filsafat

Pirronisme dan Neoskeptisisme: Seni Meragukan dari Zaman Kuno hingga Era Modern

Bayangkan sebuah dunia di mana tidak ada yang bisa dipastikan. Di mana setiap klaim tentang kebenaran, tentang realitas, tentang baik dan buruk, selalu dapat dibantah oleh klaim yang berlawanan dengan kekuatan yang sama. Di dunia seperti itu, bagaimana seseorang bisa hidup? Bagaimana seseorang bisa mengambil keputusan, menjalin hubungan, atau bahkan sekadar bangun dari tempat tidur di pagi hari? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi inti dari salah satu aliran filsafat paling radikal dan paling bertahan lama dalam sejarah pemikiran manusia: Skeptisisme. Dari Pirron dari Elis yang konon hidup dengan ketenangan luar biasa, hingga Sextus Empiricus yang menyusun kerangka skeptisisme paling komprehensif, hingga para pemikir modern yang terus bergulat dengan warisan mereka, kisah skeptisisme adalah kisah tentang keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak tahu, dan menemukan kedamaian dalam ketidaktahuan itu.

Pirronisme: Skeptisisme Radikal dari Elis

Ketidakmungkinan Pengetahuan yang Pasti

Pirron dari Elis (Πύρρων ὁ Ἠλεῖος, Pyrrhōn ho Ēleios) hidup sekitar tahun 360 hingga 270 Sebelum Masehi dan dianggap sebagai pendiri Skeptisisme Kuno. Ia tidak menulis apa pun; ajarannya sampai kepada kita melalui muridnya, Timon dari Fliunte, dan kemudian melalui Diogenes Laertius. Inti dari ajaran Pirron adalah keyakinan bahwa pengetahuan yang pasti tentang hakikat segala sesuatu tidak mungkin dicapai. Setiap klaim tentang realitas selalu dapat dibantah oleh klaim yang berlawanan dengan kekuatan argumen yang setara.

Pirron berpendapat bahwa karena kita tidak pernah bisa memastikan apakah persepsi kita sesuai dengan realitas, maka satu-satunya sikap yang jujur adalah menangguhkan penilaian (epoché, ἐποχή). Ini bukanlah keraguan yang pasif, melainkan sebuah kesimpulan aktif setelah menyadari bahwa bukti-bukti yang ada tidak cukup untuk memutuskan. Pirron juga mengajarkan aphasia (ἀφασία), yaitu menahan diri dari berbicara atau membuat pernyataan tentang realitas.

Penangguhan Penilaian dan Pencarian Ketenangan

Tujuan dari penangguhan penilaian bukanlah nihilisme atau keputusasaan. Tujuannya adalah ataraxia (ἀταραξία), yaitu ketenangan jiwa atau kebebasan dari gangguan mental. Pirron percaya bahwa penderitaan manusia berasal dari keyakinan-keyakinan dogmatis tentang apa yang baik dan buruk, benar dan salah. Ketika kita melekat pada keyakinan-keyakinan ini, kita menjadi cemas ketika keyakinan itu terancam, dan kita menderita ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan kita. Dengan menangguhkan penilaian, kita membebaskan diri dari kecemasan-kecemasan ini.

Pirron sendiri dikatakan menjalani hidupnya dengan ketenangan yang luar biasa. Ia tidak takut pada apa pun, tidak marah pada siapa pun, dan tidak terikat pada apa pun. Ketika kapalnya hampir tenggelam dalam badai, ia tetap tenang dan menunjuk ke seekor babi yang sedang makan dengan damai, sebagai contoh sikap yang seharusnya dimiliki manusia. Kisah-kisah ini mungkin bersifat legendaris, tetapi mereka menunjukkan bahwa bagi Pirron, skeptisisme bukanlah sekadar teori, melainkan sebuah cara hidup.

Neoskeptisisme: Evolusi Moderat dari Skeptisisme Kuno

Kelahiran Neoskeptisisme dan Enesidemo

Pirronisme yang didirikan oleh Pirron mengalami kemunduran setelah kematian muridnya, Timon. Skeptisisme kemudian berpindah ke Akademi Plato, di mana Arcesilaus dan Carneades mengembangkan bentuk skeptisisme yang lebih akademis dan argumentatif. Namun, pada abad ke-1 Sebelum Masehi, seorang filsuf bernama Enesidemo dari Knossos (Αἰνησίδημος, Ainēsidēmos) meluncurkan gerakan pembaruan yang bertujuan untuk menghidupkan kembali tradisi skeptis yang ketat dari Pirron.

Enesidemo menulis delapan buku Discourses Pirroniani (Πυρρώνειοι λόγοι, Pyrrhōneioi logoi), yang sebagian besar telah hilang, tetapi ringkasannya masih bertahan dalam karya Photius. Ia mengkritik kaum skeptis Akademi karena dianggap terlalu dogmatis dalam penolakan mereka terhadap doktrin-doktrin lain. Baginya, skeptisisme sejati harus sama sekali tidak menegaskan atau menyangkal tesis apa pun.

Sepuluh Tropos dan Metode Kritik

Kontribusi paling terkenal dari Enesidemo adalah sepuluh tropos (τρόποι, tropoi), yaitu sepuluh pola argumen yang dirancang untuk menunjukkan bahwa setiap klaim dogmatis tidak dapat dipertahankan. Tropos-tropos ini kemudian diambil dan dikembangkan lebih lanjut oleh Sextus Empiricus.

Sepuluh tropos tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori. Pertama, tropos yang berkaitan dengan subjek yang mengetahui: perbedaan organisme, perbedaan manusia, perbedaan indra, dan kondisi subjek. Kedua, tropos yang berkaitan dengan objek yang diketahui: posisi, jarak, dan medium. Ketiga, tropos yang berkaitan dengan hubungan antara subjek dan objek: kuantitas, relasi, dan frekuensi. Keempat, tropos yang berkaitan dengan konteks: pendidikan, kebiasaan, dan konvensi.

Tujuan dari tropos-tropos ini bukan untuk membuktikan bahwa dogmatisme salah, tetapi untuk menunjukkan bahwa dogmatisme tidak lebih kuat daripada skeptisisme. Dengan kata lain, untuk setiap klaim, ada argumen yang sama kuatnya yang mendukung klaim yang berlawanan. Inilah yang disebut isostheneia (ἰσοσθένεια), yaitu keseimbangan kekuatan argumen.

Sesto Empirico dan Penyempurnaan Neoskeptisisme

Sextus Empiricus (Σέξτος ὁ Ἐμπειρικός) hidup sekitar abad ke-2 hingga ke-3 Masehi dan merupakan eksponen utama Neoskeptisisme. Namanya, “Empiricus”, menunjukkan bahwa ia mungkin adalah seorang dokter dari sekolah Empiris, sebuah sekolah kedokteran yang menekankan pengalaman sebagai dasar pengetahuan. Karya-karyanya, terutama Outlines of Pyrrhonism (Πυρρώνειοι ὑποτυπώσεις) dan Against the Mathematicians (Πρὸς Μαθηματικούς), merupakan sumber paling komprehensif yang kita miliki tentang Skeptisisme Pirronian.

Sextus menyempurnakan dan mensistematisasi ajaran-ajaran Enesidemo. Ia membedakan dengan jelas antara Skeptisisme Pirronian dan Skeptisisme Akademik, dengan menekankan bahwa skeptis Pirronian tidak mengklaim bahwa kebenaran tidak dapat ditemukan, melainkan terus mencari. Ia juga mengembangkan lima tropos Agrippa, yang merupakan bentuk argumen skeptis yang lebih umum dan lebih kuat.

Perbandingan: Pirronisme dan Neoskeptisisme

Meskipun Neoskeptisisme sering dianggap sebagai kelanjutan dari Pirronisme, ada perbedaan penting antara keduanya.

Pirronisme lebih radikal. Pirron mengajarkan penangguhan penilaian yang total dan tanpa syarat. Ia tidak membuat perbedaan antara penampilan dan realitas, dan ia tidak memberikan panduan apa pun tentang bagaimana hidup di dunia. Skeptis Pirronian awal, seperti Pirron sendiri, konon hidup dengan cara yang hampir tidak manusiawi, mengabaikan konvensi sosial dan bahkan tidak menghindari bahaya.

Neoskeptisisme lebih moderat. Enesidemo dan Sextus menyadari bahwa skeptisisme yang terlalu radikal tidak dapat dijalani. Mereka mengembangkan apa yang disebut sebagai kriteria praktis untuk hidup. Meskipun mereka menangguhkan penilaian tentang hakikat realitas, mereka tetap mengikuti penampilan (phainomena) dan konvensi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Sextus menulis bahwa skeptis hidup secara empiris, mengikuti adat istiadat dan hukum yang berlaku, tanpa membuat klaim dogmatis tentang kebenaran mereka.

Keduanya menolak dogmatisme. Meskipun ada perbedaan dalam tingkat radikalisme, baik Pirronisme maupun Neoskeptisisme sama-sama menolak dogmatisme, yaitu sikap mereka yang mengklaim telah menemukan kebenaran. Keduanya juga sama-sama menempatkan ataraxia sebagai tujuan akhir filsafat. Bagi kedua aliran ini, skeptisisme bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai ketenangan jiwa.

Pengaruh Skeptisisme pada Filsafat Modern

Pengaruh Skeptisisme Kuno, terutama melalui karya Sextus Empiricus, terhadap filsafat modern sangat besar. Karya-karya Sextus ditemukan kembali pada abad ke-16 dan menjadi salah satu sumber inspirasi utama bagi kebangkitan Skeptisisme modern.

Pengaruh pada Filsafat Modern

Filsuf-filsuf seperti Michel de Montaigne, René Descartes, Pierre Gassendi, dan David Hume semuanya berhadapan dengan tantangan Skeptisisme Pirronian. Montaigne menggunakan argumen-argumen skeptis untuk merendahkan klaim-klaim dogmatis dan mendorong toleransi. Descartes menggunakan keraguan metodis untuk mencari fondasi pengetahuan yang tidak dapat diragukan, meskipun skeptisismenya bersifat sementara dan bertujuan untuk mencapai kepastian.

Hume, seorang skeptis yang lebih radikal, berargumen bahwa kita tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara rasional, dan bahwa keyakinan kita pada kausalitas hanyalah hasil dari kebiasaan berpikir. Skeptisisme Hume masih menjadi tantangan utama dalam epistemologi hingga hari ini.

Pengaruh pada Metode Ilmiah

Skeptisisme juga memiliki pengaruh yang mendalam pada metode ilmiah. Skeptisisme ilmiah adalah sikap kritis dalam menilai klaim, data, dan teori sebelum menerima mereka sebagai pengetahuan. Ini bukan berarti menolak semua klaim, melainkan menilai mereka berdasarkan bukti empiris dan rasionalitas.

Prinsip-prinsip skeptisisme ilmiah mencakup pengujian kritis, verifikasi, dan keraguan terstruktur. Ilmuwan diharapkan untuk bersikap skeptis terhadap hipotesis dan teori, dan untuk terus menguji dan merevisi pemahaman mereka berdasarkan bukti baru. Skeptisisme ilmiah telah mendorong kemajuan besar dalam pemahaman kita tentang alam semesta, dari teori evolusi hingga mekanika kuantum.

Pengaruh pada Epistemologi Kontemporer

Dalam epistemologi kontemporer, skeptisisme muncul dalam berbagai bentuk. Relativisme kebenaran, kritik postmodern terhadap narasi besar, dan keraguan terhadap objektivitas ilmu dan media adalah beberapa manifestasi dari skeptisisme modern.

Filsuf seperti Peter Unger mengembangkan bentuk Skeptisisme Baru yang mempertanyakan kemungkinan pengetahuan yang pasti. Paul Kurtz mengembangkan “penyelidikan skeptis” (skeptical inquiry) yang berbeda dari bentuk skeptisisme sebelumnya karena motivasinya adalah penyelidikan, bukan keraguan.

Skeptisisme juga terus menjadi topik penting dalam diskusi tentang hakikat pengetahuan, kebenaran, dan objektivitas. Para filsuf kontemporer terus bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh skeptis kuno: Apakah pengetahuan yang pasti mungkin? Jika tidak, bagaimana kita bisa hidup? Dan apakah skeptisisme, pada akhirnya, adalah sikap yang membebaskan atau yang melumpuhkan?

Kesimpulan

Pirronisme dan Neoskeptisisme adalah dua babak penting dalam sejarah skeptisisme, salah satu aliran filsafat paling radikal dan paling berpengaruh dalam pemikiran manusia. Dari Pirron yang mengajarkan penangguhan penilaian total untuk mencapai ketenangan, hingga Enesidemo yang mengembangkan sepuluh tropos sebagai senjata melawan dogmatisme, hingga Sextus Empiricus yang menyempurnakan skeptisisme menjadi sistem yang komprehensif, warisan mereka terus hidup dalam filsafat modern, metode ilmiah, dan epistemologi kontemporer.

Skeptisisme mengajarkan kita bahwa keraguan bukanlah musuh pengetahuan, melainkan sahabatnya. Dengan berani mengakui bahwa kita tidak tahu, kita membuka diri terhadap kemungkinan untuk belajar. Dengan menangguhkan penilaian, kita membebaskan diri dari belenggu keyakinan yang dogmatis. Dan dengan menerima ketidakpastian, kita menemukan kedamaian yang tidak tergoyahkan. Pada akhirnya, skeptisisme adalah undangan untuk hidup dengan jujur, rendah hati, dan terbuka terhadap keajaiban dunia yang tidak pernah sepenuhnya dapat kita pahami.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Halo gaessss! Balik lagi sama gue. Kali ini gue mau ngajak lo ngobrolin dua aliran filsafat yang mungkin kedengeran mirip tapi sebenernya beda. Namanya Pirronisme dan Neoskeptisisme. Kalau lo pernah ngerasa bingung, ragu, atau nggak yakin tentang banyak hal, filsafat ini mungkin bisa ngasih lo perspektif baru. Bukan perspektif yang bikin lo tambah bingung. Tapi perspektif yang bikin lo tenang. Karena kadang, jawaban yang paling jujur adalah “gue nggak tahu”. Dan itu nggak apa-apa. Yuk kita bedah.

Pirronisme dan Neoskeptisisme: Filsafat yang Berani Bilang “Aku Nggak Tahu”

Il Pirronismo (Pirronisme)

Pirronisme adalah aliran skeptisisme yang didirikan oleh Pirrone dari Elide. Pirrone hidup sekitar tahun 360 sampai 270 SM. Dia adalah filsuf yang berani banget. Dia nggak cuma meragukan pendapat orang lain. Dia meragukan semua pendapat. Termasuk pendapatnya sendiri.

Inti dari Pirronisme ada tiga. Pertama, ketidakmungkinan pengetahuan yang pasti. Pirrone bilang, kita nggak pernah bisa yakin tentang apa pun. Indra kita bisa menipu. Akal kita bisa salah. Setiap klaim kebenaran bisa dibantah dengan klaim kebenaran lain. Jadi nggak ada yang namanya kepastian.

Kedua, penangguhan penilaian. Ini disebut epoché. Karena kita nggak bisa yakin, maka kita harus menunda penilaian. Kita nggak bilang “ini benar”. Kita nggak bilang “ini salah”. Kita cuma bilang “gue nggak tahu”. Kita tunda. Kita diam. Kita amati.

Ketiga, pencarian ketenangan. Ini disebut ataraksia. Tujuan dari Pirronisme bukanlah kepastian. Tujuan dari Pirronisme adalah ketenangan. Ketenangan yang datang dari melepaskan keinginan untuk tahu. Ketenangan yang datang dari berhenti mencari jawaban. Ketenangan yang datang dari menerima ketidaktahuan.

Pirrone bilang, ketika kita berhenti mengejar kepastian, kita jadi tenang. Ketika kita berhenti memihak, kita jadi damai. Ketika kita berhenti mencemaskan, kita jadi bebas. Ataraksia bukanlah sesuatu yang bisa dikejar. Ataraksia adalah sesuatu yang datang sendiri. Seperti tamu yang tak diundang. Diam-diam. Tiba-tiba. Tanpa kita sadari.

Il Neoscetticismo (Neoskeptisisme)

Neoskeptisisme adalah evolusi moderat dari pemikiran skeptis. Ini bukan Pirronisme murni. Ini Pirronisme yang sudah berkembang. Sudah disesuaikan. Sudah dilembutkan.

Neoskeptisisme muncul di Akademi Platonik. Ini terjadi ketika Arcesilaus menjadi kepala Akademi sekitar tahun 264 SM. Arcesilaus mengubah Akademi dari dogmatis menjadi skeptis. Dia bilang, kita nggak bisa tahu apa pun. Yang bisa kita lakukan adalah menunda penilaian.

Tapi Neoskeptisisme nggak berhenti di situ. Carneades, yang memimpin Akademi sekitar tahun 214 sampai 129 SM, mengembangkan skeptisisme lebih lanjut. Dia bilang, meskipun kita nggak bisa tahu pasti, kita bisa membuat probabilitas. Kita bisa punya keyakinan yang masuk akal. Kita bisa bertindak berdasarkan kemungkinan.

Ini yang bikin Neoskeptisisme lebih moderat dari Pirronisme. Pirronisme bilang, kita nggak bisa tahu apa pun. Neoskeptisisme bilang, kita nggak bisa tahu pasti, tapi kita bisa punya keyakinan yang masuk akal. Pirronisme bilang, tunda penilaian. Neoskeptisisme bilang, tunda penilaian, tapi kalau perlu bertindak, bertindaklah berdasarkan probabilitas.

Pencarian pengetahuan yang berkelanjutan. Neoskeptisisme bukan berarti berhenti mencari. Neoskeptisisme berarti terus mencari. Terus bertanya. Terus menguji. Tapi dengan kesadaran bahwa jawaban kita mungkin salah. Dengan kerendahan hati bahwa kita mungkin keliru.

Kehati-hatian terhadap kebenaran absolut. Neoskeptisisme menolak kebenaran absolut. Nggak ada kebenaran yang final. Nggak ada kebenaran yang mutlak. Semua kebenaran adalah sementara. Semua kebenaran adalah relatif. Semua kebenaran adalah revisable.

Enesidemo

Enesidemo adalah eksponen utama Neoskeptisisme. Dia hidup sekitar abad ke-1 SM. Dia mengembangkan sepuluh trope, atau sepuluh mode keraguan. Ini adalah sepuluh alasan kenapa kita harus menunda penilaian.

Pertama, hal yang sama terlihat berbeda bagi hewan yang berbeda. Kedua, hal yang sama terlihat berbeda bagi manusia yang berbeda. Ketiga, hal yang sama terlihat berbeda melalui indra yang berbeda. Keempat, hal yang sama terlihat berbeda dalam kondisi yang berbeda. Kelima, hal yang sama terlihat berbeda dari posisi yang berbeda. Keenam, hal yang sama terlihat berbeda dalam campuran yang berbeda. Ketujuh, hal yang sama terlihat berbeda tergantung jarak. Kedelapan, hal yang sama terlihat berbeda tergantung kuantitas. Kesembilan, hal yang sama terlihat berbeda tergantung konteks. Kesepuluh, hal yang sama terlihat berbeda tergantung hubungan.

Dari sepuluh trope ini, Enesidemo menyimpulkan bahwa kita nggak bisa yakin tentang apa pun. Karena selalu ada perspektif lain. Selalu ada sudut pandang lain. Selalu ada kemungkinan lain. Jadi tundalah penilaian. Jangan memihak. Jangan memutuskan.

Sesto Empirico

Sesto Empirico adalah eksponen utama Neoskeptisisme lainnya. Dia hidup sekitar abad ke-2 M. Dia menulis Outlines of Pyrrhonism. Ini adalah teks paling lengkap tentang Skeptisisme Pirronian. Di situ, dia menjelaskan apa itu Skeptisisme. Bagaimana cara mempraktikkannya. Apa bedanya dengan dogmatisme. Apa bedanya dengan Akademi Skeptisisme.

Sesto bilang, Skeptis bukanlah orang yang nggak percaya apa pun. Skeptis adalah orang yang terus mencari. Skeptis adalah orang yang mengamati. Skeptis adalah orang yang menguji. Skeptis adalah orang yang nggak berhenti pada satu jawaban.

Sesto juga bilang, Skeptis nggak hidup tanpa aturan. Skeptis hidup berdasarkan penampakan. Berdasarkan kebiasaan. Berdasarkan hukum. Berdasarkan adat. Skeptis nggak melanggar aturan. Skeptis cuma nggak dogmatis. Skeptis nggak bilang “ini pasti benar”. Skeptis cuma bilang “ini tampaknya benar”.

Perbandingan

Pirronisme dan Neoskeptisisme punya banyak kesamaan. Tapi juga punya perbedaan.

Pirronisme lebih radikal. Pirronisme bilang, kita nggak bisa tahu apa pun. Titik. Nggak ada pengecualian. Nggak ada kompromi. Nggak ada probabilitas. Kita harus menunda penilaian sepenuhnya.

Neoskeptisisme lebih moderat. Neoskeptisisme bilang, kita nggak bisa tahu pasti, tapi kita bisa punya keyakinan yang masuk akal. Kita bisa bertindak berdasarkan probabilitas. Kita bisa hidup berdasarkan penampakan.

Keduanya menolak dogmatisme. Baik Pirronisme maupun Neoskeptisisme menolak dogmatisme. Mereka menolak klaim kebenaran absolut. Mereka menolak kepastian yang nggak berdasar. Mereka menolak arogansi intelektual.

Tapi ada juga perbedaan dalam tujuan. Pirronisme bertujuan untuk ataraksia. Ketenangan. Kedamaian. Neoskeptisisme bertujuan untuk pencarian yang berkelanjutan. Terus bertanya. Terus menguji. Terus belajar.

Ada juga perbedaan dalam metode. Pirronisme memakai epoché. Penangguhan penilaian. Neoskeptisisme memakai probabilitas. Keyakinan yang masuk akal.

Pengaruh

Pengaruh Pirronisme dan Neoskeptisisme sangat besar.

Filsafat modern. Filsuf modern seperti Montaigne, Hume, dan Descartes dipengaruhi oleh Skeptisisme. Montaigne menulis esai-esai yang penuh keraguan. Hume meragukan kausalitas. Descartes meragukan segalanya sampai dia menemukan satu hal yang nggak bisa diragukan: aku berpikir maka aku ada.

Metode ilmiah. Metode ilmiah mengambil semangat Skeptisisme. Ilmuwan nggak percaya begitu saja. Mereka menguji. Mereka mengulang. Mereka meragukan. Mereka mencari bukti. Mereka mencari kontra-bukti. Tanpa Skeptisisme, nggak ada sains.

Epistemologi kontemporer. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan. Skeptisisme adalah tantangan terbesar bagi epistemologi. Bagaimana kita bisa tahu? Apakah kita bisa tahu? Apakah pengetahuan itu mungkin? Pertanyaan-pertanyaan ini masih diperdebatkan sampai sekarang.

Tokoh-tokoh Terkait

Pirrone dari Elide. Dia adalah pendiri Pirronisme. Dia adalah inspirasi bagi semua Skeptis.

Timon dari Phlius. Dia adalah murid Pirrone. Dia menulis satir dan dialog yang mempopulerkan gagasan Pirrone.

Arcesilaus. Dia adalah kepala Akademi yang mengubahnya menjadi skeptis. Dia adalah pendiri Skeptisisme Akademik.

Carneades. Dia adalah kepala Akademi yang mengembangkan Skeptisisme Akademik. Dia mengembangkan gagasan tentang probabilitas.

Enesidemo. Dia adalah Skeptis yang mengembangkan sepuluh trope. Dia adalah eksponen utama Neoskeptisisme.

Sesto Empirico. Dia adalah Skeptis yang menulis Outlines of Pyrrhonism. Dia adalah sumber utama kita tentang Skeptisisme Pirronian.

Kritik terhadap Skeptisisme

Skeptisisme juga dikritik. Beberapa orang bilang, Skeptisisme itu kontradiktif. Kalau semua pendapat salah, maka pendapat Skeptis juga salah. Kalau Skeptis bilang “kita nggak bisa tahu”, apakah itu klaim pengetahuan? Kalau iya, maka Skeptis melanggar aturannya sendiri.

Beberapa orang bilang, Skeptisisme itu nggak praktis. Kalau lo nggak bisa tahu apa-apa, bagaimana lo hidup? Bagaimana lo memilih? Bagaimana lo bertindak? Skeptis menjawab: kita hidup berdasarkan penampakan. Kita bertindak berdasarkan kebiasaan. Kita memilih berdasarkan probabilitas. Kita nggak butuh kepastian untuk hidup.

Beberapa orang bilang, Skeptisisme itu berbahaya. Kalau semua pendapat sama, maka nggak ada yang benar. Kalau nggak ada yang benar, maka nggak ada moral. Kalau nggak ada moral, maka apa pun boleh. Skeptis menjawab: kita nggak bilang semua pendapat sama. Kita cuma bilang, kita nggak bisa memastikan. Tapi kita tetap bisa hidup dengan baik. Kita tetap bisa berbuat baik.

Tapi ada juga yang membela Skeptisisme. Mereka bilang, Skeptisisme itu sehat. Skeptisisme itu rendah hati. Skeptisisme itu toleran. Skeptisisme mengajarkan kita untuk nggak fanatik. Untuk nggak arogan. Untuk nggak memaksakan pendapat kita pada orang lain.

Penutup

Halo gaessss, Pirronisme dan Neoskeptisisme ngajarin lo bahwa nggak tahu itu nggak apa-apa. Nggak yakin itu nggak apa-apa. Ragu itu nggak apa-apa. Justru dari ketidaktahuan, kita bisa belajar. Justru dari keraguan, kita bisa tumbuh. Justru dari ketidakpastian, kita bisa tenang.

Mereka juga ngajarin lo bahwa kebahagiaan bukan soal punya jawaban. Kebahagiaan adalah soal berhenti bertanya. Bukan karena pertanyaan itu nggak penting. Tapi karena jawaban itu nggak pernah memuaskan. Jadi lebih baik lo duduk. Lo amati. Lo terima. Lo nikmati. Hidup ini misteri. Dan misteri itu indah.

Jadi, pertanyaan buat lo sekarang sederhana: apa satu hal yang selama ini lo yakini sepenuhnya, dan apakah lo berani meragukannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *