filsafat

Euthyphro Dilemma: Apakah Sesuatu Disebut Baik Karena Tuhan Memerintahkannya, atau Tuhan Memerintahkannya Karena Itu Baik?

Pernahkah Anda bertanya mengapa
sesuatu disebut baik dan sesuatu
disebut jahat?
Siapa yang menentukan?
Apakah baik dan jahat itu sudah ada
dengan sendirinya, atau ada yang
membuat aturan?
Jika ada yang membuat aturan,
siapa? Tuhan? Manusia? Alam?
Atau kesepakatan bersama?

Pertanyaan itu sudah ada sejak ribuan
tahun lalu. Ia menjadi salah satu
pertanyaan paling sulit dalam
filsafat agama dan etika. Pertanyaan
itu pertama kali diajukan oleh
Socrates dalam sebuah dialog yang
ditulis Plato. Dialog itu bernama
Euthyphro. Dari situ, pertanyaan
ini dikenal sebagai Euthyphro
Dilemma. Mari saya ajak Anda
masuk ke dalamnya.

Siapa Itu Euthyphro?

Euthyphro adalah seorang tokoh
dalam dialog Plato. Ia adalah seorang
yang taat beragama. Ia percaya
bahwa ia tahu apa yang benar dan
apa yang salah. Ia percaya bahwa ia
tahu apa yang disukai dewa dan apa
yang tidak disukai dewa.

Suatu hari, Euthyphro bertemu
Socrates di depan pengadilan.
Socrates sedang menghadapi
tuduhan. Ia dituduh tidak
menghormati dewa-dewa dan
merusak pemuda. Euthyphro
datang karena ia ingin menuntut
ayahnya sendiri. Ayahnya telah
membiarkan seorang pekerja mati
karena kelalaian. Euthyphro
merasa bahwa ia harus menuntut
ayahnya, meskipun itu berarti
melawan keluarganya. Ia merasa
bahwa itu adalah tindakan yang
saleh.

Socrates tertarik. Ia bertanya
kepada Euthyphro, “Apa itu saleh?
Apa itu kesalehan?”
Euthyphro menjawab dengan
percaya diri. Ia mengatakan bahwa
saleh adalah apa yang disukai dewa.
Tidak saleh adalah apa yang tidak
disukai dewa.

Socrates kemudian mengajukan
pertanyaan yang mengubah
segalanya. Ia bertanya,
“Apakah sesuatu disebut saleh
karena dewa menyukainya?
Atau dewa menyukainya karena
sesuatu itu saleh?”

Itulah Euthyphro Dilemma.

Apa Itu Euthyphro Dilemma?

Euthyphro Dilemma adalah
pertanyaan filosofis tentang dasar
moralitas. Ia mempertanyakan
hubungan antara moral dan otoritas
ilahi. Pertanyaannya sederhana.
Apakah sesuatu itu baik karena
Tuhan memerintahkannya?
Atau Tuhan memerintahkan
sesuatu karena itu sudah baik?

Ada dua kemungkinan jawaban.
Keduanya punya konsekuensi
yang berbeda. Keduanya punya
masalah yang berbeda.

Jawaban Pertama:
Baik Karena Tuhan
Memerintahkannya

Jika sesuatu disebut baik karena
Tuhan memerintahkannya, maka
moralitas bergantung sepenuhnya
pada kehendak Tuhan. Tidak ada
standar lain. Tidak ada ukuran lain.
Apa yang Tuhan katakan, itulah
yang benar. Apa yang Tuhan
larang, itulah yang salah.

Jawaban ini punya daya tarik.
Ia memberi kepastian.
Ia memberi landasan yang jelas.
Jika Anda bingung tentang apa
yang benar, Anda tinggal bertanya
pada Tuhan. Jika Anda bingung
tentang apa yang salah, Anda
tinggal mencari petunjuk Tuhan.

Tetapi jawaban ini juga punya
masalah. Jika baik dan jahat
ditentukan hanya oleh kehendak
Tuhan, maka Tuhan bisa saja
memerintahkan apa pun. Tuhan
bisa memerintahkan pembunuhan.
Tuhan bisa memerintahkan
penipuan. Tuhan bisa
memerintahkan kekejaman.
Dan jika Tuhan memerintahkannya,
maka itu menjadi baik.
Apakah Anda bisa menerima itu?

Masalah lain adalah ini. Jika baik
dan jahat hanya ditentukan oleh
kehendak Tuhan, maka kebaikan
Tuhan menjadi kosong. Ketika kita
mengatakan “Tuhan itu baik,”
kita hanya mengatakan bahwa
Tuhan sesuai dengan
kehendak-Nya sendiri. Itu tidak
berarti apa-apa. Kita tidak bisa
memuji Tuhan karena baik, karena
“baik” hanya berarti “apa yang
Tuhan perintahkan.”

Jawaban Kedua:
Tuhan Memerintahkan Karena
Itu Sudah Baik

Jika Tuhan memerintahkan sesuatu
karena itu sudah baik, maka ada
standar moral yang lebih tinggi dari
Tuhan. Ada prinsip kebaikan yang
independen. Tuhan tidak
menciptakan kebaikan.
Tuhan hanya mengenali kebaikan.
Tuhan tidak menentukan apa yang
baik. Tuhan hanya mengikuti apa
yang sudah baik.

Jawaban ini juga punya daya tarik.
Ia menjaga kebaikan Tuhan.
Ketika kita mengatakan
“Tuhan itu baik,” kita mengatakan
sesuatu yang bermakna. Tuhan itu
baik karena Tuhan sesuai dengan
standar kebaikan yang sejati.
Tuhan tidak sewenang-wenang.
Tuhan tidak berubah-ubah.
Tuhan konsisten.

Tetapi jawaban ini juga punya masalah.
Jika ada standar moral yang lebih
tinggi dari Tuhan, maka Tuhan
bukanlah yang tertinggi. Ada sesuatu
di atas Tuhan. Ada sesuatu yang
membatasi Tuhan. Apakah itu berarti
Tuhan tidak mahakuasa? Apakah itu
berarti Tuhan tidak maha
segala-galanya?

Masalah lain adalah ini. Jika standar
moral itu independen dari Tuhan,
dari mana standar itu datang?
Apakah standar itu ada dengan
sendirinya?
Apakah standar itu bagian dari alam
semesta? Apakah standar itu ciptaan
manusia? Jika standar itu tidak
berasal dari Tuhan, dari mana?

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya debat filsuf.
Saya tidak peduli.” Tetapi coba
lihat lagi.

Pernahkah Anda bertanya mengapa
Anda harus berbuat baik?
Apakah karena Anda takut pada
hukuman?
Apakah karena Anda ingin pahala?
Apakah karena Anda ingin diterima?
Apakah karena Anda benar-benar
percaya bahwa itu baik?

Euthyphro Dilemma juga muncul
dalam agama. Ketika seseorang
mengatakan, “Ini dosa karena Tuhan
melarangnya,” Anda bisa bertanya,
“Apakah Tuhan melarangnya karena
itu memang buruk?
Atau itu buruk hanya karena Tuhan
melarangnya?”
Jawaban atas pertanyaan itu
memengaruhi bagaimana Anda
memahami Tuhan.

Euthyphro Dilemma juga muncul
dalam hukum. Ketika pemerintah
membuat aturan, apakah aturan itu
baik karena pemerintah
membuatnya?
Atau pemerintah membuat aturan
karena itu baik? Jika aturan itu baik
hanya karena pemerintah
membuatnya, maka pemerintah bisa
membuat aturan apa pun.
Jika pemerintah membuat aturan
karena itu baik, maka ada standar
kebaikan yang lebih tinggi dari
pemerintah.

Euthyphro Dilemma juga muncul
dalam kehidupan sehari-hari. Ketika
Anda mendidik anak, apakah Anda
mengatakan, “Jangan mencuri karena
saya bilang begitu”? Atau Anda
mengatakan, “Jangan mencuri karena
mencuri itu menyakiti orang lain”?
Jawaban Anda mencerminkan
pandangan Anda tentang dasar moral.

Kritik terhadap Euthyphro
Dilemma

Euthyphro Dilemma tidak lepas dari
kritik. Beberapa filsuf berargumen
bahwa dilema ini salah karena
mengasumsikan pemisahan antara
Tuhan dan kebaikan.

Salah satu tanggapan adalah bahwa
Tuhan itu sendiri adalah kebaikan.
Kebaikan bukanlah standar yang
terpisah dari Tuhan. Kebaikan adalah
sifat Tuhan. Jadi ketika kita
mengatakan “Tuhan itu baik,”
kita tidak mengatakan bahwa Tuhan
mengikuti standar eksternal.
Kita mengatakan bahwa Tuhan adalah
sumber dan ukuran kebaikan itu
sendiri.

Tanggapan lain adalah bahwa dilema
ini hanya berlaku pada Tuhan yang
dipahami sebagai kehendak murni.
Jika Tuhan dipahami sebagai makhluk
yang rasional dan baik, maka Tuhan
tidak akan memerintahkan sesuatu
yang bertentangan dengan kebaikan.
Tuhan tidak sewenang-wenang.
Tuhan konsisten dengan sifat-Nya.

Tanggapan lain adalah bahwa kita
tidak perlu memilih antara
dua jawaban. Mungkin ada jawaban
ketiga. Mungkin kebaikan dan
kehendak Tuhan saling terkait.
Mungkin Tuhan menciptakan
kebaikan, tetapi kebaikan itu adalah
bagian dari sifat Tuhan yang tidak
berubah.

Tanggapan terhadap Kritik

Pendukung Euthyphro Dilemma punya
tanggapan. Mereka mengatakan bahwa
bahkan jika Tuhan adalah kebaikan,
kita masih bisa bertanya,
“Apakah Tuhan itu baik karena Tuhan
adalah Tuhan?
Atau Tuhan adalah Tuhan karena
Tuhan itu baik?”
Pertanyaan itu tetap menggelitik.

Mereka juga mengatakan bahwa
dilema ini bukan untuk menyerang
agama. Ia hanya untuk membuat
kita berpikir. Ia mengajak kita untuk
memeriksa asumsi kita tentang
moral. Ia mengajak kita untuk
bertanya, “Apa dasar moralitas?
Dari mana kebaikan datang?”

Mereka juga mengatakan bahwa
dilema ini tidak harus diselesaikan.
Kadang pertanyaan yang baik lebih
berharga daripada jawaban yang
cepat. Kadang kita perlu hidup
dengan pertanyaan. Kadang kita
perlu rendah hati bahwa kita
tidak tahu segalanya.

Tiga Fase Menghadapi
Euthyphro Dilemma

Fase pertama, Anda merasa yakin.
Anda merasa bahwa Anda tahu apa
yang benar dan apa yang salah.
Anda merasa bahwa dasar moral itu
jelas. Anda tidak pernah
mempertanyakannya.

Fase kedua, Anda meragukan.
Anda mendengar Euthyphro
Dilemma. Anda mulai bertanya,
“Apakah moral itu ditentukan oleh
Tuhan? Atau ada standar yang
lebih tinggi?”
Anda mulai melihat bahwa
jawabannya tidak sesederhana
yang Anda kira.

Fase ketiga, Anda mencari posisi.
Anda mungkin memilih jawaban
pertama. Anda mungkin memilih
jawaban kedua. Anda mungkin
memilih jawaban ketiga. Anda
mungkin memilih untuk hidup
dengan misteri. Yang penting,
Anda tidak lagi menerima begitu
saja. Anda mulai berpikir dengan
sadar.

Penutup

Euthyphro Dilemma mengajarkan
satu hal yang mendalam.
Dasar moralitas bukanlah hal yang
sederhana. Apakah baik dan jahat
ditentukan oleh Tuhan?
Atau ada standar yang lebih tinggi?
Pertanyaan itu tidak mudah
dijawab. Setiap jawaban punya
konsekuensi. Setiap jawaban punya
risiko.

Mungkin jawabannya bukan hitam
putih. Mungkin kebaikan dan
Tuhan saling terkait. Mungkin
kebaikan adalah sifat Tuhan.
Mungkin kebaikan adalah ciptaan
Tuhan. Mungkin kebaikan adalah
misteri yang tidak bisa kita
pecahkan.

Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah sesuatu
disebut baik karena Tuhan
memerintahkannya?
Atau Tuhan memerintahkan sesuatu
karena itu sudah baik?
Apakah Anda punya jawabannya?
Atau apakah Anda masih mencari?

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertanyakan
dasar moral Anda sendiri.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Euthyphro Dilemma:
Apakah Sesuatu Disebut Baik
Karena Tuhan Bilang Begitu,
atau Tuhan Bilang Begitu
Karena Memang Sudah Baik?

Coba inget lagi. Lo lagi berantem
sama seseorang. Mungkin temen.
Mungkin keluarga. Mungkin orang
di kolom komentar. Topiknya soal
benar dan salah. Lo bilang sesuatu
itu salah. Dia bilang sesuatu itu
bener. Lo kasih alasan. Dia kasih
alasan. Tapi dua-duanya nggak
ada yang mau ngalah.

Terus di ujung perdebatan, salah satu
dari lo ngomong.
“Ya pokoknya
Tuhan bilang gitu. Titik.”

Diem.

Nggak ada yang bisa bantah.
Nggak ada yang bisa nambahin.
Perdebatan selesai. Tapi di dalem
hati kecil lo, ada sesuatu yang
nggak beres. Ada pertanyaan yang
nggak keluar. Ada suara yang
bisikin.

“Tapi… kenapa Tuhan bilang
gitu?
Apa karena itu emang udah
bener? Atau itu jadi bener
karena Tuhan bilang aja?”

Kalo lo pernah ngerasain momen
kayak gini, lo udah nyentuh salah
satu pertanyaan paling tajam dalam
filsafat agama.
Namanya
Euthyphro Dilemma.
Dan gue jamin, setelah baca ini, lo
bakal liat perdebatan soal moral
dengan mata yang beda.

Cerita di Depan Pengadilan

Ada seorang tokoh namanya
Euthyphro. Dia orang yang sangat
taat. Dia percaya dia tau apa yang
bener dan apa yang salah.
Dia percaya dia tau apa yang disukai
dewa dan apa yang nggak disukai
dewa.

Suatu hari, dia ketemu Socrates
di depan pengadilan. Socrates lagi
ngadepin tuduhan. Dia dituduh
nggak ngormatin dewa-dewa dan
ngerusak pemuda. Euthyphro dateng
karena dia mau nuntut ayahnya
sendiri. Ayahnya ngebiarin seorang
pekerja mati karena kelalaian.
Euthyphro ngerasa dia harus nuntut
ayahnya. Meskipun itu berarti
melawan keluarganya. Dia ngerasa
itu tindakan yang saleh.

Socrates tertarik. Dia nanya
ke Euthyphro.
“Apa itu saleh?
Apa itu kesalehan?”

Euthyphro jawab dengan pede.
Dia bilang,
“Saleh adalah apa
yang disukai dewa. Nggak saleh
adalah apa yang nggak disukai
dewa.”

Socrates diem sebentar. Terus dia
ngajuin pertanyaan yang ngubah
segalanya.

“Apakah sesuatu disebut saleh
karena dewa nyukainya?
Atau dewa nyukainya karena
sesuatu itu saleh?”

Euthyphro diem. Dia nggak punya
jawaban.

Itulah Euthyphro Dilemma.
Dan sampe sekarang, belum ada
yang bisa jawab dengan tuntas.

Dua Jalan yang Dua-duanya
Bikin Pusing

Dilema ini simpelnya gini: lo harus
milih satu dari dua jawaban.
Dan dua-duanya punya
konsekuensi yang bikin lo
nggak nyaman.

Jalan pertama: sesuatu disebut
baik karena Tuhan
memerintahkannya.

Kalo ini yang lo pilih, artinya
moralitas bergantung sepenuhnya
pada kehendak Tuhan. Nggak ada
standar lain. Nggak ada ukuran lain.
Apa yang Tuhan bilang, itulah yang
bener. Apa yang Tuhan larang,
itulah yang salah.

Jalan ini punya daya tarik. Dia ngasih
kepastian. Dia ngasih landasan yang
jelas. Kalo lo bingung soal apa yang
bener, lo tinggal tanya Tuhan. Kalo lo
bingung soal apa yang salah, lo tinggal
cari petunjuk Tuhan. Simpel. Nggak
perlu mikir ribet.

Tapi tunggu dulu. Jalan ini juga punya
masalah.
Kalo baik dan jahat
ditentukan cuma sama kehendak
Tuhan, maka Tuhan bisa aja
memerintahkan apa pun.

Tuhan bisa memerintahkan
pembunuhan. Tuhan bisa
memerintahkan penipuan. Tuhan bisa
memerintahkan kekejaman. Dan kalo
Tuhan memerintahkannya, maka itu
jadi baik. Apa lo bisa nerima itu?
Apa lo bisa bilang, “Oh, kalo Tuhan
yang bilang, ya berarti bunuh itu
bener”?

Masalah lain: kalo baik dan jahat
cuma ditentukan sama kehendak
Tuhan, maka kebaikan Tuhan jadi
kosong. Waktu lo bilang
“Tuhan itu baik,” lo cuma bilang
bahwa Tuhan sesuai sama
kehendak-Nya sendiri. Itu nggak
berarti apa-apa. Lo nggak bisa muji
Tuhan karena baik. Karena “baik”
cuma berarti “apa yang Tuhan
perintahkan.” Jadi pujian lo nggak
punya isi.

Jalan kedua:
Tuhan memerintahkan
sesuatu karena itu sudah
baik.

Kalo ini yang lo pilih, artinya ada
standar moral yang lebih tinggi dari
Tuhan. Ada prinsip kebaikan yang
independen. Tuhan nggak
menciptakan kebaikan. Tuhan cuma
mengenali kebaikan. Tuhan nggak
menentukan apa yang baik. Tuhan
cuma mengikuti apa yang sudah
baik.

Jalan ini juga punya daya tarik.
Dia menjaga kebaikan Tuhan.
Waktu lo bilang “Tuhan itu baik,”
lo bilang sesuatu yang bermakna.
Tuhan itu baik karena Tuhan sesuai
sama standar kebaikan yang sejati.
Tuhan nggak sewenang-wenang.
Tuhan nggak berubah-ubah.
Tuhan konsisten.

Tapi jalan ini juga punya masalah.
Kalo ada standar moral yang
lebih tinggi dari Tuhan, maka
Tuhan bukanlah yang tertinggi.

Ada sesuatu di atas Tuhan.
Ada sesuatu yang membatasi Tuhan.
Apa itu berarti Tuhan nggak
mahakuasa? Apa itu berarti Tuhan
nggak maha segala-galanya?

Masalah lain: kalo standar moral itu
independen dari Tuhan, dari mana
standar itu dateng? Apa standar itu
ada dengan sendirinya?
Apa standar itu bagian dari alam
semesta? Apa standar itu ciptaan
manusia? Kalo standar itu nggak
berasal dari Tuhan, dari mana?

Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
debat filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Dilema ini nyentuh
hidup lo dengan cara yang sangat
pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah
nanya kenapa lo harus
berbuat baik.

Apa karena lo takut hukuman?
Apa karena lo pengen pahala?
Apa karena lo pengen diterima?
Apa karena lo bener-bener
percaya bahwa itu baik?

Kedua, lo mungkin pernah
denger orang bilang,
“Ini dosa karena Tuhan
melarangnya.”
Lo bisa nanya,
“Apa Tuhan melarangnya karena
itu memang buruk? Atau itu buruk
cuma karena Tuhan melarangnya?”
Jawaban atas pertanyaan itu
memengaruhi gimana lo ngerti
Tuhan. Dan gimana lo ngerti diri
lo sendiri.

Ketiga, lo mungkin pernah
ngerasa nggak nyaman
waktu orang lain pake agama
buat membenarkan sesuatu.

Lo ngerasa ada yang salah.
Tapi lo nggak bisa ngejelasin
kenapa. Lo nggak bisa mbantah.
Karena argumennya kedengeran
kokoh.

Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa bingung soal moral.
Lo nanya, “Kalo Tuhan bisa
memerintahkan apa pun, apa yang
bikin moral itu nggak
sewenang-wenang?” Lo nanya,
“Kalo moral itu independen dari
Tuhan, apa artinya Tuhan?”
Lo nanya, “Apa ada jawaban yang
bikin tenang?”

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh
Dilema Ini

Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah nanya
    “kenapa Tuhan larang
    sesuatu?”

    Bukan cuma nerima, tapi
    beneran nanya kenapa.
    Itu tanda lo lagi nyentuh
    dilema ini.

  2. Lo pernah ngerasa nggak
    nyaman waktu orang
    bilang “pokoknya Tuhan
    bilang gitu”?

    Itu tanda lo ngerasa ada yang
    bolong dari penjelasan itu.

  3. Lo pernah mikir
    “kalo Tuhan bisa
    memerintahkan apa pun,
    apa yang bikin Dia baik?”
    Itu tanda lo lagi mikir dalem.

  4. Lo pernah ngerasa moral
    itu ada bahkan tanpa
    agama?
    Lo liat orang atheis
    yang baik. Lo liat orang religius
    yang jahat. Dan lo nanya,
    “Jadi apa yang bikin moral?”

  5. Lo pernah ngerasa jawaban
    “pokoknya gitu” nggak
    cukup?
    Itu tanda lo pengen
    ngerti lebih dalem. Itu tanda lo
    nggak puas sama jawaban
    yang dangkal.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener berat.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.

Kritik: Kenapa Banyak yang
Nggak Setuju?

Euthyphro Dilemma nggak lepas dari
kritik. Beberapa filsuf berargumen
bahwa dilema ini salah karena
ngasumsiin pemisahan antara
Tuhan dan kebaikan.

Salah satu tanggapan adalah
bahwa Tuhan itu sendiri adalah
kebaikan. Kebaikan bukanlah
standar yang terpisah dari Tuhan.
Kebaikan adalah sifat Tuhan.
Jadi waktu kita bilang “Tuhan itu
baik,” kita nggak bilang bahwa
Tuhan ngikutin standar eksternal.
Kita bilang bahwa Tuhan adalah
sumber dan ukuran kebaikan itu
sendiri.

Tanggapan lain adalah bahwa dilema
ini cuma berlaku pada Tuhan yang
dipahami sebagai kehendak murni.
Kalo Tuhan dipahami sebagai
makhluk yang rasional dan baik,
maka Tuhan nggak akan
memerintahkan sesuatu yang
bertentangan dengan kebaikan.
Tuhan nggak sewenang-wenang.
Tuhan konsisten dengan sifat-Nya.

Tanggapan lain adalah bahwa kita
nggak perlu milih antara dua
jawaban. Mungkin ada jawaban
ketiga. Mungkin kebaikan dan
kehendak Tuhan saling terkait.
Mungkin Tuhan menciptakan
kebaikan, tapi kebaikan itu adalah
bagian dari sifat Tuhan yang
nggak berubah.

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Euthyphro Dilemma
punya tanggapan. Mereka bilang
bahkan kalo Tuhan adalah
kebaikan, kita masih bisa nanya,
“Apa Tuhan itu baik karena Tuhan
adalah Tuhan? Atau Tuhan adalah
Tuhan karena Tuhan itu baik?”
Pertanyaan itu tetep nggelitik.

Mereka juga bilang dilema ini
bukan buat nyerang agama.
Dia cuma buat bikin kita mikir.
Dia ngajak kita buat meriksa
asumsi kita tentang moral.
Dia ngajak kita buat nanya,
“Apa dasar moralitas?
Dari mana kebaikan dateng?”

Mereka juga bilang dilema ini nggak
harus diselesaiin. Kadang pertanyaan
yang baik lebih berharga daripada
jawaban yang cepet. Kadang kita
perlu hidup dengan pertanyaan.
Kadang kita perlu rendah hati bahwa
kita nggak tau segalanya.

Yang Paling Lo Takutin Bukan
Jawaban yang Salah

Yang paling lo takutin bukan jawaban
yang salah. Bukan kesimpulan yang
keliru. Bukan perdebatan yang nggak
selesai.

Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo sadar bahwa dasar moral
lo nggak sekokoh yang lo kira.
Kalo lo sadar bahwa banyak
keyakinan moral lo ternyata
cuma warisan yang nggak pernah
lo pertanyakan. Kalo lo sadar
bahwa lo udah ngikutin aturan
yang orang lain tulis, bukan
yang lo pahami sendiri.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar,
lo bisa milih. Kalo lo sadar, lo bisa
nimbang. Kalo lo sadar, lo bisa
ngubah. Kalo lo sadar, lo bisa nentuin
dasar moral lo sendiri. Bukan dasar
yang orang lain tulis. Tapi dasar
yang bener-bener lo yakini.

Euthyphro Dilemma bukan tentang
ngerusak moral. Dia tentang ngasih
lo alat buat nimbang. Dia tentang
ngasih lo keberanian buat nanya.
“Kenapa?”

Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur

Euthyphro Dilemma ngajarin satu
hal yang mendalam.
Dasar moralitas bukanlah hal yang
sederhana. Apa baik dan jahat
ditentukan oleh Tuhan?
Atau ada standar yang lebih tinggi?
Pertanyaan itu nggak gampang
dijawab. Setiap jawaban punya
konsekuensi. Setiap jawaban
punya risiko.

Mungkin jawabannya bukan hitam
putih. Mungkin kebaikan dan
Tuhan saling terkait. Mungkin
kebaikan adalah sifat Tuhan.
Mungkin kebaikan adalah ciptaan
Tuhan. Mungkin kebaikan adalah
misteri yang nggak bisa kita
pecahin.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Apa sesuatu disebut baik karena
Tuhan memerintahkannya?
Atau Tuhan memerintahkan
sesuatu karena itu sudah baik?

Lo punya jawabannya?
Atau lo masih nyari?

Gue nggak bisa jawab buat lo. Nggak
ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai jujur sama diri sendiri.
Lo cuma harus mulai nanya.
Lo cuma harus mulai mikir.

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertanyakan
dasar moral lo sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *