Occam’s Razor: Mengapa Jawaban Paling Sederhana Sering Kali Paling Benar?
Pernahkah Anda mendengar
seseorang menjelaskan sesuatu
dengan cara yang sangat rumit?
Ia menggunakan banyak istilah.
Ia menambahkan banyak asumsi.
Ia membuat banyak teori. Anda
merasa pusing. Anda merasa
jawabannya terlalu berbelit belit.
Lalu Anda bertanya dalam hati,
“Apakah ada penjelasan yang
lebih sederhana?”
Atau pernahkah Anda mengalami
situasi di mana ada dua penjelasan
untuk satu kejadian?
Yang satu sederhana. Yang satu
rumit. Yang mana yang harus
Anda percayai?
Seorang filsuf abad pertengahan
bernama William dari Ockham
mengajukan sebuah prinsip yang
membantu kita menjawab
pertanyaan itu. Prinsip itu
kemudian dikenal sebagai
Occam’s Razor. Mari saya ajak
Anda masuk ke dalamnya.
Siapa Itu William dari Ockham?
William dari Ockham adalah seorang
filsuf dan teolog Inggris yang hidup
sekitar tahun 1287 sampai 1347.
Ia adalah seorang biarawan
Fransiskan. Ia dikenal karena
pemikirannya yang tajam dan kritis.
Ia menulis banyak tentang logika,
teologi, dan politik. Ia juga terkenal
karena prinsip yang kemudian
dinamai dengan namanya.
William tidak pernah menggunakan
istilah “Occam’s Razor” sendiri.
Istilah itu muncul kemudian. Tetapi
prinsipnya jelas dalam tulisan
tulisannya. Ia sering mengatakan
bahwa penjelasan yang lebih
sederhana lebih disukai daripada
penjelasan yang lebih rumit.
Ia juga mengatakan bahwa kita
tidak boleh menambahkan
asumsi yang tidak perlu.
Apa Itu Occam’s Razor?
Occam’s Razor adalah prinsip logika
yang mengatakan bahwa penjelasan
yang paling sederhana biasanya
adalah yang terbaik.
Jika ada dua penjelasan yang sama
sama bisa menjelaskan suatu
fenomena, maka kita harus memilih
yang lebih sederhana. Kita harus
memilih yang memiliki asumsi
paling sedikit.
Kata “razor” dalam nama ini adalah
metafora. Ia berarti alat untuk
memotong. Occam’s Razor
memotong penjelasan yang tidak
perlu. Ia memotong asumsi yang
berlebihan. Ia memotong kerumitan
yang tidak membantu.
Prinsip ini tidak mengatakan bahwa
penjelasan sederhana selalu benar.
Ia tidak mengatakan bahwa dunia
ini selalu sederhana. Ia hanya
mengatakan bahwa ketika kita
dihadapkan pada dua penjelasan
yang sama sama masuk akal, kita
sebaiknya memilih yang lebih
sederhana. Mengapa?
Karena penjelasan yang lebih
sederhana lebih mudah diuji.
Penjelasan yang lebih sederhana
lebih mudah dipahami. Penjelasan
yang lebih sederhana lebih kecil
kemungkinannya untuk salah.
Contoh Klasik: Kuda atau Zebra?
Ada contoh klasik yang sering
digunakan untuk menjelaskan
Occam’s Razor. Bayangkan Anda
mendengar suara langkah kaki
di luar rumah Anda. Anda bertanya,
“Hewan apa itu?”
Ada dua penjelasan. Yang pertama,
itu adalah kuda. Yang kedua, itu
adalah zebra yang lepas dari
kebun binatang.
Penjelasan mana yang lebih
sederhana? Penjelasan kuda.
Mengapa? Karena di banyak
tempat, kuda lebih umum
daripada zebra. Penjelasan kuda
tidak memerlukan asumsi
tambahan. Penjelasan zebra
memerlukan asumsi tambahan.
Anda harus mengasumsikan bahwa
ada kebun binatang di dekat situ.
Anda harus mengasumsikan bahwa
ada zebra yang lepas. Anda harus
mengasumsikan bahwa zebra itu
berjalan di dekat rumah Anda.
Occam’s Razor tidak mengatakan
bahwa penjelasan zebra itu mustahil.
Ia hanya mengatakan bahwa
penjelasan kuda lebih masuk akal
sampai ada bukti yang menunjukkan
sebaliknya.
Mengapa Ini Penting untuk
Anda?
Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya prinsip filsuf.
Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda mendengar teori
konspirasi? Teori konspirasi sering
melibatkan banyak asumsi. Mereka
melibatkan banyak pelaku. Mereka
melibatkan banyak rahasia. Mereka
melibatkan banyak kebetulan.
Occam’s Razor mengajak kita untuk
bertanya, “Apakah ada penjelasan
yang lebih sederhana?”
Pernahkah Anda mendengar diagnosis
medis yang rumit?
Kadang dokter menemukan gejala yang
tidak biasa. Mereka bisa menduga
penyakit langka. Tetapi sering kali,
gejala itu disebabkan oleh sesuatu
yang umum. Occam’s Razor mengajak
dokter untuk mempertimbangkan
yang umum dulu sebelum yang langka.
Pernahkah Anda mengalami masalah
dalam hubungan?
Pasangan Anda tiba tiba dingin.
Anda bisa menduga yang
macam macam. Mungkin ia selingkuh.
Mungkin ia bosan. Mungkin ia punya
masalah di tempat kerja.
Occam’s Razor mengajak Anda untuk
bertanya, “Apa penjelasan yang
paling sederhana?”
Mungkin ia hanya lelah. Mungkin
ia hanya butuh waktu.
Pernahkah Anda membaca berita
yang mengejutkan?
Anda bisa langsung percaya. Anda
bisa langsung membagikannya.
Occam’s Razor mengajak Anda untuk
bertanya, “Apakah berita ini masuk
akal? Apakah ada penjelasan yang
lebih sederhana? Apakah ini mungkin
hanya kesalahpahaman? Apakah ini
mungkin hanya lelucon?”
Contoh Sederhana
di Kehidupan Sehari hari
Seorang mahasiswa terlambat masuk
kelas. Dosennya bertanya,
“Mengapa kamu terlambat?”
Mahasiswa itu menjawab,
“Ban motor saya bocor. Lalu saya
harus mencari tambal. Lalu saya
harus menunggu. Lalu saya tersesat.
Lalu saya kehabisan bensin.”
Dosennya berpikir, “Atau mungkin
kamu hanya bangun kesiangan?”
Penjelasan kedua lebih sederhana.
Occam’s Razor mengajak kita untuk
mempertimbangkan yang
sederhana dulu.
Seorang karyawan melihat lampu
kantornya mati. Ia bertanya,
“Apakah ada konspirasi untuk
membuat saya gagal?”
Ia berpikir tentang saboteur.
Ia berpikir tentang musuh.
Ia berpikir tentang rencana jahat.
Lalu ia menyadari,
“Atau mungkin hanya lampunya
yang putus.” Penjelasan kedua
lebih sederhana.
Seorang pengguna media sosial
melihat berita tentang artis yang
meninggal. Ia langsung percaya.
Ia langsung berduka. Ia langsung
membagikannya. Lalu ia
menyadari,
“Atau mungkin ini hanya hoaks.”
Penjelasan kedua lebih sederhana.
Seorang ibu melihat anaknya
tiba tiba diam. Ia bertanya,
“Apakah anak saya sakit?
Apakah anak saya sedih?
Apakah anak saya punya masalah
di sekolah?”
Lalu ia bertanya langsung pada
anaknya. Anaknya menjawab,
“Aku hanya mengantuk, Bu.”
Penjelasan kedua lebih sederhana.
Seorang pengusaha melihat
penjualannya turun. Ia bertanya,
“Apakah ada kompetitor baru?
Apakah ada perubahan pasar?
Apakah ada masalah ekonomi?”
Lalu ia melihat kalender.
Ternyata sedang musim liburan.
Penjelasan kedua lebih sederhana.
Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Occam’s Razor bukan
hanya teori. Ia adalah alat praktis.
Ia membantu kita menghindari
pikiran yang berlebihan.
Kritik terhadap Occam’s
Razor
Occam’s Razor tidak lepas dari kritik.
Banyak filsuf dan ilmuwan menolak
atau meragukan prinsip ini.
Pertama, apakah dunia ini selalu
sederhana?
Kadang dunia ini rumit. Kadang
penjelasan yang benar memang
rumit. Fisika kuantum, misalnya,
sangat rumit. Jika kita selalu
memilih yang sederhana,
kita mungkin melewatkan
kebenaran yang lebih dalam.
Kedua, apa artinya sederhana?
Sederhana bisa berarti banyak hal.
Sederhana bisa berarti memiliki
lebih sedikit asumsi. Sederhana
bisa berarti memiliki lebih sedikit
variabel. Sederhana bisa berarti
lebih mudah dipahami. Sederhana
bisa berarti lebih elegan.
Tidak selalu jelas mana yang
dimaksud.
Ketiga, apakah Occam’s Razor
selalu bisa diterapkan?
Kadang dua penjelasan sama sama
sederhana. Kadang dua penjelasan
sama sama rumit. Dalam kasus
seperti itu, Occam’s Razor tidak
membantu.
Keempat, apakah Occam’s Razor
bisa menyesatkan?
Kadang penjelasan yang sederhana
justru salah. Kadang penjelasan
yang rumit justru benar. Jika kita
terlalu bergantung pada Occam’s
Razor, kita bisa melewatkan
kebenaran.
Tanggapan terhadap Kritik
Pendukung Occam’s Razor punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa penjelasan
sederhana selalu benar. Mereka
sering mengatakan bahwa penjelasan
sederhana adalah titik awal yang baik.
Mereka mengatakan bahwa
Occam’s Razor bukan hukum alam.
Ia adalah heuristik. Ia adalah aturan
praktis. Ia membantu kita
menyaring penjelasan. Ia membantu
kita memprioritaskan.
Mereka juga mengatakan bahwa jika
penjelasan sederhana ternyata salah,
kita bisa beralih ke penjelasan yang
lebih rumit. Occam’s Razor tidak
menutup pintu pada kerumitan.
Ia hanya menyarankan agar kita
memulai dari yang sederhana.
Mereka juga mengatakan bahwa
Occam’s Razor mengajak kita untuk
berpikir kritis. Ia mengajak kita
untuk bertanya, “Apakah asumsi
ini perlu? Apakah ada penjelasan
yang lebih mudah? Apakah saya
menambahkan kerumitan yang
tidak ada?”
Tiga Fase Menghadapi
Occam’s Razor
Fase pertama, Anda merasa bingung.
Anda dihadapkan pada banyak
penjelasan. Anda tidak tahu mana
yang harus dipilih. Anda merasa
kewalahan.
Fase kedua, Anda belajar tentang
Occam’s Razor. Anda mulai
bertanya, “Mana penjelasan yang
paling sederhana? Mana yang
memiliki asumsi paling sedikit?”
Anda mulai menyaring penjelasan.
Fase ketiga, Anda menggunakan
Occam’s Razor dengan bijak.
Anda tidak lagi langsung percaya
pada penjelasan yang rumit.
Anda tidak lagi langsung percaya
pada teori konspirasi. Anda mulai
bertanya, “Apakah ada penjelasan
yang lebih sederhana?”
Tetapi Anda juga tidak menolak
kerumitan jika memang diperlukan.
Cara Menyikapi Occam’s Razor
Pertama, mulailah dari yang
sederhana. Ketika Anda dihadapkan
pada suatu fenomena, coba jelaskan
dengan cara yang paling sederhana.
Jangan langsung menambahkan
asumsi yang tidak perlu.
Kedua, tanyakan asumsinya.
Ketika seseorang memberikan
penjelasan, tanyakan,
“Asumsi apa yang digunakan?
Apakah asumsi itu perlu?
Apakah ada penjelasan yang tidak
memerlukan asumsi itu?”
Ketiga, jangan langsung percaya pada
yang rumit. Teori konspirasi sering
terasa menarik karena rumit.
Mereka memberi kita rasa bahwa
kita tahu sesuatu yang orang lain
tidak tahu. Tetapi Occam’s Razor
mengajak kita untuk berhati hati.
Keempat, jangan langsung menolak
yang rumit. Kadang penjelasan
yang rumit memang benar.
Kadang dunia ini memang
kompleks. Occam’s Razor bukan
alasan untuk malas berpikir.
Ia adalah alat untuk berpikir
lebih jernih.
Kelima, gunakan Occam’s Razor
pada diri sendiri. Ketika Anda
membuat alasan untuk kesalahan
Anda, tanyakan,
“Apakah alasan ini terlalu rumit?
Apakah ada alasan yang lebih
sederhana?
Apakah saya hanya mencari
pembenaran?”
Keenam, gunakan Occam’s Razor
pada masalah Anda. Ketika Anda
menghadapi masalah, tanyakan,
“Apa penyebab yang paling sederhana?
Apa yang bisa saya ubah dengan
mudah? Apakah saya membuat
masalah ini lebih rumit dari yang
seharusnya?”
Ketujuh, jangan jadikan Occam’s
Razor sebagai dogma. Ia adalah alat.
Ia bukan agama. Kadang alat ini
berguna. Kadang alat ini tidak
berguna. Gunakan dengan bijak.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak
tahu segalanya. Penjelasan
sederhana mungkin benar.
Penjelasan rumit mungkin benar.
Dunia ini penuh misteri.
Terbukalah pada kemungkinan.
Penutup
Occam’s Razor mengajarkan satu
hal yang praktis. Ketika Anda
dihadapkan pada banyak penjelasan,
pilihlah yang paling sederhana.
Bukan karena yang sederhana selalu
benar. Tetapi karena yang sederhana
lebih mudah diuji. Yang sederhana
lebih mudah dipahami.
Yang sederhana lebih kecil
kemungkinannya untuk salah.
Ini bisa terasa membebaskan. Anda
tidak perlu membuat hidup ini lebih
rumit dari yang seharusnya. Anda
tidak perlu melihat konspirasi
di mana mana. Anda tidak perlu
menambahkan asumsi yang tidak
perlu. Anda bisa memulai dari
yang sederhana.
Tetapi ini juga bisa terasa menantang.
Kadang penjelasan sederhana tidak
memuaskan. Kadang kita ingin
jawaban yang lebih dramatis.
Kadang kita ingin jawaban yang
lebih rumit. Occam’s Razor
mengajak kita untuk rendah hati.
Kadang jawaban yang sederhana
sudah cukup.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda sering
membuat masalah menjadi lebih
rumit dari yang seharusnya?
Apakah Anda sering menambahkan
asumsi yang tidak perlu?
Apakah Anda bersedia untuk mulai
melihat dunia dengan lebih
sederhana?
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai memotong
kerumitan yang tidak perlu.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Occam’s Razor: Kenapa Jawaban
Paling Simpel Sering Kali yang
Paling Bener?
Coba inget lagi. Lo lagi chat sama
gebetan. Atau pacar. Atau seseorang
yang lagi deket sama lo. Tiba-tiba dia
dingin. Bales chat lama. Singkat.
Nggak ada emoji. Nggak ada tanya
balik. Cuma “oh”, “iya”, “ok”.
Otak lo langsung jalan. Lo mulai mikir
yang macem-macem.
“Dia bosan ya sama gue?
Dia ketemu orang lain ya?
Dia lagi marah ya?
Apa gue salah ngomong?
Apa gue terlalu clingy?
Apa dia mau putus?”
Lo scroll chat lama. Lo analisis
setiap kata. Lo tanya temen lo.
Lo bikin skenario di kepala lo.
Lo nggak bisa tidur. Lo ngerasa
cemas. Lo ngerasa takut.
Lo ngerasa ada yang salah.
Terus besoknya, dia chat lagi.
Panjang. Hangat. Penuh emoji.
Lo nanya, “Kemarin kenapa dingin?”
Dia jawab, “Sorry, kemarin HP
gue ketinggalan di kantor.”
Diem.
Lo ngerasa bodoh. Lo ngerasa udah
buang-buang energi. Lo ngerasa
udah bikin drama yang nggak perlu.
Padahal jawabannya simpel.
Terlalu simpel. Sampai lo nggak
kepikiran.
Itulah pelajaran pertama tentang
Occam’s Razor. Dan gue jamin,
setelah baca ini, lo bakal liat
masalah lo dengan mata yang
beda.
Sebenernya Occam’s Razor
Itu Apa Sih?
Occam’s Razor itu simpelnya gini:
kalo ada dua penjelasan yang
sama-sama masuk akal, pilih
yang paling sederhana.
Bukan berarti yang sederhana selalu
bener. Bukan berarti dunia ini selalu
simpel. Tapi ketika lo dihadapkan
pada dua penjelasan yang dua-duanya
bisa jelasin sesuatu, lo sebaiknya
milih yang asumsinya paling sedikit.
Yang paling nggak ribet. Yang paling
nggak butuh teori tambahan.
Kata “razor” di situ artinya pisau.
Alat buat motong. Occam’s Razor
motong penjelasan yang nggak perlu.
Motong asumsi yang berlebihan.
Motong kerumitan yang cuma
bikin lo pusing.
Prinsip ini dinamain dari William
dari Ockham. Filsuf dan teolog
Inggris yang hidup sekitar tahun
1287 sampe 1347. Dia biarawan
Fransiskan. Dia terkenal karena
pemikirannya yang tajam. Dia sering
bilang bahwa penjelasan yang lebih
sederhana lebih disukai daripada
penjelasan yang rumit. Dia juga
bilang kita nggak boleh nambahin
asumsi yang nggak perlu.
Dia sendiri nggak pernah pake istilah
“Occam’s Razor.” Istilah itu muncul
belakangan. Tapi prinsipnya jelas
dalam tulisan-tulisannya.
Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
prinsip filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Prinsip ini nyentuh
hidup lo dengan cara yang sangat
pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah
bikin masalah yang nggak ada.
Lo ngerasa ada yang salah.
Lo ngerasa orang lain lagi marah.
Lo ngerasa ada konspirasi.
Lo ngerasa ada yang ngomongin lo
di belakang. Padahal nggak ada.
Padahal cuma perasaan lo. Padahal
cuma pikiran lo yang terlalu jauh.
Kedua, lo mungkin pernah
percaya hoaks.
Lo liat berita. Lo liat video.
Lo liat postingan. Lo langsung
percaya. Lo langsung bagi. Lo nggak
nanya, “Ini masuk akal nggak?
Ini terlalu rumit nggak?
Ada penjelasan yang lebih
sederhana nggak?”
Ketiga, lo mungkin pernah
terjebak dalam alasan yang
rumit buat kesalahan lo.
Lo nggak mau ngaku salah. Jadi lo
bikin alasan. Lo bikin pembenaran.
Lo bikin cerita yang berbelit-belit.
Padahal jawabannya simpel.
Lo salah. Lo khilaf. Lo lalai.
Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa cemas karena
overthinking.
Lo mikir terlalu banyak.
Lo analisis terlalu dalam.
Lo bikin skenario yang nggak
pernah terjadi. Lo bikin masalah
yang nggak ada. Dan lo capek.
Lo capek sama pikiran lo sendiri.
Tanda-Tanda Lo Butuh
Occam’s Razor
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah ngerasa
orang lagi marah sama lo,
padahal nggak?
Itu tanda lo butuh Occam’s
Razor.Lo pernah bikin cerita
panjang buat jelasin
kenapa lo telat, padahal
cuma kesiangan?
Itu tanda lo butuh Occam’s
Razor.Lo pernah percaya teori
konspirasi yang rumit
tanpa bukti?
Itu tanda lo butuh Occam’s
Razor.Lo pernah ngerasa ada yang
ngomongin lo, padahal
cuma lo yang mikir gitu?
Itu tanda lo butuh Occam’s
Razor.Lo pernah ngerasa hidup lo
hancur karena satu
masalah kecil?
Itu tanda lo butuh Occam’s
Razor.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo butuh alat buat
motong kerumitan. Dan itu nggak
apa-apa. Itu langkah pertama.
Analogi: Lo Kayak Detektif
yang Kebanyakan Teori
Coba bayangin lo detektif. Lo lagi
nyelesain kasus. Ada kucing hilang.
Lo punya banyak teori. Mungkin
kucing itu diculik tetangga.
Mungkin kucing itu kabur ke hutan.
Mungkin kucing itu diculik
sindikat internasional. Mungkin
kucing itu diculik alien.
Lo bikin peta. Lo bikin timeline.
Lo bikin daftar tersangka.
Lo bikin analisis. Lo pusing sendiri.
Terus lo sadar. Kucing itu ada
di bawah kasur. Dia sembunyi.
Dia lagi malu. Dia lagi males.
Itulah Occam’s Razor. Lo nggak
perlu bikin teori yang rumit.
Lo cukup liat ke bawah kasur.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di chat. Gebetan lo bales singkat.
Lo mikir dia bosan. Lo mikir dia
ketemu orang lain. Lo mikir dia
mau putus. Padahal HP-nya lagi
di-charge. Padahal dia lagi sibuk
kerja. Padahal dia cuma lagi capek.
Di kerjaan. Atasan lo tiba-tiba
jutek. Lo mikir lo mau dipecat.
Lo mikir lo bikin kesalahan.
Lo mikir ada yang ngadu. Padahal
dia lagi sakit kepala. Padahal dia
lagi ada masalah di rumah.
Padahal dia cuma kurang tidur.
Di pertemanan. Temen lo nggak
bales chat. Lo mikir dia ngejauhin
lo. Lo mikir dia ngomongin lo.
Lo mikir dia udah nggak suka sama
lo. Padahal dia lagi sibuk. Padahal
dia lagi ada masalah. Padahal dia
cuma lupa bales.
Di medsos. Lo liat berita yang bikin
heboh. Lo langsung percaya.
Lo langsung bagi. Lo langsung
komentar. Padahal itu hoaks. Padahal
itu cuma akun yang nyari sensasi.
Padahal itu cuma kesalahpahaman.
Di diri lo sendiri. Lo bikin kesalahan.
Lo telat. Lo lupa. Lo khilaf. Lo bikin
alasan yang panjang. Lo bikin
pembenaran yang rumit. Padahal
jawabannya simpel. Lo salah. Lo
minta maaf. Lo perbaiki. Selesai.
Fase-Fase Lo Belajar Pakai
Occam’s Razor
Fase pertama: lo nggak sadar lo
bikin masalah yang nggak perlu.
Lo hidup dalam pikiran lo sendiri.
Lo bikin skenario. Lo bikin teori.
Lo bikin drama. Lo nggak sadar
bahwa lo lagi nambahin kerumitan
yang nggak ada.
Fase kedua: lo sadar lo
kebanyakan mikir.
Lo mulai capek. Lo mulai ngerasa
cemas. Lo mulai ngerasa hidup lo
penuh masalah. Lo mulai nanya,
“Kok susah banget sih hidup gue?”
Terus lo sadar. Mungkin masalahnya
bukan hidup lo. Mungkin
masalahnya cara lo mikir.
Fase ketiga: lo mulai pakai
Occam’s Razor.
Lo mulai nanya, “Apa penjelasan
yang paling sederhana?”
Lo mulai nanya, “Apa asumsi yang
gue tambahin?” Lo mulai nanya,
“Apa gue kebanyakan mikir?”
Lo mulai motong kerumitan.
Lo mulai hidup lebih tenang.
Cara Pakai Occam’s Razor
Tanpa Kehilangan Akal
1. Mulai dari yang sederhana.
Waktu lo dihadapkan pada suatu
fenomena, coba jelasin dengan
cara yang paling simpel. Jangan
langsung nambahin asumsi yang
nggak perlu. Jangan langsung
bikin teori yang rumit. Mulai dari
yang paling gampang.
2. Tanya asumsinya.
Waktu seseorang ngasih penjelasan,
tanya: “Asumsi apa yang dipake?
Apa asumsi itu perlu?
Apa ada penjelasan yang nggak
butuh asumsi itu?”
Kalo asumsinya terlalu banyak,
curiga. Mungkin ada yang
disembunyiin.
3. Jangan langsung percaya
pada yang rumit.
Teori konspirasi sering berasa
menarik karena rumit. Mereka
ngasih lo rasa bahwa lo tau sesuatu
yang orang lain nggak tau.
Tapi Occam’s Razor ngajak lo
buat hati-hati. Kadang yang
rumit cuma kedengeran keren.
Padahal kosong.
4. Jangan langsung nolak
yang rumit.
Kadang penjelasan yang rumit
memang bener. Kadang dunia ini
memang kompleks. Occam’s Razor
bukan alasan buat males mikir.
Dia alat buat mikir lebih jernih.
Kalo yang simpel nggak cukup,
ya pake yang lebih rumit.
5. Gunain Occam’s Razor pada
diri lo sendiri.
Waktu lo bikin alasan buat
kesalahan lo, tanya: “Apa alasan ini
terlalu rumit? Apa ada alasan yang
lebih sederhana? Apa gue cuma
nyari pembenaran?” Jujur sama
diri sendiri. Itu langkah pertama.
6. Gunain Occam’s Razor pada
masalah lo.
Waktu lo ngadepin masalah, tanya:
“Apa penyebab yang paling
sederhana? Apa yang bisa gue ubah
dengan gampang? Apa gue bikin
masalah ini lebih rumit dari yang
seharusnya?” Kadang solusinya
simpel. Cuma lo yang nggak liat.
7. Jangan jadikan Occam’s
Razor sebagai dogma.
Dia alat. Bukan agama. Kadang alat
ini berguna. Kadang nggak. Gunain
dengan bijak. Jangan ngerasa
paling bener. Jangan ngerasa
paling tau.
8. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Penjelasan
simpel mungkin bener. Penjelasan
rumit mungkin bener. Dunia ini
penuh misteri. Terbuka sama
kemungkinan. Jangan nutup pintu.
9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin
dengan pasti apa yang bener dalam
setiap situasi. Lo cuma bisa hidup
dengan ketidakpastian itu. Dan itu
nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia.
Yang Paling Lo Takutin Bukan
Jawaban yang Salah
Yang paling lo takutin bukan
jawaban yang salah.
Bukan kesimpulan yang keliru.
Bukan teori yang nggak tepat.
Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo sadar lo udah
buang-buang waktu dan energi
buat mikirin hal yang nggak
perlu. Kalo lo sadar lo udah
bikin masalah yang nggak ada.
Kalo lo sadar lo udah nyiksa
diri lo sendiri dengan pikiran
yang nggak berujung.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar,
lo bisa berhenti. Kalo lo sadar,
lo bisa nimbang. Kalo lo sadar,
lo bisa motong. Kalo lo sadar,
lo bisa mulai dari yang simpel.
Bukan dari yang rumit. Bukan
dari yang bikin pusing.
Occam’s Razor bukan tentang jadi
orang yang males mikir. Dia tentang
jadi orang yang mikir dengan jernih.
Dia tentang ngasih lo izin buat
berhenti overthinking. Dia tentang
ngasih lo kebebasan buat percaya
bahwa jawaban yang simpel
kadang cukup.
Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur
Occam’s Razor ngajarin satu hal
yang praktis. Waktu lo dihadapkan
pada banyak penjelasan, pilihlah
yang paling sederhana. Bukan
karena yang sederhana selalu
bener. Tapi karena yang sederhana
lebih gampang diuji.
Yang sederhana lebih gampang
dipahami. Yang sederhana lebih
kecil kemungkinannya buat salah.
Ini bisa berasa membebaskan.
Lo nggak perlu bikin hidup ini lebih
rumit dari yang seharusnya.
Lo nggak perlu liat konspirasi
di mana-mana. Lo nggak perlu
nambahin asumsi yang nggak
perlu. Lo bisa mulai dari yang
sederhana.
Tapi ini juga bisa berasa menantang.
Kadang penjelasan sederhana nggak
memuaskan. Kadang kita pengen
jawaban yang lebih dramatis.
Kadang kita pengen jawaban yang
lebih rumit. Occam’s Razor ngajak
kita buat rendah hati.
Kadang jawaban yang sederhana
udah cukup.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo sering bikin masalah jadi
lebih rumit dari yang
seharusnya?
Lo sering nambahin asumsi
yang nggak perlu?
Lo siap buat mulai liat dunia
dengan lebih sederhana?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai jujur sama diri sendiri.
Lo cuma harus mulai motong.
Lo cuma harus mulai dari yang
simpel.
Selamat merenung. Atau
setidaknya, selamat mulai
motong kerumitan yang
nggak perlu.
