Hard Problem of Consciousness: Mengapa Anda Merasakan Sakit, Bukan Hanya Memprosesnya?
Pernahkah Anda merasa sakit? Bukan hanya tahu bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh Anda. Bukan hanya menerima sinyal dari saraf. Tetapi benar-benar merasa sakit. Rasa itu menusuk. Rasa itu tidak nyaman. Rasa itu membuat Anda ingin berhenti merasakannya. Itulah pengalaman subjektif. Itulah yang disebut kesadaran.
Sekarang bayangkan sebuah komputer. Komputer bisa mendeteksi kerusakan. Komputer bisa mengirim sinyal. Komputer bisa menampilkan peringatan di layar. Tetapi apakah komputer merasa sakit? Apakah ada sesuatu yang terasa seperti menjadi komputer? Apakah ada pengalaman di dalamnya? Atau apakah komputer hanya memproses informasi tanpa merasakan apa pun?
Pertanyaan itu adalah salah satu pertanyaan paling sulit dalam filsafat dan ilmu saraf. Ia disebut Hard Problem of Consciousness. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Apa Itu Hard Problem of Consciousness?
Hard Problem of Consciousness adalah pertanyaan tentang mengapa dan bagaimana proses fisik di otak menghasilkan pengalaman subjektif. Istilah ini diciptakan oleh seorang filsuf bernama David Chalmers pada tahun 1995. Ia membedakan antara easy problem dan hard problem.
Easy problem adalah pertanyaan tentang fungsi otak. Bagaimana otak memproses informasi? Bagaimana otak mengatur perilaku? Bagaimana otak membedakan warna? Bagaimana otak menyimpan memori? Pertanyaan-pertanyaan ini sulit, tetapi bisa dijawab dengan penelitian. Kita bisa mempelajari neuron, sinapsis, dan sirkuit otak. Kita bisa memahami mekanismenya.
Hard problem adalah pertanyaan tentang pengalaman. Mengapa proses fisik itu disertai dengan pengalaman? Mengapa melihat merah terasa seperti sesuatu? Mengapa sakit terasa menyakitkan? Mengapa ada rasa menjadi Anda? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan mempelajari mekanisme otak. Kita bisa tahu semua tentang neuron, tetapi kita masih belum tahu mengapa ada pengalaman.
Chalmers mengatakan bahwa bahkan jika kita punya penjelasan lengkap tentang otak, kita masih belum menjelaskan kesadaran. Kita masih belum menjelaskan mengapa ada sesuatu yang terasa seperti menjadi kita. Itulah hard problem.
Mengapa Ini Disebut Hard Problem?
Chalmers menyebutnya hard problem karena ia berbeda dari masalah-masalah lain dalam ilmu saraf. Masalah-masalah lain bisa diselesaikan dengan penelitian. Kita bisa menemukan korelasi antara aktivitas otak dan pengalaman. Kita bisa menemukan area otak yang aktif ketika seseorang melihat wajah. Kita bisa menemukan neurotransmitter yang terlibat dalam rasa senang.
Tetapi korelasi bukanlah penjelasan. Mengetahui bahwa area otak tertentu aktif ketika seseorang merasa takut tidak menjelaskan mengapa ada rasa takut. Mengetahui bahwa dopamin dilepaskan ketika seseorang merasa senang tidak menjelaskan mengapa ada rasa senang. Kita masih belum menjelaskan pengalaman itu sendiri.
Hard problem juga sulit karena kesadaran itu subjektif. Kita hanya bisa mengamati kesadaran dari dalam. Kita tidak bisa mengamati kesadaran orang lain secara langsung. Kita hanya bisa menebak dari perilaku mereka. Kita tidak bisa masuk ke dalam kepala mereka. Kita tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya masalah filsuf dan ilmuwan. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda bertanya mengapa Anda merasa cemas? Anda tahu bahwa ada hormon yang terlibat. Anda tahu bahwa ada area otak yang aktif. Tetapi mengapa ada rasa cemas? Mengapa tidak hanya ada proses fisik tanpa pengalaman?
Pernahkah Anda bertanya mengapa Anda mencintai seseorang? Anda tahu bahwa ada hormon dan neurotransmitter. Anda tahu bahwa ada evolusi di baliknya. Tetapi mengapa ada rasa cinta? Mengapa cinta terasa begitu nyata?
Pernahkah Anda bertanya mengapa Anda merasa sedih ketika kehilangan? Anda tahu bahwa kesedihan itu alami. Anda tahu bahwa itu bagian dari proses berduka. Tetapi mengapa ada rasa sedih? Mengapa tidak hanya ada proses fisik tanpa rasa?
Hard Problem of Consciousness juga muncul dalam teknologi. Jika kesadaran hanyalah hasil dari proses fisik, maka mungkin suatu hari komputer bisa memiliki kesadaran. Jika kesadaran adalah sesuatu yang lebih, maka komputer tidak akan pernah bisa benar-benar sadar. Ini pertanyaan besar dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Hard Problem of Consciousness juga muncul dalam kedokteran. Ketika seseorang mengalami koma, apakah ia masih sadar? Ketika seseorang mengalami anestesi, ke mana kesadarannya pergi? Ketika seseorang mengalami cedera otak, apakah kepribadiannya berubah? Apakah kesadarannya berubah?
Hard Problem of Consciousness juga muncul dalam etika. Jika hewan punya kesadaran, apakah kita boleh menyakitinya? Jika kecerdasan buatan punya kesadaran, apakah ia punya hak? Jika kesadaran bisa diciptakan, apakah kita bertanggung jawab atasnya?
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang dokter merawat pasien yang mengalami cedera otak. Pasien itu tidak lagi bisa berbicara. Ia tidak lagi bisa bergerak. Tetapi apakah ia masih sadar? Apakah ia masih merasakan sesuatu? Apakah ia masih mengalami dunia? Dokter itu tidak tahu. Ia hanya bisa menebak.
Seorang ilmuwan mempelajari otak. Ia bisa melihat aktivitas listrik. Ia bisa melihat aliran darah. Ia bisa melihat neurotransmitter. Tetapi ia tidak bisa melihat pengalaman. Ia tidak bisa melihat rasa sakit. Ia tidak bisa melihat rasa senang. Ia hanya bisa melihat korelasi.
Seorang filsuf merenung tentang kecerdasan buatan. Ia bertanya, “Jika komputer bisa berbicara seperti manusia, apakah ia benar-benar sadar? Atau apakah ia hanya memproses kata-kata tanpa merasakan apa pun?” Ia tidak tahu jawabannya.
Seorang pengguna media sosial melihat video tentang hewan yang menderita. Ia bertanya, “Apakah hewan itu benar-benar merasakan sakit? Atau apakah ia hanya bereaksi secara otomatis?” Ia merasa tidak nyaman. Ia merasa bahwa hewan itu punya pengalaman.
Seorang ibu melahirkan anak. Ia merasa sakit. Ia merasa lelah. Ia merasa bahagia. Ia merasa cinta. Semua itu adalah pengalaman. Semua itu adalah kesadaran. Ia tidak bisa menjelaskannya. Ia hanya bisa merasakannya.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Hard Problem of Consciousness bukan hanya teori. Ia menyentuh pengalaman kita tentang hidup, cinta, sakit, dan mati.
Tiga Fase Menghadapi Hard Problem of Consciousness
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda merasa bahwa kesadaran itu jelas. Anda merasa bahwa Anda sadar. Anda tidak pernah mempertanyakan mengapa.
Fase kedua, Anda meragukan. Anda membaca tentang Hard Problem of Consciousness. Anda menyadari bahwa kesadaran itu misterius. Anda mulai bertanya, “Mengapa saya sadar? Mengapa ada pengalaman? Mengapa bukan hanya proses fisik tanpa rasa?”
Fase ketiga, Anda mencari jawaban. Anda membaca tentang berbagai teori. Anda membaca tentang materialisme. Anda membaca tentang dualisme. Anda membaca tentang panpsikisme. Anda membaca tentang teori informasi terintegrasi. Anda tidak menemukan jawaban yang sempurna. Tetapi Anda terus mencari.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Hard Problem
Para filsuf dan ilmuwan sudah mencoba menanggapi Hard Problem of Consciousness. Tidak ada satu jawaban yang diterima semua orang. Tetapi ada beberapa pendekatan yang menarik.
Yang pertama adalah materialisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kesadaran adalah hasil dari proses fisik di otak. Tidak ada yang lebih. Ketika kita memahami otak sepenuhnya, kita akan memahami kesadaran. Hard problem hanyalah masalah sementara. Ia akan hilang ketika ilmu saraf maju.
Yang kedua adalah dualisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kesadaran adalah sesuatu yang berbeda dari fisik. Ia adalah substansi non-fisik. Ia tidak bisa direduksi menjadi materi. Hard problem adalah masalah nyata. Ia tidak akan pernah bisa diselesaikan oleh ilmu fisik.
Yang ketiga adalah panpsikisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kesadaran adalah sifat fundamental alam semesta. Ia ada di semua hal, bahkan di partikel terkecil. Kesadaran manusia adalah bentuk kompleks dari kesadaran dasar itu. Hard problem diselesaikan dengan mengatakan bahwa kesadaran tidak muncul dari materi. Ia sudah ada sejak awal.
Yang keempat adalah misterianisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kesadaran adalah misteri yang tidak bisa dipahami oleh manusia. Pikiran manusia punya batas. Kita tidak akan pernah bisa menjelaskan mengapa ada pengalaman. Kita harus hidup dengan misteri itu.
Yang kelima adalah ilusionisme. Pendekatan ini mengatakan bahwa kesadaran itu ilusi. Pengalaman subjektif yang kita rasakan sebenarnya tidak ada. Itu hanya cara otak menggambarkan proses fisik. Hard problem adalah masalah palsu. Ia muncul karena kita salah memahami kesadaran.
Kritik terhadap Tanggapan-Tanggapan
Setiap tanggapan punya kritik. Materialisme dianggap mengabaikan pengalaman. Ia menjelaskan fungsi, tetapi tidak menjelaskan rasa. Dualisme dianggap tidak ilmiah. Ia menambahkan substansi yang tidak bisa diuji. Panpsikisme dianggap aneh. Ia memberikan kesadaran pada batu dan atom. Misterianisme dianggap menyerah. Ia tidak menyelesaikan masalah. Ia hanya mengatakan bahwa masalah itu tidak bisa diselesaikan. Ilusionisme dianggap tidak masuk akal. Ia mengatakan bahwa pengalaman yang paling nyata bagi kita sebenarnya tidak ada.
Cara Menyikapi Hard Problem of Consciousness
Pertama, hargai pengalaman Anda. Anda sadar. Anda merasakan. Anda mengalami. Itu adalah fakta yang tidak bisa disangkal. Jangan biarkan teori apa pun membuat Anda meragukan pengalaman Anda.
Kedua, akui misteri. Kesadaran adalah salah satu misteri terbesar. Tidak ada yang tahu sepenuhnya bagaimana ia bekerja. Mengakui misteri adalah langkah pertama menuju kebijaksanaan.
Ketiga, jangan terburu-buru menyimpulkan. Materialisme mungkin benar. Dualisme mungkin benar. Panpsikisme mungkin benar. Tidak ada yang tahu. Terbukalah pada berbagai kemungkinan.
Keempat, hargai ilmu saraf. Ilmu saraf sudah membuat banyak kemajuan. Kita tahu banyak tentang otak. Kita tahu banyak tentang korelasi antara otak dan pengalaman. Ilmu saraf membantu kita memahami mekanisme.
Kelima, hargai filsafat. Filsafat membantu kita merumuskan pertanyaan yang tepat. Filsafat membantu kita memeriksa asumsi. Filsafat membantu kita melihat batas ilmu.
Keenam, jangan gunakan hard problem untuk menyerang sains. Hard problem bukan argumen melawan sains. Ia adalah pertanyaan yang belum terjawab. Sains masih berkembang. Mungkin suatu hari kita akan menemukan jawabannya.
Ketujuh, hargai kesadaran orang lain. Orang lain juga sadar. Orang lain juga merasakan. Orang lain juga mengalami. Perlakukan mereka dengan hormat. Perlakukan mereka dengan empati.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak tahu segalanya. Tidak ada yang tahu segalanya. Kesadaran adalah misteri. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahaminya.
Penutup
Hard Problem of Consciousness mengajarkan satu hal yang mendalam. Kesadaran adalah misteri. Kita bisa mempelajari otak. Kita bisa mempelajari perilaku. Kita bisa mempelajari evolusi. Tetapi kita masih belum menjelaskan mengapa ada pengalaman. Mengapa ada rasa. Mengapa ada sesuatu yang terasa seperti menjadi kita.
Ini bisa terasa menakutkan. Jika kita tidak bisa menjelaskan kesadaran, bagaimana kita bisa memahami diri kita? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu punya semua jawaban. Kita hanya perlu hidup. Kita hanya perlu merasakan. Kita hanya perlu menjadi.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah merenungkan kesadaran Anda? Apakah Anda pernah bertanya mengapa Anda bisa merasakan? Dan jika ya, apa yang membuat Anda merasa bahwa kesadaran itu nyata? Apakah pengalaman Anda? Apakah intuisi Anda? Apakah keyakinan Anda? Atau apakah Anda hanya menerima bahwa Anda sadar, tanpa perlu menjelaskan mengapa?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai misteri kesadaran yang Anda jalani setiap hari.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Hard Problem of Consciousness: Kenapa Lo Bisa Ngerasain Sakit, Bukan Cuma Tau Kalo Lo Sakit?
Coba inget lagi. Momen di mana lo lagi sakit. Bener-bener sakit. Mungkin sakit kepala. Mungkin sakit perut. Mungkin sakit gigi. Mungkin sakit hati. Lo ngerasain sesuatu. Ada yang nggak enak. Ada yang nyeri. Ada yang bikin lo pengen nangis. Ada yang bikin lo pengen diem.
Sekarang, coba pikir. Dokter bisa jelasin kenapa lo sakit. Dia bisa jelasin infeksi. Dia bisa jelasin peradangan. Dia bisa jelasin saraf. Dia bisa jelasin otak. Dia bisa jelasin semua proses fisik yang terjadi di tubuh lo. Semua bisa dijelasin. Semua bisa diukur. Semua bisa diliat di layar.
Tapi ada satu hal yang nggak bisa dijelasin. Kenapa sakit itu berasa sakit? Kenapa nggak cuma proses fisik aja? Kenapa ada rasa? Kenapa ada pengalaman? Kenapa ada sesuatu yang lo rasain? Kenapa nggak kayak komputer yang cuma proses data tanpa ngerasain apa-apa?
Itulah yang disebut Hard Problem of Consciousness. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat pengalaman lo sehari-hari dengan mata yang beda.
Sebenernya Hard Problem Itu Apa Sih?
Hard Problem of Consciousness itu simpelnya gini: kenapa dan gimana proses fisik di otak menghasilkan pengalaman subjektif?
Istilah ini dipopulerin sama filsuf namanya David Chalmers. Dia lahir tahun 1966. Dia filsuf Australia. Dia ngajar di New York University. Dia terkenal karena kerjaannya soal kesadaran. Tahun 1994, dia ngasih kuliah yang ngeguncang dunia filsafat. Di situ, dia bedain antara dua masalah.
Yang pertama: easy problem. Ini soal fungsi otak. Gimana otak memproses informasi? Gimana otak nyimpen memori? Gimana otak ngatur gerakan? Gimana otak ngenalin wajah? Semua ini sulit. Tapi bisa dijawab. Bisa diteliti. Bisa diukur.
Yang kedua: hard problem. Ini soal pengalaman. Kenapa ada rasa? Kenapa ada pengalaman? Kenapa liat merah terasa kayak sesuatu? Kenapa sakit terasa menyakitkan? Kenapa ada “rasa” jadi lo? Ini yang nggak bisa dijawab. Ini yang bikin pusing. Ini yang masih misteri.
Chalmers bilang: lo bisa jelasin semua fungsi otak. Lo bisa jelasin semua proses saraf. Lo bisa jelasin semua reaksi kimia. Tapi lo nggak bisa jelasin kenapa ada pengalaman. Kenapa ada sesuatu yang dirasain. Kenapa ada qualia.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma filsafat. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Hard Problem nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah ngerasa nggak bisa ngejelasin apa yang lo rasain. Lo sakit. Lo sedih. Lo seneng. Lo cinta. Lo nangis. Tapi kalo ada yang nanya, “Gimana rasanya?” Lo diem. Lo nggak bisa ngejelasin. Lo nggak bisa ngasih tau. Lo cuma bisa bilang, “Ya gitu deh.” Karena pengalaman itu subjektif. Cuma lo yang tau.
Kedua, lo mungkin pernah ngerasa nggak nyaman sama jawaban “itu cuma kimia.” Ada yang bilang, “Cinta itu cuma hormon.” “Sedih itu cuma serotonin.” “Bahagia itu cuma dopamin.” Lo ngerasa ada yang kurang. Lo ngerasa penjelasan itu terlalu datar. Terlalu dingin. Karena cinta lo bukan cuma hormon. Cinta lo punya rasa. Punya makna. Punya pengalaman.
Ketiga, lo mungkin pernah mikir soal kematian. Kalo lo mati, apa yang terjadi? Apakah kesadaran lo ilang? Apakah lo nggak ngerasain apa-apa? Atau ada sesuatu yang lanjut? Hard Problem bikin pertanyaan ini makin rumit. Karena kalo kesadaran cuma fungsi otak, maka kematian adalah akhir. Tapi kalo kesadaran lebih dari itu, apa artinya?
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa sendirian dalam kepala lo. Lo nggak bisa masuk ke kepala orang lain. Lo nggak bisa ngerasain apa yang mereka rasain. Lo nggak bisa tau apakah merah yang lo liat sama dengan merah yang mereka liat. Lo cuma bisa nebak. Lo cuma bisa percaya.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Hard Problem
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah ngerasa nggak bisa ngejelasin apa yang lo rasain? Itu tanda lo lagi nyentuh Hard Problem.
Lo pernah ngerasa “itu cuma kimia” sebagai jawaban yang kurang? Itu tanda lo lagi mikir.
Lo pernah mikir “kenapa gue bisa ngerasain apa pun?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti masalah ini.
Lo pernah ngerasa sendirian dalam pengalaman lo? Itu tanda lo lagi nyentuh subjektivitas kesadaran.
Lo pernah mikir “apa yang terjadi sama kesadaran gue kalo gue mati?” Itu tanda lo lagi mikir.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener misterius. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di rumah sakit. Dokter jelasin ke lo. Dia bilang, “Kanker lo udah menyebar. Ini penyebabnya. Ini prosesnya. Ini cara kerjanya.” Lo diem. Lo dengerin. Lo ngerti secara medis. Tapi yang lo rasain? Yang lo rasain bukan penjelasan medis. Yang lo rasain adalah takut. Yang lo rasain adalah sedih. Yang lo rasain adalah nggak mau mati. Itu bukan penjelasan. Itu pengalaman. Dan pengalaman itu nggak bisa dijelasin.
Di pelukan. Lo lagi peluk seseorang. Mungkin pasangan. Mungkin anak. Mungkin orang tua. Mungkin temen. Lo ngerasain hangat. Lo ngerasain aman. Lo ngerasain tenang. Secara kimia, itu cuma hormon. Oksitosin. Serotonin. Dopamin. Tapi yang lo rasain bukan hormon. Yang lo rasain adalah cinta. Yang lo rasain adalah koneksi. Yang lo rasain adalah sesuatu yang nggak bisa diukur.
Di senja. Lo lagi duduk di pantai. Lo liat matahari terbenam. Warna oranye. Warna merah. Warna ungu. Langit berubah. Awan bergerak. Angin bertiup. Lo ngerasain sesuatu. Ada yang bikin lo diem. Ada yang bikin lo kagum. Ada yang bikin lo ngerasa kecil. Secara fisika, itu cuma cahaya. Itu cuma gelombang. Itu cuma partikel. Tapi yang lo rasain bukan fisika. Yang lo rasain adalah keindahan. Dan keindahan itu nggak bisa diukur.
Di kesedihan. Lo lagi sedih. Mungkin karena putus. Mungkin karena kehilangan. Mungkin karena gagal. Lo ngerasain ada yang berat di dada. Lo ngerasain ada yang nyekek di tenggorokan. Lo ngerasain air mata. Secara neuro, itu cuma aktivitas di amigdala. Cuma perubahan di prefrontal cortex. Cuma reaksi kimia. Tapi yang lo rasain bukan neuro. Yang lo rasain adalah patah hati. Dan patah hati itu nggak bisa dijelasin dengan diagram.
Di diri lo sendiri. Lo lagi sendirian. Lo lagi mikir. Lo lagi ngerasain sesuatu. Coba tanya: apa yang lo rasain sekarang? Lo mungkin nggak bisa jawab. Lo mungkin cuma bisa bilang, “Ya gini.” Itu pengalaman. Itu kesadaran. Dan itulah yang bikin Hard Problem susah.
Fase-Fase Lo Ngadepin Hard Problem
Fase pertama: lo ngerasa semua bisa dijelasin.
Lo percaya sains. Lo percaya penjelasan. Lo percaya bahwa segala sesuatu punya sebab. Kalo ada yang nggak bisa dijelasin, berarti belum diteliti. Belum ditemuin. Cepat atau lambat, pasti bisa dijelasin.
Fase kedua: lo ngeraguin.
Lo mulai baca tentang Hard Problem. Lo mulai nanya, “Kok kesadaran beda? Kok pengalaman beda? Kok rasa beda?” Lo mulai ngerasa ada yang nggak bisa dijelasin. Lo mulai ngerasa ada misteri yang lebih dalem.
Fase ketiga: lo nerima misteri.
Lo nyadar bahwa nggak semua bisa dijelasin. Lo nyadar bahwa ada batas. Lo nyadar bahwa kesadaran adalah misteri. Lo mungkin nggak nemuin jawaban. Tapi lo mulai ngehargain misterinya. Lo mulai lebih rendah hati.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Hard Problem nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf dan ilmuwan nolak atau ngeraguin masalah ini.
Pertama, masalah ilusi. Ada yang bilang kesadaran itu ilusi. Ada yang bilang pengalaman itu ilusi. Ada yang bilang qualia itu nggak ada. Kita cuma ngerasa ada. Tapi sebenernya nggak ada. Kalo gitu, Hard Problem hilang. Karena nggak ada yang perlu dijelasin.
Kedua, masalah definisi. Ada yang bilang Hard Problem cuma masalah bahasa. Kita nggak punya kata yang cukup buat ngejelasin kesadaran. Jadi kita ngerasa ada yang misterius. Padahal cuma bahasa kita yang terbatas.
Ketiga, masalah kemajuan. Ada yang bilang Hard Problem bakal terpecahin seiring kemajuan sains. Dulu, kita nggak ngerti kenapa petir. Sekarang kita ngerti. Dulu, kita nggak ngerti kenapa penyakit. Sekarang kita ngerti. Cepat atau lambat, kita bakal ngerti kesadaran.
Keempat, masalah fungsionalisme. Ada yang bilang kesadaran cuma fungsi. Kalo otak punya fungsi tertentu, maka otak punya kesadaran. Nggak perlu ada misteri. Nggak perlu ada yang non-fisik. Cuma perlu fungsi.
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Hard Problem punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang masalah ini nggak bisa dipecahin. Mereka sering bilang masalah ini bener-bener sulit.
Mereka bilang ilusi itu juga butuh penjelasan. Kalo kesadaran ilusi, kenapa ada ilusi? Siapa yang ngalamin ilusi? Ilusi itu sendiri adalah pengalaman. Jadi nggak bisa dijelasin dengan ilusi.
Mereka juga bilang definisi itu penting. Tapi nggak semua masalah hilang dengan definisi yang lebih baik. Kadang, definisi yang lebih baik cuma ngeser masalah. Bukan nyelesaiin.
Mereka juga bilang kemajuan sains nggak selalu nyelesaiin semua masalah. Ada masalah yang tetep ada meskipun sains maju. Mungkin kesadaran salah satunya.
Mereka juga bilang fungsionalisme nggak cukup. Karena fungsionalisme cuma ngejelasin fungsi. Bukan pengalaman. Dua hal yang beda. Fungsi bisa dijelasin. Pengalaman nggak bisa.
Cara Nyikapin Hard Problem Tanpa Kehilangan Akal
1. Hargai pengalaman lo.
Pengalaman lo itu nyata. Sakit lo itu nyata. Cinta lo itu nyata. Sedih lo itu nyata. Jangan reduksi jadi cuma kimia. Jangan reduksi jadi cuma data. Pengalaman itu punya nilai. Punya makna. Punya kedalaman.
2. Jangan takut sama misteri.
Misteri bukan musuh. Misteri adalah pintu. Dia ngajak lo buat mikir. Dia ngajak lo buat nanya. Dia ngajak lo buat lebih rendah hati. Nggak semua harus dijawab. Kadang, pertanyaan itu sendiri udah cukup.
3. Hormati subjektivitas.
Pengalaman lo subjektif. Pengalaman orang lain juga subjektif. Lo nggak bisa masuk ke kepala mereka. Mereka nggak bisa masuk ke kepala lo. Hormati itu. Jangan maksa orang lain buat ngerasain apa yang lo rasain. Jangan maksa diri lo buat ngerasain apa yang orang lain rasain.
4. Jangan reduksi jadi angka.
Jangan reduksi cinta jadi hormon. Jangan reduksi sedih jadi serotonin. Jangan reduksi bahagia jadi dopamin. Hormon itu bagian dari cerita. Tapi bukan seluruh cerita. Ada yang lebih. Ada pengalaman. Ada rasa.
5. Terbuka pada kemungkinan.
Mungkin kesadaran cuma fungsi otak. Mungkin kesadaran lebih dari itu. Mungkin ada yang non-fisik. Mungkin nggak ada. Lo nggak tau. Gue nggak tau. Nggak ada yang tau. Jadi terbuka. Jangan dogmatis.
6. Fokus pada hidup lo.
Apa pun jawaban atas Hard Problem, hidup lo tetep jalan. Lo tetep bisa ngerasain. Lo tetep bisa mencintai. Lo tetep bisa sedih. Lo tetep bisa bahagia. Jangan terlalu sibuk mikir sampe lupa ngerasain.
7. Gunain pengalaman buat terhubung.
Karena lo nggak bisa masuk ke kepala orang lain, coba terhubung lewat pengalaman. Cerita. Dengerin. Berbagi. Kadang, kata-kata nggak cukup. Tapi kehadiran cukup. Kadang, penjelasan nggak cukup. Tapi empati cukup.
8. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Nggak ada yang tau segalanya. Kesadaran adalah salah satu misteri terbesar. Terimalah itu. Jangan ngerasa harus punya jawaban. Jangan ngerasa harus ngerti.
9. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin kenapa ada pengalaman. Lo cuma bisa hidup dengan pengalaman itu. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Kematian
Yang paling lo takutin bukan kematian. Bukan sakit. Bukan kehilangan.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar pengalaman lo nggak bisa dijelasin. Kalo lo sadar lo sendirian di dalem kepala lo. Kalo lo sadar nggak ada yang bisa bener-bener ngerti apa yang lo rasain. Kalo lo sadar bahwa rasa sakit lo, cinta lo, sedih lo, bahagia lo, semuanya cuma ada di dalem lo. Dan nggak ada yang bisa nyentuh itu.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo pengalaman lo nggak bisa dijelasin, itu artinya pengalaman lo unik. Itu artinya pengalaman lo istimewa. Itu artinya pengalaman lo cuma milik lo. Nggak ada yang bisa ngerampok. Nggak ada yang bisa niru. Nggak ada yang bisa ganti.
Hard Problem bukan tentang bikin lo ngerasa sendirian. Dia tentang ngingetin lo bahwa pengalaman lo berharga. Karena cuma lo yang punya. Karena cuma lo yang ngerasain.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Hard Problem of Consciousness ngajarin satu hal yang menantang. Kita bisa jelasin otak. Kita bisa jelasin saraf. Kita bisa jelasin kimia. Tapi kita nggak bisa jelasin pengalaman. Kita nggak bisa jelasin kenapa sakit berasa sakit. Kita nggak bisa jelasin kenapa cinta berasa cinta. Kita nggak bisa jelasin kenapa ada sesuatu yang dirasain.
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo pengalaman nggak bisa dijelasin, apa artinya? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Karena pengalaman nggak bisa dijelasin, pengalaman itu milik lo. Cuma lo yang punya. Cuma lo yang ngerasain.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah ngerasa nggak bisa ngejelasin apa yang lo rasain? Lo pernah ngerasa “itu cuma kimia” sebagai jawaban yang kurang? Lo pernah mikir “kenapa gue bisa ngerasain apa pun?”
Dan kalo iya, apa jawabannya? Apa yang bikin pengalaman lo berharga? Apa yang bikin hidup lo berarti? Apakah pengalaman itu sendiri?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai ngehargain pengalaman lo. Lo cuma harus mulai ngerasain.
