Argument from Moral Disagreement: Mengapa Perbedaan Pendapat Moral Tidak Selalu Berarti Tidak Ada Kebenaran?
Pernahkah Anda berdebat tentang sesuatu yang Anda anggap jelas benar atau salah, lalu sadar bahwa orang lain punya pandangan yang sangat berbeda? Mungkin tentang hukuman mati. Mungkin tentang pernikahan sejenis. Mungkin tentang aborsi. Mungkin tentang perang. Anda merasa yakin. Lawan bicara Anda juga merasa yakin. Kalian berdua punya alasan. Kalian berdua punya pengalaman. Tetapi kalian tidak sepakat. Bahkan setelah berjam-jam berdiskusi, kalian tetap tidak sepakat. Lalu muncul pertanyaan yang mengganggu. Jika manusia tidak pernah sepakat tentang moral, apakah ada kebenaran moral yang objektif? Atau apakah moral hanya soal sudut pandang?
Itulah inti dari Argument from Moral Disagreement. Sebuah argumen dalam meta-etika yang menggunakan kenyataan perbedaan pendapat moral untuk meragukan objektivitas moral. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Apa Itu Argument from Moral Disagreement?
Argument from Moral Disagreement adalah argumen yang mengatakan bahwa karena manusia terus-menerus berbeda pendapat tentang isu moral, maka kemungkinan besar tidak ada kebenaran moral yang objektif. Jika ada kebenaran moral yang objektif, mengapa begitu banyak orang cerdas dan tulus tidak dapat menyepakatinya?
Argumen ini sering dipakai oleh mereka yang mendukung moral relativism atau moral skepticism. Mereka mengatakan bahwa perbedaan pendapat moral jauh lebih luas dan lebih dalam daripada perbedaan pendapat tentang fakta ilmiah. Dalam sains, perdebatan eventually diselesaikan oleh bukti. Dalam moral, perdebatan bisa berlangsung ribuan tahun tanpa penyelesaian.
Mari kita lihat contoh sederhana. Apakah perbudakan itu salah? Hari ini, hampir semua orang setuju bahwa perbudakan itu salah. Tetapi selama ribuan tahun, banyak masyarakat menganggap perbudakan itu wajar. Apakah itu berarti perbudakan dulunya benar dan sekarang salah? Atau apakah moral memang berubah? Jika moral berubah, apakah ada standar yang tetap?
Atau ambil contoh yang lebih kontroversial. Apakah makan daging itu salah? Sebagian orang mengatakan itu salah karena menyakiti hewan. Sebagian lain mengatakan itu tidak salah karena manusia memang omnivora. Keduanya punya argumen. Keduanya punya nilai. Tidak ada cara yang disepakati untuk menyelesaikannya.
Argument from Moral Disagreement mengatakan bahwa ketidaksepakatan yang terus-menerus ini adalah bukti bahwa tidak ada fakta moral yang objektif. Moral hanyalah konstruksi sosial, preferensi pribadi, atau hasil evolusi. Tidak ada “kebenaran” yang perlu ditemukan. Yang ada hanya kesepakatan yang perlu dibangun.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya perdebatan filsuf. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda merasa bingung ketika berhadapan dengan orang yang punya nilai moral berbeda? Pernahkah Anda merasa bahwa Anda tidak bisa berdebat karena kalian tidak punya standar bersama? Pernahkah Anda merasa bahwa kebenaran moral itu relatif? Jika ya, Anda sudah menyentuh argumen ini.
Argument from Moral Disagreement juga muncul dalam politik. Ketika dua kelompok berdebat tentang kebijakan, mereka sering tidak sepakat bukan hanya tentang fakta, tetapi tentang nilai. Kelompok yang satu menganggap kebebasan individu itu yang tertinggi. Kelompok yang lain menganggap kesejahteraan bersama itu yang tertinggi. Tidak ada cara untuk membuktikan mana yang lebih benar. Yang ada hanya perbedaan nilai.
Argument ini juga muncul dalam agama. Ketika dua agama berbeda pendapat tentang moral, mereka sering tidak bisa menyelesaikannya dengan argumen. Mereka hanya bisa saling menghormati atau saling menyerang. Tidak ada standar netral yang bisa dipakai untuk menilai.
Argument ini juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda berbeda pendapat dengan pasangan tentang cara mendidik anak, Anda mungkin merasa bahwa Anda benar. Pasangan Anda juga merasa benar. Tidak ada buku yang bisa menyelesaikan. Yang ada hanya dialog, kompromi, dan kasih.
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang mahasiswa berdebat dengan temannya tentang hukuman mati. Mahasiswa itu mengatakan hukuman mati itu salah karena melanggar hak hidup. Temannya mengatakan hukuman mati itu benar karena memberi keadilan bagi korban. Mereka berdebat selama berjam-jam. Tidak ada yang menang. Mereka akhirnya sepakat untuk tidak sepakat. Mahasiswa itu bertanya, “Apakah ada jawaban yang benar? Atau ini hanya soal sudut pandang?”
Seorang karyawan bekerja di perusahaan yang memiliki budaya berbeda. Perusahaannya menganggap persaingan itu sehat. Karyawan itu dibesarkan dalam budaya yang menganggap kerja sama itu lebih penting. Ia merasa tidak nyaman. Ia bertanya, “Apakah nilai saya salah? Atau hanya berbeda?”
Seorang ibu membaca berita tentang aborsi. Ia merasa aborsi itu salah. Tetangganya merasa aborsi itu hak perempuan. Mereka berdebat. Tidak ada yang berubah. Ibu itu bertanya, “Bagaimana saya bisa tahu bahwa saya benar? Bagaimana saya bisa tahu bahwa tetangga saya salah?”
Seorang pengguna media sosial melihat perdebatan tentang pernikahan sejenis. Ia melihat orang-orang saling menyerang. Ia melihat orang-orang saling mengutuk. Ia bertanya, “Jika tidak ada kebenaran moral yang objektif, mengapa kita begitu yakin bahwa kita benar?”
Seorang filsuf merenung tentang moral. Ia membaca tentang Argument from Moral Disagreement. Ia menyadari bahwa perbedaan pendapat moral itu nyata. Tetapi ia juga menyadari bahwa perbedaan pendapat tentang fakta juga nyata. Dulu orang percaya bumi itu datar. Sekarang kita tahu bumi itu bulat. Jadi, perbedaan pendapat tidak selalu berarti tidak ada kebenaran.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Argument from Moral Disagreement bukan hanya teori. Ia menyentuh cara kita berdebat, percaya, dan hidup bersama.
Tiga Fase Menghadapi Argument from Moral Disagreement
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda percaya bahwa moral Anda benar. Anda percaya bahwa orang yang berbeda itu salah. Anda tidak pernah mempertanyakan apakah ada standar yang objektif.
Fase kedua, Anda merasa bingung. Anda membaca tentang Argument from Moral Disagreement. Anda menyadari bahwa perbedaan pendapat moral itu luas dan dalam. Anda mulai bertanya, “Apakah moral saya hanya kebetulan? Apakah moral saya hanya hasil didikan? Apakah ada kebenaran moral yang objektif?”
Fase ketiga, Anda mencari keseimbangan. Anda menyadari bahwa perbedaan pendapat tidak otomatis berarti tidak ada kebenaran. Anda mulai mempertimbangkan bahwa mungkin ada kebenaran moral yang objektif, tetapi manusia tidak selalu bisa mengenalinya dengan sempurna. Anda mulai rendah hati.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Argument from Moral Disagreement
Argument from Moral Disagreement tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf menolak atau meragukan argumen ini.
Kritik pertama, perbedaan pendapat tidak berarti tidak ada kebenaran. Dalam sains, orang juga berbeda pendapat. Dulu orang percaya bumi itu pusat alam semesta. Sekarang kita tahu bumi itu mengelilingi matahari. Perbedaan pendapat tidak menghapus kebenaran. Ia hanya menunjukkan bahwa manusia bisa salah.
Kritik kedua, perbedaan pendapat moral sering disebabkan oleh perbedaan fakta, bukan perbedaan nilai. Misalnya, perdebatan tentang aborsi sering melibatkan perbedaan keyakinan tentang kapan kehidupan dimulai. Jika fakta itu disepakati, perbedaan nilai mungkin berkurang.
Kritik ketiga, perbedaan pendapat moral sering disebabkan oleh bias, kepentingan, dan keterbatasan. Manusia tidak selalu berpikir jernih. Manusia sering dikuasai emosi, tradisi, dan kekuasaan. Jadi, perbedaan pendapat bukan bukti bahwa tidak ada kebenaran. Itu bukti bahwa manusia tidak sempurna.
Kritik keempat, adanya perbedaan pendapat justru mengandaikan adanya kebenaran. Kita hanya bisa mengatakan bahwa suatu pendapat itu salah jika kita percaya bahwa ada yang benar. Jika tidak ada kebenaran, maka semua pendapat sama saja. Tidak ada gunanya berdebat.
Kritik kelima, banyak nilai moral yang disepakati secara universal. Hampir semua budaya menganggap pembunuhan tanpa alasan itu salah. Hampir semua budaya menganggap pengkhianatan itu buruk. Hampir semua budaya menganggap kasih sayang itu baik. Kesepakatan ini menunjukkan bahwa ada inti moral yang objektif.
Cara Menyikapi Argument from Moral Disagreement
Pertama, jangan cepat menyerah pada relativisme. Perbedaan pendapat itu nyata. Tetapi bukan berarti tidak ada kebenaran. Teruslah mencari. Teruslah berdialog. Teruslah belajar.
Kedua, bedakan antara fakta dan nilai. Kadang perbedaan pendapat muncul karena perbedaan fakta. Cari tahu dulu apa fakta yang disepakati. Baru kemudian bicarakan nilai.
Ketiga, dengarkan dengan rendah hati. Orang lain mungkin punya pengalaman yang tidak Anda miliki. Orang lain mungkin punya alasan yang belum Anda pertimbangkan. Dengarkan. Jangan langsung menilai.
Keempat, cari titik temu. Meskipun Anda berbeda pendapat tentang satu hal, mungkin Anda sepakat tentang hal lain. Bangun dari titik temu itu. Jangan terjebak pada perbedaan.
Kelima, akui keterbatasan Anda. Anda tidak punya semua jawaban. Anda mungkin salah. Akui itu. Mengakui keterbatasan bukan berarti menyerah. Mengakui keterbatasan membuat Anda lebih jujur.
Keenam, hargailah hati nurani. Hati nurani adalah suara batin yang membantu kita membedakan baik dan buruk. Latih hati nurani Anda. Dengarkan hati nurani Anda. Tetapi juga uji hati nurani Anda dengan akal dan pengalaman.
Ketujuh, hargailah iman. Bagi orang beriman, moral bukan hanya konstruksi manusia. Moral berakar pada sifat Tuhan. Tuhan itu baik. Tuhan itu kudus. Tuhan itu adil. Karena itu, ada standar moral yang objektif. Kita mungkin tidak selalu memahaminya dengan sempurna. Tetapi kita bisa mempercayainya.
Kedelapan, fokus pada kasih. Ketika Anda bingung tentang moral, kembalilah pada kasih. Kasih adalah inti dari banyak ajaran moral. Kasih mengarahkan kita untuk memperlakukan orang lain dengan hormat, keadilan, dan belas kasih. Mulailah dari sana.
Penutup
Argument from Moral Disagreement mengajarkan satu hal yang menantang. Manusia tidak pernah sepakat tentang moral. Perbedaan pendapat itu luas dan dalam. Apakah itu berarti tidak ada kebenaran moral yang objektif? Tidak harus. Perbedaan pendapat bisa terjadi karena manusia tidak sempurna. Perbedaan pendapat bisa terjadi karena fakta belum jelas. Perbedaan pendapat bisa terjadi karena hati manusia keras.
Ini bisa terasa membingungkan. Jika kita tidak sepakat tentang moral, bagaimana kita bisa hidup bersama? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu memaksakan pandangan kita pada orang lain. Kita bisa berdialog. Kita bisa belajar. Kita bisa tumbuh.
Bagi orang beriman, Argument from Moral Disagreement adalah pengingat bahwa Tuhan adalah sumber moral yang sejati. Manusia bisa salah. Manusia bisa berbeda pendapat. Tetapi Tuhan tidak pernah salah. Tuhan tidak pernah berubah. Tuhan adalah standar yang tetap. Dalam Tuhan, kita menemukan dasar yang kokoh untuk moral, bahkan ketika manusia tidak sepakat.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah berbeda pendapat moral dengan seseorang? Apakah Anda pernah merasa bingung tentang apa yang benar? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap berpegang pada nilai Anda? Apakah akal Anda? Apakah hati nurani Anda? Apakah iman Anda? Atau apakah Anda hanya memilih untuk terus mencari, karena kebenaran moral itu layak diperjuangkan?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai perbedaan pendapat moral dengan lebih bijak.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Argument from Moral Disagreement: Kenapa Banyak Orang Beda Pendapat Soal Benar dan Salah?
Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi debat soal sesuatu yang lo anggap jelas. Mungkin soal hukuman mati. Mungkin soal aborsi. Mungkin soal pernikahan. Mungkin soal makan daging. Mungkin soal berbohong untuk kebaikan. Lo punya pendirian. Lo punya alasan. Lo yakin bahwa posisi lo bener.
Terus ada orang lain yang nggak setuju. Dia juga punya alasan. Dia juga yakin. Dia juga ngerasa bahwa posisinya bener. Dan debat itu jalan. Nggak ada ujungnya. Nggak ada titik temu. Nggak ada yang mau ngalah.
Lo mulai mikir. “Kok bisa ya? Kok bisa dua orang yang sama-sama pinter, sama-sama punya alasan, sama-sama punya pengalaman, tapi sampai pada kesimpulan moral yang bertentangan? Apa ini berarti nggak ada yang namanya kebenaran moral? Apa ini berarti semua cuma soal sudut pandang? Apa ini berarti benar dan salah itu nggak ada?”
Itulah yang disebut Argument from Moral Disagreement. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat perdebatan moral dengan mata yang beda.
Sebenernya Argument from Moral Disagreement Itu Apa Sih?
Argument from Moral Disagreement itu argumen yang bilang bahwa perbedaan pendapat moral yang luas dan terus-menerus adalah bukti bahwa nggak ada kebenaran moral yang objektif.
Dengan kata lain, kalau ada kebenaran moral yang berlaku buat semua orang di semua tempat dan semua waktu, kenapa begitu banyak orang yang nggak setuju? Kenapa begitu banyak budaya yang punya standar moral yang beda? Kenapa begitu banyak individu yang yakin bahwa posisi mereka bener, padahal posisi mereka bertentangan?
Argumen ini punya beberapa versi.
Versi pertama: versi deskriptif. Ini cuma ngamati fakta bahwa manusia memang nggak pernah sepakat soal moral. Fakta ini jelas. Dari zaman dulu sampai sekarang. Dari budaya satu ke budaya lain. Dari individu satu ke individu lain. Moral itu selalu diperdebatkan.
Versi kedua: versi epistemologis. Ini bilang bahwa karena perbedaan pendapat itu luas dan sulit diselesaikan, kita nggak punya alasan buat yakin bahwa posisi moral kita bener. Mungkin ada kebenaran moral, tapi kita nggak bisa tau. Kita cuma bisa nebak. Kita cuma bisa percaya.
Versi ketiga: versi metafisik. Ini bilang bahwa perbedaan pendapat moral yang luas adalah bukti bahwa nggak ada kebenaran moral yang objektif. Kalau ada kebenaran moral yang objektif, mestinya orang-orang bisa sepakat. Mestinya ada konsensus. Mestinya ada kemajuan. Tapi kenyataannya nggak. Jadi, kebenaran moral itu nggak ada.
Argumen ini bukan argumen yang baru. Dia udah ada sejak lama. Filsuf-filsuf skeptis udah ngomongin ini. Filsuf-filsuf moral udah debat ini. Sampai sekarang, belum ada jawaban yang diterima semua orang.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma debat filsuf. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Argument from Moral Disagreement nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah ngerasa bingung nentuin mana yang bener. Lo punya satu keyakinan moral. Tapi lo ketemu orang lain yang punya keyakinan yang beda. Dua-duanya punya alasan. Dua-duanya punya pengalaman. Dua-duanya yakin. Dan lo mulai nggak yakin. Lo mulai nanya. “Apa gue yang salah? Apa dia yang salah? Apa nggak ada yang salah?”
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa bahwa moral itu cuma soal budaya. Lo liat budaya lain yang ngelakuin sesuatu yang lo anggap salah. Tapi mereka nganggep itu bener. Dan lo mulai mikir. “Apa moral itu cuma kesepakatan? Apa moral itu cuma kebiasaan? Apa moral itu cuma apa yang mayoritas percaya?”
Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo nggak bisa ngehakimin apa pun. Lo liat ketidakadilan. Lo liat kekejaman. Lo liat penindasan. Tapi lo mikir. “Ah, mungkin itu budaya mereka. Mungkin gue nggak boleh ikut campur. Mungkin gue nggak boleh ngehakimin.” Dan lo mulai diem. Lo mulai nggak peduli. Lo mulai nggak bertindak.
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa bahwa moral itu nggak ada gunanya. Kalo semua orang beda pendapat, kalo nggak ada yang bener, kalo semua cuma sudut pandang, kenapa lo harus repot-repot punya moral? Kenapa lo harus repot-repot berbuat baik? Kenapa lo harus repot-repot ngejagain nilai? Kalo semua sama aja, kenapa lo harus peduli?
Kelima, lo mungkin pernah ngerasa bahwa lo nggak bisa ngomong apa-apa. Lo pengen bela sesuatu yang lo anggap bener. Lo pengen lawan sesuatu yang lo anggap salah. Tapi lo takut. Lo takut dianggap sok suci. Lo takut dianggap ngehakimin. Lo takut dianggap nggak toleran. Jadi lo diem. Dan lo ngerasa hampa.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Argument from Moral Disagreement
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah ngerasa bingung nentuin mana yang bener karena banyak yang beda pendapat? Itu tanda lo lagi nyentuh argumen ini.
Lo pernah ngerasa bahwa moral itu cuma soal budaya? Itu tanda lo lagi mikir soal relativisme.
Lo pernah ngerasa nggak bisa ngehakimin apa pun? Itu tanda lo lagi kejebak argumen ini.
Lo pernah ngerasa bahwa moral itu nggak ada gunanya? Itu tanda lo lagi mikir soal dasar moral.
Lo pernah mikir “kalo semua beda pendapat, apa artinya bener dan salah?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti argumen ini.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener pelik. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di hukuman mati. Ada yang bilang hukuman mati itu adil. Ada yang bilang hukuman mati itu kejam. Dua-duanya punya alasan. Dua-duanya punya data. Dua-duanya yakin. Sampai sekarang, nggak ada konsensus global. Apakah ini berarti nggak ada jawaban yang bener?
Di aborsi. Ada yang bilang aborsi itu pembunuhan. Ada yang bilang aborsi itu hak perempuan. Dua-duanya punya argumen. Dua-duanya punya nilai. Dua-duanya yakin. Sampai sekarang, debat ini jalan terus. Apakah ini berarti nggak ada kebenaran moral?
Di pernikahan sejenis. Ada yang bilang itu salah. Ada yang bilang itu hak. Dua-duanya punya dasar. Dua-duanya punya keyakinan. Sampai sekarang, hukum di berbagai negara beda-beda. Apakah ini berarti moral itu relatif?
Di makan daging. Ada yang bilang makan daging itu wajar. Ada yang bilang makan daging itu kejam. Dua-duanya punya alasan. Dua-duanya punya pandangan. Sampai sekarang, orang nggak sepakat. Apakah ini berarti nggak ada yang bener?
Di kejujuran. Ada yang bilang jujur itu selalu baik. Ada yang bilang bohong putih itu baik. Dua-duanya punya contoh. Dua-duanya punya logika. Sampai sekarang, orang masih debat. Apakah ini berarti kejujuran itu relatif?
Di sejarah. Dulu, perbudakan dianggap wajar. Sekarang, perbudakan dianggap kejahatan. Dulu, banyak orang nggak ngerasa salah. Sekarang, banyak orang ngerasa salah. Apakah ini berarti moral cuma berubah-ubah? Atau ada kemajuan moral?
Di diri lo sendiri. Lo punya keyakinan moral. Lo yakin bahwa sesuatu itu bener. Tapi lo ketemu orang yang sama yakinnya. Dan lo mulai nggak yakin. Apa lo yakin karena lo tau? Apa lo yakin karena lo dibesarin? Apa lo yakin karena lo pengen? Apa lo yakin karena lo takut?
Fase-Fase Lo Ngadepin Argument from Moral Disagreement
Fase pertama: lo yakin sama moral lo.
Lo punya standar. Lo punya nilai. Lo punya keyakinan. Lo nggak pernah nanya dari mana. Lo nggak pernah nanya kenapa. Lo cuma jalanin. Lo cuma percaya.
Fase kedua: lo mulai ngeh ada yang beda.
Lo ketemu orang lain. Lo ketemu budaya lain. Lo ketemu pandangan lain. Lo mulai ngeh bahwa nggak semua orang setuju. Lo mulai ngeh bahwa banyak orang punya moral yang beda. Lo mulai nanya. “Kok bisa?” “Siapa yang bener?” “Apa ada yang bener?”
Fase ketiga: lo mulai ngeraguin.
Lo mulai ngeraguin moral lo sendiri. Lo mulai ngeraguin apakah lo bener. Lo mulai ngeraguin apakah ada kebenaran moral. Lo mulai bingung. Lo mulai goyah. Lo mulai nggak yakin.
Fase keempat: lo milih posisi.
Lo mulai mikir. Lo mulai nimbang. Lo mulai baca. Lo mulai diskusi. Lo mulai nemuin beberapa posisi. Ada yang bilang moral itu objektif. Ada yang bilang moral itu relatif. Ada yang bilang moral itu subjektif. Ada yang bilang moral itu ilusi. Lo mulai nemuin posisi lo sendiri. Mungkin lo tetap percaya moral objektif. Mungkin lo jadi relativis. Mungkin lo jadi agnostik. Yang penting, lo mulai mikir.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Argument from Moral Disagreement nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin argumen ini.
Pertama, masalah kesimpulan yang terlalu jauh. Perbedaan pendapat emang ada. Tapi perbedaan pendapat nggak otomatis berarti nggak ada kebenaran. Dalam sains, banyak ilmuwan beda pendapat. Tapi itu nggak berarti nggak ada kebenaran ilmiah. Jadi, perbedaan pendapat moral juga nggak otomatis berarti nggak ada kebenaran moral.
Kedua, masalah penyebab perbedaan. Perbedaan pendapat moral bisa disebabkan oleh banyak hal. Bisa karena kurang informasi. Bisa karena bias. Bisa karena emosi. Bisa karena kepentingan. Bisa karena budaya. Bisa karena kesalahan berpikir. Jadi, perbedaan pendapat nggak selalu berarti nggak ada kebenaran. Kadang cuma berarti orang belum nemuin kebenaran itu.
Ketiga, masalah konsensus yang ada. Meskipun ada perbedaan, ada juga konsensus. Hampir semua orang setuju bahwa membunuh tanpa alasan itu salah. Hampir semua orang setuju bahwa menyiksa anak itu salah. Hampir semua orang setuju bahwa kejujuran itu baik. Jadi, bukan berarti nggak ada nilai universal. Ada. Cuma mungkin nggak semua.
Keempat, masalah perbedaan aplikasi. Kadang, orang nggak beda pendapat soal prinsip. Mereka beda pendapat soal penerapan. Misalnya, semua orang setuju bahwa membunuh itu salah. Tapi mereka beda pendapat soal apakah aborsi itu membunuh. Jadi, perbedaannya bukan di prinsip. Tapi di fakta.
Kelima, masalah bukti yang terlalu kuat. Kalo perbedaan pendapat berarti nggak ada kebenaran, maka perbedaan pendapat soal sejarah juga berarti nggak ada kebenaran sejarah. Perbedaan pendapat soal sains juga berarti nggak ada kebenaran sains. Itu terlalu jauh. Jadi, argumen ini bisa jadi terlalu kuat.
Keenam, masalah moral realisme. Banyak filsuf percaya bahwa kebenaran moral itu ada. Mereka bilang bahwa perbedaan pendapat cuma nunjukin bahwa manusia nggak sempurna. Bukan nunjukin bahwa nggak ada kebenaran. Sama kayak perbedaan pendapat soal bentuk bumi. Dulu orang beda pendapat. Tapi bumi tetep bulat.
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Argument from Moral Disagreement punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang argumen ini sempurna. Mereka sering bilang argumen ini nguatin keraguan.
Mereka bilang, perbedaan pendapat moral itu beda dari perbedaan pendapat sains. Dalam sains, ada metode buat nyelesaiin perbedaan. Ada eksperimen. Ada data. Ada bukti. Dalam moral, nggak ada metode yang disepakati. Nggak ada cara buat ngebuktiin siapa yang bener. Jadi, perbedaan pendapat moral lebih sulit diselesaiin.
Mereka bilang, konsensus yang ada cuma konsensus dangkal. Di permukaan, orang setuju. Tapi begitu masuk detail, mereka beda. Dan yang lebih penting, konsensus itu bisa berubah. Dulu orang setuju perbudakan. Sekarang nggak. Jadi, konsensus bukan bukti kebenaran.
Mereka bilang, perbedaan pendapat moral sering nggak bisa diselesaiin dengan fakta. Karena perbedaan itu bukan soal fakta. Tapi soal nilai. Dan nilai nggak bisa diuji dengan eksperimen. Nilai nggak bisa diukur. Nilai nggak bisa diverifikasi. Jadi, perbedaan nilai nggak akan pernah selesai.
Mereka bilang, kalo ada kebenaran moral yang objektif, kenapa nggak ada konsensus? Kenapa nggak ada kemajuan? Kenapa nggak ada titik temu? Kalo kebenaran moral itu jelas, mestinya semua orang bisa liat. Mestinya semua orang bisa setuju. Tapi kenyataannya nggak. Jadi, mungkin kebenaran moral itu nggak ada.
Mereka bilang, ketidakpastian ini penting. Karena kalo lo sadar bahwa lo nggak punya dasar yang kuat buat moral lo, lo bakal lebih rendah hati. Lo bakal lebih toleran. Lo bakal lebih nggak dogmatis. Dan itu bagus.
Cara Nyikapin Argument from Moral Disagreement Tanpa Kehilangan Akal
1. Jangan panik.
Kalo lo mikir “gimana kalo nggak ada kebenaran moral,” jangan panik. Itu wajar. Banyak filsuf juga mikir gitu. Tapi mereka nggak panik. Mereka terus mikir. Mereka terus nimbang.
2. Bedain antara perbedaan dan ketiadaan.
Perbedaan pendapat bukan berarti nggak ada kebenaran. Kadang, perbedaan cuma berarti orang belum nemuin kebenaran. Kadang, perbedaan cuma berarti orang belum sepakat. Jadi, jangan langsung nyimpulin bahwa nggak ada yang bener.
3. Cari dasar yang kuat.
Kalo lo punya keyakinan moral, coba cari dasar yang kuat. Jangan cuma ikutin tradisi. Jangan cuma ikutin budaya. Jangan cuma ikutin orang tua. Pikirin sendiri. Renungin sendiri. Temuin sendiri. Kalo dasar lo kuat, lo bakal lebih yakin. Kalo dasar lo lemah, lo bakal lebih goyah.
4. Terbuka pada dialog.
Jangan takut debat. Jangan takut diskusi. Jangan takut dengerin pandangan yang beda. Karena dari dialog, lo bisa belajar. Dari diskusi, lo bisa ngerti. Dari perbedaan, lo bisa tumbuh.
5. Jangan dogmatis.
Jangan ngerasa bahwa lo yang paling bener. Jangan ngerasa bahwa lo yang paling tau. Jangan ngerasa bahwa lo yang paling suci. Karena lo bisa salah. Gue bisa salah. Semua orang bisa salah. Jadi, rendah hati.
6. Jangan jadi relativis total.
Jangan langsung nyimpulin bahwa semua moral sama-sama bener. Karena kalo semua sama-sama bener, maka nggak ada yang bisa dikutuk. Nggak ada yang bisa dilawan. Nggak ada yang bisa diperjuangin. Dan itu bahaya.
7. Cari titik temu.
Meskipun ada perbedaan, sering ada titik temu. Sering ada nilai yang sama. Sering ada prinsip yang sama. Cari itu. Fokus pada itu. Bangun dari situ.
8. Hormati perbedaan.
Orang lain punya pengalaman yang beda. Orang lain punya konteks yang beda. Orang lain punya alasan yang beda. Lo nggak perlu setuju. Tapi lo perlu hormati. Karena lo juga nggak punya bukti mutlak bahwa lo yang bener.
9. Jangan pake buat lari dari tanggung jawab.
Jangan pake Argument from Moral Disagreement buat lari dari tanggung jawab. Jangan pake buat bilang “ah, semua sama aja, jadi gue nggak perlu peduli.” Itu bukan kebijaksanaan. Itu penghindaran.
10. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti apakah ada kebenaran moral yang objektif. Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Perbedaan
Yang paling lo takutin bukan perbedaan. Bukan debat. Bukan ketidaksepakatan.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak punya dasar buat moral lo. Kalo lo sadar lo nggak bisa ngebuktiin bahwa posisi lo bener. Kalo lo sadar lo cuma percaya. Kalo lo sadar lo cuma nebak. Kalo lo sadar lo cuma ikutin. Dan lo nggak bisa ngebuktiin sebaliknya. Dan lo harus hidup dengan ketidakpastian itu. Dan lo harus tetep milih. Dan lo harus tetep bertindak. Dan lo harus tetep bertanggung jawab.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo nggak punya dasar yang sempurna, itu artinya lo harus lebih rendah hati. Itu artinya lo harus lebih terbuka. Itu artinya lo harus lebih jujur. Dan itu bukan hal yang buruk. Itu langkah pertama menuju pemahaman yang lebih dalam.
Argument from Moral Disagreement bukan tentang bikin lo ngerasa nggak ada yang bener. Dia tentang nunjukin bahwa moral itu kompleks. Dia tentang nunjukin bahwa manusia itu beragam. Dia tentang nunjukin bahwa lo perlu mikir lebih dalem. Dan itu nggak apa-apa.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Argument from Moral Disagreement ngajarin satu hal yang menantang. Perbedaan pendapat moral yang luas dan terus-menerus bisa jadi bukti bahwa nggak ada kebenaran moral yang objektif. Tapi bisa juga cuma bukti bahwa manusia nggak sempurna. Bisa juga cuma bukti bahwa moral itu kompleks. Bisa juga cuma bukti bahwa kita perlu terus belajar.
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo nggak ada kebenaran moral, apa yang bisa diandelin? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena kalo lo nggak harus sempurna, lo bisa lebih santai. Lo bisa lebih jujur. Lo bisa lebih terbuka.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah bingung nentuin mana yang bener karena banyak yang beda pendapat? Lo pernah ngerasa bahwa moral itu cuma soal budaya? Lo pernah ngerasa nggak bisa ngehakimin apa pun? Lo pernah mikir “kalo semua beda pendapat, apa artinya bener dan salah?”
Dan kalo iya, apa yang lo lakuin? Apa lo terus bingung? Apa lo mulai mikir? Apa lo mulai nanya? Apa lo mulai cari dasar yang lebih kokoh?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai ngehargain bahwa perbedaan pendapat bukan akhir dari segalanya. Tapi awal dari pencarian yang lebih dalam.
