Open Question Argument: Mengapa “Baik” Tidak Bisa Didefinisikan dengan Kata Lain?
Pernahkah Anda mencoba menjelaskan apa itu “baik” kepada seseorang? Anda mungkin berkata, “Baik itu berarti menyenangkan.” Lalu orang itu bertanya, “Apakah semua yang menyenangkan itu baik?” Anda terdiam. Anda mulai ragu. Anda mencoba lagi, “Baik itu berarti berguna.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah semua yang berguna itu baik?” Anda mulai bingung. Anda mencoba lagi, “Baik itu berarti dicintai.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah semua yang dicintai itu baik?” Anda kehabisan kata.
Mengapa sulit sekali mendefinisikan “baik”? Mengapa setiap definisi selalu bisa dipertanyakan? Apakah “baik” itu sesuatu yang sederhana, atau justru sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata lain?
Pertanyaan itu diajukan oleh seorang filsuf Inggris bernama G.E. Moore. Ia mengajukan sebuah argumen yang mengguncang dunia etika. Argumen itu dikenal sebagai Open Question Argument. Mari saya ajak Anda masuk ke dalamnya.
Siapa Itu G.E. Moore?
George Edward Moore lahir pada tahun 1873 dan meninggal pada tahun 1958. Ia adalah seorang filsuf Inggris yang sangat berpengaruh. Ia mengajar di Universitas Cambridge. Ia adalah teman dan kolega Bertrand Russell. Mereka bersama-sama mengembangkan filsafat analitik.
Moore menulis buku yang sangat terkenal berjudul “Principia Ethica,” yang diterbitkan pada tahun 1903. Di dalam buku itu, ia mengajukan Open Question Argument. Argumen ini menjadi salah satu kontribusi paling penting dalam meta-etika.
Moore juga terkenal karena membela akal sehat. Ia percaya bahwa kita tahu banyak hal dengan pasti. Kita tahu bahwa kita punya tangan. Kita tahu bahwa dunia ini nyata. Kita tahu bahwa ada orang lain. Ia menggunakan akal sehat untuk melawan skeptisisme.
Apa Itu Open Question Argument?
Open Question Argument adalah argumen yang menunjukkan bahwa “baik” tidak bisa didefinisikan dengan istilah lain. Menurut Moore, “baik” adalah konsep yang sederhana dan tidak bisa dianalisis. Ia seperti warna kuning. Anda bisa menunjuk pada kuning. Anda bisa mengalami kuning. Tetapi Anda tidak bisa menjelaskan kuning dengan kata-kata. Anda tidak bisa mendefinisikan kuning sebagai “warna seperti matahari” karena ada banyak hal kuning yang bukan matahari.
Moore mengatakan bahwa banyak filsuf mencoba mendefinisikan “baik” dengan istilah alami. Misalnya, mereka mengatakan bahwa baik itu berarti menyenangkan. Atau baik itu berarti diinginkan. Atau baik itu berarti berguna. Atau baik itu berarti sesuai dengan evolusi. Ini disebut naturalistic fallacy.
Moore mengajukan tes sederhana. Ambil definisi apa pun tentang “baik.” Misalnya, “Baik itu berarti menyenangkan.” Sekarang tanyakan, “Apakah semua yang menyenangkan itu baik?” Pertanyaan ini tetap terbuka. Anda bisa menjawab ya. Anda bisa menjawab tidak. Anda bisa ragu. Pertanyaan itu tidak otomatis terjawab oleh definisi itu.
Bandingkan dengan definisi yang benar-benar identik. “Bujangan itu berarti pria yang belum menikah.” Sekarang tanyakan, “Apakah semua bujangan itu pria yang belum menikah?” Pertanyaan itu tertutup. Jawabannya jelas ya. Tidak ada ruang untuk ragu. Tidak ada ruang untuk debat.
Moore mengatakan bahwa jika “baik” benar-benar identik dengan “menyenangkan,” maka pertanyaan “Apakah yang menyenangkan itu baik?” akan terasa aneh. Ia akan sama anehnya dengan pertanyaan “Apakah bujangan itu belum menikah?” Tetapi pertanyaan “Apakah yang menyenangkan itu baik?” tidak terasa aneh. Ia terasa masuk akal. Ia terasa terbuka. Karena itu, “baik” tidak bisa didefinisikan sebagai “menyenangkan.”
Mengapa Ini Penting untuk Anda?
Mungkin Anda berpikir, “Ah, itu kan hanya filsafat. Saya tidak peduli.” Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda berdebat tentang apa yang baik? Pernahkah Anda berdebat tentang apakah sesuatu itu benar atau salah? Di balik setiap perdebatan itu, ada asumsi tentang apa artinya “baik.” Jika “baik” tidak bisa didefinisikan, bagaimana kita bisa berdebat?
Open Question Argument juga muncul dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Anda mendidik anak, Anda mengatakan, “Jadilah anak yang baik.” Anak itu bertanya, “Apa itu baik?” Anda mulai menjelaskan. “Baik itu berarti tidak menyakiti orang lain.” Anak itu bertanya lagi, “Apakah semua yang tidak menyakiti orang lain itu baik?” Anda terdiam. Anda mulai sadar bahwa “baik” lebih sulit dijelaskan daripada yang Anda kira.
Open Question Argument juga muncul dalam agama. Ketika seseorang berkata, “Tuhan itu baik,” kita bisa bertanya, “Apakah Tuhan itu baik karena Tuhan memerintahkan kebaikan? Atau Tuhan memerintahkan kebaikan karena Tuhan itu baik?” Pertanyaan itu tetap terbuka. Ia tidak bisa dijawab hanya dengan definisi.
Open Question Argument juga muncul dalam politik. Ketika politisi berkata, “Kebijakan ini baik untuk rakyat,” kita bisa bertanya, “Apakah semua yang baik untuk rakyat itu adil?” Pertanyaan itu tetap terbuka. Ia menunjukkan bahwa “baik” dan “adil” bukan hal yang sama.
Open Question Argument juga muncul dalam bisnis. Ketika perusahaan berkata, “Tujuan kami adalah memberi nilai terbaik bagi pelanggan,” kita bisa bertanya, “Apakah nilai terbaik itu selalu baik?” Pertanyaan itu tetap terbuka. Ia menunjukkan bahwa “nilai” dan “kebaikan” bukan hal yang sama.
Contoh Sederhana di Kehidupan Sehari-hari
Seorang mahasiswa belajar etika. Ia membaca bahwa baik itu berarti kebahagiaan. Ia bertanya, “Apakah semua kebahagiaan itu baik? Bagaimana jika kebahagiaan seseorang berasal dari menyakiti orang lain?” Ia menyadari bahwa definisi itu tidak sempurna.
Seorang karyawan bekerja di perusahaan yang mengejar keuntungan. Ia bertanya, “Apakah keuntungan itu baik? Bagaimana jika keuntungan itu diperoleh dengan mengeksploitasi pekerja?” Ia menyadari bahwa keuntungan bukanlah kebaikan itu sendiri.
Seorang pengguna media sosial melihat berita tentang kemajuan teknologi. Ia bertanya, “Apakah kemajuan itu baik? Bagaimana jika kemajuan itu merusak lingkungan?” Ia menyadari bahwa kemajuan bukanlah kebaikan itu sendiri.
Seorang dokter menghadapi pasien yang sakit parah. Ia bertanya, “Apakah memperpanjang hidup itu baik? Bagaimana jika hidup itu penuh penderitaan?” Ia menyadari bahwa hidup bukanlah kebaikan itu sendiri.
Seorang filsuf merenung tentang Tuhan. Ia bertanya, “Apakah Tuhan itu baik karena Tuhan itu Tuhan? Atau Tuhan itu Tuhan karena Tuhan itu baik?” Ia menyadari bahwa pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan mudah.
Semua contoh ini menunjukkan bahwa Open Question Argument bukan hanya teori. Ia menyentuh bagaimana kita memahami kebaikan, nilai, dan makna.
Tiga Fase Menghadapi Open Question Argument
Fase pertama, Anda merasa yakin. Anda merasa bahwa Anda tahu apa itu baik. Anda merasa bahwa Anda bisa menjelaskannya. Anda tidak pernah mempertanyakan definisi Anda.
Fase kedua, Anda meragukan. Anda membaca tentang Open Question Argument. Anda menyadari bahwa setiap definisi tentang “baik” selalu bisa dipertanyakan. Anda mulai bertanya, “Apakah ada definisi yang sempurna? Atau apakah ‘baik’ itu tidak bisa didefinisikan?”
Fase ketiga, Anda mencari posisi. Anda mungkin menerima bahwa “baik” tidak bisa didefinisikan. Anda mungkin mencari cara lain untuk memahami kebaikan. Anda mungkin memilih untuk hidup dengan intuisi moral. Anda mungkin memilih untuk menerima bahwa ada misteri dalam kebaikan.
Tanggapan-Tanggapan terhadap Open Question Argument
Para filsuf sudah mencoba menanggapi Open Question Argument. Tidak ada satu tanggapan yang diterima semua orang. Tetapi ada beberapa pendekatan yang menarik.
Yang pertama adalah menerima bahwa “baik” tidak bisa didefinisikan. Pendekatan ini mengatakan bahwa Moore benar. “Baik” adalah konsep sederhana. Ia tidak bisa dianalisis. Kita hanya bisa mengenalinya melalui intuisi.
Yang kedua adalah menolak bahwa “baik” tidak bisa didefinisikan. Pendekatan ini mengatakan bahwa Moore salah. “Baik” bisa didefinisikan, tetapi definisinya rumit. Mungkin “baik” adalah kumpulan dari banyak hal. Mungkin “baik” adalah fungsi dari banyak faktor.
Yang ketiga adalah membedakan antara definisi dan identitas. Pendekatan ini mengatakan bahwa “baik” dan “menyenangkan” mungkin identik secara metafisik, tetapi tidak identik secara konseptual. Kita bisa tahu bahwa sesuatu itu baik tanpa tahu bahwa itu menyenangkan. Jadi, pertanyaan itu tetap terbuka secara psikologis, tetapi tidak secara metafisik.
Yang keempat adalah menggunakan pendekatan kontekstual. Pendekatan ini mengatakan bahwa “baik” punya arti yang berbeda dalam konteks yang berbeda. “Baik” dalam konteks moral berbeda dari “baik” dalam konteks estetika. Jadi, tidak ada satu definisi yang berlaku untuk semua.
Kritik terhadap Open Question Argument
Open Question Argument tidak lepas dari kritik. Banyak filsuf menolak atau meragukan argumen ini.
Pertama, apakah pertanyaan yang terbuka selalu berarti definisi itu salah? Mungkin pertanyaan itu terbuka karena kita tidak cukup tahu. Mungkin jika kita tahu lebih banyak, pertanyaan itu akan tertutup.
Kedua, apakah intuisi kita tentang “baik” bisa diandalkan? Mungkin intuisi kita salah. Mungkin kita merasa pertanyaan itu terbuka karena kita sudah terbiasa berpikir begitu. Mungkin “baik” sebenarnya bisa didefinisikan, tetapi kita belum menemukan definisi yang tepat.
Ketiga, apakah Moore terlalu memisahkan antara fakta dan nilai? Mungkin fakta dan nilai saling terkait. Mungkin “baik” bisa didefinisikan dengan istilah alami jika kita memahami hubungan antara fakta dan nilai.
Keempat, apakah Open Question Argument hanya soal bahasa? Mungkin masalahnya bukan pada “baik” itu sendiri, tetapi pada cara kita menggunakan kata “baik.” Mungkin dalam bahasa lain, “baik” bisa didefinisikan dengan mudah.
Cara Menyikapi Open Question Argument
Pertama, akui bahwa “baik” itu sulit didefinisikan. Jangan berpura-pura bahwa Anda punya jawaban yang sempurna. Mengakui kerumitan adalah langkah pertama menuju pemahaman.
Kedua, jangan berhenti bertanya. Open Question Argument mengajak kita untuk terus bertanya. Ketika seseorang memberikan definisi tentang “baik,” tanyakan, “Apakah itu benar-benar mencakup semua kebaikan? Apakah ada pengecualian?”
Ketiga, gunakan intuisi Anda. Anda mungkin tidak bisa mendefinisikan “baik,” tetapi Anda bisa mengenalinya. Ketika Anda melihat kebaikan, Anda tahu. Ketika Anda melihat kejahatan, Anda tahu. Percayai intuisi itu, meskipun Anda tidak bisa menjelaskannya.
Keempat, hargai keragaman. “Baik” mungkin punya arti yang berbeda bagi orang yang berbeda. Jangan memaksakan definisi Anda pada orang lain. Dengarkan. Belajar. Terbuka.
Kelima, jangan gunakan “baik” untuk menipu. “Baik” adalah kata yang kuat. Ia bisa digunakan untuk memanipulasi. “Ini baik untuk Anda.” “Itu baik untuk negara.” “Dia orang baik.” Tanyakan selalu, “Baik menurut siapa? Baik untuk apa?”
Keenam, hidup dengan integritas. Anda mungkin tidak bisa mendefinisikan “baik,” tetapi Anda bisa berusaha menjadi baik. Anda bisa berbuat baik. Anda bisa memilih yang baik. Tindakan lebih penting daripada definisi.
Ketujuh, rendah hati. Anda tidak punya semua jawaban. Tidak ada yang punya semua jawaban. “Baik” adalah misteri. Terimalah bahwa Anda mungkin tidak akan pernah sepenuhnya memahaminya.
Kedelapan, fokus pada tindakan. Terlalu banyak berpikir tentang apa itu “baik” bisa membuat Anda lumpuh. Kadang yang paling penting bukanlah definisi, tetapi bagaimana Anda memperlakukan orang lain. Mulailah dari sana.
Penutup
Open Question Argument mengajarkan satu hal yang mendalam. “Baik” bukanlah konsep yang sederhana. Ia tidak bisa didefinisikan dengan mudah. Setiap definisi selalu bisa dipertanyakan. Setiap jawaban selalu membuka pertanyaan baru.
Ini bisa terasa menakutkan. Jika kita tidak bisa mendefinisikan “baik,” bagaimana kita bisa tahu apa yang harus dilakukan? Tetapi ini juga bisa terasa membebaskan. Kita tidak perlu punya definisi yang sempurna. Kita hanya perlu berusaha. Kita hanya perlu bertanya. Kita hanya perlu hidup.
Maka izinkan saya bertanya kepada Anda, Pembaca. Apakah Anda pernah mencoba mendefinisikan “baik”? Apakah Anda pernah merasa bahwa definisi Anda tidak sempurna? Dan jika ya, apa yang membuat Anda tetap berbuat baik? Apakah intuisi? Apakah iman? Apakah kebiasaan? Atau apakah Anda hanya tahu bahwa itu baik, tanpa bisa menjelaskan mengapa?
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai menghargai misteri kebaikan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Open Question Argument: Kenapa “Baik” Nggak Bisa Cuma Dijelasin Pakai “Menyenangkan”?
Coba inget lagi. Lo lagi debat sama seseorang. Mungkin soal pilihan hidup. Mungkin soal politik. Mungkin soal hubungan. Lo nanya, “Sebenernya, apa sih yang bikin sesuatu disebut baik?”
Dia jawab dengan pede. “Ya yang bikin senang. Baik itu ya yang menyenangkan.”
Lo diem sebentar. Lo mikir. Terus lo nanya lagi. “Tapi apa semua yang menyenangkan itu baik?”
Dia mulai bingung. Dia coba jawab. Tapi jawabannya muter. Dia bilang, “Ya nggak semua. Tapi yang baik itu ya yang menyenangkan.”
Lo nanya lagi. “Jadi, baik itu sama dengan menyenangkan? Atau menyenangkan itu cuma salah satu ciri dari baik?”
Dia makin bingung. Dia ngerasa ada yang aneh. Tapi dia nggak tau di mana anehnya. Dan lo juga mulai bingung. Karena lo ngerasa pertanyaan lo valid. Tapi lo nggak bisa ngejelasin kenapa.
Itulah yang disebut Open Question Argument. Dan gue jamin, setelah baca ini, lo bakal liat kata “baik” dengan mata yang beda.
Sebenernya Open Question Argument Itu Apa Sih?
Open Question Argument itu simpelnya gini: kalo lo coba definisiin “baik” pakai istilah lain, misalnya “menyenangkan,” lo selalu bisa nanya lagi, “Tapi apa yang menyenangkan itu baik?” Dan pertanyaan itu tetap masuk akal.
Artinya, “baik” nggak bisa diganti sama “menyenangkan.” Karena kalo dua kata itu artinya sama persis, pertanyaan “apa yang menyenangkan itu baik?” bakal kedengeran aneh. Sama kayak nanya, “Apa bujangan itu belum menikah?” Itu pertanyaan yang jawabannya udah ada di definisinya. Nggak perlu ditanya.
Tapi “apa yang menyenangkan itu baik?” bukan pertanyaan yang aneh. Itu pertanyaan yang beneran bisa lo tanyain. Dan jawabannya nggak otomatis. Kadang iya. Kadang nggak. Dan karena pertanyaan itu tetap terbuka, artinya “baik” bukan cuma “menyenangkan.”
Itulah inti Open Question Argument.
Argumen ini pertama kali dikemukain sama filsuf Inggris namanya G.E. Moore. Dia hidup di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dia nulis buku terkenal judulnya Principia Ethica. Terbit tahun 1903. Di buku itu, dia ngejelasin argumen ini. Dan argumen ini ngubah cara orang ngomongin moral.
Kenapa Ini Penting Banget Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma soal kata. Gue nggak peduli.” Tapi tunggu dulu. Open Question Argument nyentuh hidup lo dengan cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah ngerasa nggak puas sama definisi yang dikasih orang. Ada yang bilang, “Baik itu ya yang bikin bahagia.” Lo nanya, “Tapi apa semua yang bikin bahagia itu baik?” Dia diem. Lo ngerasa ada yang bolong. Tapi lo nggak bisa ngejelasin kenapa.
Kedua, lo mungkin pernah debat moral yang nggak ada ujungnya. Lo bilang, “Itu salah.” Dia bilang, “Itu bener.” Lo kasih alasan. Dia kasih alasan. Tapi nggak ada yang menang. Karena lo nggak pernah sepakat soal apa artinya “bener” dan “salah” itu sendiri.
Ketiga, lo mungkin pernah ngerasa moral lo goyah. Lo yakin sesuatu itu baik. Tapi lo nggak bisa ngejelasin kenapa. Lo cuma ngerasa. Lo cuma yakin. Dan lo mulai nanya, “Kok gue bisa yakin? Dari mana keyakinan ini dateng?”
Keempat, lo mungkin pernah ngerasa ada yang salah sama definisi yang dipaksain. Ada yang bilang, “Baik itu ya yang berguna.” Lo nanya, “Tapi apa semua yang berguna itu baik?” Dia diem. Dan lo mulai mikir. Mungkin “baik” itu nggak bisa didefinisiin cuma pakai satu kata.
Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh Argumen Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur. Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah nanya “tapi apa semua yang menyenangkan itu baik?” Itu tanda lo lagi nyentuh Open Question Argument.
Lo pernah ngerasa nggak puas sama definisi moral yang dikasih orang? Itu tanda lo lagi mikir.
Lo pernah debat moral yang nggak ada ujungnya? Itu tanda lo lagi nyentuh perbedaan fondasi.
Lo pernah ngerasa “baik” itu susah didefinisiin? Itu tanda lo lagi mikir.
Lo pernah mikir “kalo baik itu cuma X, kenapa pertanyaannya masih masuk akal?” Itu tanda lo lagi nyentuh inti argumen ini.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih, selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin sesuatu yang bener-bener dalem. Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda lo mikir.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di keluarga. Lo ngajarin anak lo buat jujur. Lo bilang, “Jujur itu baik.” Anak lo nanya, “Kenapa jujur itu baik?” Lo jawab, “Karena jujur bikin orang percaya sama kita.” Anak lo nanya lagi, “Tapi apa semua yang bikin orang percaya itu baik?” Lo diem. Lo nggak pernah mikir sampe situ. Lo cuma nerima. Lo cuma ngikutin. Lo nggak pernah nanya fondasinya.
Di kerjaan. Bos lo bilang, “Yang penting perusahaan untung. Itu baik.” Lo nanya, “Tapi apa semua yang bikin untung itu baik?” Bos lo diem. Dia nggak pernah mikir sampe situ. Dia cuma ngejar untung. Dia cuma ngejar target. Dia nggak pernah nanya apa artinya “baik” itu sendiri.
Di medsos. Lo liat perdebatan soal moral. Satu pihak bilang, “Baik itu ya yang bikin bahagia.” Pihak lain bilang, “Baik itu ya yang sesuai aturan.” Dua-duanya punya definisi. Dua-duanya yakin. Tapi lo nanya, “Apa semua yang bikin bahagia itu baik? Apa semua yang sesuai aturan itu baik?” Dua-duanya diem. Karena pertanyaannya tetap terbuka.
Di politik. Politisi bilang, “Kebijakan ini baik buat rakyat.” Lo nanya, “Baik buat rakyat yang mana? Baik dalam arti apa? Baik menurut siapa?” Dia diem. Dia cuma ngomong “baik” tanpa ngejelasin apa artinya. Dan lo mulai mikir. Mungkin “baik” itu nggak bisa cuma didefinisiin pakai satu ukuran.
Di diri lo sendiri. Lo lagi ngadepin keputusan sulit. Lo nanya, “Apa yang harus gue lakuin?” Lo cari definisi “baik.” Lo cari definisi “bener.” Tapi lo nggak nemuin. Karena “baik” dan “bener” nggak bisa didefinisiin cuma pakai satu kata. Lo harus nimbang. Lo harus mikir. Lo harus ngerasain.
Fase-Fase Lo Ngadepin Argumen Ini
Fase pertama: lo ngerasa puas.
Lo punya definisi. Lo punya ukuran. Lo punya standar. Lo nggak pernah nanya apakah definisi lo bener. Lo cuma pake. Lo cuma jalanin.
Fase kedua: lo ngeraguin.
Lo mulai denger argumen ini. Lo mulai nanya, “Apa definisi gue bener? Apa ‘baik’ itu cuma ‘menyenangkan’? Apa ‘baik’ itu cuma ‘berguna’? Apa ‘baik’ itu cuma ‘diinginkan’?” Lo mulai bingung. Lo mulai ngerasa ada yang bolong.
Fase ketiga: lo nyari jawaban.
Lo mulai baca filsafat. Lo mulai mikir lebih dalem. Lo mulai nanya, “Kalo ‘baik’ nggak bisa didefinisiin, gimana gue bisa tau apa yang baik? Kalo ‘baik’ itu sederhana, gimana gue bisa ngenalinnya?” Lo mungkin nemuin jawaban. Lo mungkin nggak nemuin jawaban. Tapi lo terus nyari.
Kritik: Kenapa Banyak yang Nggak Setuju?
Open Question Argument nggak lepas dari kritik. Banyak filsuf nolak atau ngeraguin argumen ini.
Pertama, masalah makna dan rujukan. Dua kata bisa ngerujuk pada hal yang sama, tapi punya makna yang beda. Contoh: “Bintang Kejora” dan “Bintang Senja” ngerujuk pada planet yang sama, Venus. Tapi maknanya beda. Jadi, mungkin “baik” dan “menyenangkan” ngerujuk pada hal yang sama, tapi maknanya beda. Kalo gitu, pertanyaan “apa yang menyenangkan itu baik?” tetap terbuka, tapi bukan karena “baik” nggak sama dengan “menyenangkan.”
Kedua, masalah definisi yang rumit. Mungkin “baik” nggak bisa didefinisiin pakai satu kata sederhana. Tapi mungkin bisa didefinisiin pakai kombinasi banyak kata. Mungkin “baik” itu “yang bikin senang tanpa bikin sakit dalam jangka panjang.” Atau “yang bikin hidup lebih berharga.” Kalo definisinya lebih rumit, pertanyaan “apa X itu baik?” mungkin jadi tertutup.
Ketiga, masalah intuisi. Open Question Argument ngandelin intuisi kita. Kita ngerasa pertanyaan “apa yang menyenangkan itu baik?” tetap terbuka. Tapi intuisi bisa salah. Intuisi bisa bias. Intuisi bisa dipengaruhi budaya. Jadi, mungkin pertanyaan itu sebenernya tertutup, tapi kita cuma ngerasa terbuka.
Keempat, masalah non-naturalisme. Moore nyimpulin bahwa “baik” itu non-natural. Artinya, “baik” nggak ada di dunia fisik. Tapi banyak filsuf nolak non-naturalisme. Mereka bilang, “Kalo ‘baik’ nggak ada di dunia fisik, di mana dia ada? Gimana kita bisa tau tentang dia? Gimana kita bisa ngenalinnya?”
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Open Question Argument punya tanggapan. Mereka nggak selalu bilang argumen ini sempurna. Mereka sering bilang argumen ini nunjukin sesuatu yang penting.
Mereka bilang, bahkan kalo “baik” dan “menyenangkan” ngerujuk pada hal yang sama, pertanyaan “apa yang menyenangkan itu baik?” tetap punya nilai. Karena pertanyaan itu ngingetin kita bahwa “baik” bukan cuma soal sensasi. “Baik” punya dimensi normatif. “Baik” punya dimensi nilai. Dan nilai nggak bisa direduksi jadi fakta.
Mereka juga bilang, kalaupun definisi “baik” bisa dibuat lebih rumit, pertanyaan itu tetap berguna. Karena pertanyaan itu ngingetin kita bahwa definisi apa pun bisa dipertanyakan. Definisi apa pun bisa dikritik. Definisi apa pun bisa diperbaiki.
Mereka juga bilang, intuisi itu penting. Kalaupun intuisi bisa salah, intuisi tetap titik awal yang baik. Kita nggak bisa mulai dari nol. Kita harus mulai dari sesuatu. Dan intuisi kita tentang “baik” adalah sesuatu.
Cara Nyikapin Open Question Argument Tanpa Kehilangan Akal
1. Jangan cari definisi tunggal.
“Baik” itu kompleks. “Baik” itu berlapis. “Baik” itu nggak bisa direduksi jadi satu kata. Jadi, jangan buang waktu nyari definisi tunggal yang sempurna. Terima bahwa “baik” itu punya banyak dimensi.
2. Bedain antara definisi dan nilai.
Definisi ngomongin arti kata. Nilai ngomongin apa yang penting. Dua-duanya beda. Jangan campur aduk. Jangan ngira kalo lo udah definisiin “baik,” lo udah selesai. Karena definisi bukan segalanya.
3. Tanya terus.
Waktu ada yang bilang, “Baik itu X,” tanya, “Tapi apa X itu baik?” Terus tanya lagi. Terus tanya lagi. Sampai lo nemuin jawaban yang memuaskan. Atau sampai lo sadar bahwa nggak ada jawaban yang sempurna.
4. Terima kompleksitas.
Hidup ini kompleks. Moral itu kompleks. “Baik” itu kompleks. Jangan cari jawaban yang gampang. Jangan cari jawaban yang sederhana. Terima bahwa ada hal-hal yang nggak bisa dijelasin dengan satu kata.
5. Jangan dogmatis.
Jangan ngerasa definisi lo yang paling bener. Jangan ngerasa definisi lo yang paling sempurna. Terbuka pada definisi lain. Terbuka pada pandangan lain. Terbuka pada kritik.
6. Gunain intuisi, tapi jangan cuma intuisi.
Intuisi itu penting. Tapi intuisi bukan segalanya. Pake akal lo. Pake logika lo. Pake pengalaman lo. Pake pengetahuan lo. Jangan cuma ngerasa. Coba juga mikir.
7. Hormati perbedaan.
Orang lain punya definisi “baik” yang beda. Orang lain punya nilai yang beda. Lo nggak perlu setuju. Tapi lo perlu ngormatin. Karena lo juga nggak punya bukti mutlak bahwa definisi lo yang bener.
8. Fokus pada praktik.
Kadang, definisi “baik” nggak segitu penting. Yang penting adalah gimana lo hidup. Gimana lo memperlakukan orang lain. Gimana lo ngambil keputusan. Gimana lo bertanggung jawab. Fokus pada itu. Bukan cuma pada definisi.
9. Terima kalo lo nggak akan pernah punya jawaban sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin dengan pasti apa artinya “baik.” Lo cuma bisa hidup dengan ketidakpastian itu. Dan itu nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan Kesalahan Moral
Yang paling lo takutin bukan salah. Bukan dosa. Bukan pelanggaran.
Yang paling lo takutin adalah: kalo lo sadar lo nggak pernah tau apa artinya “baik.” Kalo lo sadar lo cuma ngikutin definisi yang diwarisin orang lain. Kalo lo sadar lo cuma ngejudge berdasarkan standar yang lo sendiri nggak ngerti dari mana datengnya. Kalo lo sadar lo udah debat bertahun-tahun tanpa pernah nanya, “Sebenernya, apa sih yang kita perdebatkan?”
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo bisa nanya. Kalo lo sadar, lo bisa mikir. Kalo lo sadar, lo bisa nyari. Kalo lo sadar, lo bisa lebih bijak. Kalo lo sadar, lo bisa lebih rendah hati.
Open Question Argument bukan tentang ngerusak moral. Dia tentang ngerti moral. Dia tentang ngebuka pertanyaan yang selama ini lo tutup. Dia tentang ngajarin lo buat lebih jujur sama diri sendiri.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal Nemenin Lo Tidur
Open Question Argument ngajarin satu hal yang menantang. “Baik” nggak bisa didefinisiin cuma pakai satu kata. “Baik” nggak bisa diganti sama “menyenangkan.” “Baik” nggak bisa diganti sama “berguna.” “Baik” nggak bisa diganti sama “diinginkan.” Karena pertanyaannya selalu tetap terbuka. “Tapi apa yang menyenangkan itu baik?” “Tapi apa yang berguna itu baik?” “Tapi apa yang diinginkan itu baik?”
Ini bisa berasa menakutkan. Kalo “baik” nggak bisa didefinisiin, gimana lo bisa tau apa yang baik? Tapi ini juga bisa berasa membebaskan. Lo nggak perlu definisi yang sempurna. Lo nggak perlu jawaban yang mutlak. Lo cuma perlu terus nanya. Terus mikir. Terus belajar.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Waktu lo bilang “itu baik,” sebenernya apa yang lo maksud? Lo lagi nyatain fakta? Lo lagi ngekspresiin perasaan? Lo lagi ngikutin aturan? Atau lo lagi nyari jawaban?
Dan kalo lo nggak tau, lo siap nggak buat nyari? Lo siap nggak buat mikir? Lo siap nggak buat nanya?
Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa ngingetin: lo nggak harus punya jawaban sekarang. Lo cuma harus mulai jujur sama diri sendiri. Lo cuma harus mulai mikir. Lo cuma harus mulai nanya.
Selamat merenung. Atau setidaknya, selamat mulai mikir soal arti “baik” itu sendiri.
