filsafat

Pascal’s Wager: Apakah Percaya pada Tuhan Adalah Taruhan yang Cerdas?

Pernahkah Anda berdiri
di persimpangan jalan dan harus
memilih, tetapi Anda tidak punya
cukup informasi untuk memutuskan?
Mungkin Anda harus memilih
jurusan kuliah, tetapi Anda belum
tahu prospeknya. Mungkin Anda
harus memilih pekerjaan, tetapi Anda
belum tahu apakah Anda akan betah.
Mungkin Anda harus memilih
pasangan, tetapi Anda belum tahu
apakah hubungan itu akan bertahan.
Anda harus memutuskan. Anda tidak
bisa menunggu selamanya. Tetapi
Anda tidak punya kepastian.

Hidup ini penuh dengan keputusan
yang harus diambil tanpa kepastian.
Salah satu keputusan terbesar
adalah apakah Anda percaya pada
Tuhan. Anda tidak bisa membuktikan
bahwa Tuhan itu ada. Anda juga tidak
bisa membuktikan bahwa Tuhan itu
tidak ada. Jadi apa yang harus Anda
lakukan?

Seorang filsuf Prancis bernama Blaise
Pascal mengajukan jawaban yang
menarik. Ia mengajak kita melihat
keputusan ini bukan sebagai
masalah bukti, tetapi sebagai masalah
taruhan. Gagasannya kemudian
dikenal sebagai Pascal’s Wager, atau
Taruhan Pascal. Mari saya ajak Anda
masuk ke dalamnya.

Siapa Itu Blaise Pascal?

Blaise Pascal hidup pada abad ke-17.
Ia lahir pada tahun 1623 dan
meninggal pada tahun 1662. Ia bukan
hanya filsuf. Ia juga matematikawan,
fisikawan, dan penemu.
Ia mengembangkan teori probabilitas
bersama Pierre de Fermat.
Ia menemukan kalkulator mekanik
pertama. Ia melakukan eksperimen
tentang tekanan udara. Ia jenius
di banyak bidang.

Tetapi Pascal juga seorang yang
sangat religius. Ia mengalami apa
yang ia sebut sebagai “malam api”
pada tahun 1654. Pengalaman itu
mengubah hidupnya. Ia menulis
catatan tentang pengalaman itu dan
menjahitnya di dalam mantelnya.
Ia membawanya sampai mati.
Setelah pengalaman itu, ia menulis
banyak tentang agama dan filsafat.
Salah satu karyanya yang paling
terkenal adalah “Pensées,”
yang berarti “Pikiran-Pikiran.”
Di dalam buku itu, ia menulis
tentang Taruhan Pascal.

Apa Itu Pascal’s Wager?

Pascal’s Wager adalah argumen bahwa
percaya pada Tuhan adalah keputusan
yang rasional, bahkan jika kita tidak
punya bukti bahwa Tuhan itu ada.
Pascal tidak mencoba membuktikan
bahwa Tuhan itu ada. Ia tidak
mencoba membuktikan bahwa agama
tertentu itu benar. Ia hanya
mengatakan bahwa jika Anda harus
memilih, pilihan yang paling cerdas
adalah percaya.

Mengapa? Karena Pascal melihat
bahwa ada empat kemungkinan
hasil.

Yang pertama, Tuhan itu ada, dan
Anda percaya. Jika ini benar, Anda
mendapatkan pahala yang tak
terbatas. Surga. Kebahagiaan abadi.
Kehidupan kekal.

Yang kedua, Tuhan itu ada, dan
Anda tidak percaya. Jika ini benar,
Anda mendapatkan hukuman
yang tak terbatas. Neraka.
Penderitaan abadi. Kehilangan
kekal.

Yang ketiga, Tuhan itu tidak ada,
dan Anda percaya. Jika ini benar,
Anda kehilangan sesuatu. Mungkin
Anda kehilangan beberapa
kesenangan duniawi. Mungkin Anda
kehilangan waktu untuk beribadah.
Mungkin Anda kehilangan kebebasan
untuk berbuat dosa. Tetapi kerugian
itu terbatas. Ia hanya berlangsung
selama hidup Anda di dunia.

Yang keempat, Tuhan itu tidak ada,
dan Anda tidak percaya. Jika ini
benar, Anda tidak mendapatkan
apa-apa. Anda tidak mendapatkan
pahala. Anda tidak mendapatkan
hukuman. Anda hanya hidup, lalu
mati. Tidak ada kelanjutan.

Pascal mengatakan bahwa jika Anda
melihat keempat kemungkinan ini,
pilihan yang rasional adalah percaya.
Mengapa? Karena potensi
keuntungan dari percaya sangat
besar, sementara potensi kerugiannya
sangat kecil. Jika Anda percaya dan
Tuhan ada, Anda mendapatkan
segalanya. Jika Anda percaya dan
Tuhan tidak ada, Anda kehilangan
sedikit. Jika Anda tidak percaya dan
Tuhan ada, Anda kehilangan
segalanya. Jika Anda tidak percaya
dan Tuhan tidak ada, Anda tidak
mendapatkan apa-apa.

Dengan kata lain, taruhan yang paling
masuk akal adalah bertaruh pada
Tuhan. Karena jika Anda menang,
Anda menang besar. Jika Anda kalah,
Anda kalah kecil.

Apa Maksud Pascal Sebenarnya?

Pascal bukan hanya mengatakan
bahwa Anda harus percaya karena
takut pada neraka. Ia mengatakan
sesuatu yang lebih dalam.
Ia mengatakan bahwa akal
manusia terbatas. Kita tidak bisa
mengetahui dengan pasti apakah
Tuhan itu ada. Kita tidak bisa
membuktikannya. Kita tidak bisa
menyangkalnya. Kita berada
dalam ketidaktahuan.

Dalam ketidaktahuan, kita harus
memilih. Kita tidak bisa tidak
memilih. Bahkan jika kita
mengatakan, “Saya tidak memilih,”
itu sudah merupakan pilihan.
Kita memilih untuk tidak percaya.
Kita memilih untuk tidak bertaruh.

Pascal juga mengatakan bahwa
taruhan ini bukan tentang
memaksakan diri untuk percaya.
Anda tidak bisa memaksa diri
Anda untuk percaya pada sesuatu
yang Anda anggap tidak masuk akal.
Tetapi Anda bisa memulai dari
sesuatu yang lebih kecil. Anda bisa
mulai dengan berdoa. Anda bisa
mulai dengan membaca. Anda bisa
mulai dengan bergaul dengan
orang-orang beriman. Anda bisa
mulai dengan mengikuti ritual.
Lama-kelamaan, iman itu bisa
tumbuh.

Pascal menulis, “Belajarlah dari
mereka yang telah terikat, yang
sekarang bertaruh. Mereka tahu jalan
yang ingin Anda ambil. Mereka telah
disembuhkan dari penyakit yang
ingin Anda sembuhkan. Ikuti cara
mereka memulai. Mereka bertindak
seolah-olah mereka percaya.
Mereka mengambil air suci. Mereka
mendengarkan misa. Mereka
melakukan hal-hal yang tampak
sepele. Tetapi hal-hal itu akan
membuat Anda percaya, dan
menundukkan akal yang terlalu
menuntut bukti” dan “melatih
diri lewat kebiasaan” agar iman
bisa tumbuh.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya argumen filsuf.
Saya tidak peduli.” Tetapi coba
lihat lagi.

Pernahkah Anda bertanya apakah
hidup ini hanya sampai di dunia?
Pernahkah Anda bertanya apakah
ada sesuatu setelah kematian?
Pernahkah Anda bertanya apakah
hidup Anda punya tujuan yang lebih
besar? Pernahkah Anda merasa
bahwa ada sesuatu yang lebih dari
sekadar materi?

Pascal’s Wager juga muncul dalam
keputusan sehari-hari. Ketika Anda
memilih untuk jujur, apakah Anda
bertaruh bahwa kejujuran itu lebih
baik? Ketika Anda memilih untuk
menabung, apakah Anda bertaruh
bahwa masa depan itu penting?
Ketika Anda memilih untuk
berinvestasi pada hubungan, apakah
Anda bertaruh bahwa cinta itu
berharga?
Hidup ini penuh dengan taruhan.
Kita tidak pernah punya kepastian
penuh.

Pascal’s Wager juga muncul dalam
debat tentang agama. Ketika seorang
atheis mengatakan,
“Saya tidak percaya pada Tuhan
karena tidak ada bukti,”
seorang teis bisa mengatakan,
“Tetapi apakah Anda bersedia
menanggung risiko jika Anda salah?”
Ketika seorang teis mengatakan,
“Saya percaya pada Tuhan karena
iman,”
seorang atheis bisa mengatakan,
“Tetapi apakah Anda percaya hanya
karena takut pada neraka?”

Kritik terhadap Pascal’s Wager

Pascal’s Wager tidak lepas dari kritik.
Banyak filsuf dan pemikir menolak
argumen ini. Mereka punya beberapa
alasan.

Pertama, masalah banyak Tuhan.
Pascal mengasumsikan bahwa
pilihannya adalah antara percaya
pada Tuhan tertentu atau tidak
percaya sama sekali. Tetapi ada
banyak agama di dunia. Ada Kristen.
Ada Islam. Ada Hindu. Ada Buddha.
Ada Yahudi. Ada agama-agama lain.
Bagaimana Anda tahu agama mana
yang benar? Jika Anda memilih
agama yang salah, Anda mungkin
tetap mendapat hukuman. Taruhan
ini tidak sesederhana yang Pascal
bayangkan.

Kedua, masalah iman yang dipaksa.
Pascal mengatakan bahwa Anda
bisa memulai dengan bertindak
seolah-olah Anda percaya. Tetapi
apakah itu iman yang tulus?
Apakah Tuhan akan menerima
iman yang dibuat-buat?
Apakah Tuhan tidak tahu bahwa
Anda hanya berpura-pura?
Jika Tuhan Maha Tahu, Ia tahu
bahwa Anda tidak benar-benar
percaya. Jadi apa gunanya?

Ketiga, masalah moral. Apakah benar
percaya pada Tuhan hanya karena
Anda ingin mendapatkan
keuntungan? Apakah itu bukan
bentuk egoisme? Apakah iman sejati
seharusnya didasarkan pada cinta,
bukan pada perhitungan untung rugi?
Jika Anda mencintai seseorang hanya
karena Anda ingin mendapatkan
warisan, apakah itu cinta yang sejati?

Keempat, masalah bukti.
Banyak atheis mengatakan bahwa
mereka tidak bisa percaya pada
sesuatu yang tidak ada buktinya.
Mereka tidak bisa memaksa diri
mereka untuk percaya pada Tuhan
yang tidak mereka yakini. Mereka
mengatakan bahwa kejujuran
intelektual lebih penting daripada
keuntungan pribadi.

Kelima, masalah asumsi. Pascal
mengasumsikan bahwa jika
Tuhan itu ada, Ia akan menghukum
orang yang tidak percaya. Tetapi
bagaimana jika Tuhan itu tidak
seperti itu? Bagaimana jika Tuhan itu
lebih penyayang? Bagaimana jika
Tuhan tidak menghukum orang
yang meragukan? Bagaimana jika
Tuhan lebih menghargai kejujuran
daripada kepatuhan?

Tanggapan terhadap Kritik

Pendukung Pascal’s Wager punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa argumen ini
sempurna. Mereka sering mengatakan
bahwa ini adalah argumen yang
berguna dalam situasi ketidaktahuan.

Mereka mengatakan bahwa masalah
banyak Tuhan sebenarnya
memperkuat argumen. Jika ada
banyak agama, maka peluang salah
satu agama itu benar lebih besar.
Jadi taruhannya lebih besar,
bukan lebih kecil. Anda harus serius
mempertimbangkan untuk percaya
pada salah satu.

Mereka juga mengatakan bahwa
iman bisa tumbuh. Anda mungkin
mulai dengan keraguan.
Anda mungkin mulai dengan
tindakan. Tetapi seiring waktu,
iman itu bisa menjadi tulus.
Banyak orang yang awalnya
berpura-pura, akhirnya
benar-benar percaya.

Mereka juga mengatakan bahwa
taruhan ini bukan tentang egoisme.
Ia tentang menyadari bahwa hidup
ini punya konsekuensi kekal.
Jika hidup ini hanya sementara,
maka keputusan tentang Tuhan
adalah keputusan paling penting.
Mengabaikannya adalah
kelalaian yang berbahaya.

Mereka juga mengatakan bahwa
Pascal tidak menolak akal.
Ia hanya mengatakan bahwa akal
punya batas. Ada hal-hal yang tidak
bisa dijangkau akal. Dalam hal-hal itu,
kita harus membuat keputusan
berdasarkan probabilitas, bukan
kepastian.

Contoh Sederhana di Kehidupan
Sehari-hari

Seorang mahasiswa bertanya,
“Apakah saya harus percaya pada
Tuhan?” Ia tidak yakin. Ia tidak
punya bukti. Ia membaca Pascal’s
Wager. Ia bertanya,
“Jika saya percaya dan Tuhan ada,
saya untung. Jika saya percaya dan
Tuhan tidak ada, saya rugi sedikit.
Jika saya tidak percaya dan Tuhan
ada, saya rugi besar. Jika saya tidak
percaya dan Tuhan tidak ada, saya
tidak untung. Jadi apa yang harus
saya lakukan?”

Seorang karyawan bekerja
di lingkungan yang tidak religius.
Ia merasa aneh jika ia beribadah.
Ia bertanya, “Apakah saya harus
tetap beribadah meskipun saya ragu?”
Ia membaca Pascal’s Wager.
Ia bertanya, “Apakah lebih baik saya
bertaruh pada Tuhan, meskipun
saya tidak yakin?”

Seorang atheis menantang temannya
yang beriman. Ia bertanya,
“Mengapa kamu percaya pada Tuhan?
Kamu tidak punya bukti.” Temanny
a menjawab, “Saya tidak punya bukti.
Tetapi saya bertaruh. Jika saya benar,
saya menang. Jika saya salah,
saya tidak kehilangan banyak.”
Atheis itu terdiam. Ia tidak punya
jawaban.

Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Pascal’s Wager bukan hanya
argumen filsafat. Ia adalah cara
berpikir yang bisa digunakan
siapa saja. Ia mengajak kita untuk
mempertimbangkan konsekuensi
dari pilihan kita.

Tiga Fase Menghadapi Pascal’s
Wager

Fase pertama, Anda merasa yakin.
Anda merasa bahwa Anda tahu
apakah Tuhan itu ada atau tidak.
Anda tidak merasa perlu bertaruh.
Anda merasa bahwa bukti sudah
cukup.

Fase kedua, Anda meragukan.
Anda mulai menyadari bahwa bukti
itu tidak cukup. Anda mulai
menyadari bahwa ada ketidaktahuan.
Anda mulai bertanya,
“Bagaimana jika saya salah?
Bagaimana jika ada sesuatu yang
lebih?”

Fase ketiga, Anda memilih. Anda
menyadari bahwa Anda harus
memutuskan. Anda tidak bisa
menunggu selamanya. Anda harus
bertaruh. Anda bisa bertaruh pada
Tuhan. Anda bisa bertaruh pada
ketiadaan. Anda bisa bertaruh pada
sesuatu yang lain. Yang penting,
Anda sadar bahwa Anda sedang
bertaruh.

Penutup

Pascal’s Wager mengajarkan satu hal
yang menantang. Hidup ini penuh
dengan ketidakpastian. Kita tidak bisa
menunggu kepastian sebelum
memutuskan. Kita harus bertaruh.
Kita harus memilih. Kita harus
hidup dengan pilihan itu.

Pascal mengajak kita untuk
mempertimbangkan taruhan terbesar.
Apakah kita akan bertaruh pada
Tuhan? Apakah kita akan bertaruh
pada kekekalan? Apakah kita akan
bertaruh pada sesuatu yang lebih
besar dari diri kita sendiri?

Mungkin jawabannya bukan hitam
putih. Mungkin tidak semua orang
bisa percaya. Mungkin tidak semua
orang bisa memaksa diri. Tetapi
setidaknya, Pascal mengajak kita
untuk berpikir. Ia mengajak kita
untuk tidak mengabaikan pertanyaan
terbesar dalam hidup ini.

Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda sudah
bertaruh? Apakah Anda sudah
memilih? Apakah Anda sadar bahwa
hidup Anda adalah taruhan itu?
Dan jika ya, apakah Anda bertaruh
pada sesuatu yang layak?

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertimbangkan
taruhan Anda.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Pascal’s Wager: Percaya Sama
Tuhan Itu Taruhan Bodoh atau

Taruhan Cerdas?

Coba inget lagi. Momen di mana lo
lagi sendirian. Malem. Gelap. Sunyi.
Lo lagi rebahan. Nggak bisa tidur.
Pikiran lo jalan ke mana-mana. Dari
kerjaan. Dari hubungan. Dari masa
depan. Sampe akhirnya, pikiran lo
mendarat di sesuatu yang lebih gede.

“Sebenernya gue mati nanti
ke mana ya?”

Bukan pertanyaan yang lo tanyain
ke orang lain. Bukan pertanyaan yang
lo tulis di status. Pertanyaan yang
cuma berani lo tanyain ke langit-langit
kamar. Di jam 3 pagi. Waktu nggak
ada yang bisa ngejawab.

Lo coba tepis. “Ah, nanti aja dipikirin.”
Tapi pikirannya balik. “Tapi kalo
beneran ada sesuatu setelah mati?
Kalo beneran ada yang nungguin?
Kalo beneran ada yang ngatur
semua ini?”

Terus muncul pertanyaan yang lebih
nyebelin.
“Gue percaya nggak sih?
Atau gue cuma ikut-ikutan?
Atau gue cuma takut?”

Kalo lo pernah stuck di momen kayak
gini, lo udah nyentuh salah satu
taruhan paling besar dalam hidup
manusia. Namanya
Pascal’s Wager.
Dan gue jamin, setelah baca ini,
lo bakal liat keputusan soal iman
dengan cara yang beda.

Sebenernya Pascal’s Wager
Itu Apa Sih?

Ada filsuf Prancis namanya Blaise
Pascal.
Dia hidup di abad ke-17.
Lahir 1623. Meninggal 1662.
Umurnya cuma 39 tahun.
Tapi di umur segitu, dia udah jadi
jenius di banyak bidang.

Dia matematikawan. Dia fisikawan.
Dia penemu. Dia ngembangin teori
probabilitas bareng Pierre de
Fermat. Dia bikin kalkulator
mekanik pertama. Dia ngelakuin
eksperimen tentang tekanan udara.
Otaknya nggak bisa diem.

Tapi Pascal juga orang yang sangat
religius. Dia ngalamin sesuatu yang
dia sebut “malam api” tahun 1654.
Pengalaman itu ngubah hidupnya.
Dia nulis catatan tentang
pengalaman itu. Terus dia jahit
catatan itu di dalem mantelnya.
Dia bawa sampe mati.

Setelah pengalaman itu, dia nulis
banyak tentang agama dan filsafat.
Salah satu karyanya yang paling
terkenal adalah Pensées. Artinya
“Pikiran-Pikiran.” Di buku itu,
dia nulis tentang Taruhan Pascal.

Intinya gini. Pascal nggak nyoba
buktiin bahwa Tuhan itu ada.
Dia nggak nyoba buktiin
bahwa agama tertentu itu
bener. Dia cuma bilang:
kalo lo harus milih, pilihan
yang paling cerdas adalah
percaya.

Kenapa? Karena Pascal liat ada
empat kemungkinan hasil.

Pertama: Tuhan ada.
Lo percaya.

Kalo ini bener, lo dapet pahala
yang nggak terbatas. Surga.
Kebahagiaan abadi. Kehidupan
kekal. Lo menang besar.

Kedua: Tuhan ada.
Lo nggak percaya.

Kalo ini bener, lo dapet hukuman
yang nggak terbatas. Neraka.
Penderitaan abadi. Kehilangan
kekal. Lo kalah besar.

Ketiga: Tuhan nggak ada.
Lo percaya.

Kalo ini bener, lo kehilangan sesuatu.
Mungkin lo kehilangan beberapa
kesenangan duniawi. Mungkin lo
kehilangan waktu buat ibadah.
Mungkin lo kehilangan kebebasan
buat berbuat dosa. Tapi kerugian
itu terbatas. Cuma berlangsung
selama hidup lo di dunia.
Lo kalah kecil.

Keempat: Tuhan nggak ada.
Lo nggak percaya.

Kalo ini bener, lo nggak dapet
apa-apa. Lo nggak dapet pahala.
Lo nggak dapet hukuman.
Lo cuma hidup. Terus mati.
Nggak ada kelanjutan.

Pascal bilang, kalo lo liat empat
kemungkinan ini, pilihan yang
rasional adalah percaya. Kenapa?
Karena potensi keuntungan dari
percaya sangat gede.
Sementara potensi kerugiannya
sangat kecil.

Kalo lo percaya dan Tuhan ada?
Lo dapet segalanya.
Kalo lo percaya dan Tuhan
nggak ada? Lo kehilangan sedikit.
Kalo lo nggak percaya dan Tuhan
ada? Lo kehilangan segalanya.
Kalo lo nggak percaya dan
Tuhan nggak ada? Lo nggak
dapet apa-apa.

Dengan kata lain, taruhan yang
paling masuk akal adalah bertaruh
pada Tuhan. Karena kalo lo
menang, lo menang besar.
Kalo lo kalah, lo kalah kecil.

Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
argumen filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Gagasan ini
nyentuh hidup lo dengan cara yang
sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah
nanya apakah hidup ini cuma
sampe di dunia.
Lo ngerasa ada
sesuatu yang lebih. Lo ngerasa ada
yang ilang waktu orang yang lo
sayang meninggal. Lo ngerasa ada
yang nggak selesai. Dan lo nanya,
“Emang ada lanjutannya?
Atau emang udah tamat?”

Kedua, lo mungkin pernah
ngerasa bersalah karena
ngeraguin.
Lo pengen percaya.
Lo pengen yakin. Tapi ada bagian
dari diri lo yang nggak bisa.
Ada bagian yang nanya,
“Emang beneran?” Dan lo ngerasa
bersalah. Karena lo pikir,
“Kok gue nggak bisa percaya
kayak orang lain?”

Ketiga, lo mungkin pernah
ngerasa capek pura-pura.

Lo ikutin ritual. Lo ucapin doa.
Lo jalanin aturan. Tapi di dalem
hati, lo nggak yakin. Lo ngerasa
kayak lagi main peran. Dan lo nanya,
“Apa gunanya semua ini kalo gue aja
nggak yakin?”

Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa takut mati.
Bukan takut
matinya. Tapi takut bahwa setelah
mati, nggak ada apa-apa. Takut
bahwa “gue” bakal hilang. Takut
bahwa lo nggak akan pernah ketemu
lagi sama orang yang lo sayang. Dan
lo nanya, “Kalo emang nggak ada
apa-apa, kenapa gue harus hidup
dengan baik?”

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh
Taruhan Ini

Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa
    “kalo gue mati, gue
    ke mana ya?”
    Itu tanda lo lagi nyentuh
    taruhan ini.

  2. Lo pernah ngerasa pengen
    percaya tapi nggak bisa?
    Itu tanda lo lagi berjuang sama
    iman lo.

  3. Lo pernah ngerasa bersalah
    karena ngeraguin?

    Itu tanda lo ngerasa ada taruhan
    yang harus lo pilih.

  4. Lo pernah mikir
    “mending gue percaya aja,
    takut kalo beneran ada”?

    Itu tanda lo lagi mikir strategi.

  5. Lo pernah ngeliat orang
    yang sangat religius, terus
    lo nanya dalam hati
    “dia beneran yakin, atau
    cuma takut?”
    Itu tanda lo lagi mikirin
    motivasi di balik iman.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener berat.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal
Nemenin Lo Tidur

Pascal’s Wager ngajarin satu hal yang
menantang. Hidup ini penuh
ketidakpastian. Lo nggak bisa nunggu
kepastian sebelum memutuskan.
Lo harus bertaruh. Lo harus milih.
Lo harus hidup dengan pilihan itu.

Pascal ngajak lo buat
mempertimbangkan taruhan terbesar.
Apa lo bakal bertaruh pada Tuhan?
Apa lo bakal bertaruh pada
kekekalan?
Apa lo bakal bertaruh pada sesuatu
yang lebih gede dari diri lo sendiri?

Mungkin jawabannya bukan hitam
putih. Mungkin nggak semua orang
bisa percaya. Mungkin nggak semua
orang bisa maksa diri. Tapi
setidaknya, Pascal ngajak lo buat
mikir. Dia ngajak lo buat nggak
ngabaikan pertanyaan terbesar
dalam hidup ini.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Lo udah bertaruh? Lo udah milih?
Lo sadar nggak bahwa hidup lo
adalah taruhan itu?

Dan kalo iya, lo bertaruh pada
sesuatu yang layak?
Sesuatu yang bikin lo tenang?
Sesuatu yang bikin lo bisa
tidur nyenyak di malem hari?

Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai jujur sama diri sendiri.

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertimbangkan
taruhan lo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *