Tempat dan Upacara
Setelah daftar tamu selesai, bab ketiga
membawa kita ke langkah yang paling
seru dan paling menentukan:
memilih tempat, atau venue.
Venue adalah panggung utama dari
seluruh pernikahan. Ia menentukan
suasana, memengaruhi dekorasi,
membatasi atau membebaskan
kreativitas, dan seringkali menjadi
pos anggaran terbesar. Buku ini
menekankan bahwa memilih venue
tidak boleh terburu-buru, dan harus
dilakukan dengan mata yang sangat
teliti.
Untuk membantu proses pemilihan,
buku ini menyediakan daftar
periksa saat survei lokasi.
Ini adalah daftar pertanyaan dan
hal-hal yang harus diperhatikan
saat kalian datang langsung
ke calon venue.
Pertama dan paling utama adalah
kapasitas. Apakah venue ini cukup
besar untuk menampung semua
tamu undangan kalian? Tapi juga
jangan terlalu besar, karena ruangan
setengah kosong akan terasa sepi
dan kurang intim. Perhatikan juga
layout ruangannya. Apakah ada
area untuk upacara, untuk makan
malam, dan untuk dansa? Apakah
alurnya masuk akal?
Kedua, perhatikan fasilitas
pendukung yang krusial.
Cek ketersediaan dan kapasitas
listrik. Ini penting jika kalian
berencana menggunakan band live,
DJ, atau dekorasi lampu yang rumit.
Tidak ada yang lebih buruk dari listrik
mati di tengah pesta. Ketiga, parkir.
Apakah venue menyediakan parkir
yang cukup untuk semua tamu?
Jika tidak, adakah lahan parkir
alternatif di sekitar? Apakah tamu
harus membayar parkir? Keempat,
toilet. Ini kedengarannya sepele,
tapi toilet yang bersih, cukup banyak,
dan mudah diakses adalah keharusan
mutlak. Bayangkan tamu harus
mengantre panjang di toilet yang
kotor. Kelima, dan ini sangat penting
untuk pernikahan outdoor, tanyakan
tentang rencana cadangan cuaca.
Apa yang terjadi jika tiba-tiba hujan
deras? Apakah ada tenda cadangan?
Apakah ada ruangan indoor yang bisa
dipindahkan dengan cepat?
Jangan pernah mengabaikan ini.
Setelah venue dipilih dan dikunci
dengan pembayaran uang muka,
saatnya beralih ke aspek legal dan
administratif. Buku ini menyediakan
ceklist dokumen legal yang harus
diurus jauh-jauh hari. Yang paling
utama adalah surat nikah dari
catatan sipil atau Kantor Urusan
Agama. Setiap negara dan setiap
daerah memiliki persyaratan yang
berbeda. Ada masa tunggu.
Ada dokumen-dokumen yang harus
disiapkan seperti akta kelahiran,
kartu identitas, dan surat keterangan
belum pernah menikah. Cari tahu
semua persyaratan ini sejak awal
dan urus jauh sebelum hari H.
Jangan menundanya sampai
minggu terakhir.
Jika kalian menikah secara agama
atau adat, ada syarat agama dan
adat yang juga harus dipenuhi.
Mungkin kalian harus mengikuti
konseling pranikah. Mungkin ada
dokumen baptis atau surat pengantar
dari gereja. Mungkin ada sesi
konsultasi dengan pemuka adat.
Semua ini memerlukan waktu dan
tidak bisa dilakukan secara
mendadak.
Jangan lupakan penghulu, pendeta,
atau pemimpin upacara.
Siapa yang akan menikahkan kalian?
Apakah beliau tersedia di tanggal dan
jam yang sudah ditentukan?
Apakah ada biaya yang perlu
disiapkan?
Apakah beliau bersedia datang
ke venue, atau upacara harus
dilakukan di tempat ibadah?
Komunikasikan semua ini
dengan jelas.
Setelah urusan legal selesai, saatnya
merancang rincian upacara itu
sendiri. Ini adalah jantung dari
seluruh pernikahan. Momen sakral
di mana kalian berdua mengikat janji
seumur hidup. Buku ini membantu
kalian memikirkan setiap detailnya.
Pertama, musik prosesi. Lagu apa
yang akan mengiringi saat mempelai
wanita berjalan menuju altar?
Ini adalah momen yang sangat
emosional dan lagu yang dipilih
akan selalu dikenang. Apakah kalian
akan menggunakan pemusik live,
penyanyi, atau rekaman?
Siapa yang akan bertanggung jawab
menyalakan musik di momen yang
tepat?
Kedua, pembacaan. Apakah akan
ada pembacaan puisi, ayat suci, atau
teks bermakna lainnya?
Siapa yang akan membacakannya?
Apakah teksnya sudah disiapkan
dan disetujui?
Ketiga, janji nikah. Ini adalah inti
dari inti. Apakah kalian akan
menggunakan janji nikah
tradisional yang diucapkan oleh
pemimpin upacara dan kalian
tinggal mengikuti?
Atau kalian ingin menulis janji
nikah sendiri yang personal dan
unik?
Jika menulis sendiri, mulailah dari
sekarang. Jangan menunggu sampai
malam sebelum pernikahan.
Tulis, revisi, dan latihlah.
Keempat, dekorasi altar.
Altar adalah titik fokus visual dari
seluruh upacara. Seperti apa
tampilannya?
Apakah akan dihiasi bunga segar?
Lilin? Kain yang melambai?
Apakah ada bangku atau kursi
khusus untuk orang tua?
Apakah ada tempat untuk pemusik?
Semua detail ini perlu direncanakan
dan dikomunikasikan dengan
dekorator atau penanggung jawab
venue.
Contoh Nyata
Untuk Pasangan Secara Umum
(Upacara Sipil Netral)
Dimas dan Clara membayangkan
pernikahan outdoor yang intim
di sebuah vila butik di kawasan Ubud,
Bali. Mereka menginginkan upacara
di taman tropis dengan latar belakang
hutan dan suara sungai. Mereka
berasal dari keluarga dengan latar
belakang berbeda, jadi mereka
sepakat untuk mengadakan upacara
sipil yang netral, yang bisa dihadiri
dan dinikmati oleh semua tamu dari
kalangan mana pun.
Survei Lokasi
Sebelum memutuskan, Dimas dan
Clara datang langsung ke lokasi
membawa daftar periksa yang
sudah mereka cetak.
Hal pertama yang mereka tanyakan
adalah soal kapasitas. Mereka
merencanakan delapan puluh tamu,
hanya keluarga inti dan sahabat
terdekat. Manajer vila menunjukkan
taman belakang yang bisa
menampung hingga seratus orang.
Ukurannya pas, nyaman,
tidak terlalu luas dan tidak sempit.
Untuk listrik, Dimas bertanya
karena mereka berencana menyewa
band akustik kecil. Manajer
memastikan daya listrik cukup
untuk sound system, lampu string
yang akan digantung di pohon, dan
satu set proyektor kecil untuk
memutar video prewedding.
Ada juga generator cadangan.
Untuk parkir, vila hanya punya
tempat untuk sepuluh mobil, tapi
ada lahan kosong kerja sama
di sebelah vila yang bisa menampung
tiga puluh mobil. Tidak ada biaya
tambahan.
Untuk toilet, Clara mengecek sendiri.
Ada tiga toilet di area taman,
semuanya bersih. Dua toilet cukup
luas untuk berganti pakaian.
Untuk rencana cadangan cuaca,
manajer menunjukkan tenda
transparan besar yang bisa
dipasang dalam waktu satu jam.
“Kalau hujan, kita pasang tenda ini.
Tamu tetap bisa melihat hutan dan
langit, tapi tidak basah.” Dimas dan
Clara langsung membooking vila itu
dengan uang muka.
Dokumen Legal
Dimas dan Clara adalah Warga Negara
Indonesia. Karena mereka
menginginkan pernikahan yang diakui
secara hukum negara, mereka memilih
untuk menikah secara catatan sipil.
Pernikahan mereka akan dicatat oleh
Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil (Disdukcapil).
Mereka mendatangi Disdukcapil
di kota domisili mereka. Petugas
memberikan daftar dokumen
yang harus disiapkan:
Fotokopi KTP Dimas dan Clara.
Fotokopi kartu keluarga
masing-masing.Akta kelahiran asli dan fotokopi.
Pas foto ukuran empat kali
enam berwarna dengan latar
biru sebanyak empat lembar.Surat keterangan belum
pernah menikah dari kelurahan.Surat pengantar dari RT dan
RW setempat.Formulir permohonan
pencatatan perkawinan yang
diisi dan ditandatangani.
Mereka juga memilih pemimpin
upacara. Karena upacara bersifat
sipil dan netral, mereka meminta
seorang petugas catatan sipil
untuk hadir di lokasi dan memimpin
prosesi pengucapan janji nikah.
Petugas ini akan memandu mereka
mengucapkan janji setia dan
menandatangani akta perkawinan
di hadapan dua orang saksi.
Satu bulan sebelum pernikahan,
mereka kembali ke Disdukcapil
untuk memastikan semua berkas
sudah lengkap. Mereka juga melapor
ke Disdukcapil setempat di Bali
karena pernikahan dilangsungkan
di luar kota.
Rincian Upacara
Untuk upacara, Dimas dan Clara
merancangnya agar personal,
hangat, dan bisa dinikmati semua
tamu.
Untuk musik prosesi, mereka
menyewa seorang pemain gitar
klasik. Saat para tamu sudah duduk
dan suasana hening, gitaris akan
memainkan “Canon in D” karya
Pachelbel secara instrumental.
Lagu inilah yang akan mengiringi
Clara berjalan menuju taman.
Teman Dimas yang bertugas
sebagai koordinator akan memberi
aba-aba kapan musik dimulai.
Untuk pembacaan, mereka
memilih dua teks netral yang indah
dan universal. Adik Clara akan
membacakan puisi pendek dari
Kahlil Gibran tentang cinta. Lalu
sahabat Dimas akan membacakan
sebuah esai pendek tentang arti
kesetiaan. Tidak ada teks
keagamaan. Hanya kata-kata
tentang cinta, komitmen, dan
harapan.
Untuk janji nikah, Dimas dan
Clara menulis sendiri. Mereka
menghabiskan tiga minggu menulis
dan merevisi kata-kata.
Dimas berjanji untuk selalu menjadi
pendengar yang baik dan mendukung
impian Clara. Clara berjanji untuk
selalu jujur dan menjadi rumah yang
aman bagi Dimas. Petugas catatan
sipil akan membimbing mereka
mengucapkan janji ini.
Untuk dekorasi altar, mereka
meminta florist membuatkan gapura
kayu sederhana yang dihiasi bunga
putih dan hijau segar. Di bawah
gapura, petugas catatan sipil akan
berdiri. Di kanan kiri, ada deretan
lilin dalam toples kaca yang akan
dinyalakan sebelum upacara dimulai.
Bab ini ditutup dengan pengingat
bahwa venue dan upacara adalah
tentang menciptakan ruang sakral.
Bukan hanya ruang fisik berupa
gedung atau taman, tapi ruang
emosional di mana dua keluarga
bersatu, di mana air mata haru dan
tawa bahagia bercampur, dan
di mana sepasang manusia
mengucapkan janji terpenting dalam
hidup mereka. Pilihlah venue bukan
hanya karena indah, tapi karena ia
terasa tepat di hati. Dan rancanglah
upacara bukan untuk pertunjukan,
melainkan sebagai ungkapan tulus
dari cinta kalian.
