Orakel Kaldea: Kitab Suci Terakhir Dunia Pagan dan Jembatan Menuju Neoplatonisme
Bayangkan sebuah dunia di ambang keruntuhan. Kekaisaran Romawi sedang goyah, agama Kristen sedang bangkit, dan tradisi-tradisi kuno sedang berada di ujung tanduk. Di tengah-tengah kekacauan itu, sekelompok kecil pemikir dan mistikus berpegang teguh pada sebuah teks yang mereka yakini sebagai wahyu ilahi. Teks itu bukan ditulis oleh manusia, melainkan “diturunkan oleh para dewa” (theoparadota) melalui mulut seorang perantara yang kerasukan. Teks itu berisi syair-syair heksameter yang penuh teka-teki, berbicara tentang api ilahi, seorang Bapa yang tak terkatakan, dan perjalanan jiwa kembali ke rumahnya yang sejati. Inilah Orakel Kaldea (Logia Khaldaika, Λόγια Χαλδαικά), kitab suci terakhir dari dunia pagan kuno, dan salah satu teks paling berpengaruh yang membentuk wajah Neoplatonisme dari Porphyry hingga Proclus.
Asal-Usul dan Pengaruh: Wahyu dari Timur
Orakel Kaldea adalah kumpulan syair heksameter Yunani yang dipercaya diturunkan oleh para dewa, terutama dewi Hekate, kepada seorang tokoh bernama Julianus orang Kaldea (Julianus the Chaldaean) atau melalui putranya, Julianus sang Theurgist (Julianus the Theurgist). Menurut legenda, Julianus yang lebih tua hidup pada masa Kaisar Trajan, sementara putranya menemani Marcus Aurelius dalam kampanye militernya dan membantunya dalam pertempuran dengan menciptakan topeng yang melemparkan petir ke arah musuh. Teks ini kemungkinan besar disusun pada akhir abad ke-2 atau awal abad ke-3 Masehi, dan ditulis dalam bahasa Yunani, yang menunjukkan asal-usulnya dari bagian timur Kekaisaran Romawi.
Istilah “Kaldea” sendiri tidak diterapkan pada teks-teks ini hingga beberapa abad kemudian. Para penulis sebelumnya menyebutnya sebagai ta hiera logia (firman-firman suci) atau hanya ta logia (firman-firman). Penambahan label “Kaldea” tampaknya merupakan upaya untuk mengaitkan syair-syair ini dengan kebijaksanaan Timur yang sangat dihormati. Orakel Kaldea adalah kumpulan sinkretis yang menggabungkan unsur-unsur dari filsafat Yunani (terutama Platonisme), dengan unsur-unsur yang berasal dari Persia dan Babilonia.
Pengaruh Orakel Kaldea terhadap pemikiran Yunani Akhir Kuno sangat mendalam. Bagi para filsuf Neoplatonis, teks ini bukan sekadar puisi religius, melainkan kitab suci yang setara dengan Alkitab bagi orang Kristen. Porphyry, Iamblichus, dan Proclus semuanya menulis komentar-komentar ekstensif tentang Orakel, meskipun karya-karya itu kini telah hilang. Orakel Kaldea menjadi salah satu pengaruh utama yang membentuk perkembangan Neoplatonisme selanjutnya, dari Porphyry hingga Psellus. Bahkan Kaisar Julian, yang berusaha menghidupkan kembali paganisme, mengaku sebagai pengikut ajaran Orakel.
Prinsip Teologis: Penciptaan, Tujuan Ilahi, dan Dunamis
Teologi Orakel Kaldea berpusat pada sebuah monisme ontogonik (ontogonic monism), di mana satu Wujud Tertinggi menghasilkan seluruh realitas melalui serangkaian realitas perantara. Alam semesta bukanlah ciptaan dari ketiadaan (ex nihilo) dalam pengertian Kristen, melainkan emanasi dari sumber ilahi yang menyebar ke tingkat-tingkat realitas yang lebih rendah.
Prinsip fundamental dari teologi ini adalah triad ilahi yang terdiri dari Bapa (Pater), Kekuatan (Dynamis), dan Intelek (Nous). Orakel menyatakan, “Sang Bapa menyatukan dalam kesederhanaan-Nya Kekuatan-Nya dan Intelek-Nya sendiri”. Bapa adalah monad paternal yang berada di puncak hierarki, yang oleh Orakel disebut sebagai hapax epekeina (yang sekali melampaui) atau patrike monas (monad paternal). Kekuatan berada bersama Bapa, sementara Intelek keluar dari Bapa. Intelek ini memiliki fungsi ganda: untuk merenungkan Bentuk-bentuk dari alam intelektual murni milik Bapa, dan untuk membentuk serta mengatur alam material.
Dunamis (Dynamis, Δύναμις) adalah kekuatan kosmik universal yang menjadi prinsip produktif dari mana Intelek muncul. Ia sering diidentikkan dengan Hekate, dewi yang menempati posisi perantara antara Bapa dan Demiurge. Hekate digambarkan sebagai Rahim Kosmik yang tak terkatakan, yang menerima kelahiran semua hal dan menuangkannya ke atas Semua. Ia adalah Jiwa Dunia yang memediasi, yang menghubungkan dunia yang dapat dipahami dengan dunia yang dapat diindrai. Dalam beberapa sumber, Hekate diidentikkan dengan Sofia dalam tradisi Gnostik.
Konsepsi tentang Tuhan: Transenden dan Tak Terjangkau
Tuhan dalam Orakel Kaldea adalah Kecerdasan Ilahi Transenden yang sepenuhnya melampaui materi fisik. Ia digambarkan sebagai “Bapa yang tak terkatakan” (arrhetos pater) dan “Yang Tak Terjangkau” (anepaphos). Sifatnya berada di luar jangkauan pemahaman manusia biasa dan hanya dapat diakses melalui misteri alam (musteria physeos).
Menurut Orakel, Intelek Paternal (Paterikos Nous) adalah prinsip yang memahami Yang Dapat Dipahami dan menaburkan simbol-simbol ke seluruh dunia. Namun, Intelek ini bukanlah Tuhan yang tertinggi. Di atasnya masih ada Bapa yang adalah Monad Pertama, yang bahkan melampaui Intelek itu sendiri. Bapa adalah sumber dari segala sesuatu, “yang tak terkatakan”, yang tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia.
Salah satu ajaran kunci dari Orakel adalah bahwa materi yang paling jauh dari Tuhan Tertinggi dianggap sebagai cangkang padat dari mana jiwa yang tercerahkan harus muncul, melepaskan pakaian tubuhnya. Materi bukanlah jahat pada dirinya sendiri, tetapi ia adalah penghalang yang harus diatasi. Jiwa, yang berasal dari dunia ilahi dan intelligible, telah turun ke alam bumi melalui bola bintang. Tugas jiwa adalah untuk melarikan diri dari dimensi ragawi dan material dan kembali ke bola ilahi dari mana ia berasal.
Nilai-Nilai yang Dipromosikan: Kebebasan, Tanggung Jawab, dan Harmoni
Orakel Kaldea tidak hanya mengajarkan teologi, tetapi juga etika. Salah satu pertanyaan paling mendalam yang diajukan oleh teks ini adalah: Bagaimana mungkin ada tempat untuk pilihan bebas dan tanggung jawab moral di dunia yang diatur oleh takdir yang tidak dapat diubah? Orakel mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menekankan bahwa meskipun takdir mengatur alam material, jiwa manusia memiliki kemampuan untuk memilih dan bertindak secara moral. Kebebasan pribadi (to autexousion) adalah anugerah ilahi yang memungkinkan manusia untuk menentukan nasibnya sendiri, setidaknya dalam hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan jiwanya.
Tanggung jawab sosial juga merupakan nilai penting dalam Orakel. Teks ini mengajarkan bahwa manusia harus hidup sesuai dengan keadilan (dikaiosyne), yang oleh Orakel disebut sebagai “bapak dari keadilan dan kesetaraan, yang belajar sendiri, fisik, dan sempurna, dan bijaksana, dan satu-satunya penemu filsafat suci”. Keadilan adalah fondasi dari tatanan kosmis, dan manusia harus mencerminkannya dalam kehidupan sosial mereka.
Nilai-nilai esensial lainnya adalah perdamaian (eirene) dan harmoni (harmonia). Orakel mengajarkan bahwa jiwa manusia harus menekan Tuhan dengan erat, dan bahwa kehangatan yang lembut dan tenang dari api ilahi itulah yang menciptakan ikatan, harmoni, dan durasi dunia. Eros Kaldea (Chaldean Eros) dipahami sebagai prinsip kosmik yang meresap segalanya, yang bertujuan untuk menjaga kohesi harmonis bahkan di dalam jiwa manusia. Dengan kata lain, harmoni bukan hanya keadaan eksternal, melainkan kondisi internal jiwa yang telah diselaraskan dengan tatanan kosmis.
Warisan dan Relevansi: Kitab Suci yang Terlupakan
Orakel Kaldea adalah Buku Suci terakhir dari dunia pagan kuno. Ia mewakili puncak dari tradisi spiritual dan filosofis yang telah berlangsung selama lebih dari seribu tahun, dan sekaligus menjadi jembatan antara Platonisme Tengah dan Neoplatonisme yang matang. Pengaruhnya terhadap filsafat Barat sangat besar. Konsep-konsep seperti triad ilahi, emanasi, jiwa yang turun dan naik, serta theurgy (ritual untuk menyatukan jiwa dengan yang ilahi) semuanya memiliki akar dalam Orakel Kaldea.
Meskipun teks aslinya telah hilang dan hanya tersisa sekitar 226 fragmen yang dikutip oleh para penulis Neoplatonis, warisan Orakel Kaldea terus hidup. Ia telah menginspirasi para pemikir dari Porphyry hingga Michael Psellus, dari Marsilio Ficino hingga para sarjana modern. Bagi kita hari ini, Orakel Kaldea adalah jendela menuju dunia spiritual yang kaya dan kompleks dari zaman kuno akhir. Ia mengingatkan kita bahwa di balik hiruk-pikuk sejarah dan pergolakan politik, manusia selalu mencari makna, tujuan, dan hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Orakel Kaldea adalah salah satu jawaban paling mendalam dan penuh teka-teki yang pernah diberikan oleh peradaban manusia terhadap pencarian itu.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Halo gaessss! Balik lagi sama gue. Kali ini gue mau ngajak lo ngobrolin teks yang mungkin nggak seterkenal Corpus Hermeticum, tapi sama pentingnya, bahkan lebih mistis. Namanya Orakel Kaldea. Dalam bahasa aslinya Logia Chaldaika. Artinya ucapan-ucapan atau orakel dari Kaldea. Ini bukan novel. Bukan buku filsafat sistematis. Ini kumpulan fragmen. Potongan-potongan puisi. Katanya diucapkan oleh seorang nabi. Katanya diwahyukan oleh dewa. Dan teks ini mempengaruhi Neoplatonisme, teurgi, dan mistisisme Barat. Yuk kita bedah.
Orakel Kaldea: Teks Rahasia yang Menjadi Kitab Suci Kaum Neoplatonis
Asal-usul dan Pengaruh
Orakel Kaldea adalah teks filosofis-religius yang muncul sekitar abad ke-1 SM sampai abad ke-2 M. Disebut Kaldea karena merujuk pada tradisi Babilonia dan Mesopotamia. Orang Yunani dan Romawi menganggap Kaldea sebagai tanah para ahli bintang, ahli sihir, dan orang-orang bijak dari Timur. Jadi nama Kaldea di sini bukan cuma penanda geografis. Dia adalah penanda otoritas. Penanda mistis. Penanda kebijaksanaan kuno.
Menurut tradisi, teks ini disusun oleh Julianus orang Kaldea dan anaknya, Julianus Theurgist. Mereka hidup sekitar abad ke-2 M. Mereka menulis dalam bahasa Yunani. Bentuknya puisi heksameter. Seperti puisi epik Homer. Tapi isinya bukan cerita perang. Isinya adalah wahyu. Isinya adalah ajaran rahasia. Isinya adalah peta perjalanan jiwa menuju Tuhan.
Pengaruh Orakel Kaldea sangat mendalam pada pemikiran filosofis dan teologis Yunani Akhir Kuno. Para filsuf Neoplatonis menganggap teks ini sebagai sumber ilahi. Porphyry mengutipnya. Iamblichus menggunakannya. Proclus bahkan menganggapnya sebagai kitab suci. Damascius, kepala Akademi terakhir, juga mengutipnya. Michael Psellus, sarjana Bizantium, menyelamatkan banyak fragmennya. Tanpa mereka, mungkin kita nggak akan pernah tahu isi Orakel Kaldea.
Sumber dasarnya campuran. Ada historiografi. Ada teologi. Ada filsafat Yunani. Ada mistisisme Timur. Ada astrologi. Ada ritual. Ada puisi. Semua dilebur menjadi satu. Semua menjadi satu teks yang aneh, indah, dan sulit dipahami.
Prinsip Teologis
Prinsip teologis Orakel Kaldea ada beberapa. Dan semuanya radikal.
Penciptaan ilahi ex nihilo. Dalam bahasa Latin, ex nihilo artinya dari ketiadaan. Jadi dunia ini nggak dibuat dari bahan yang sudah ada. Dunia ini dibuat dari ketiadaan. Dari kehendak Tuhan. Dari kekuatan Tuhan. Dari firman Tuhan. Ini berbeda dari gagasan Yunani kuno yang biasanya bilang bahwa materi itu kekal. Di sini, materi punya awal. Materi punya sumber. Materi bergantung pada Yang Ilahi.
Tujuan ilahi penciptaan. Dunia ini nggak diciptakan secara acak. Dunia ini punya tujuan. Dunia ini punya arah. Dunia ini punya makna. Tujuan itu adalah kembali kepada Tuhan. Jiwa-jiwa yang jatuh ke dunia harus naik kembali. Harus kembali ke rumah. Harus menyatu dengan sumbernya. Jadi hidup ini bukan akhir. Hidup ini adalah perjalanan. Hidup ini adalah tangga.
Dunamis sebagai kekuatan kosmik universal. Dunamis artinya kekuatan. Daya. Energi. Dalam Orakel Kaldea, Dunamis adalah kekuatan yang memancar dari Tuhan. Kekuatan yang menciptakan. Kekuatan yang menopang. Kekuatan yang menghidupkan. Dunamis bekerja di seluruh alam semesta. Dari tingkat tertinggi sampai tingkat terendah. Dari bintang-bintang sampai manusia. Dari manusia sampai materi. Semua digerakkan oleh Dunamis.
Konsepsi tentang Tuhan
Konsepsi tentang Tuhan dalam Orakel Kaldea sangat tinggi. Sangat transenden. Sangat abstrak.
Kecerdasan ilahi transenden. Tuhan adalah Nous. Kecerdasan ilahi. Tapi bukan kecerdasan biasa. Bukan kecerdasan manusia. Tuhan adalah kecerdasan yang melampaui segala kecerdasan. Tuhan adalah pikiran yang melampaui segala pikiran. Tuhan adalah sumber dari segala akal. Tapi Tuhan sendiri melampaui akal. Tuhan nggak bisa dipahami oleh akal manusia biasa.
Sifat di luar materi fisik. Tuhan bukanlah materi. Tuhan bukanlah tubuh. Tuhan bukanlah sesuatu yang bisa dilihat, disentuh, atau diukur. Tuhan berada di luar ruang. Di luar waktu. Di luar kategori. Tuhan adalah Yang Satu. Tuhan adalah Yang Maha Tinggi. Tuhan adalah Yang Tak Terbatas.
Dapat diakses hanya melalui misteri alam. Kalau Tuhan begitu transenden, bagaimana kita bisa mengenal-Nya? Orakel Kaldea bilang, kita nggak bisa mengenal Tuhan secara langsung. Kita nggak bisa memahami Tuhan dengan akal biasa. Kita hanya bisa mendekati Tuhan melalui misteri alam. Melalui simbol-simbol alam. Melalui ritual. Melalui teurgi. Melalui pemurnian. Melalui kontemplasi. Alam adalah cermin Tuhan. Alam adalah tangga menuju Tuhan. Jadi pelajarilah alam. Cintailah alam. Hormatilah alam. Karena alam adalah jejak Tuhan.
Nilai-nilai yang Dipromosikan
Orakel Kaldea bukan cuma teks teologis. Dia juga teks etis. Dia mengajarkan nilai-nilai. Dia mengajarkan cara hidup.
Kebebasan pribadi. Orakel Kaldea mengajarkan bahwa jiwa manusia itu bebas. Jiwa nggak terikat pada takdir. Jiwa nggak terikat pada materi. Jiwa nggak terikat pada tubuh. Jiwa bisa memilih. Jiwa bisa naik. Jiwa bisa kembali kepada Tuhan. Tapi kebebasan ini bukan kebebasan tanpa syarat. Kebebasan ini harus diperjuangkan. Harus dilatih. Harus dibersihkan. Harus diarahkan.
Tanggung jawab sosial. Meskipun Orakel Kaldea sangat mistis, dia nggak mengabaikan dunia. Dia nggak menyuruh kita kabur dari masyarakat. Dia nggak menyuruh kita hidup egois. Dia mengajarkan tanggung jawab sosial. Kita hidup di dunia. Kita punya peran. Kita punya kewajiban. Kita harus berkontribusi. Kita harus membantu orang lain. Kita harus menjaga keadilan. Kita harus menjaga perdamaian.
Kualitas esensial: perdamaian dan harmoni. Orakel Kaldea mengajarkan bahwa perdamaian dan harmoni adalah kualitas esensial dari realitas. Alam semesta ini harmonis. Alam semesta ini damai. Tapi harmoni ini bisa rusak. Bisa terganggu. Bisa kacau. Tugas kita adalah menjaga harmoni itu. Menjaga perdamaian itu. Di dalam diri kita. Di dalam keluarga kita. Di dalam masyarakat kita. Di dalam dunia kita.
Teurgi: Jalan Menuju Tuhan
Salah satu ciri khas Orakel Kaldea adalah penekanannya pada teurgi. Teurgi berasal dari kata Yunani theourgia. Artinya kerja ilahi. Atau tindakan ilahi. Teurgi adalah praktik ritual yang bertujuan menyatukan jiwa dengan Tuhan. Bukan cuma berdoa. Bukan cuma meditasi. Tapi ritual. Mantra. Simbol. Batu. Herbal. Musik. Tarian. Semua digunakan untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Iamblichus adalah filsuf Neoplatonis yang paling terkenal karena membela teurgi. Dia bilang, filsafat saja nggak cukup. Filsafat cuma bisa membawa kita sampai tingkat tertentu. Untuk menyatu dengan Tuhan, kita butuh teurgi. Kita butuh ritual. Kita butuh bantuan dari kekuatan ilahi. Jadi teurgi bukan sihir. Teurgi bukan manipulasi. Teurgi adalah kerja sama. Kerja sama antara manusia dan Tuhan. Kerja sama antara jiwa dan kekuatan kosmik.
Proclus juga menggunakan Orakel Kaldea sebagai dasar teurgi. Dia bilang, Orakel Kaldea adalah wahyu. Dia adalah suara Tuhan. Dia adalah peta. Peta untuk naik. Peta untuk kembali. Peta untuk menyatu.
Tokoh-tokoh Terkait
Julianus orang Kaldea. Dia adalah penulis pertama Orakel Kaldea. Dia adalah seorang nabi. Dia adalah seorang guru. Dia adalah seorang mistik.
Julianus Theurgist. Dia adalah anak Julianus orang Kaldea. Dia adalah penyusun Orakel Kaldea. Dia adalah seorang teurg. Dia adalah seorang ritualis.
Porphyry. Dia adalah murid Plotinus. Dia adalah filsuf Neoplatonis. Dia mengutip Orakel Kaldea. Dia membahas teurgi. Dia membahas keselamatan jiwa.
Iamblichus. Dia adalah filsuf Neoplatonis. Dia adalah pembela teurgi. Dia menulis tentang misteri Mesir. Dia menulis tentang teurgi. Dia menggunakan Orakel Kaldea.
Proclus. Dia adalah filsuf Neoplatonis. Dia adalah kepala Akademi Athena. Dia menganggap Orakel Kaldea sebagai kitab suci. Dia menulis komentar tentangnya. Dia mengembangkan teurgi.
Damascius. Dia adalah filsuf Neoplatonis. Dia adalah kepala Akademi terakhir. Dia mengutip Orakel Kaldea. Dia membahas tentang prinsip-prinsip ilahi.
Michael Psellus. Dia adalah sarjana Bizantium. Dia adalah filsuf. Dia adalah sejarawan. Dia menyelamatkan banyak fragmen Orakel Kaldea. Tanpa dia, banyak teks mungkin hilang.
Kritik terhadap Orakel Kaldea
Orakel Kaldea juga dikritik. Beberapa orang bilang, teks ini terlalu mistis. Terlalu abstrak. Terlalu sulit. Terlalu jauh dari pengalaman sehari-hari.
Beberapa orang bilang, teks ini sinkretis. Terlalu mencampur. Terlalu mengikuti selera pasar. Mereka bilang, ini bukan filsafat murni. Ini bukan agama murni. Ini campuran yang aneh.
Beberapa orang bilang, teks ini berbahaya. Karena mengajarkan teurgi. Karena mengajarkan ritual. Karena mengajarkan sihir. Mereka bilang, ini bisa disalahgunakan. Ini bisa menjerumuskan.
Tapi ada juga yang membela. Mereka bilang, Orakel Kaldea adalah warisan. Warisan dari dunia kuno. Warisan dari kebijaksanaan. Warisan dari pencarian spiritual. Tanpa Orakel Kaldea, mungkin nggak ada Neoplatonisme. Tanpa Orakel Kaldea, mungkin nggak ada teologi Kristen. Tanpa Orakel Kaldea, mungkin nggak ada mistisisme Barat.
Warisan Orakel Kaldea
Warisan Orakel Kaldea sangat besar. Dia mempengaruhi Neoplatonisme. Dia mempengaruhi teologi Kristen. Dia mempengaruhi filsafat Islam. Dia mempengaruhi mistisisme Yahudi. Dia mempengaruhi Renaisans. Dia mempengaruhi okultisme modern.
Dalam Neoplatonisme, Orakel Kaldea menjadi sumber inspirasi. Plotinus mungkin nggak langsung mengutipnya. Tapi murid-muridnya mengutip. Porphyry, Iamblichus, Proclus, Damascius. Mereka semua menggunakan Orakel Kaldea. Mereka semua mengembangkan teurgi.
Dalam Kristen, Orakel Kaldea mempengaruhi para Bapa Gereja. Mereka membaca teks-teks Yunani. Mereka membaca Neoplatonis. Mereka membaca Orakel Kaldea. Mereka mengambil gagasan tentang Logos. Tentang tuhan yang transenden. Tentang jiwa yang abadi. Tentang penyatuan dengan tuhan.
Dalam Islam, Orakel Kaldea mempengaruhi filsuf-filsuf Muslim. Mereka membaca karya-karya Yunani. Mereka membaca Neoplatonis. Mereka membaca Orakel Kaldea. Mereka mengambil gagasan tentang emanasi. Tentang hierarki realitas. Tentang penyatuan dengan Yang Satu.
Dalam Renaisans, Orakel Kaldea dihidupkan kembali. Marsilio Ficino menerjemahkannya. Pico della Mirandola mengutipnya. Giordano Bruno terinspirasi. Mereka melihat Orakel Kaldea sebagai kebijaksanaan kuno. Sebagai sumber dari semua filsafat. Sebagai sumber dari semua agama.
Dalam okultisme modern, Orakel Kaldea masih dibaca. Para praktisi sihir. Para mistik. Para pencari kebenaran. Mereka membaca Orakel Kaldea. Mereka mempraktikkan teurgi. Mereka mencari penyatuan dengan Tuhan.
Penutup
Halo gaessss, Orakel Kaldea ngajarin lo bahwa realitas itu berlapis. Ada dunia material. Ada dunia jiwa. Ada dunia ilahi. Dan semuanya terhubung. Semuanya satu. Semuanya berasal dari satu sumber. Semuanya kembali ke satu tujuan.
Dia juga ngajarin lo bahwa kebebasan itu mungkin. Jiwa lo nggak terikat pada takdir. Jiwa lo nggak terikat pada materi. Jiwa lo bisa naik. Jiwa lo bisa kembali. Tapi kebebasan itu harus diperjuangkan. Harus dilatih. Harus dibersihkan. Harus diarahkan.
Dia juga ngajarin lo bahwa perdamaian dan harmoni itu penting. Bukan cuma di luar. Tapi di dalam. Di dalam diri lo. Di dalam keluarga lo. Di dalam masyarakat lo. Di dalam dunia lo. Jagalah harmoni itu. Jangan rusak. Jangan kotori. Jangan kacaukan.
Jadi, pertanyaan buat lo sekarang sederhana: kalau lo punya akses ke orakel yang bisa jawab semua misteri alam, apa yang lo tanya? Dan apakah lo siap dengan jawabannya?
