Hedonism: Apakah Mengejar Kesenangan Membuat Hidup Lebih Bermakna atau Justru Menghancurkannya?
Pernahkah Anda merasa bahwa hidup
ini terlalu singkat untuk menderita?
Anda bekerja keras sepanjang minggu.
Anda menabung. Anda menunda
kesenangan. Anda berkata pada diri
sendiri, “Nanti saja kalau sudah
cukup.” Tetapi kapan cukup itu
datang? Kapan Anda benar-benar
menikmati hidup? Apakah Anda
hidup untuk bekerja, atau bekerja
untuk hidup?
Di sisi lain, pernahkah Anda melihat
orang yang hanya mengejar
kesenangan? Mereka berpesta
setiap malam. Mereka berbelanja
tanpa berpikir. Mereka melakukan
apa pun yang membuat mereka
senang saat itu. Tetapi mereka
tampak kosong. Mereka tampak
lelah. Mereka tampak tidak bahagia.
Lalu muncul pertanyaan besar.
Apakah hidup ini tentang mengejar
kesenangan?
Apakah kesenangan itu tujuan akhir?
Atau apakah ada sesuatu yang lebih
penting daripada sekadar merasa
senang?
Pertanyaan itu sudah dibahas para
filsuf sejak ribuan tahun lalu.
Ia menjadi salah satu perdebatan
paling penting dalam etika.
Perdebatan itu bernama Hedonism.
Mari saya ajak Anda masuk
ke dalamnya.
Apa Itu Hedonism?
Hedonism adalah pandangan bahwa
kesenangan adalah kebaikan tertinggi.
Tujuan hidup adalah mendapatkan
kesenangan dan menghindari rasa
sakit. Apa yang benar adalah apa
yang membawa kesenangan.
Apa yang salah adalah apa yang
membawa penderitaan.
Kata “hedonism” berasal dari bahasa
Yunani “hedone,” yang berarti
kesenangan. Pandangan ini sudah
ada sejak zaman Yunani kuno.
Salah satu filsuf yang paling terkenal
adalah Epicurus. Ia hidup sekitar
341 sampai 270 sebelum Masehi.
Ia mendirikan sebuah sekolah
filsafat yang disebut “The Garden.”
Di sana, ia mengajar tentang hidup
yang sederhana dan tenang.
Tetapi perlu Anda ketahui, Epicurus
bukan hedonis yang Anda
bayangkan. Ia tidak mengajarkan
pesta pora. Ia tidak mengajarkan
makan berlebihan. Ia tidak
mengajarkan mengejar kesenangan
tanpa batas. Epicurus mengajarkan
sesuatu yang lebih dalam.
Ia mengajarkan bahwa kesenangan
sejati adalah ketenangan.
Kesenangan sejati adalah bebas
dari rasa takut. Kesenangan sejati
adalah bebas dari kecemasan.
Kesenangan sejati adalah hidup
sederhana, dengan teman baik,
dan tidak terganggu oleh
keinginan yang tidak perlu.
Epicurus berkata, “Bukan makanan
dan minuman yang membuat hidup
menyenangkan, tetapi pikiran yang
baik.” Ia juga berkata, “Jika kamu
ingin membuat seseorang bahagia,
jangan tambahkan kekayaan,
kurangi keinginannya.”
Bagi Epicurus, kesenangan bukan
tentang menambah, tetapi tentang
mengurangi. Bukan tentang
memuaskan semua keinginan,
tetapi tentang membebaskan diri
dari keinginan yang tidak perlu.
Bentuk-Bentuk Hedonism
Hedonism tidak hanya satu.
Ada beberapa bentuk yang perlu
Anda kenal.
Yang pertama adalah Hedonism
Psikologis. Ini bukan pandangan
tentang bagaimana seharusnya
hidup. Ini adalah klaim tentang
bagaimana manusia sebenarnya
bertindak. Hedonism psikologis
mengatakan bahwa semua manusia,
pada dasarnya, termotivasi oleh
keinginan untuk mendapatkan
kesenangan dan menghindari rasa
sakit. Bahkan ketika Anda melakukan
sesuatu yang tampak mulia, seperti
membantu orang lain, Anda
sebenarnya melakukannya karena
itu membuat Anda merasa senang.
Anda melakukannya karena itu
mengurangi rasa bersalah Anda.
Anda melakukannya karena itu
memberi Anda kepuasan.
Yang kedua adalah Hedonism Etis.
Ini adalah pandangan normatif. Ini
mengatakan bahwa kita seharusnya
mengejar kesenangan. Kesenangan
adalah satu-satunya hal yang baik
secara intrinsik. Segala sesuatu
yang lain hanya baik sebagai alat
untuk mencapai kesenangan. Jika
Anda bekerja, itu baik karena
memberi Anda uang. Uang itu baik
karena memberi Anda kenyamanan.
Kenyamanan itu baik karena
memberi Anda kesenangan.
Kesenangan itu baik pada dirinya
sendiri.
Yang ketiga adalah Utilitarianisme
Hedonis. Ini adalah pandangan yang
dikembangkan oleh Jeremy
Bentham dan John Stuart Mill.
Mereka mengatakan bahwa
tindakan yang benar adalah
tindakan yang menghasilkan
kesenangan terbesar bagi jumlah
orang terbanyak. Bukan hanya
kesenangan Anda sendiri, tetapi
kesenangan semua orang.
Bentham mengembangkan apa
yang disebut “hedonic calculus,”
sebuah cara untuk mengukur
kesenangan dan rasa sakit. Mill
menyempurnakannya dengan
mengatakan bahwa tidak semua
kesenangan sama. Kesenangan
intelektual lebih tinggi daripada
kesenangan fisik. Lebih baik
menjadi Socrates yang tidak puas
daripada orang bodoh yang puas.
Mengapa Ini Penting untuk
Anda?
Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya teori filsuf.
Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.
Pernahkah Anda bertanya mengapa
Anda bekerja?
Apakah hanya untuk uang?
Apakah uang itu hanya untuk membeli
kesenangan?
Pernahkah Anda bertanya mengapa
Anda menikah? Apakah hanya untuk
kebahagiaan?
Pernahkah Anda bertanya mengapa
Anda membantu orang lain?
Apakah hanya karena itu membuat
Anda merasa baik?
Hedonism juga muncul dalam
budaya modern. Iklan-iklan
mendorong Anda untuk mengejar
kesenangan.
“Beli ini, dan Anda akan bahagia.”
“Makan ini, dan Anda akan puas.”
“Pergi ke sini, dan Anda akan
merasa hidup.”
Media sosial menampilkan hidup
yang penuh kesenangan.
Orang-orang berfoto di pantai.
Orang-orang berpesta.
Orang-orang tersenyum.
Anda merasa hidup Anda kurang.
Hedonism juga muncul dalam
keputusan sehari-hari.
Apakah Anda memilih makanan
sehat atau makanan enak?
Apakah Anda memilih olahraga
atau bersantai?
Apakah Anda memilih menabung
atau berbelanja?
Apakah Anda memilih belajar
atau menonton?
Setiap pilihan adalah pilihan antara
kesenangan jangka pendek dan
kesenangan jangka panjang.
Kritik terhadap Hedonism
Hedonism tidak lepas dari kritik.
Banyak filsuf menolak pandangan
ini. Mereka punya beberapa
alasan.
Pertama, kesenangan itu sementara.
Anda makan enak, lalu kenyang.
Anda menonton film, lalu selesai.
Anda berbelanja, lalu bosan.
Kesenangan tidak bertahan.
Jika hidup hanya tentang mengejar
kesenangan, Anda akan terus
mengejar tanpa pernah puas.
Kedua, kesenangan bisa merusak.
Alkohol memberi kesenangan,
tetapi merusak hati. Narkoba
memberi kesenangan, tetapi
menghancurkan hidup. Judi
memberi kesenangan, tetapi
membuat miskin. Kesenangan
jangka pendek bisa membawa
penderitaan jangka panjang.
Ketiga, kesenangan tidak sama
dengan kebahagiaan. Kebahagiaan
adalah sesuatu yang lebih dalam.
Kebahagiaan adalah tentang
makna. Kebahagiaan adalah
tentang hubungan. Kebahagiaan
adalah tentang kontribusi. Anda
bisa merasa senang tanpa bahagia.
Anda bisa merasa bahagia tanpa
senang.
Keempat, banyak hal berharga
yang tidak menyenangkan. Belajar
bisa membosankan. Bekerja bisa
melelahkan. Berolahraga bisa
menyakitkan. Membantu orang lain
bisa merepotkan. Tetapi hal-hal itu
memberi makna. Hal-hal itu
membuat hidup lebih kaya.
Kelima, hedonism bisa membuat
orang egois. Jika tujuan hidup
adalah kesenangan saya, mengapa
saya harus peduli pada orang lain?
Mengapa saya harus berkorban?
Mengapa saya harus berbagi?
Hedonism bisa menggiring pada
individualisme yang ekstrem.
Tanggapan terhadap Kritik
Pendukung Hedonism punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa semua
kesenangan sama. Mereka
membedakan antara kesenangan
jangka pendek dan jangka panjang.
Mereka membedakan antara
kesenangan yang merusak dan
kesenangan yang membangun.
Epicurus, misalnya, mengatakan
bahwa kesenangan sejati adalah
ketenangan. Ia tidak mengejar
pesta pora. Ia mengejar hidup
sederhana. Ia menghindari
keinginan yang tidak perlu.
Ia menghindari konflik.
Ia menghindari kecemasan.
Mill juga membedakan antara
kesenangan rendah dan kesenangan
tinggi. Ia mengatakan bahwa
kesenangan intelektual, moral, dan
estetika lebih berharga daripada
kesenangan fisik. Ia mengatakan
bahwa lebih baik menjadi manusia
yang tidak puas daripada babi
yang puas.
Pendukung Hedonism juga
mengatakan bahwa hedonism
tidak harus egois. Utilitarianisme
hedonis, misalnya, mengejar
kesenangan terbesar bagi jumlah
orang terbanyak. Itu berarti Anda
peduli pada orang lain. Itu berarti
Anda berkorban untuk kebaikan
bersama.
Tiga Fase Menghadapi
Hedonism
Fase pertama, Anda mengejar
kesenangan. Anda berpikir bahwa
hidup ini tentang merasa senang.
Anda mengejar makanan enak.
Anda mengejar hiburan. Anda
mengejar kenyamanan. Anda
menghindari apa pun yang tidak
menyenangkan. Tetapi Anda merasa
kosong. Anda merasa tidak puas.
Anda merasa ada yang hilang.
Fase kedua, Anda meragukan.
Anda mulai bertanya, “Apakah ini
saja? Apakah hidup ini hanya tentang
merasa senang? Apakah ada sesuatu
yang lebih?” Anda mulai melihat
bahwa kesenangan tidak bertahan.
Anda mulai melihat bahwa
kesenangan tidak memuaskan.
Anda mulai mencari sesuatu yang
lebih dalam.
Fase ketiga, Anda mencari
keseimbangan. Anda menyadari
bahwa kesenangan itu penting,
tetapi bukan satu-satunya hal
penting. Anda mulai mengejar
makna. Anda mulai mengejar
hubungan. Anda mulai mengejar
kontribusi. Anda mulai mengejar
pertumbuhan. Anda mulai hidup
dengan lebih seimbang.
Cara Menyikapi Hedonism
Pertama, nikmati hidup. Hedonism
tidak sepenuhnya salah. Kesenangan
itu baik. Makanan enak itu baik.
Tawa itu baik. Istirahat itu baik.
Jangan menolak semua kesenangan.
Jangan hidup seperti mesin tanpa
perasaan.
Kedua, bedakan antara kesenangan
jangka pendek dan jangka panjang.
Kesenangan jangka pendek bisa
merusak. Kesenangan jangka
panjang membangun. Pilihlah
kesenangan yang tidak
mengorbankan masa depan Anda.
Ketiga, bedakan antara kesenangan
yang rendah dan yang tinggi.
Kesenangan fisik itu baik. Tetapi
kesenangan intelektual, emosional,
dan spiritual lebih kaya. Bacalah
buku. Pelajari hal baru. Bangun
hubungan yang dalam. Bantu
orang lain.
Keempat, jangan jadikan kesenangan
sebagai tujuan akhir. Kesenangan
adalah hasil samping dari hidup
yang baik. Jika Anda mengejar
kesenangan secara langsung, Anda
sering tidak mendapatkannya.
Jika Anda hidup dengan makna,
kesenangan datang sendiri.
Kelima, pikirkan orang lain. Hidup ini
bukan hanya tentang Anda.
Kesenangan Anda tidak boleh
mengorbankan kesenangan orang lain.
Carilah kesenangan yang juga
membawa kebaikan bagi orang lain.
Keenam, hindari kecanduan.
Kesenangan bisa menjadi jebakan.
Alkohol, narkoba, judi, pornografi,
dan konsumsi berlebihan bisa
menghancurkan hidup Anda.
Kenali batas Anda. Jangan biarkan
kesenangan menguasai Anda.
Ketujuh, temukan makna.
Kesenangan tidak akan pernah
cukup. Anda butuh sesuatu yang
lebih besar dari diri Anda. Anda
butuh tujuan. Anda butuh nilai.
Anda butuh sesuatu yang membuat
hidup ini layak dijalani, bahkan
ketika tidak menyenangkan.
Kedelapan, rendah hati. Anda tidak
tahu segalanya. Anda mungkin salah
tentang apa yang membuat Anda
bahagia. Terbukalah pada
pengalaman baru. Terbukalah pada
perspektif baru. Terbukalah pada
pertumbuhan.
Penutup
Hedonism mengajarkan satu hal
yang menggoda. Hidup ini singkat.
Nikmatilah. Jangan sia-siakan
waktu Anda untuk hal-hal yang
tidak menyenangkan. Kejar
kesenangan. Hindari rasa sakit.
Tetapi Hedonism juga mengajarkan
satu hal yang berbahaya.
Jika kesenangan adalah satu-satunya
tujuan, hidup ini menjadi dangkal.
Anda akan terus mengejar tanpa
pernah puas. Anda akan terus merasa
senang tanpa pernah bahagia.
Mungkin jawabannya bukan hitam
putih. Mungkin kesenangan itu
penting, tetapi bukan segalanya.
Mungkin hidup yang baik adalah
hidup yang seimbang. Mungkin
hidup yang baik adalah hidup yang
punya makna, hubungan, dan
kontribusi. Mungkin kesenangan
adalah buah, bukan akar.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda
mengejar kesenangan?
Apakah kesenangan membuat Anda
bahagia? Atau apakah Anda mencari
sesuatu yang lebih dalam? Sesuatu
yang tidak hanya menyenangkan,
tetapi juga bermakna?
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai mencari
keseimbangan dalam hidup Anda.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Hedonism: Kenapa Lo Bisa Kejar
Kesenangan Sampe Lupa Hidup?
Coba inget lagi. Jumat malem.
Lo baru aja selesai kerja seminggu
penuh. Capek. Otak penuh. Badan
pegel. Lo pengen istirahat.
Lo pengen seneng. Lo pengen
ngelakuin sesuatu yang bikin lo
lupa sebentar sama semua beban.
Terus lo buka HP. Lo scroll.
Lo liat temen lo lagi di Bali.
Lo liat selebgram lagi di klub.
Lo liat influencer lagi makan
di restoran mewah. Semua orang
keliatan bahagia. Semua orang
keliatan punya hidup yang seru.
Dan lo? Lo lagi di kamar.
Sendirian. Capek.
Terus lo mikir. “Kenapa gue
nggak bisa kayak mereka?
Kenapa hidup gue
gini-gini aja?”
Lo pengen keluar. Lo pengen belanja.
Lo pengen makan enak. Lo pengen
nongkrong sampe pagi. Lo pengen
ngelakuin apa pun yang bikin lo
ngerasa hidup. Setidaknya buat malem ini.
Tapi di sisi lain, ada suara kecil
di kepala lo. “Emang gitu doang?
Emang ini yang bikin lo
bahagia?
Atau lo cuma lagi lari dari
sesuatu?”
Kalo lo pernah ngerasain ini, lo
udah nyentuh salah satu perdebatan
paling tua di filsafat. Namanya
Hedonism. Dan gue jamin,
setelah baca ini, lo bakal liat
kesenangan dengan mata yang beda.
Sebenernya Hedonism Itu
Apa Sih?
Hedonism itu simpelnya gini:
kesenangan adalah kebaikan
tertinggi. Tujuan hidup
adalah dapetin kesenangan
dan hindarin rasa sakit.
Apa yang bener?
Yang bawa kesenangan.
Apa yang salah?
Yang bawa penderitaan.
Titik. Segampang itu.
Sesimpel itu. Seseram itu.
Kata hedonism berasal dari bahasa
Yunani, hedone. Artinya kesenangan.
Gagasan ini udah ada sejak zaman
Yunani kuno.
Salah satu filsuf yang paling terkenal
adalah Epicurus. Dia hidup sekitar
341 sampai 270 sebelum Masehi.
Dia bikin sekolah filsafat namanya
The Garden. Di situ, dia ngajarin
tentang hidup yang sederhana.
Hidup yang tenang.
Tapi tunggu dulu. Epicurus bukan
hedonis yang lo bayangin. Dia bukan
orang yang ngajarin pesta pora.
Dia bukan orang yang ngajarin
makan berlebihan. Dia bukan orang
yang ngajarin ngejar kesenangan
tanpa batas. Epicurus ngajarin
sesuatu yang lebih dalem.
Dia bilang, kesenangan sejati
adalah ketenangan.
Kesenangan sejati adalah bebas
dari rasa takut. Kesenangan
sejati adalah bebas dari
kecemasan. Kesenangan sejati
adalah hidup sederhana. Punya
temen baik. Nggak terganggu
sama keinginan yang nggak perlu.
Epicurus bilang, “Bukan makanan
dan minuman yang bikin hidup
menyenangkan, tapi pikiran yang
baik.” Dia juga bilang, “Kalo lo
pengen bikin seseorang bahagia,
jangan tambahin kekayaan. Kurangin
keinginannya.” Jadi buat Epicurus,
kesenangan bukan tentang nambah.
Tapi tentang ngurangin.
Bukan tentang memuaskan semua
keinginan. Tapi tentang mbebasin
diri dari keinginan yang nggak perlu.
Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?
Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
teori filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Gagasan ini
nyentuh hidup lo dengan cara yang
sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah
nanya kenapa lo kerja.
Apa cuma buat duit? Duit buat apa?
Buat beli kesenangan?
Buat beli barang yang bikin lo seneng
sebentar? Terus abis itu?
Lo beli lagi? Terus abis itu?
Terus abis itu? Kapan berhentinya?
Kedua, lo mungkin pernah
ngerasa kosong setelah ngejar
kesenangan.
Lo beli sesuatu yang lo pengen.
Lo ngerasa seneng. Tapi cuma
sehari. Dua hari. Seminggu.
Abis itu biasa aja. Lo cari lagi.
Lo beli lagi. Lo seneng lagi.
Tapi makin lama, makin susah
buat ngerasa seneng. Lo butuh
lebih. Lo butuh lebih gede.
Lo butuh lebih sering. Dan lo
mulai capek.
Ketiga, lo mungkin pernah
ngerasa bersalah karena
ngejar kesenangan.
Lo ngerasa “ah, gue kok cuma
mikirin seneng doang?
Kok gue nggak mikirin hal yang
lebih penting?”
Tapi di sisi lain, lo juga ngerasa
“ah, hidup cuma sekali.
Kenapa nggak seneng-seneng aja?”
Keempat, lo mungkin pernah
liat orang yang keliatan seneng
banget di luar, tapi kosong
di dalem.
Mereka punya semua yang lo pengen.
Barang. Liburan. Pengalaman.
Tapi mata mereka kosong. Senyum
mereka datar. Dan lo nanya dalam
hati, “Apa yang salah?”
Tanda-Tanda Lo Lagi Kejebak
Hedonism
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo ngerasa kosong setelah
belanja atau ngejar
pengalaman?
Itu tanda lo ngejar kesenangan,
tapi nggak nemu apa yang lo
cari.Lo butuh lebih banyak
kesenangan buat ngerasa
seneng kayak dulu?
Itu tanda lo udah mulai kebal.
Lo butuh dosis lebih gede.Lo ngerasa cemas kalo
nggak ada kesenangan?
Itu tanda lo udah kecanduan.
Lo bukan lagi pilih kesenangan.
Lo udah diperbudak sama
kesenangan.Lo ngerasa hidup lo hampa
meskipun lo punya banyak
pengalaman menyenangkan?
Itu tanda lo salah nempetin
makna di kesenangan.Lo ngerasa kesenangan
orang lain lebih penting
dari kesenangan lo?
Itu tanda lo udah kehilangan
diri sendiri buat ngejar standar
yang orang lain bikin.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener pelik.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.
Analogi: Lo Kayak Orang yang
Kehausan, Tapi Minum Air
Laut
Coba bayangin lo kehausan.
Bener-bener haus. Tenggorokan
kering. Badan lemes. Lo butuh
air. Lo butuh air tawar.
Tapi di depan lo, ada air laut. Biru.
Segar keliatannya. Lo minum.
Rasanya asin. Tapi lo tetep minum.
Karena lo haus. Karena lo putus asa.
Karena lo pengen ilangin rasa haus
itu.
Lo minum lagi. Lo minum lagi.
Lo minum lagi. Tapi rasa hausnya
nggak ilang. Malah tambah parah.
Karena air laut bikin dehidrasi.
Bikin lo makin haus. Bikin lo
makin butuh.
Itulah hedonism. Kesenangan itu
kayak air laut. Lo minum buat
ilangin haus. Tapi malah bikin lo
makin haus. Lo ngejar kesenangan
buat ngerasa bahagia. Tapi malah
bikin lo makin kosong. Lo ngejar
terus. Lo minum terus. Sampe lo
lupa apa yang sebenernya lo cari.
Contoh yang Bikin Lo Sadar
Di medsos. Lo scroll. Lo liat hidup
orang. Liburan. Pesta. Makan enak.
Lo pengen juga. Lo pengen ngerasain
yang mereka rasain. Lo mulai
bandingin. Lo mulai ngerasa hidup
lo kurang. Lo mulai ngejar. Lo mulai
belanja. Lo mulai liburan. Lo mulai
posting. Tapi setelah lo posting,
setelah lo dapet like, setelah
orang lain ngeliat, lo ngerasa kosong.
Karena lo sadar. Lo nggak bahagia.
Lo cuma pamer.
Di pekerjaan. Lo kerja keras.
Lo dapet bonus. Lo dapet promosi.
Lo seneng. Tapi cuma sehari.
Dua hari. Abis itu biasa aja.
Lo ngejar bonus yang lebih gede.
Lo ngejar jabatan yang lebih tinggi.
Lo ngejar pengakuan yang lebih
banyak. Tapi makin tinggi, makin lo
ngerasa nggak ada puasnya. Karena
lo ngejar kesenangan yang nggak
bisa dipegang.
Di hubungan. Lo pengen punya
pacar. Lo pengen punya pasangan.
Lo pengen punya seseorang yang
bikin lo seneng. Lo dapet.
Lo seneng. Tapi cuma sebentar.
Abis itu lo mulai ngerasa bosan.
Lo mulai ngerasa kurang. Lo mulai
cari yang lain. Lo mulai ngejar
sensasi baru. Dan lo lupa. Bahwa
hubungan bukan cuma soal seneng.
Tapi soal komitmen. Soal tumbuh
bareng. Soal ngelewatin susah
bareng.
Di diri lo sendiri. Lo pengen
ngerasa seneng. Lo pengen ngerasa
hidup. Lo ngejar apa pun yang bikin
lo seneng. Lo beli. Lo makan.
Lo nonton. Lo main. Lo jalan.
Lo ngelakuin apa pun. Tapi ujungnya,
lo tetep ngerasa kosong. Karena lo
nggak ngejar apa yang bener-bener
lo butuh. Lo cuma ngejar apa yang
orang bilang bikin seneng.
Kritik: Kenapa Banyak yang
Nolak Hedonism?
Hedonism nggak lepas dari kritik.
Banyak filsuf nolak pandangan ini.
Mereka punya beberapa alasan.
Pertama, kesenangan itu
sementara.
Lo makan enak, terus kenyang.
Lo nonton film, terus selesai.
Lo belanja, terus bosan. Kesenangan
nggak bertahan. Kalo hidup cuma
tentang ngejar kesenangan, lo bakal
terus ngejar tanpa pernah puas.
Kedua, kesenangan bisa
ngerusak.
Alkohol ngasih kesenangan, tapi
ngerusak hati. Narkoba ngasih
kesenangan, tapi ngehancurin
hidup. Judi ngasih kesenangan,
tapi bikin miskin. Kesenangan
jangka pendek bisa bawa
penderitaan jangka panjang.
Ketiga, kesenangan nggak sama
dengan kebahagiaan.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang lebih
dalem. Kebahagiaan adalah tentang
makna. Kebahagiaan adalah tentang
hubungan. Kebahagiaan adalah
tentang kontribusi. Lo bisa ngerasa
seneng tanpa bahagia. Lo bisa
ngerasa bahagia tanpa seneng.
Keempat, banyak hal berharga
yang nggak menyenangkan.
Belajar bisa membosankan. Kerja
bisa melelahkan. Olahraga bisa
menyakitkan. Nolong orang lain
bisa merepotkan. Tapi hal-hal itu
ngasih makna. Hal-hal itu bikin
hidup lebih kaya.
Kelima, hedonism bisa bikin
orang egois.
Kalo tujuan hidup adalah kesenangan
gue, kenapa gue harus peduli sama
orang lain? Kenapa gue harus
berkorban? Kenapa gue harus
berbagi? Hedonism bisa nggiring
pada individualisme yang ekstrem.
Tanggapan dari Pendukung
Pendukung Hedonism punya
tanggapan. Mereka nggak selalu
bilang semua kesenangan sama.
Mereka bedain antara kesenangan
jangka pendek dan jangka panjang.
Mereka bedain antara kesenangan
yang ngerusak dan kesenangan
yang membangun.
Epicurus, misalnya, bilang kesenangan
sejati adalah ketenangan. Dia nggak
ngejar pesta pora. Dia ngejar hidup
sederhana. Dia ngehindarin keinginan
yang nggak perlu. Dia ngehindarin
konflik. Dia ngehindarin kecemasan.
Mill juga bedain antara kesenangan
rendah dan kesenangan tinggi.
Dia bilang kesenangan intelektual,
moral, dan estetika lebih berharga
daripada kesenangan fisik.
Dia bilang lebih baik jadi manusia
yang nggak puas daripada babi
yang puas.
Pendukung Hedonism juga bilang
hedonism nggak harus egois.
Utilitarianisme hedonis, misalnya,
ngejar kesenangan terbesar buat
jumlah orang terbanyak. Itu berarti
lo peduli sama orang lain. Itu berarti
lo berkorban buat kebaikan bersama.
Cara Nyikapin Hedonism Tanpa
Kehilangan Akal
1. Nikmatin hidup.
Hedonism nggak sepenuhnya salah.
Kesenangan itu baik. Makanan enak
itu baik. Tawa itu baik. Istirahat itu
baik. Jangan nolak semua
kesenangan. Jangan hidup kayak
mesin tanpa perasaan. Lo boleh
seneng. Lo boleh ketawa. Lo boleh
nikmatin hidup.
2. Bedain antara kesenangan
jangka pendek dan jangka
panjang.
Kesenangan jangka pendek bisa
ngerusak. Kesenangan jangka
panjang membangun. Pilihlah
kesenangan yang nggak ngorbanin
masa depan lo. Pilihlah kesenangan
yang bikin lo tumbuh, bukan yang
bikin lo stuck.
3. Bedain antara kesenangan
yang rendah dan yang tinggi.
Kesenangan fisik itu baik. Tapi
kesenangan intelektual, emosional,
dan spiritual lebih kaya. Baca buku.
Pelajari hal baru. Bangun hubungan
yang dalem. Bantu orang lain.
Semua itu ngasih kesenangan yang
lebih tahan lama.
4. Jangan jadikan kesenangan
sebagai tujuan akhir.
Kesenangan adalah hasil samping
dari hidup yang baik. Kalo lo ngejar
kesenangan secara langsung,
lo sering nggak dapet. Kalo lo hidup
dengan makna, kesenangan datang
sendiri. Kesenangan bukan akar.
Kesenangan adalah buah.
5. Pikirin orang lain.
Hidup ini bukan cuma tentang lo.
Kesenangan lo nggak boleh ngorbanin
kesenangan orang lain.
Carilah kesenangan yang juga bawa
kebaikan buat orang lain. Kesenangan
yang lo bagi lebih nikmat daripada
kesenangan yang lo simpen sendiri.
6. Hindari kecanduan.
Kesenangan bisa jadi jebakan.
Alkohol. Narkoba. Judi. Pornografi.
Konsumsi berlebihan. Semua itu
bisa ngehancurin hidup lo.
Kenali batas lo. Jangan biarin
kesenangan nguasain lo. Lo yang
harus nguasain kesenangan.
7. Temuin makna.
Kesenangan nggak akan pernah
cukup. Lo butuh sesuatu yang lebih
gede dari diri lo. Lo butuh tujuan.
Lo butuh nilai. Lo butuh sesuatu
yang bikin hidup ini layak dijalanin,
bahkan waktu nggak menyenangkan.
Cari makna. Bukan cuma sensasi.
8. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Lo mungkin
salah tentang apa yang bikin lo
bahagia. Terbuka sama pengalaman
baru. Terbuka sama perspektif baru.
Terbuka sama pertumbuhan.
Jangan ngerasa paling tau soal
kebahagiaan.
9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa nentuin
dengan pasti apa yang bikin hidup
lo bahagia. Lo cuma bisa hidup
dengan ketidakpastian itu. Dan itu
nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia. Itu bagian dari perjalanan.
Yang Paling Lo Takutin Bukan
Kesenangan
Yang paling lo takutin bukan
kesenangan. Bukan kenikmatan.
Bukan kepuasan.
Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo sadar bahwa lo udah
ngejar kesenangan
bertahun-tahun, tapi lo tetep
ngerasa kosong. Kalo lo sadar
bahwa lo udah ngelakuin
semua yang orang bilang bikin
seneng, tapi lo tetep nggak
bahagia. Kalo lo sadar bahwa
lo udah ngorbanin banyak hal
buat kesenangan, tapi
ujungnya lo cuma dapet hampa.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo sadar, lo
bisa berhenti. Kalo lo sadar, lo bisa
nimbang. Kalo lo sadar, lo bisa mulai
cari yang lebih dalem. Bukan cuma
kesenangan. Tapi makna. Bukan
cuma sensasi. Tapi tujuan. Bukan
cuma kenikmatan. Tapi kebahagiaan
yang beneran.
Hedonism bukan tentang nolak
kesenangan. Dia tentang ngehargain
kesenangan tanpa diperbudak sama
kesenangan. Dia tentang nikmatin
hidup tanpa lupa kenapa lo hidup.
Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur
Hedonism ngajarin satu hal yang
menggoda. Hidup ini singkat.
Nikmatin. Jangan sia-siain waktu
lo buat hal-hal yang nggak
menyenangkan. Kejar kesenangan.
Hindari rasa sakit.
Tapi Hedonism juga ngajarin satu
hal yang berbahaya. Kalo kesenangan
adalah satu-satunya tujuan, hidup
ini jadi dangkal. Lo bakal terus
ngejar tanpa pernah puas. Lo bakal
terus ngerasa seneng tanpa pernah
bahagia.
Mungkin jawabannya bukan hitam
putih. Mungkin kesenangan itu
penting, tapi bukan segalanya.
Mungkin hidup yang baik adalah
hidup yang seimbang. Mungkin
hidup yang baik adalah hidup yang
punya makna, hubungan, dan
kontribusi. Mungkin kesenangan
adalah buah, bukan akar.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo ngejar kesenangan?
Kesenangan bikin lo bahagia?
Atau lo nyari sesuatu yang
lebih dalem?
Sesuatu yang nggak cuma
menyenangkan, tapi juga
bermakna?
Lo minum air laut?
Atau lo nyari air tawar?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue
bisa ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai jujur sama diri sendiri.
Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai nyari keseimbangan
dalam hidup lo.
