaan tujuan
itu, depresi mulai tumbuh. Bukan
sekadar sedih. Bukan sekadar
murung. Tapi depresi berat yang
membuat seluruh dunia terlihat
abu-abu. Makanan tidak lagi terasa
enak. Musik tidak lagi terdengar
indah. Teman-teman terasa seperti
orang asing. Keluarga terasa seperti
beban.
Yang paling menakutkan dari depresi
adalah bahwa ia tidak selalu berteriak.
Seringkali, ia berbisik. Bisikan yang
mengatakan bahwa kamu tidak
berharga. Bahwa kamu adalah beban.
Bahwa dunia akan lebih baik tanpamu.
Bisikan itu terus-menerus, tidak
pernah berhenti, seperti radio rusak
yang tidak bisa dimatikan.
Simon mendengarkan bisikan itu.
Ia mempercayainya.
Puncaknya terjadi ketika ia
memutuskan untuk mengakhiri
semuanya. Ia melakukan percobaan
bunuh diri dengan overdosis.
Ia menelan pil dalam jumlah yang
seharusnya cukup untuk mematikan
tubuh mudanya. Ini bukan teriakan
minta tolong yang direncanakan
dengan hati-hati. Ini adalah upaya
sungguhan untuk berhenti bernapas.
Ia selamat. Entah karena tubuhnya
masih terlalu kuat, entah karena
seseorang menemukannya tepat
waktu, entah karena keberuntungan
belaka. Tapi ia selamat. Dan ketika ia
membuka matanya, ia tidak langsung
merasa bersyukur. Ia merasa hampa.
Ia merasa malu. Ia merasa bahwa ia
bahkan gagal dalam usaha matinya
sendiri.
Bab pertama ini adalah fondasi dari
seluruh buku. Simon tidak
menulisnya untuk mencari simpati.
Ia menulisnya dengan kejujuran yang
brutal karena ia ingin pembacanya
tahu dari mana ia berasal. Bahwa
sebelum ia menjadi pembawa acara
televisi yang berkeliling dunia,
sebelum ia menulis buku-buku laris,
sebelum ia menikah dan memiliki
anak, ia adalah seorang pemuda yang
berbaring di ranjang sambil menatap
langit-langit, yakin bahwa hidupnya
sudah berakhir dan tidak ada yang
bisa menyelamatkannya.
Ini adalah pengakuan tentang
kerapuhan mental. Tentang perasaan
gagal total. Tentang titik terendah
yang begitu dalam sehingga tidak ada
cahaya yang bisa terlihat. Tapi ini
juga, tanpa ia sadari saat itu, adalah
awal dari segalanya. Karena ketika
kamu sudah menyentuh dasar, tidak
ada tempat lain untuk pergi kecuali
ke atas.
Bab 2: Bangkit dengan
Langkah Kecil
Dari Tukang Pos ke Jurnalis
Lepas
Selamat dari percobaan bunuh diri
tidak otomatis membuat hidup
Simon langsung membaik. Tidak
ada keajaiban. Tidak ada pencerahan
tiba-tiba. Ia masih muda, masih
bingung, dan masih tidak tahu apa
yang harus dilakukan dengan
hidupnya. Yang ia tahu hanyalah
ia butuh uang untuk bertahan.
Maka, dengan ijazah yang tidak
lengkap dan pengalaman kerja yang
hampir kosong, ia mengambil
pekerjaan yang mungkin dianggap
remeh oleh banyak orang: tukang
pos di Royal Mail. Setiap pagi, ia
bangun sebelum matahari terbit.
Ia mengambil tas besar berisi surat
dan paket, lalu berjalan menyusuri
jalanan London, mengantarkan
kiriman dari pintu ke pintu. Pekerjaan
ini tidak glamor. Gajinya tidak besar.
Tapi pekerjaan ini memberinya sesuatu
yang sangat ia butuhkan: rutinitas.
Rutinitas adalah obat pertama bagi
jiwanya yang kacau. Setiap hari ia
harus bangun di jam yang sama.
Setiap hari ia harus menyelesaikan
rute yang sama. Setiap hari ia harus
berinteraksi dengan orang-orang,
meskipun hanya untuk mengucapkan
“selamat pagi” sambil menyerahkan
amplop. Pekerjaan ini memaksanya
untuk terus bergerak, terus berfungsi,
dan tidak tenggelam kembali ke dalam
lubang depresi.
Tapi Simon tahu bahwa ia tidak ingin
menjadi tukang pos selamanya.
Ia mulai berpikir tentang apa yang
sebenarnya ia inginkan. Dan di suatu
titik, ia ingat bahwa ia selalu menyukai
ide tentang menjadi jurnalis. Entah
dari mana asalnya. Mungkin dari
membaca koran. Mungkin dari
menonton berita di televisi. Tapi ada
sesuatu tentang dunia jurnalisme yang
menariknya. Mungkin karena
jurnalisme adalah tentang mencari
tahu, tentang pergi ke tempat-tempat
yang tidak dikunjungi orang lain,
tentang bertanya “mengapa” dan
“bagaimana”.
Masalahnya, ia tidak punya
kualifikasi. Ia tidak punya gelar.
Ia tidak punya koneksi. Ia hanyalah
seorang tukang pos dengan masa
lalu yang kelam.
Lalu, hidup memberinya
kesempatan pertama. Sebuah
kebetulan yang akan mengubah
segalanya. Suatu hari, secara tidak
sengaja, ia bertemu kembali dengan
seorang teman lama. Mereka
dulu pernah saling kenal, mungkin
dari masa sekolah, mungkin dari
lingkungan sekitar. Teman ini
sekarang bekerja di The Sunday
Times, salah satu surat kabar
paling bergengsi di Inggris. Ini
adalah keberuntungan yang luar
biasa. Tapi keberuntungan hanya
berarti jika kamu bertindak
berdasarkan keberuntungan itu.
Simon bertindak. Ia meminta,
mungkin dengan sedikit putus asa,
apakah ada pekerjaan apa pun yang
bisa ia lakukan di surat kabar itu.
Pekerjaan apa pun. Ia tidak peduli.
Teman lamanya itu memberinya
kesempatan. Pekerjaan yang
ditawarkan bukanlah pekerjaan
reporter. Bukan penulis. Bukan
apa pun yang gemerlap. Pekerjaan
itu adalah sebagai “runner”,
atau asisten. Tugasnya sederhana:
mengambilkan kopi, mengantarkan
dokumen dari satu meja ke meja lain,
menemani reporter ke lapangan
sambil membawa tas mereka, dan
melakukan apa pun yang diminta.
Bagi banyak orang, pekerjaan ini
mungkin terasa seperti pekerjaan
rendahan. Tapi bagi Simon, ini adalah
tiket masuk ke dunia yang ia impikan.
Ia mungkin hanya seorang runner,
tapi ia adalah runner di The Sunday
Times. Setiap hari, ia berjalan
di lorong yang sama dengan para
jurnalis terbaik di Inggris.
Setiap hari, ia mendengar percakapan
tentang berita, tentang investigasi,
tentang cara mendapatkan cerita.
Setiap hari, ia menyerap semua itu
seperti spons.
Simon belajar jurnalisme secara
otodidak. Ia tidak duduk di ruang
kuliah. Ia belajar dengan cara
mendengarkan, mengamati, dan
meniru. Ia memperhatikan
bagaimana para reporter melakukan
wawancara melalui telepon.
Ia mendengar bagaimana mereka
mengajukan pertanyaan yang tajam
tapi sopan. Ia melihat bagaimana
mereka membaca dokumen dan
menemukan detail yang terlewatkan
oleh orang lain.
Perlahan, ia mulai mengerti.
Jurnalisme bukanlah sihir.
Jurnalisme adalah kerajinan.
Ia bisa dipelajari. Ia bisa dilatih.
Dan Simon, yang dulu tidak bisa
bertahan di sekolah, ternyata adalah
pembelajar yang sangat cepat ketika
ia peduli pada sesuatu.
Puncak dari masa belajarnya ini
terjadi ketika ia mengumpulkan
keberanian untuk melakukan
sesuatu yang belum pernah ia
lakukan sebelumnya: mengajukan
ide liputan mandiri. Ini adalah
momen yang menakutkan.
Ia hanyalah seorang runner. Ia tidak
punya pengalaman menulis. Ia tidak
punya portofolio. Tapi ia punya ide.
Ia tahu tentang dunia terorisme
bawah tanah, tentang jaringan
orang-orang yang merekrut pemuda
untuk bergabung dengan kelompok
ekstremis. Di masa sebelum 9/11,
topik ini belum menjadi berita utama.
Tapi Simon sudah mulai
memperhatikannya. Ia ingin pergi
ke tempat-tempat di mana rekrutmen
itu terjadi. Ia ingin berbicara
langsung dengan orang-orang yang
terlibat. Ia ingin memahami apa yang
mendorong seseorang untuk
melakukan tindakan ekstrem.
Dengan jantung berdebar,
ia menyampaikan idenya kepada
editor. Ia tidak tahu apakah ia
akan ditertawakan atau diusir.
Tapi editor itu tidak tertawa.
Ia mendengarkan. Ia melihat sesuatu
dalam diri Simon. Mungkin ia
melihat semangat. Mungkin ia
melihat ketekunan. Mungkin ia hanya
melihat seorang pemuda yang sangat
menginginkan kesempatan. Apa pun
alasannya, editor itu memberikan
lampu hijau.
Momen itu adalah titik balik yang
sesungguhnya. Simon Reeve, mantan
pemuda depresi yang hampir mati
karena overdosis, mantan tukang pos
yang mengantarkan surat dari pintu
ke pintu, sekarang akan melakukan
liputan investigasi pertamanya.
Ia tidak tahu bahwa liputan ini akan
membawanya ke negara-negara yang
tidak pernah ia bayangkan. Ia tidak
tahu bahwa ini akan menjadi awal
dari kariernya sebagai salah satu
pembawa acara perjalanan paling
dihormati di dunia. Yang ia tahu
hanyalah bahwa ia akhirnya
mendapatkan kesempatan. Dan ia
tidak akan menyia-nyiakannya.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
