filsafat

Santo Agustinus dan Puncak Patristik: Sang Doktor Rahmat dari Hippo

Bayangkan sebuah dunia di ambang keruntuhan. Kekaisaran Romawi, yang telah berdiri selama seribu tahun, sedang goyah di bawah tekanan invasi barbar dan krisis internal. Di Afrika Utara, sebuah provinsi yang jauh dari pusat kekuasaan, seorang uskup tua berdiri di depan pintu kotanya, menyaksikan pasukan Vandal mendekat. Namun, alih-alih melarikan diri, ia justru menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya untuk menulis. Dari tangannya lahir karya-karya yang akan membentuk cara orang Kristen berpikir tentang Tuhan, manusia, dosa, dan rahmat selama lebih dari seribu tahun. Ia adalah Aurelius Augustinus, atau yang kita kenal sebagai Santo Agustinus, dan ia adalah puncak dari seluruh tradisi Patristik. Paus Benediktus XVI menyebutnya sebagai “pribadi yang sangat penting dalam sejarah teologi Bizantium, seorang doktor besar dalam sejarah Gereja universal”. Artikel ini akan menelusuri kehidupan, pengaruh filosofis, kontribusi teologis, dan perannya dalam Gereja Afrika dari salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran manusia.

Biografi Santo Agustinus: Dari Thagaste ke Hippo

Kelahiran dan Masa Muda

Agustinus lahir pada tanggal 13 November 354 Masehi di Thagaste (sekarang Souk Ahras), sebuah kota kecil di provinsi Numidia, Romawi Afrika (sekarang Aljazair). Ibunya, Monika, adalah seorang Kristen yang saleh dan tekun, sementara ayahnya, Patricius, adalah seorang pagan yang baru dibaptis menjelang kematiannya.

Pendidikan Agustinus mengikuti praktik standar Romawi pada masa itu, dimulai di sekolah-sekolah di Thagaste, Madauros, dan Kartago. Pada usia delapan belas tahun, ia membaca karya Cicero, Hortensius, sebuah teks yang sangat mempengaruhi hidupnya dan memperkenalkannya pada filsafat serta etika eudemonisme. Ia kemudian menjadi seorang rhetor (guru retorika) dan mulai tertarik pada filsafat.

Pencarian Kebenaran: Manikheisme dan Skeptisisme

Sebelum pertobatannya, Agustinus melewati perjalanan intelektual yang berliku. Ia bergabung dengan Manikheisme, sebuah aliran Gnostik yang mengajarkan dualisme kosmis: pertentangan antara kekuatan baik dan jahat. Ia menjadi “auditor” Manikheis selama sembilan tahun. Ia juga sempat dipengaruhi oleh Skeptisisme sebelum akhirnya menemukan Neoplatonisme yang membebaskannya dari materialisme Manikheis.

Pertobatan dan Baptisan

Pada tahun 384 M, Agustinus pindah ke Milan untuk mengajar retorika. Di sana, ia bertemu dengan Uskup Ambrosius, yang membawanya pada pemahaman yang lebih mendalam tentang iman Kristen melalui penafsiran Alkitab yang beraliran Platonis. Pertobatannya terjadi pada tahun 386 M setelah sebuah krisis intelektual, psikologis, dan fisik yang mendalam. Ia dibaptis pada malam Paskah tahun 387 M.

Uskup Hippo

Setelah kembali ke Afrika, Agustinus mendirikan sebuah biara dan ditahbiskan menjadi imam pada tahun 391 M. Pada tahun 395 M, ia menjadi Uskup Hippo Regius (sekarang Annaba, Aljazair), sebuah jabatan yang ia pegang hingga kematiannya pada tahun 430 M. Sebagai uskup, ia hidup dalam kemiskinan bersama para imamnya, berkhotbah, dan menghasilkan banyak tulisan. Ia meninggal pada tahun 430 M, tidak lama sebelum kota Hippo diserang dan dibakar sebagian oleh bangsa Vandal.

Pengaruh Filosofis: Perkawinan Platonisme dan Kekristenan

Filsafat Platonik dan Neoplatonik

Agustinus adalah seorang Christian Platonist yang menggabungkan gagasan-gagasan filosofis klasik ke dalam pemikiran Kristen, mengubah sejarah baik Kekristenan maupun filsafat. Utang filosofisnya yang paling penting adalah pada Neoplatonisme Plotinus (sekitar 205-270 M), yang spiritualitas filosofisnya yang mendalam ia adopsi dan kembangkan menjadi “kesalehan hati, intelek, dan kehendak” (piety of the heart, intellect, and will).

Pengaruh Plotinus sangat menentukan. Dari Manikheisme yang menawarkan solusi sederhana atas masalah kejahatan, Agustinus dibebaskan dengan membaca para Neoplatonis, terutama Plotinus. Plotinus meyakinkannya bahwa Tuhan adalah roh, bukan tubuh yang bercahaya, dan ia selalu bersyukur atas pembebasan dari fantasi kasar Manikheis ini. Neoplatonisme juga membawa Agustinus ke ambang Gereja, meskipun gagal memecahkan masalah pribadinya sendiri.

Pandangan tentang Pengetahuan, Kebenaran, dan Tuhan

Agustinus mengembangkan sebuah pandangan yang mendalam tentang pengetahuan dan kebenaran. Ia percaya bahwa akal budi manusia dapat menjadi panduan menuju kebenaran, tetapi hanya jika diterangi oleh cahaya ilahi (illuminatio). Bagi Agustinus, kebenaran sejati tidak ditemukan di dunia material yang berubah-ubah, melainkan di dalam Tuhan yang abadi dan tak berubah.

Ia juga mengembangkan gagasan tentang “cinta sebagai berat jiwa” (pondus meum amor meus). Menurutnya, jiwa manusia bergerak menuju Tuhan melalui cinta, dan cinta yang salah arah membawa jiwa menjauh dari Tuhan. Konsep ini menjadi inti dari seluruh filsafat dan teologinya.

Kontribusi Teologis: Doktor Rahmat dan Trinitas

Pembela Iman Kristen

Agustinus adalah seorang pembela iman Kristen yang gigih. Ia mengidentifikasi dan melawan berbagai ajaran sesat yang mengancam ortodoksi Kristen pada masanya, terutama Pelagianisme, Manikheisme, dan Donatisme. Ia dikenal sebagai “Doktor Rahmat” (Doctor of Grace) karena ajarannya yang mendalam tentang peran rahmat ilahi dalam keselamatan manusia.

Doktrin Predestinasi dan Rahmat

Kontribusi teologis Agustinus yang paling berpengaruh dan kontroversial adalah doktrin predestinasi (praedestinatio). Dalam salah satu karya terakhirnya, ia menulis:

“Inilah predestinasi orang-orang kudus, tidak lain: jelaslah pengetahuan awal dan persiapan berkat-berkat Allah, yang dengannya siapa pun yang akan dibebaskan pasti dibebaskan.”

Doktrin ini memiliki konsekuensi yang gelap: jika Anda bukan salah satu orang kudus yang dipelihara Allah, Anda pasti tersesat; hidup Anda adalah bagian dari “massa kebinasaan” (massa perditionis) yang terjerumus dalam dosa. Agustinus mengembangkan pandangan ini dalam perjuangannya melawan Pelagianisme, sebuah ajaran yang menekankan kemampuan manusia untuk mencapai keselamatan melalui usaha sendiri. Bagi Agustinus, iman itu sendiri adalah anugerah dari Allah, bukan hasil usaha manusia.

Ajaran Agustinus tentang predestinasi tidak sepenuhnya diterima oleh Gereja. Seperti yang dicatat oleh Vatikan News, “Ajaran tentang predestinasi… tidak diambil alih oleh Gereja, tetapi memiliki pengaruh besar pada para reformator, terutama Calvin”.

Doktrin Trinitas

Agustinus juga memberikan kontribusi yang sangat besar pada teologi Trinitas. Karyanya, De Trinitate (Tentang Trinitas), adalah salah satu karya paling mendalam yang pernah ditulis tentang topik ini. Dalam karyanya ini, Agustinus menekankan kesatuan Allah sebagai prinsip transenden dari semua keteraturan dan keberadaan. Ia menegaskan bahwa Allah adalah Trinitas: “Sebab Allah yang satu itu adalah Trinitas itu sendiri, dan adalah satu Allah sebagaimana Ia adalah satu pencipta”. Dengan demikian, ia menolak subordinasionisme yang menyatakan bahwa Anak dan Roh Kudus lebih rendah dari Bapa.

Karya-Karya Monumental

Agustinus meninggalkan warisan sastra yang sangat besar. Karya-karyanya yang masih ada meliputi 100 buku dan risalah, 500 khotbah, dan 250 surat, yang menjadi bukti perannya yang magisterial dalam pembentukan dan pengembangan filsafat serta teologi Kristen. Karya-karya utamanya meliputi:

  • Confessions (Pengakuan-Pengakuan): Sebuah autobiografi yang ditujukan kepada Tuhan, dengan refleksi mendalam tentang memori, penciptaan, dan waktu.

  • De Trinitate (Tentang Trinitas): Karya monumental tentang doktrin Trinitas.

  • De Civitate Dei (Tentang Kota Allah): Ditulis sebagai respons terhadap kritik yang menyatakan bahwa Kristenisasi menyebabkan jatuhnya Roma pada tahun 410 M. Karya ini memberikan penjelasan tentang asal-usul dan takdir manusia, dari Taman Firdaus dan Kejatuhan, melalui sejarah “kota duniawi” dan “kota surgawi”, hingga penghakiman terakhir.

Peran dalam Gereja Afrika: Rasul Afrika dan Kontroversi Donatis

Gelar ‘Rasul Afrika’

Agustinus sering disebut sebagai “Rasul Afrika” karena pengaruhnya yang luar biasa dalam Gereja Afrika dan kontribusinya yang tak terhitung dalam membentuk identitas Kristen di wilayah tersebut. Selama masa jabatannya sebagai uskup, ia berkeliling secara luas, berpartisipasi dalam konsili-konsili di Kartago, dan menyampaikan khotbah yang tak terhitung jumlahnya. Figur Santo Agustinus “tanpa diragukan lagi meresapi Kristen Afrika Utara dalam banyak aspek”.

Kontroversi Donatis

Salah satu pertempuran terbesar dalam karier Agustinus adalah melawan Donatisme, sebuah skisma yang telah memecah Gereja Afrika selama lebih dari satu abad. Kaum Donatis, yang dipimpin oleh Uskup Donatus dari Kartago, mengklaim bahwa Gereja Katolik telah dikompromikan selama penganiayaan dan bahwa hanya gereja mereka yang murni dan sah.

Agustinus menghadapi kontroversi ini dengan strategi yang cerdas dan tak kenal lelah. Ia secara aktif mencari kesempatan untuk berdialog secara publik dengan lawan-lawannya, bersikeras pada kehadiran stenografer, dan kemudian mengatur distribusi serta pembacaan transkrip debat tersebut. Dengan cara ini, ia secara efektif menguasai bagaimana debat-debat ini disajikan kepada komunitas Kristen yang lebih luas di Afrika Utara.

Salah satu aspek paling kontroversial dari pendekatan Agustinus adalah dukungannya terhadap paksaan (coercion) terhadap kaum Donatis. Meskipun pada awalnya ia menentang penggunaan kekuatan negara, ia kemudian berubah pikiran dan menganggap bahwa paksaan bisa menjadi tindakan kasih terhadap mereka yang terperangkap dalam kesalahan. Ia berargumen bahwa hukuman bersifat korektif, bukan punitif, dan rekonsiliasi, bukan balas dendam. Namun, pendekatan ini juga dikritik sebagai “pengejaran persatuan yang berlebihan dan agresif” yang mengarah pada intoleransi.

Perjuangan Agustinus melawan Donatisme berlangsung selama hampir empat puluh tahun, dan seluruh karier klerikalnya dihabiskan untuk memerangi mereka. Pada akhirnya, ia berhasil, tetapi dengan harga yang mahal: Donatisme dihancurkan, tetapi tidak tanpa luka yang dalam.

Warisan Agustinus: Puncak Patristik

Pengaruh pada Teologi Kristen Abad Pertengahan

Pengaruh Agustinus pada teologi Kristen abad pertengahan sangat besar. Ia “mendominasi pikiran para teolog abad pertengahan”. Gagasan-gagasannya tentang rahmat, dosa asli, sakramen, Gereja, dan Trinitas menjadi fondasi bagi pemikiran Thomas Aquinas, Bonaventura, Duns Scotus, dan William of Ockham. Bahkan, Reformasi Protestan pada abad ke-16 dapat dilihat sebagai kebangkitan kembali ajaran-ajaran Agustinus tentang rahmat dan predestinasi, terutama oleh Martin Luther dan John Calvin.

Pengaruh pada Filsafat Barat

Warisan Agustinus tidak terbatas pada teologi. Ia juga memberikan kontribusi yang sangat besar pada filsafat Barat. Karyanya, Against the Academicians, menjadi sumber utama pengaruh Agustinus pada Descartes. Gagasan-gagasannya tentang cogito (kesadaran diri), waktu, memori, dan kehendak menjadi fondasi bagi banyak pemikiran filsafat modern. Filsuf-filsuf seperti Husserl, Heidegger, dan Wittgenstein semuanya telah berdialog dengan warisan Agustinus.

Doktor Gereja Universal

Agustinus dihormati sebagai Doktor Gereja oleh Gereja Katolik dan Ortodoks. Paus Leo XIII memproklamasikannya sebagai Doktor Gereja universal pada tahun 1298. Ia dianggap sebagai “doktor agung” yang ajarannya menjadi standar ortodoksi Kristen.

Aturan Agustinus dan Warisan Monastik

Selain karya teologisnya, Agustinus juga meninggalkan “Aturan” (Regula) bagi kehidupan monastik. Aturan ini masih menjadi dasar bagi banyak ordo religius hingga hari ini, termasuk Augustinian Canons, Dominikan, dan Augustinian Recollects. Aturan ini menekankan hidup dalam komunitas, doa, dan pelayanan, serta kemiskinan dan persaudaraan.

Kesimpulan

Santo Agustinus adalah puncak dari seluruh tradisi Patristik. Ia adalah seorang filsuf yang mendalam, seorang teolog yang brilian, seorang uskup yang penuh gairah, dan seorang penulis yang produktif. Ia mengambil warisan dari para Bapa Gereja sebelumnya, dari Tertullianus hingga Ambrosius, dan menggabungkannya dengan filsafat Neoplatonik untuk menciptakan sintesis agung yang akan membentuk wajah Kekristenan Barat selama lebih dari seribu tahun.

Ia adalah “Rasul Afrika” yang membela iman melawan Donatisme, “Doktor Rahmat” yang mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah ilahi, dan “Doktor Trinitas” yang merumuskan pemahaman paling mendalam tentang misteri Allah Tritunggal. Ia adalah teladan abadi tentang pencarian kebenaran yang tak kenal lelah, sebuah perjalanan yang membawanya dari Manikheisme ke Skeptisisme, dari Neoplatonisme ke Kekristenan, dan akhirnya ke kedamaian di dalam Tuhan.

Warisan Agustinus adalah undangan untuk mencintai Tuhan dengan seluruh hati, jiwa, dan pikiran, dan untuk mencintai sesama seperti diri sendiri. Ia mengajarkan bahwa iman dan akal budi tidak perlu saling bertentangan, dan bahwa kebenaran sejati pada akhirnya akan menemukan ekspresinya yang paling penuh dalam kasih. Pada akhirnya, Agustinus mengingatkan kita bahwa “jiwa kita gelisah sampai ia beristirahat di dalam Tuhan”, dan bahwa seluruh hidup kita adalah sebuah perjalanan menuju rumah yang kekal.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Halo gaessss! Balik lagi sama gue. Kali ini gue mau ngajak lo ngobrolin tentang sosok yang mungkin namanya paling sering disebut dalam sejarah gereja, tapi jarang banget dibahas dengan cara yang seru. Namanya Santo Agustinus. Dalam bahasa Italia, Sant’Agostino. Dia adalah uskup Hippo. Dia adalah teolog. Dia adalah filsuf. Dan dia adalah puncak dari Patristika. Kalau para Bapa Gereja sebelumnya adalah sungai-sungai yang mengalir, maka Agustinus adalah muara tempat semuanya bertemu. Dia mengambil semua yang terbaik dari tradisi Yunani dan Latin, dari Plato dan Paulus, dari Neoplatonisme dan Alkitab, lalu menggabungkannya menjadi satu sistem yang megah. Sistem itu membentuk teologi Barat selama seribu tahun. Bahkan sampai sekarang, kita masih hidup dalam bayang-bayang pemikirannya. Yuk kita bedah.

Santo Agustinus dan Puncak Patristik: Ketika Iman, Akal, dan Pengalaman Bertemu

Biografi Sant’Agostino (Santo Agustinus)

Agustinus lahir pada tahun 354 M di Tagaste, sebuah kota kecil di Numidia, wilayah yang sekarang menjadi Aljazair. Afrika Utara saat itu adalah bagian dari Kekaisaran Romawi. Jadi Agustinus adalah warga Romawi. Tapi dia bukan orang Italia. Dia orang Afrika. Dia orang Berber. Kulitnya mungkin gelap. Bahasa ibunya mungkin Punisia. Tapi dia dididik dalam budaya Latin. Dia membaca Virgil. Dia membaca Cicero. Dia belajar retorika. Dia belajar filsafat.

Ayahnya bernama Patricius. Dia adalah seorang pagan. Dia bukan orang kaya. Dia cuma pejabat kecil. Ibunya bernama Monika. Dia adalah seorang Kristen yang saleh. Dia adalah perempuan yang sabar. Dia adalah perempuan yang tekun. Dia mendoakan Agustinus selama bertahun-tahun. Dia menangis untuk Agustinus. Dia mengikuti Agustinus ke mana-mana. Dia adalah teladan ibu yang berdoa.

Agustinus muda bukanlah orang suci. Dia jauh dari itu. Dia hidup liar. Dia suka pesta. Dia suka perempuan. Dia punya anak di luar nikah. Namanya Adeodatus. Artinya anugerah Tuhan. Anak itu pintar. Anak itu cerdas. Tapi dia meninggal muda.

Agustinus juga suka berfilsafat. Dia membaca Cicero. Dia membaca Hortensius. Buku itu mengubah hidupnya. Dia mulai mencari kebijaksanaan. Dia mulai mencari kebenaran. Dia mencoba berbagai aliran. Dia menjadi Manichaean. Manichaeisme adalah agama yang menggabungkan unsur Kristen, Persia, dan Gnostik. Mani mengajarkan tentang pertempuran antara terang dan gelap. Agustinus tertarik. Tapi lama-lama dia kecewa. Dia merasa Manichaeisme nggak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Agustinus kemudian pergi ke Roma. Dia menjadi guru retorika. Dia kemudian pindah ke Milan. Di Milan, dia bertemu dengan Ambrosius. Ambrosius adalah uskup Milan. Dia adalah pengkhotbah hebat. Agustinus datang untuk mendengar khotbahnya. Bukan karena iman. Tapi karena ingin belajar retorika. Tapi kemudian, sesuatu terjadi. Agustinus terpesona. Bukan cuma oleh gaya bicara Ambrosius. Tapi oleh isi pesannya. Ambrosius mengajarkan bahwa Alkitab itu kaya. Alkitab itu berlapis. Alkitab itu dalam. Jadi jangan cuma baca literalnya. Bacalah alegorisnya. Bacalah spiritualnya.

Agustinus juga bertemu dengan Neoplatonisme. Dia membaca Plotinus. Dia membaca Porphyry. Dia membaca karya-karya Neoplatonis. Dia terpesona. Neoplatonisme memberinya kerangka filsafat untuk memahami iman Kristen. Tentang Tuhan yang transenden. Tentang jiwa yang abadi. Tentang kejahatan sebagai ketiadaan. Tentang cinta sebagai pendakian. Jadi Agustinus menggabungkan Neoplatonisme dengan Alkitab.

Pada tahun 386 M, Agustinus bertobat. Dia membaca Roma 13:13-14. Ayat itu bilang, jangan hidup dalam pesta pora dan kemabukan. Jangan hidup dalam percabulan dan hawa nafsu. Tapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus. Agustinus tergetar. Dia merasa ayat itu ditujukan kepadanya. Dia menangis. Dia bertobat. Dia dibaptis oleh Ambrosius pada malam Paskah tahun 387 M.

Agustinus kembali ke Afrika. Dia menjadi imam. Dia kemudian menjadi uskup Hippo. Hippo adalah kota pelabuhan di Afrika Utara. Dia memimpin gereja di sana selama tiga puluh lima tahun. Dia mengajar. Dia berkhotbah. Dia menulis. Dia berdebat. Dia membela iman. Dia meninggal pada tahun 430 M. Saat itu, bangsa Vandal sedang mengepung Hippo. Dunia Romawi sedang runtuh. Tapi Agustinus sudah menyelesaikan tugasnya. Dia meninggalkan warisan yang luar biasa.

Pengaruh Filosofis

Agustinus sangat dipengaruhi oleh filsafat. Terutama Platonisme dan Neoplatonisme. Dia membaca Plato. Dia membaca Plotinus. Dia membaca Porphyry. Dia mengambil banyak gagasan dari mereka. Tapi dia juga mengkritik mereka. Dia juga mengoreksi mereka. Dia juga mengembangkan mereka.

Filsafat Platonik dan Neoplatonik. Dari Plato, Agustinus mengambil gagasan tentang dunia ide. Tentang realitas yang lebih tinggi. Tentang jiwa yang abadi. Dari Plotinus, Agustinus mengambil gagasan tentang Yang Satu. Tentang emanasi. Tentang penyatuan mistis. Tentang kejahatan sebagai ketiadaan. Tentang cinta sebagai pendakian.

Tapi Agustinus nggak menerima semuanya. Dia menolak gagasan bahwa jiwa itu praeksisten. Dia menolak gagasan bahwa dunia material itu jahat. Dia menolak gagasan bahwa manusia bisa menyelamatkan diri sendiri. Bagi Agustinus, keselamatan adalah anugerah. Keselamatan adalah kasih karunia. Keselamatan adalah tindakan Tuhan.

Pandangan tentang pengetahuan, kebenaran, dan Tuhan. Agustinus mengembangkan teori pengetahuan yang sangat berpengaruh. Dia bilang, kita nggak bisa tahu kebenaran tanpa penerangan dari Tuhan. Ini disebut iluminasi ilahi. Tuhan adalah matahari yang menerangi pikiran kita. Tanpa Tuhan, kita nggak bisa memahami apa pun. Tanpa Tuhan, kita nggak bisa mengenal kebenaran. Tanpa Tuhan, kita nggak bisa mencintai kebaikan.

Agustinus juga bilang, kebenaran itu bukanlah sesuatu yang kita ciptakan. Kebenaran itu sesuatu yang kita temukan. Kebenaran itu objektif. Kebenaran itu kekal. Kebenaran itu ada di dalam Tuhan. Jadi kalau kita mencari kebenaran, kita sebenarnya mencari Tuhan. Kalau kita mencintai kebenaran, kita sebenarnya mencintai Tuhan.

Agustinus juga mengembangkan gagasan tentang Tuhan. Dia bilang, Tuhan itu transenden. Tuhan itu melampaui segala sesuatu. Tuhan itu nggak bisa dipahami sepenuhnya. Tapi Tuhan juga imanen. Tuhan hadir dalam segala sesuatu. Tuhan hadir dalam jiwa kita. Tuhan lebih dekat kepada kita daripada kita kepada diri kita sendiri. Jadi kita bisa menemukan Tuhan dengan masuk ke dalam diri kita sendiri. Dengan merenung. Dengan berdoa. Dengan mencintai.

Kontribusi Teologis

Kontribusi teologis Agustinus sangat besar. Dia adalah pembela iman Kristen. Dia adalah doktrin predestinasi. Dia adalah pengaruh pada teologi Kristen abad pertengahan.

Pembela iman Kristen. Agustinus membela iman Kristen dari berbagai serangan. Dia melawan Manichaeisme. Dia melawan Donatisme. Dia melawan Pelagianisme. Dia melawan paganisme. Dia menulis banyak karya. Yang paling terkenal adalah Confessions. Itu adalah autobiografi spiritual. Dia menceritakan dosa-dosanya. Dia menceritakan pertobatannya. Dia menceritakan perjalanannya mencari Tuhan. Buku itu sangat jujur. Sangat pribadi. Sangat menyentuh. Sampai sekarang, Confessions masih dibaca. Masih dikutip. Masih menginspirasi.

Agustinus juga menulis City of God. Itu adalah karya besar tentang sejarah. Tentang dua kota. Kota dunia. Dan kota Tuhan. Kota dunia adalah kota yang didirikan oleh cinta diri. Kota Tuhan adalah kota yang didirikan oleh cinta Tuhan. Kota dunia akan runtuh. Kota Tuhan akan bertahan. Buku itu ditulis setelah Roma dijarah oleh bangsa Goth pada tahun 410 M. Orang-orang pagan bilang, Roma jatuh karena orang Kristen. Agustinus bilang, Roma jatuh karena Roma itu kota dunia. Kota Tuhan nggak akan jatuh.

Doktrin predestinasi. Agustinus mengembangkan doktrin predestinasi. Dia bilang, sebelum dunia diciptakan, Tuhan sudah memilih siapa yang akan diselamatkan. Pilihan itu bukan berdasarkan perbuatan manusia. Bukan berdasarkan kebaikan manusia. Tapi berdasarkan kasih karunia Tuhan. Manusia nggak bisa menyelamatkan diri sendiri. Manusia nggak bisa memilih Tuhan. Tuhan yang memilih manusia. Tuhan yang menarik manusia. Tuhan yang memberi iman. Tuhan yang memberi kasih karunia. Jadi keselamatan adalah anugerah. Bukan upah. Bukan hadiah. Tapi anugerah.

Doktrin ini sangat kontroversial. Banyak orang menolaknya. Termasuk Pelagius. Pelagius adalah seorang biarawan dari Britania. Dia bilang, manusia punya kehendak bebas. Manusia bisa memilih yang baik. Manusia bisa memilih yang jahat. Manusia bisa menyelamatkan diri sendiri. Agustinus menolak. Dia bilang, manusia sudah jatuh. Manusia sudah rusak. Manusia nggak bisa memilih yang baik. Manusia nggak bisa menyelamatkan diri sendiri. Manusia butuh kasih karunia. Manusia butuh anugerah. Manusia butuh Tuhan.

Pengaruh pada teologi Kristen abad pertengahan. Agustinus sangat mempengaruhi teologi Kristen abad pertengahan. Dia mempengaruhi Thomas Aquinas. Dia mempengaruhi Martin Luther. Dia mempengaruhi John Calvin. Dia mempengaruhi banyak tokoh. Dia adalah sumber inspirasi bagi banyak orang. Dia adalah guru bagi banyak orang. Dia adalah bapak bagi banyak orang.

Peran dalam Gereja Afrika

Agustinus adalah uskup Hippo. Dia adalah pemimpin gereja di Afrika. Dia adalah pemimpin dalam menghadapi kontroversi Donatis. Dia dijuluki “Rasul Afrika”. Dia adalah teladan bagi banyak orang.

Gelar “Rasul Afrika”. Agustinus dijuluki “Rasul Afrika”. Bukan karena dia pergi ke Afrika. Tapi karena dia melayani di Afrika. Dia mengajar di Afrika. Dia menulis di Afrika. Dia membela iman di Afrika. Dia mengembangkan teologi di Afrika. Jadi dia adalah rasul bagi orang Afrika. Dia adalah rasul bagi gereja Afrika.

Pemimpin dalam menghadapi kontroversi Donatis. Donatisme adalah gerakan di gereja Afrika. Mereka bilang, gereja harus suci. Gereja harus murni. Gereja nggak boleh punya anggota yang berdosa. Jadi mereka memisahkan diri dari gereja Katolik. Mereka membentuk gereja sendiri. Mereka menolak sakramen dari imam yang berdosa. Mereka menolak otoritas uskup yang menyerah pada penganiayaan.

Agustinus melawan Donatisme. Dia bilang, gereja itu bukanlah kumpulan orang suci. Gereja adalah kumpulan orang berdosa yang diampuni. Gereja adalah rumah sakit. Bukan museum orang suci. Gereja punya gandum dan lalang. Punya domba dan kambing. Jadi jangan memisahkan diri. Jangan sombong. Jangan merasa lebih suci. Tetaplah dalam gereja. Tetaplah dalam persatuan. Tetaplah dalam kasih.

Agustinus juga menekankan pentingnya sakramen. Sakramen itu sah bukan karena imamnya suci. Tapi karena Kristus yang bekerja. Jadi jangan menolak sakramen. Jangan menolak rahmat. Jangan menolak Tuhan. Terimalah. Syukuri. Bagikan.

Tokoh-tokoh Terkait

Ada beberapa tokoh yang terkait dengan Agustinus. Dan semuanya menarik.

Monika. Dia adalah ibu Agustinus. Dia adalah perempuan yang saleh. Dia adalah perempuan yang sabar. Dia adalah perempuan yang tekun. Dia mendoakan Agustinus selama bertahun-tahun. Dia menangis untuk Agustinus. Dia mengikuti Agustinus ke mana-mana. Dia adalah teladan ibu yang berdoa. Dia meninggal di Ostia, Italia, saat menemani Agustinus kembali ke Afrika. Agustinus menulis tentang dia dalam Confessions. Kisah hidupnya sangat menyentuh.

Ambrosius. Dia adalah uskup Milan. Dia adalah pengkhotbah hebat. Dia adalah teolog dalam. Dia adalah orang yang membaptis Agustinus. Dia adalah orang yang menginspirasi Agustinus. Dia adalah orang yang mengajari Agustinus membaca Alkitab secara alegoris. Tanpa Ambrosius, mungkin Agustinus nggak akan bertobat.

Pelagius. Dia adalah seorang biarawan dari Britania. Dia adalah penentang Agustinus. Dia bilang, manusia punya kehendak bebas. Manusia bisa memilih yang baik. Manusia bisa menyelamatkan diri sendiri. Agustinus menolak. Dia bilang, manusia sudah jatuh. Manusia sudah rusak. Manusia butuh kasih karunia. Manusia butuh anugerah. Manusia butuh Tuhan.

Donatus. Dia adalah tokoh Donatis. Dia adalah uskup di Kartago. Dia adalah pemimpin gerakan Donatis. Dia adalah orang yang memisahkan diri dari gereja Katolik. Dia adalah orang yang ditentang oleh Agustinus.

Hieronimus. Dia adalah penerjemah Alkitab. Dia adalah teman Agustinus. Mereka sering bertukar surat. Mereka sering berdebat. Tapi mereka tetap sahabat. Hieronimus adalah orang yang menerjemahkan Alkitab ke bahasa Latin. Terjemahan itu disebut Vulgata. Terjemahan itu dipakai selama lebih dari seribu tahun.

Kritik terhadap Agustinus

Agustinus juga dikritik. Beberapa orang bilang, dia terlalu pesimis tentang manusia. Dia bilang, manusia sudah jatuh. Manusia sudah rusak. Manusia nggak bisa memilih yang baik. Manusia nggak bisa menyelamatkan diri sendiri. Padahal manusia itu gambar Tuhan. Manusia itu baik. Manusia itu punya kehendak bebas. Manusia itu bisa memilih.

Beberapa orang bilang, dia terlalu ekstrem tentang predestinasi. Dia bilang, Tuhan sudah memilih siapa yang akan diselamatkan. Pilihan itu bukan berdasarkan perbuatan manusia. Pilihan itu berdasarkan kasih karunia Tuhan. Jadi manusia nggak punya peran. Manusia nggak punya pilihan. Manusia cuma boneka. Padahal manusia itu makhluk yang bebas. Manusia itu makhluk yang bertanggung jawab.

Beberapa orang bilang, dia terlalu keras terhadap Donatis. Dia bilang, Donatis itu sesat. Donatis itu bidah. Donatis itu harus ditindas. Padahal Donatis juga punya alasan. Padahal Donatis juga punya kebenaran. Padahal Donatis juga punya ketulusan.

Tapi ada juga yang membela. Mereka bilang, Agustinus adalah salah satu pemikir terbesar dalam sejarah. Dia adalah jembatan antara dunia kuno dan dunia modern. Dia adalah sumber inspirasi bagi banyak orang. Dia adalah guru bagi banyak orang. Dia adalah bapak bagi banyak orang.

Penutup

Halo gaessss, Santo Agustinus ngajarin lo bahwa iman dan akal bukanlah musuh. Mereka bisa jalan bareng. Mereka bisa saling melengkapi. Mereka bisa saling memperkaya. Jadi jangan takut belajar filsafat. Jangan takut berpikir. Jangan takut bertanya. Karena iman yang sejati nggak takut pada pertanyaan. Iman yang sejati justru tumbuh melalui pertanyaan.

Dia juga ngajarin lo bahwa pertobatan itu mungkin. Nggak peduli seberapa jauh lo jatuh. Nggak peduli seberapa banyak lo salah. Nggak peduli seberapa lama lo jauh. Lo bisa kembali. Lo bisa berubah. Lo bisa bertobat. Agustinus adalah teladan. Dia hidup liar. Dia hidup jauh dari Tuhan. Tapi dia bertobat. Dia kembali. Dia menjadi orang suci. Dia menjadi uskup. Dia menjadi doktor gereja.

Dia juga ngajarin lo bahwa kasih karunia itu penting. Lo nggak bisa menyelamatkan diri sendiri. Lo nggak bisa memilih yang baik tanpa pertolongan Tuhan. Lo butuh anugerah. Lo butuh kasih karunia. Lo butuh Tuhan. Jadi jangan sombong. Jangan merasa kuat. Jangan merasa mampu. Rendahkan hati. Akui kelemahan. Minta pertolongan. Terima anugerah.

Jadi, pertanyaan buat lo sekarang sederhana: kalau lo hidup di zaman Agustinus, lo akan berdiri di mana? Di pihak Agustinus yang menekankan kasih karunia? Di pihak Pelagius yang menekankan kehendak bebas? Di pihak Donatis yang menekankan kesucian gereja? Atau lo akan diam? Dan apakah lo siap dengan konsekuensinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *