Buku Matty Matheson Home Style Cookery, Inilah Saya

Home Style Cookery
Matty Matheson membuka bukunya
dengan gaya yang sangat khas dan
langsung menusuk. Ia bukan tipe
penulis buku masak yang duduk manis
di depan mesin tik, merangkai
kata-kata indah tentang seni kuliner.
Matty adalah seorang koki bertubuh
besar, penuh tato, dengan mulut
yang tidak pernah disensor dan hati
yang begitu besar untuk makanan.
Pendahuluan bukunya berjudul
sederhana: “Inilah Saya.”
Ia menyatakan satu hal yang menjadi
inti dari seluruh bukunya. Ia sudah
tidak sabar. Tidak sabar melihat
orang-orang kembali ke dapur
dengan berani. Bukan dengan
rasa takut. Bukan dengan perasaan
bahwa memasak adalah tugas berat
yang hanya bisa dilakukan oleh para
profesional berseragam putih
di restoran mahal. Tapi dengan
keberanian yang sama seperti ketika
kita masih anak-anak dan
pertama kali memegang spatula.
Matty menyatakan dengan tegas
bahwa memasak bukanlah soal
menjadi “juru masak sempurna”.
Ia tidak peduli apakah pisau kamu
diasah dengan sudut yang tepat.
Ia tidak peduli apakah kamu tahu
cara membuat saus yang rumit
dengan teknik Prancis yang
membutuhkan waktu tiga hari.
Ia tidak peduli apakah hasil
masakanmu terlihat seperti
di majalah. Yang ia pedulikan
adalah satu hal: apakah kamu
berani mencoba?
Ia menulis bahwa dapur adalah
tempat di mana kegagalan bukan
hanya diterima, tapi dirayakan.
Setiap koki hebat yang pernah hidup,
termasuk dirinya sendiri, telah
melalui ribuan kegagalan. Nasi yang
gosong di dasar panci. Ayam yang
bagian dalamnya masih mentah.
Kue yang bantat dan keras seperti
batu. Semua itu bukan akhir dari
segalanya. Semua itu adalah guru
yang paling jujur. Matty ingin
pembacanya berdamai dengan
kenyataan bahwa mereka akan gagal,
berkali-kali, dan itu adalah hal yang
paling normal di dunia.
Tapi di balik semua teriakan dan
umpatannya, ada satu pesan yang
sangat lembut. Matty menulis bahwa
tujuan akhir dari memasak bukanlah
pujian. Bukan like di media sosial.
Bukan pengakuan bahwa kamu
adalah koki terbaik di antara
teman-temanmu. Tujuan akhir
dari memasak adalah memberi
makan orang yang kamu
sayangi dengan penuh cinta.
Ia bercerita tentang bagaimana
makanan yang dimasak dengan
cinta memiliki rasa yang berbeda.
Ini bukan metafora kosong. Ketika
kamu memasak untuk seseorang
yang kamu cintai, kamu akan lebih
memperhatikan detail. Kamu akan
mencicipi kuahnya lebih sering
untuk memastikan rasanya pas.
Kamu akan menata piringnya
dengan lebih rapi, meskipun tidak
sempurna. Kamu akan menunggu
dengan cemas saat mereka menyuap
suapan pertama, dan wajahmu akan
berseri ketika mereka tersenyum dan
berkata, “Ini enak.”
Pendahuluan ini ditutup dengan
ajakan yang sederhana. Matty tidak
meminta pembacanya untuk membeli
peralatan mahal. Ia tidak meminta
mereka untuk mengikuti kursus
memasak. Ia hanya meminta mereka
untuk masuk ke dapur, mengambil
pisau, dan mulai memotong sesuatu.
Masaklah dengan berani. Jangan
takut gagal. Beri makan orang yang
kamu cintai. Itulah inti dari segalanya.
Inilah Matty Matheson. Inilah
bukunya. Dan ini adalah undangan
untuk kembali ke dapur dengan
semangat yang sudah lama hilang.
versi yang sederhana:
Oke, kita ganti suasana lagi.
Kali ini gue mau ngomongin buku
yang vibes-nya beda banget dari yang
sebelumnya. Bukan soal nutrisi,
bukan soal decluttering, tapi soal
keberanian di dapur. Bukunya datang
dari seorang koki nyentrik, badannya
gede, penuh tato, dan mulutnya gak
pernah disensor: Matty Matheson.
Dia nulis pendahuluan di bukunya
dengan judul yang sesimpel dirinya
sendiri, “Inilah Saya.”
Jujur, pas gue baca bagian ini,
rasanya kayak lagi dengerin temen
lo sendiri yang lagi
semangat-semangatnya ngajak lo
ke dapur. Bukan kayak chef di TV
yang galak dan bikin lo takut salah.
Jadi, gue bakal ceritain ke lo,
dengan gaya paling santai, apa sih
isi kepala Matty si beruang gede ini.
Lupakan Jadi Sempurna, yang
Penting Lo Berani
Ngacak-ngacak Dapur!
Begitu buka buku ini, Matty langsung
nembak lo dengan energinya yang
gak sabaran. Dia tuh kayak udah
gemes banget ngeliat orang-orang
pada takut sama dapur. Dia pengen
lo semua balik lagi ke dapur, bukan
dengan muka ketakutan kayak mau
ujian, tapi dengan keberanian kayak
pas lo masih kecil. Ingat gak sih,
dulu waktu lo masih bocah,
pertama kali megang spatula?
Rasanya kayak megang pedang!
Lo ngacak-ngacak tepung, lo pecahin
telor (mungkin belepotan
kemana-mana), dan lo ngerasa jadi
superhero. Nah, perasaan “berani dan
seneng” itu yang pengen dibalikin
sama Matty.
Dia dengan tegas, blak-blakan, dan
khas banget bilang: “Masak itu
bukan buat jadi juru masak
sempurna.” Gue ulangin ya,
karena ini penting. Dia gak peduli
pisau lo diasah dengan sudut berapa
derajat. Dia gak peduli lo bisa bikin
saus ribet ala Prancis yang butuh
waktu tiga hari. Dia gak peduli hasil
masakan lo bentuknya kayak abstrak
yang gak jelas, bukannya cantik kayak
di majalah. Yang dia peduliin cuma
satu, simpel aja:
“Lo berani nyoba gak?”
Poin ini ngena banget buat gue.
Kita tuh sering banget ya, males
masak cuma karena takut hasilnya
gak kayak di video resep. Matty
nampol mentalitas kayak gitu.
Buat dia, dapur itu kayak gym-nya
orang masak. Di gym, lo gak mungkin
langsung bisa angkat beban paling
berat. Lo bakal jatuh, lo bakal
ngos-ngosan, lo bakal salah gerakan.
Tapi justru dari situ lo belajar.
Dia nulis bahwa dapur adalah tempat
di mana kegagalan bukan cuma
diterima, tapi wajib dirayakan.
Lo tau kan, setiap koki hebat yang
pernah hidup, termasuk si Matty
yang gondrong ini, udah melewati
ribuan kegagalan. Nasi gosong sampe
jadi arang di dasar panci? Udah pasti.
Ayam yang dalemnya masih mentah
pas lo belah? Itu makanan sehari-hari.
Kue yang bantat dan kerasnya kayak
batu bata? Ah, ini mah kejadian biasa.
Semua itu bukan akhir dunia. Semua
itu guru yang paling jujur. Matty
pengen lo berdamai dengan kenyataan
bahwa lo bakal gagal, berkali-kali,
bahkan mungkin lo bakal bikin mertua
lo kecewa. Dan itu adalah hal yang
paling normal di dunia ini.
Masak Itu Cinta, Bukan Konten!
Tapi lo tau gak? Di balik semua
kata-kata umpatan dan teriakannya
yang heboh, sebenarnya Matty ini
nyimpen pesan yang super lembut dan
bikin hati anget. Dia nulis, tujuan
akhir dari masak itu bukan pujian.
Bukan demi lo pamer hasil cantik
di Instagram Story biar dapet like
banyak. Bukan pengakuan bahwa
lo adalah koki terhebat di circle lo.
Tujuan akhirnya itu simple: memberi
makan orang yang lo sayangi
dengan penuh cinta.
Gue setuju banget sama bagian ini.
Makanan yang lo masak dengan
cinta tuh rasanya emang beda. Ini
bukan kata-kata puitis kosong. Coba
aja lo rasain sendiri. Pas lo masak
buat orang yang lo cinta, lo bakal
lebih perhatian sama detail. Lo bakal
bolak-balik nyicip kuahnya, meskipun
lidah lo sampe hampir mati rasa,
cuma buat mastiin rasanya pas.
Lo bakal usaha mati-matian buat nata
piringnya dengan rapi, walaupun
akhirnya tetep gak estetik kayak
di restoran bintang lima. Dan jujur,
gak ada yang lebih nagih daripada
momen lo nungguin dengan cemas
pas dia nyuap suapan pertama.
Lo liatin mukanya, dan tiba-tiba lo
senyum-senyum sendiri kayak orang
bego pas dia bilang, “Hmm, ini enak
banget!” Itu momen yang gak bisa
dibeli sama like atau pujian manapun.
Gak Perlu Ribet, Masuk Dapur
Aja Sekarang!
Nah, di akhir pendahuluannya, Matty
gak nyuruh lo buat beli peralatan
mahal atau ikut kursus masak.
Dia gak minta lo buat jadi ahli dulu.
Ajakan dia sesimpel dan sekasar itu:
“Masuk dapur, ambil pisau, dan
mulai motong sesuatu.
SEKARANG.”
Masaklah dengan berani kayak lo lagi
di konser rock. Jangan pernah takut
gagal. Anggep aja tiap lo gosongin
ayam, lo lagi naikin level skill lo.
Dan yang paling penting, beri makan
orang yang lo cintai. Karena pada
akhirnya, itulah inti dari semuanya.
Inilah Matty Matheson. Seorang koki
gede dengan hati yang lebih gede lagi.
Dan buku ini adalah undangan dari
dia, buat lo, untuk balik lagi ke dapur
dengan semangat yang mungkin udah
lama banget lo kubur.
Gimana? Udah siap bikin dapur lo
berantakan?
