filsafat

Scandal of Induction: Mengapa Ilmu Pengetahuan Berdiri di Atas Dasar yang Tidak Pasti?

Pernahkah Anda merasa yakin bahwa matahari akan terbit besok? Tentu saja. Anda tidak pernah meragukannya. Anda bangun setiap pagi, dan matahari ada di sana. Anda merencanakan hidup Anda berdasarkan keyakinan itu. Anda berangkat kerja. Anda membuat janji. Anda menabung untuk masa depan. Semua itu karena Anda percaya bahwa besok akan mirip dengan hari ini.

Tetapi pernahkah Anda bertanya, “Mengapa saya begitu yakin? Apa dasar keyakinan saya bahwa masa depan akan mirip dengan masa lalu?” Anda mungkin menjawab, “Karena sudah selalu begitu.” Tetapi jawaban itu tidak cukup. Itu hanya mengulang keyakinan yang sama. Itu bukan bukti. Itu hanya kebiasaan.

Itulah yang disebut Scandal of Induction. Sebuah skandal intelektual yang menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan, yang kita anggap paling pasti, sebenarnya berdiri di atas dasar yang tidak bisa dibenarkan secara logis. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Apa Itu Scandal of Induction?

Scandal of Induction adalah masalah filosofis tentang dasar dari penalaran induktif. Penalaran induktif adalah cara berpikir yang mengambil kesimpulan umum dari pengamatan khusus. Kita mengamati bahwa matahari terbit setiap pagi. Kita menyimpulkan bahwa matahari akan terbit setiap pagi.

Masalahnya adalah, tidak ada pembenaran logis untuk penalaran induktif. Kita tidak bisa membuktikan bahwa masa depan akan mirip dengan masa lalu. Kita hanya bisa berasumsi. Asumsi itu sendiri tidak bisa dibuktikan. Kita tidak bisa menggunakan induksi untuk membenarkan induksi. Itu akan menjadi penalaran yang berputar-putar.

David Hume, seorang filsuf Skotlandia abad ke-18, adalah orang yang pertama kali merumuskan masalah ini dengan tajam. Ia menunjukkan bahwa kita tidak punya alasan rasional untuk percaya bahwa matahari akan terbit besok. Kita hanya punya kebiasaan. Kita sudah melihat matahari terbit berkali-kali. Kita terbiasa. Kebiasaan itu membuat kita percaya. Tetapi kebiasaan bukanlah pembenaran logis.

Hume menulis bahwa bahkan hewan pun belajar dari kebiasaan. Anjing belajar bahwa makanan datang dari tuannya. Anjing belajar bahwa api itu panas. Tetapi hewan tidak punya alasan logis untuk keyakinan itu. Mereka hanya punya naluri. Manusia juga begitu. Kita punya naluri untuk percaya bahwa masa depan akan mirip dengan masa lalu. Tetapi naluri bukanlah bukti.

Mengapa Ini Disebut Skandal?

Ini disebut skandal karena ilmu pengetahuan modern bergantung sepenuhnya pada induksi. Ketika ilmuwan merumuskan hukum alam, mereka menggunakan induksi. Mereka mengamati bahwa logam memuai ketika dipanaskan. Mereka menyimpulkan bahwa semua logam akan memuai ketika dipanaskan. Mereka mengamati bahwa air mendidih pada suhu tertentu. Mereka menyimpulkan bahwa air akan selalu mendidih pada suhu itu.

Jika induksi tidak punya dasar logis, maka seluruh bangunan ilmu pengetahuan berdiri di atas pasir. Ilmu pengetahuan bisa saja benar. Ia bisa saja berguna. Tetapi ia tidak punya jaminan. Ia tidak punya kepastian. Ia hanya punya probabilitas. Itulah skandalnya.

Banyak filsuf dan ilmuwan mencoba menyelesaikan masalah ini. Tidak ada yang berhasil sepenuhnya. Karl Popper mencoba dengan falsifikasi. Ia mengatakan bahwa sains tidak bekerja dengan verifikasi, tetapi dengan falsifikasi. Kita tidak perlu membuktikan bahwa teori itu benar. Kita hanya perlu mencoba menyalahkannya. Jika teori itu bertahan, ia untuk sementara diterima. Tetapi falsifikasi juga tidak menyelesaikan masalah induksi. Kita masih mengandalkan induksi untuk percaya bahwa hasil eksperimen hari ini akan berlaku besok.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya masalah filsuf. Saya tidak peduli. Saya tahu matahari akan terbit besok.” Tetapi coba lihat lagi.

Seluruh hidup Anda didasarkan pada induksi. Anda percaya bahwa makanan yang Anda makan tidak akan meracuni Anda. Anda percaya bahwa mobil yang Anda kendarai tidak akan tiba-tiba meledak. Anda percaya bahwa orang yang Anda cintai tidak akan tiba-tiba berubah menjadi orang lain. Anda percaya bahwa hukum alam akan tetap sama. Jika induksi tidak punya dasar logis, maka semua keyakinan itu goyah. Anda tidak bisa benar-benar tahu bahwa besok akan mirip dengan hari ini. Anda hanya berharap. Anda hanya berasumsi. Anda hanya terbiasa.

Scandal of Induction juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda memilih restoran, Anda memilih berdasarkan pengalaman masa lalu. Ketika Anda memilih pasangan, Anda memilih berdasarkan pola yang Anda kenal. Ketika Anda memprediksi cuaca, Anda menggunakan data masa lalu. Semua itu adalah induksi. Semua itu tidak punya jaminan.

Scandal of Induction juga muncul dalam ekonomi. Investor membuat keputusan berdasarkan tren masa lalu. Mereka berasumsi bahwa pasar akan berperilaku seperti sebelumnya. Tetapi kadang pasar berubah. Kadang terjadi krisis. Kadang terjadi hal yang tidak terduga. Mereka yang terlalu percaya pada induksi bisa kehilangan segalanya.

Scandal of Induction juga muncul dalam kesehatan. Dokter meresepkan obat berdasarkan uji klinis. Mereka berasumsi bahwa obat yang berhasil pada sekelompok pasien akan berhasil pada pasien lain. Tetapi setiap pasien berbeda. Setiap tubuh berbeda. Kadang obat itu tidak berhasil. Kadang ada efek samping yang tidak terduga.

Scandal of Induction juga muncul dalam iman. Banyak orang beriman percaya pada Tuhan karena mereka telah mengalami kasih-Nya di masa lalu. Mereka berasumsi bahwa Tuhan akan tetap setia di masa depan. Itu adalah induksi. Tetapi induksi tidak punya jaminan logis. Iman bukanlah tentang jaminan logis. Iman adalah tentang kepercayaan. Iman adalah tentang hubungan.

Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa belajar untuk ujian. Ia belajar dari buku. Ia berasumsi bahwa soal ujian akan mirip dengan soal latihan. Ia berasumsi bahwa dosen akan menguji materi yang diajarkan. Ia berasumsi bahwa ia akan bisa mengerjakan soal itu. Semua itu adalah induksi. Jika asumsinya salah, ia bisa gagal.

Seorang karyawan bekerja di perusahaan. Ia berasumsi bahwa ia akan tetap punya pekerjaan besok. Ia berasumsi bahwa gajinya akan tetap dibayar. Ia berasumsi bahwa perusahaannya akan tetap berjalan. Semua itu adalah induksi. Jika perusahaan bangkrut, ia kehilangan segalanya.

Seorang ibu menyiapkan makanan untuk keluarganya. Ia berasumsi bahwa bahan makanan yang ia beli aman. Ia berasumsi bahwa cara memasaknya benar. Ia berasumsi bahwa keluarganya akan suka. Semua itu adalah induksi. Jika ada yang salah, keluarganya bisa sakit.

Seorang pengguna media sosial membaca berita. Ia berasumsi bahwa berita itu benar. Ia berasumsi bahwa sumbernya bisa dipercaya. Ia berasumsi bahwa tidak ada yang menipu. Semua itu adalah induksi. Jika berita itu hoaks, ia bisa tertipu.

Seorang filsuf merenung tentang pengetahuan. Ia membaca tentang Scandal of Induction. Ia menyadari bahwa bahkan sains pun tidak punya kepastian. Ia menyadari bahwa semua pengetahuan manusia itu terbatas. Ia menyadari bahwa kita hidup dalam ketidakpastian. Ia merasa rendah hati.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa Scandal of Induction bukan hanya teori. Ia menyentuh cara kita berpikir, bertindak, dan hidup.

Tiga Fase Menghadapi Scandal of Induction

Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda tidak pernah mempertanyakan induksi. Anda percaya bahwa masa depan akan mirip dengan masa lalu. Anda percaya bahwa matahari akan terbit besok. Anda tidak merasa ada masalah.

Fase kedua, Anda merasa bingung. Anda membaca tentang Hume. Anda menyadari bahwa induksi tidak punya dasar logis. Anda mulai bertanya, “Bagaimana saya bisa yakin bahwa besok akan mirip dengan hari ini? Apa buktinya?” Anda merasa goyah. Anda merasa tidak ada kepastian.

Fase ketiga, Anda mencari keseimbangan. Anda menyadari bahwa Anda tidak bisa hidup tanpa induksi. Anda tidak bisa merencanakan apa pun jika Anda tidak percaya bahwa masa depan akan mirip dengan masa lalu. Anda mulai menerima bahwa induksi adalah asumsi praktis. Ia tidak bisa dibuktikan, tetapi ia bekerja. Anda memilih untuk hidup dengannya, sambil tetap sadar bahwa ia tidak sempurna.

Tanggapan-Tanggapan terhadap Scandal of Induction

Para filsuf sudah mencoba menyelesaikan masalah ini. Tidak ada satu solusi yang diterima semua orang. Tetapi ada beberapa pendekatan yang menarik.

Yang pertama adalah pragmatisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa induksi tidak perlu dibenarkan secara logis. Induksi bekerja dalam praktik. Kita menggunakan induksi, dan kita bisa bertahan hidup. Itu cukup. Kita tidak perlu membuktikan bahwa induksi benar. Kita hanya perlu menggunakannya.

Yang kedua adalah probabilitas. Pendekatan ini mengatakan bahwa induksi tidak memberikan kepastian, tetapi memberikan probabilitas. Kita tidak bisa yakin bahwa matahari akan terbit besok. Tetapi kita bisa mengatakan bahwa kemungkinan matahari terbit besok sangat besar. Kita bisa hidup dengan probabilitas, meskipun tanpa kepastian.

Yang ketiga adalah evolusi. Pendekatan ini mengatakan bahwa manusia berevolusi untuk menggunakan induksi. Otak kita dirancang untuk mengenali pola. Kemampuan ini membantu kita bertahan hidup. Jadi, induksi bukan sekadar kebiasaan. Ia adalah hasil seleksi alam.

Yang keempat adalah menerima batas pengetahuan. Pendekatan ini mengatakan bahwa kita tidak perlu menyelesaikan Scandal of Induction. Kita hanya perlu menerima bahwa pengetahuan manusia itu terbatas. Kita tidak bisa tahu segalanya. Kita hanya bisa tahu sebagian. Itu tidak apa-apa.

Kritik terhadap Solusi-Solusi

Setiap solusi punya kritik. Pragmatisme dianggap tidak memuaskan secara filosofis. Ia hanya mengatakan “induksi bekerja,” tetapi tidak menjelaskan mengapa induksi bekerja. Probabilitas dianggap masih mengandalkan induksi. Untuk menghitung probabilitas, kita perlu mengasumsikan bahwa masa lalu bisa memprediksi masa depan. Evolusi dianggap tidak membenarkan induksi secara logis. Evolusi hanya menjelaskan mengapa kita percaya pada induksi, bukan mengapa induksi itu benar. Menerima batas pengetahuan dianggap menyerah. Ia tidak menyelesaikan masalah. Ia hanya menghindari.

Cara Menyikapi Scandal of Induction

Pertama, akui bahwa induksi tidak punya dasar logis yang sempurna. Anda tidak bisa membuktikan bahwa masa depan akan mirip dengan masa lalu. Itu fakta. Mengakui itu adalah langkah pertama.

Kedua, jangan biarkan keraguan melumpuhkan Anda. Anda tetap perlu hidup. Anda tetap perlu merencanakan. Anda tetap perlu bertindak. Gunakan induksi, meskipun Anda tahu ia tidak sempurna.

Ketiga, bedakan antara kepastian dan probabilitas. Anda tidak perlu kepastian untuk hidup. Anda hanya perlu probabilitas yang cukup. Anda tidak perlu yakin 100 persen bahwa matahari akan terbit. Anda hanya perlu yakin bahwa kemungkinannya sangat besar.

Keempat, gunakan sains dengan sadar. Sains menggunakan induksi. Sains juga tahu batasnya. Teori sains selalu bisa direvisi. Hukum sains selalu bisa diperbaiki. Jangan perlakukan sains sebagai kitab suci. Perlakukan ia sebagai alat yang terus berkembang.

Kelima, jangan terlalu cepat menyimpulkan. Ketika Anda melihat pola, tanyakan, “Apakah pola ini cukup kuat? Apakah ada penjelasan lain? Apakah ada pengecualian?” Induksi bisa menyesatkan jika kita terlalu percaya diri.

Keenam, terbuka pada kejutan. Masa depan tidak selalu mirip dengan masa lalu. Kadang ada hal-hal yang tidak terduga. Kadang ada perubahan besar. Jangan terlalu kaku pada prediksi Anda. Bersiaplah untuk berubah.

Ketujuh, hargailah kebiasaan. Hume mengatakan bahwa induksi adalah kebiasaan. Kebiasaan bukanlah hal yang buruk. Kebiasaan membantu kita hidup. Kebiasaan membuat kita efisien. Jangan meremehkan kebiasaan.

Kedelapan, rendah hati. Anda tidak tahu segalanya. Anda tidak bisa memprediksi masa depan dengan sempurna. Terimalah bahwa hidup ini penuh ketidakpastian. Terimalah bahwa Anda mungkin salah. Terimalah bahwa Anda perlu terus belajar.

Penutup

Scandal of Induction mengajarkan satu hal yang menantang. Pengetahuan kita tentang dunia tidak sekuat yang kita kira. Kita tidak bisa membuktikan bahwa matahari akan terbit besok. Kita hanya bisa berasumsi. Kita hanya bisa berharap. Kita hanya bisa terbiasa.

Ini bisa terasa menakutkan. Jika kita tidak punya kepastian, bagaimana kita bisa hidup? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu punya semua jawaban. Kita tidak perlu tahu segalanya. Kita hanya perlu hidup. Kita hanya perlu bertindak. Kita hanya perlu belajar.

Bagi orang beriman, Scandal of Induction adalah pengingat bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang pasti. Hukum alam bisa berubah. Matahari bisa berhenti terbit. Tetapi Tuhan tetap setia. Tuhan tetap benar. Tuhan tetap ada. Dalam Tuhan, kita menemukan dasar yang kokoh untuk hidup. Dalam Tuhan, kita menemukan kepastian di tengah ketidakpastian. Dalam Tuhan, kita menemukan rumah.

Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah meragukan bahwa besok akan mirip dengan hari ini? Apakah Anda pernah bertanya mengapa Anda begitu yakin pada masa depan? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap melangkah? Apakah kebiasaan Anda? Apakah harapan Anda? Apakah keberanian Anda? Apakah iman Anda? Atau apakah Anda hanya memilih untuk hidup, karena hidup ini adalah anugerah yang harus dijalani?

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai ketidakpastian yang Anda jalani setiap hari.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Scandal of Induction: Kenapa Sains Berdiri di Atas Sesuatu yang Nggak Bisa Dibuktiin?

Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi belajar sesuatu. Mungkin fisika. Mungkin kimia. Mungkin biologi. Lo belajar hukum-hukum alam. Lo belajar bahwa air mendidih di suhu 100 derajat. Lo belajar bahwa logam memuai kalo dipanaskan. Lo belajar bahwa gravitasi bikin benda jatuh ke bawah. Lo belajar bahwa matahari terbit dari timur. Lo belajar bahwa semua makhluk hidup butuh air.

Lo percaya. Lo yakin. Lo nggak ragu. Karena itu sains. Karena itu fakta. Karena itu udah dibuktiin sama ilmuwan. Karena itu udah diuji berkali-kali. Karena itu udah jadi pengetahuan umum.

Terus ada yang nanya satu pertanyaan yang bikin lo diem. “Gimana lo tau bahwa besok air masih mendidih di suhu 100 derajat? Gimana lo tau bahwa besok logam masih memuai kalo dipanaskan? Gimana lo tau bahwa besok gravitasi masih bekerja? Lo udah nguji besok? Lo udah ngamati besok? Belum kan? Jadi, dari mana lo tau?”

Lo diem. Lo mikir. Lo coba jawab. Lo bilang, “Ya karena selama ini gitu.” Dia nanya lagi. “Tapi gimana lo tau bahwa besok masih gitu? Apa karena selama ini gitu, berarti besok pasti gitu? Apa lo punya jaminan?”

Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa ada yang aneh. Lo mulai ngerasa bahwa ada yang bolong. Tapi lo nggak bisa ngejelasin kenapa. Dan lo mulai mikir. “Kok bisa ya gue yakin sama sesuatu yang belum terjadi? Kok bisa ya sains berdiri di atas sesuatu yang nggak bisa dibuktiin?”

Itulah yang disebut Scandal of Induction. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat sains, pengetahuan, dan keyakinan lo dengan mata yang beda.

Sebenernya Scandal of Induction Itu Apa Sih?

Scandal of Induction itu istilah yang dipake buat ngegambarin masalah filosofis yang muncul dari induksi. Induksi itu cara berpikir yang ngambil kesimpulan umum dari pengamatan khusus. Lo ngamati matahari terbit hari ini. Lo ngamati matahari terbit kemarin. Lo ngamati matahari terbit seribu hari. Lo nyimpulin bahwa matahari selalu terbit. Itu induksi.

Masalahnya, induksi nggak punya dasar yang kokoh. Lo nggak bisa mbuktiin bahwa masa depan bakal sama kayak masa lalu. Lo nggak bisa mbuktiin bahwa alam ini teratur. Lo nggak bisa mbuktiin bahwa hukum alam nggak akan berubah besok. Lo cuma bisa berasumsi. Lo cuma bisa percaya. Lo cuma bisa berharap.

David Hume adalah filsuf yang paling terkenal ngebahas masalah ini. Dia hidup di abad ke-18. Dia nulis di bukunya A Treatise of Human Nature. Dia bilang bahwa induksi nggak punya dasar rasional. Kita pake induksi bukan karena logika. Tapi karena kebiasaan. Karena insting. Karena kita nggak bisa hidup tanpa induksi.

Hume bilang, kita nggak bisa mbuktiin bahwa masa depan bakal sama kayak masa lalu. Kita cuma bisa berasumsi. Dan asumsi itu nggak bisa dibuktiin. Kalo kita coba mbuktiin, kita bakal muter. Kita bakal pake induksi buat mbuktiin induksi. Dan itu sirkular.

Immanuel Kant kemudian nyoba jawab masalah ini. Dia bilang bahwa akal manusia emang dirancang buat ngeliat keteraturan. Kita nggak bisa ngeliat dunia tanpa keteraturan. Jadi, induksi itu syarat buat pengalaman. Tapi banyak filsuf nggak puas sama jawaban Kant. Mereka bilang itu cuma ngeser masalah. Bukan nyelesaiin.

Istilah “scandal of induction” sendiri dipopulerin sama filsuf Jerman namanya Hans Reichenbach. Dia bilang bahwa masalah induksi itu skandal buat filsafat. Karena filsafat nggak bisa ngasih dasar yang kokoh buat salah satu metode paling penting dalam sains. Sains berdiri di atas induksi. Tapi induksi nggak punya dasar. Itu skandal.

Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat sains. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Scandal of Induction nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah ngerasa yakin sama sesuatu yang belum terjadi. Lo yakin besok matahari terbit. Lo yakin besok lo masih bisa napas. Lo yakin besok lo masih hidup. Tapi lo nggak punya bukti. Lo cuma punya kebiasaan. Lo cuma punya harapan. Dan lo mulai mikir. “Kok bisa gue yakin sama sesuatu yang belum terjadi?”

Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bahwa sains itu pasti. Lo percaya sains. Lo percaya penelitian. Lo percaya ilmuwan. Lo ngerasa bahwa sains punya jawaban buat segalanya. Tapi Scandal of Induction nunjukin bahwa sains pun nggak punya dasar yang mutlak. Sains pake induksi. Dan induksi nggak bisa dibuktiin. Jadi, sains pun nggak bisa mutlak.

Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa hidup ini nggak pasti. Lo ngerasa bahwa apa pun bisa terjadi. Lo ngerasa bahwa nggak ada yang bisa diandelin. Lo ngerasa bahwa semua cuma kebetulan. Dan lo mulai mikir. “Kalo semuanya nggak pasti, gimana gue bisa hidup?”

Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bingung soal dasar pengetahuan. Dari mana lo tau bahwa apa yang lo pelajari itu bener? Dari mana lo tau bahwa buku yang lo baca itu akurat? Dari mana lo tau bahwa guru lo nggak bohong? Lo cuma percaya. Lo cuma berasumsi. Dan lo mulai mikir. “Kalo semua cuma asumsi, apa artinya pengetahuan?”

Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo nggak bisa ngebuktiin apa pun. Lo bisa ngebuktiin bahwa 1 + 1 = 2. Lo bisa ngebuktiin bahwa segitiga punya tiga sisi. Tapi lo nggak bisa ngebuktiin bahwa besok matahari terbit. Lo nggak bisa ngebuktiin bahwa air masih mendidih di suhu 100 derajat. Lo cuma bisa percaya. Dan lo mulai mikir. “Kalo gue nggak bisa ngebuktiin, apa artinya keyakinan gue?”

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Scandal of Induction

Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa yakin sama sesuatu yang belum terjadi? Itu tanda lo lagi nyentuh Scandal of Induction.

  2. Lo pernah ngerasa bahwa sains itu pasti, tapi ragu? Itu tanda lo lagi mikir soal dasar sains.

  3. Lo pernah ngerasa bahwa hidup ini nggak pasti? Itu tanda lo lagi nyentuh masalah induksi.

  4. Lo pernah bingung soal dasar pengetahuan? Itu tanda lo lagi mikir soal keyakinan.

  5. Lo pernah mikir “gimana gue tau besok masih kayak hari ini?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti Scandal of Induction.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener fundamental. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di sains. Sains bilang bahwa air mendidih di suhu 100 derajat. Tapi itu berdasarkan pengamatan di tekanan udara tertentu. Di tempat lain, air bisa mendidih di suhu yang beda. Dan sains nggak bisa njamin bahwa besok air masih mendidih di suhu yang sama. Sains cuma bisa bilang, “Sejauh yang kita amati, begitu.” Tapi besok? Nggak ada jaminan.

Di teknologi. Lo pake HP. Lo pake laptop. Lo pake internet. Lo percaya bahwa besok teknologi itu masih bekerja. Tapi lo nggak punya bukti. Lo cuma punya kebiasaan. Lo cuma punya pengalaman. Kalo besok semua teknologi mati, lo nggak akan siap. Karena lo nggak pernah ngebayangin itu.

Di kesehatan. Lo makan makanan sehat. Lo olahraga. Lo tidur cukup. Lo percaya bahwa lo bakal sehat. Tapi lo nggak punya jaminan. Lo bisa sakit besok. Lo bisa kecelakaan besok. Lo bisa mati besok. Lo cuma bisa berharap. Lo cuma bisa berdoa.

Di hubungan. Lo percaya sama pasangan lo. Lo percaya bahwa dia setia. Lo percaya bahwa dia sayang. Tapi lo nggak punya bukti mutlak. Lo cuma punya pengalaman. Lo cuma punya keyakinan. Kalo besok dia berubah, lo nggak akan siap. Karena lo nggak pernah ngebayangin itu.

Di ekonomi. Lo nabung. Lo investasi. Lo percaya bahwa besok ekonomi masih stabil. Tapi lo nggak punya jaminan. Krisis bisa datang kapan aja. Pasar bisa runtuh kapan aja. Lo cuma bisa berharap. Lo cuma bisa bersiap.

Di diri lo sendiri. Lo lagi duduk. Lo lagi mikir. Lo lagi ngerasain sesuatu. Coba tanya. Apa lo yakin besok lo masih hidup? Apa lo yakin besok lo masih bisa mikir? Apa lo yakin besok lo masih bisa ngerasa? Kalo iya, dari mana lo tau? Lo udah ngalamin besok? Belum. Lo cuma berasumsi. Lo cuma berharap.

Fase-Fase Lo Ngadepin Scandal of Induction

Fase pertama: lo nggak sadar.
Lo pake induksi setiap hari. Lo ngarep matahari terbit. Lo ngarep makanan masih bisa dimakan. Lo ngarep orang masih bisa dipercaya. Lo nggak pernah nanya kenapa. Lo cuma jalanin.

Fase kedua: lo mulai mikir.
Lo denger Scandal of Induction. Lo mulai nanya. “Kok bisa gue yakin sama sesuatu yang belum terjadi?” Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa bahwa ada yang bolong. Lo mulai ngerasa bahwa pengetahuan lo nggak punya dasar yang kokoh.

Fase ketiga: lo nyari jawaban.
Lo mulai baca. Lo mulai mikir. Lo mulai nanya. Lo mulai nimbang. Lo mulai nemuin beberapa posisi. Ada yang bilang induksi emang nggak punya dasar. Ada yang bilang induksi bisa dibuktiin dengan probabilitas. Ada yang bilang induksi itu syarat buat pengalaman. Lo mulai nemuin posisi lo sendiri.

Fase keempat: lo nerima.
Lo mulai nerima bahwa induksi nggak punya dasar yang mutlak. Lo mulai nerima bahwa lo nggak bisa ngebuktiin masa depan. Lo mulai nerima bahwa lo cuma bisa berasumsi. Dan lo mulai tenang. Karena lo sadar bahwa lo nggak perlu dasar yang mutlak buat hidup. Lo cuma perlu dasar yang cukup.

Kritik: Kenapa Banyak yang Bilang Ini Bukan Masalah?

Scandal of Induction nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf bilang ini sebenernya bukan masalah. Atau kalaupun masalah, bukan masalah yang fatal.

Pertama, masalah pragmatis. Ada yang bilang, kalaupun induksi nggak punya dasar rasional, dia tetap berguna. Dia tetap bekerja. Kita tetap bisa pake induksi buat prediksi. Kita tetap bisa pake induksi buat teknologi. Jadi, nggak masalah kalo nggak ada dasar.

Kedua, masalah probabilitas. Ada yang bilang, induksi bisa dibuktiin dengan probabilitas. Kalo kita ngamati matahari terbit sejuta kali, maka probabilitas matahari terbit besok sangat tinggi. Jadi, kita punya dasar buat percaya.

Ketiga, masalah naturalisme. Ada yang bilang, induksi itu bagian dari alam. Manusia emang dirancang buat pake induksi. Itu insting. Itu evolusi. Jadi, nggak perlu dibuktiin. Cukup dijalanin.

Keempat, masalah praktis. Ada yang bilang, dalam praktik, kita nggak butuh dasar yang mutlak. Kita cuma butuh dasar yang cukup. Kita nggak butuh bukti bahwa besok matahari terbit. Kita cuma butuh alasan buat percaya. Dan alasan itu udah cukup.

Kelima, masalah alternatif. Ada yang bilang, kalaupun induksi punya masalah, nggak ada alternatif yang lebih baik. Kita nggak bisa hidup tanpa induksi. Jadi, mau nggak mau, kita harus pake induksi.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Scandal of Induction bilang, kritik itu valid. Tapi nggak bikin masalahnya hilang.

Mereka bilang, pragmatis emang penting. Tapi pragmatis bukan jawaban filosofis. Kita bisa pake induksi. Tapi itu nggak berarti induksi punya dasar rasional. Dua hal yang beda.

Mereka bilang, probabilitas emang menarik. Tapi probabilitas juga ngandelin induksi. Kita ngira probabilitas berdasarkan pengamatan. Dan pengamatan cuma ngasih kita masa lalu. Bukan masa depan. Jadi, probabilitas juga nggak punya dasar mutlak.

Mereka bilang, naturalisme emang bisa jadi jawaban. Tapi naturalisme juga punya masalah. Kalo induksi cuma insting, gimana kita bisa bedain insting yang bener dan insting yang salah? Gimana kita bisa ngembangin insting? Gimana kita bisa ngoreksi insting?

Mereka bilang, praktis emang cukup. Tapi praktis bukan filosofis. Kita bisa hidup tanpa dasar filosofis. Tapi itu nggak berarti dasar filosofis nggak penting. Karena kalo dasar filosofis goyah, semua yang di atasnya bisa goyah.

Mereka bilang, alternatif emang nggak ada. Tapi itu bukan jawaban. Itu cuma nunjukin bahwa masalahnya nyata. Bahwa kita terjebak. Bahwa kita nggak bisa lari.

Cara Nyikapin Scandal of Induction Tanpa Kehilangan Akal

1. Jangan panik.
Kalo lo mikir “gimana kalo sains nggak punya dasar,” jangan panik. Itu wajar. Banyak filsuf juga mikir gitu. Tapi mereka nggak panik. Mereka terus mikir. Mereka terus nimbang.

2. Terima bahwa nggak semua bisa dibuktiin.
Nggak semua bisa dibuktiin. Beberapa hal harus diasumsikan. Beberapa hal harus dipercaya. Beberapa hal harus diharapin. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.

3. Bedain antara dasar filosofis dan praktik.
Lo nggak butuh dasar filosofis yang mutlak buat pake induksi. Lo cuma butuh praktik yang berguna. Lo nggak butuh bukti bahwa besok matahari terbit. Lo cuma butuh alasan buat berencana. Dan alasan itu cukup.

4. Hargai sains.
Sains emang nggak punya dasar mutlak. Tapi sains tetap yang terbaik yang kita punya. Sains tetap berguna. Sains tetap ngasih pengetahuan. Sains tetap ngasih teknologi. Jadi, hargai sains. Meskipun sains nggak sempurna.

5. Jangan jadi sinis.
Kalo lo sadar bahwa sains nggak punya dasar mutlak, jangan jadi sinis. Jangan ngerasa bahwa semua sama aja. Jangan ngerasa bahwa nggak ada yang bisa dipercaya. Karena nggak gitu. Ada yang lebih baik. Ada yang lebih buruk. Ada yang lebih berguna. Ada yang kurang berguna.

6. Terbuka pada kemungkinan.
Mungkin ada dasar yang belum kita temuin. Mungkin ada cara buat mbuktiin induksi. Mungkin ada filsuf yang bakal nyelesaiin masalah ini. Lo nggak tau. Gue nggak tau. Nggak ada yang tau. Jadi, terbuka.

7. Fokus pada praktik.
Kadang, lo nggak perlu nyelesaiin masalah teoretis. Kadang, lo cuma perlu hidup. Lo cuma perlu pake induksi. Lo cuma perlu berasumsi. Lo cuma perlu bertindak. Dan dari tindakan, pengetahuan bisa muncul.

8. Hargai kerendahan hati.
Masalah ini ngajarin kerendahan hati. Bahwa bahkan sains pun nggak punya dasar mutlak. Bahwa bahkan pengetahuan pun nggak punya fondasi yang kokoh. Bahwa kita semua cuma bisa berasumsi. Dan itu nggak apa-apa.

9. Jangan pake buat ngejek.
Jangan pake Scandal of Induction buat ngejek sains. Jangan pake buat ngejek ilmuwan. Jangan pake buat ngerasa lebih pinter. Gunain buat mikir. Bukan buat menang.

10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngebuktiin bahwa induksi bener. Lo nggak akan pernah bisa ngebuktiin bahwa masa depan bakal sama kayak masa lalu. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.

Yang Paling Lo Takutin Bukan Ketidakpastian

Yang paling lo takutin bukan ketidakpastian. Bukan keraguan. Bukan nggak punya dasar.

Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak pernah bisa yakin sama apa pun. Kalo lo sadar lo cuma bisa berasumsi. Kalo lo sadar lo cuma bisa berharap. Kalo lo sadar lo cuma bisa percaya. Kalo lo sadar bahwa semua yang lo tau bisa salah. Dan lo nggak bisa ngebuktiin sebaliknya. Dan lo harus hidup dengan ketidakpastian itu. Dan lo harus tetep bertindak. Dan lo harus tetep milih.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo nggak bisa yakin, itu artinya lo harus lebih rendah hati. Kalo lo nggak bisa yakin, itu artinya lo harus lebih terbuka. Kalo lo nggak bisa yakin, itu artinya lo harus lebih berani. Karena lo harus bertindak meskipun nggak yakin. Lo harus milih meskipun nggak tau. Dan itu bukan kelemahan. Itu keberanian.

Scandal of Induction bukan tentang bikin lo ngerasa nggak punya dasar. Dia tentang nunjukin bahwa pengetahuan itu kompleks. Dia tentang nunjukin bahwa keyakinan itu berharga. Dia tentang nunjukin bahwa hidup itu butuh keberanian. Dan itu nggak apa-apa.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur

Scandal of Induction ngajarin satu hal yang menantang. Sains berdiri di atas induksi. Induksi nggak punya dasar rasional yang mutlak. Kita pake induksi bukan karena logika. Tapi karena kebiasaan. Karena insting. Karena kita nggak bisa hidup tanpa induksi. Dan itu bikin kita nggak bisa ngebuktiin bahwa besok bakal sama kayak hari ini.

Ini bisa berasa menakutkan. Kalo sains nggak punya dasar, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo lo nggak butuh dasar mutlak, lo bisa lebih fleksibel. Lo bisa lebih berani. Lo bisa lebih hidup.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo pernah ngerasa yakin sama sesuatu yang belum terjadi? Lo pernah ngerasa bahwa sains itu pasti, tapi ragu? Lo pernah ngerasa bahwa hidup ini nggak pasti? Lo pernah bingung soal dasar pengetahuan?

Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo terus yakin? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai nanya? Apa lo mulai nerima bahwa lo nggak akan pernah punya jawaban yang sempurna?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.

Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa keyakinan lo nggak selalu punya dasar. Tapi itu nggak bikin keyakinan lo nggak berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *