filsafat

Veil of Ignorance: Bagaimana Anda Merancang Dunia yang Adil Jika Anda Tidak Tahu Siapa Anda Nantinya?

Pernahkah Anda merasa bahwa dunia
ini tidak adil? Ada orang yang lahir
kaya. Ada orang yang lahir miskin.
Ada orang yang lahir sehat. Ada orang
yang lahir dengan penyakit. Ada orang
yang lahir di negara damai. Ada orang
yang lahir di negara perang. Anda
tidak memilih di mana Anda
dilahirkan. Anda tidak memilih siapa
orang tua Anda. Anda tidak memilih
tubuh Anda. Anda tidak memilih
bakat Anda. Semua itu sudah
ditentukan sebelum Anda bisa
berbicara.

Lalu muncul pertanyaan yang
mengganggu. Jika Anda bisa
merancang dunia, tetapi Anda tidak
tahu siapa Anda nantinya, aturan
seperti apa yang akan Anda buat?
Apakah Anda akan membuat aturan
yang menguntungkan orang kaya?
Apakah Anda akan membuat aturan
yang menguntungkan orang sehat?
Atau apakah Anda akan membuat
aturan yang adil untuk semua orang,
karena Anda tidak tahu di posisi
mana Anda akan dilahirkan?

Pertanyaan itu sudah dibahas oleh
seorang filsuf Amerika bernama
John Rawls. Ia mengajak kita
membayangkan sebuah situasi yang
disebut Veil of Ignorance, atau Tabir
Ketidaktahuan. Mari saya ajak Anda
masuk ke dalamnya.

Apa Itu Veil of Ignorance?

Veil of Ignorance adalah eksperimen
pikiran yang diajukan oleh John
Rawls dalam bukunya yang berjudul
“A Theory of Justice,” yang diterbitkan
pada tahun 1971. Rawls mengajak
kita membayangkan diri kita berada
di posisi awal, sebelum kita dilahirkan.
Di posisi itu, kita harus merancang
aturan dasar masyarakat. Tetapi ada
satu syarat. Kita berada di balik tabir
ketidaktahuan.

Apa maksudnya? Di balik tabir itu, kita
tidak tahu siapa kita nantinya.
Kita tidak tahu apakah kita akan lahir
kaya atau miskin. Kita tidak tahu
apakah kita akan lahir pintar atau
biasa saja. Kita tidak tahu apakah kita
akan lahir sehat atau sakit. Kita tidak
tahu apakah kita akan lahir sebagai
laki-laki atau perempuan. Kita tidak
tahu apakah kita akan lahir di negara
maju atau negara berkembang.
Kita tidak tahu apakah kita akan lahir
dengan bakat atau tanpa bakat.

Kita tidak tahu apa pun tentang diri
kita nanti. Kita hanya tahu bahwa
kita akan hidup dalam masyarakat
yang kita rancang. Karena kita tidak
tahu siapa kita nantinya, kita harus
membuat aturan yang adil untuk
semua orang. Kita tidak bisa membuat
aturan yang hanya menguntungkan
satu kelompok, karena kita tidak tahu
apakah kita akan menjadi bagian dari
kelompok itu.

Mengapa Ini Penting?

Mungkin Anda berpikir,
“Ah, itu kan hanya khayalan filsuf.
Saya tidak peduli.”
Tetapi coba lihat lagi.

Pernahkah Anda bertanya mengapa
ada orang kaya dan ada orang miskin?
Pernahkah Anda bertanya mengapa
ada orang yang punya kesempatan
besar dan ada orang yang tidak punya
kesempatan sama sekali?
Pernahkah Anda bertanya apakah
sistem yang ada sekarang ini adil?
Atau apakah sistem ini hanya
menguntungkan mereka yang
sudah beruntung?

Veil of Ignorance adalah alat untuk
menguji keadilan. Ia mengajak kita
untuk berpikir dari perspektif orang
yang paling tidak beruntung.
Jika Anda tidak tahu apakah Anda
akan menjadi orang kaya atau orang
miskin, Anda akan membuat aturan
yang melindungi orang miskin.
Jika Anda tidak tahu apakah Anda
akan menjadi orang sehat atau
orang sakit, Anda akan membuat
aturan yang melindungi orang sakit.
Jika Anda tidak tahu apakah Anda
akan menjadi mayoritas atau
minoritas, Anda akan membuat
aturan yang melindungi minoritas.

Rawls berargumen bahwa dari balik
tabir ketidaktahuan, orang yang
rasional akan memilih dua prinsip
keadilan. Prinsip pertama adalah
setiap orang harus punya kebebasan
dasar yang sama. Kebebasan itu
meliputi kebebasan berbicara,
kebebasan beragama, kebebasan
berkumpul, dan hak untuk memilih.
Prinsip kedua adalah ketidaksetaraan
sosial dan ekonomi harus diatur
sedemikian rupa sehingga
menguntungkan mereka yang paling
tidak beruntung. Dengan kata lain,
jika ada orang kaya, kekayaan itu
harus memberi manfaat bagi orang
miskin. Jika ada orang berkuasa,
kekuasaan itu harus digunakan
untuk kebaikan bersama.

Apa Bedanya dengan Social
Contract Theory?

Veil of Ignorance sering dikaitkan
dengan Social Contract Theory.
Keduanya memang mirip.
Keduanya berbicara tentang
kesepakatan untuk membentuk
masyarakat. Tetapi ada
perbedaan penting.

Social Contract Theory klasik,
seperti yang dikemukakan Hobbes
atau Locke, membayangkan
manusia yang sudah punya
kepentingan. Mereka membuat
kesepakatan untuk melindungi
kepentingan itu. Mereka sudah tahu
siapa mereka. Mereka sudah tahu
apa yang mereka inginkan.

Veil of Ignorance menghapus
pengetahuan itu. Anda tidak tahu
siapa Anda. Anda tidak tahu apa
kepentingan Anda. Anda hanya
tahu bahwa Anda akan hidup dalam
masyarakat yang Anda rancang.
Karena itu, Anda akan membuat
aturan yang adil untuk semua orang,
bukan hanya untuk diri Anda sendiri.

Rawls menyebut situasi ini sebagai
“posisi awal.” Posisi awal adalah
situasi hipotetis yang setara.
Tidak ada yang punya kekuasaan
lebih. Tidak ada yang punya
pengetahuan lebih. Semua orang
berada di posisi yang sama. Dari
posisi itu, keadilan bisa lahir.

Contoh Sederhana
di Kehidupan Sehari-hari

Seorang mahasiswa belajar tentang
keadilan. Ia bertanya,
“Jika saya tidak tahu apakah saya
akan lahir kaya atau miskin, sistem
seperti apa yang akan saya pilih?
Apakah saya akan memilih sistem
yang memberi keringanan bagi
orang miskin?
Atau sistem yang membiarkan
orang miskin berjuang sendiri?”

Seorang karyawan bekerja
di perusahaan. Ia bertanya,
“Jika saya tidak tahu apakah saya
akan menjadi bos atau pekerja
biasa, aturan seperti apa yang akan
saya buat? Apakah saya akan
memberi gaji yang layak untuk
pekerja? Atau saya akan menekan
gaji agar bos untung?”

Seorang warga negara membayar
pajak. Ia bertanya, “Jika saya tidak
tahu apakah saya akan sehat atau
sakit, apakah saya akan mendukung
sistem kesehatan yang gratis untuk
semua?
Atau sistem yang hanya untuk
yang mampu?”

Seorang orang tua mendidik anaknya.
Ia bertanya, “Jika saya tidak tahu
apakah anak saya akan pintar atau
biasa saja, apakah saya akan menuntut
nilai tinggi? Atau saya akan
menghargai usaha dan kebaikan?”

Seorang pengguna media sosial
melihat ketidakadilan. Ia bertanya,
“Jika saya tidak tahu apakah saya akan
menjadi korban atau pelaku,
apakah saya akan diam?
Atau saya akan membela yang lemah?”

Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Veil of Ignorance bukan hanya
teori. Ia adalah alat untuk menguji
apakah aturan kita sudah adil.
Ia mengajak kita untuk berpikir dari
perspektif orang lain. Ia mengajak
kita untuk berpikir dari perspektif
orang yang paling tidak beruntung.

Kritik terhadap Veil of
Ignorance

Veil of Ignorance tidak lepas dari kritik.
Banyak filsuf dan pemikir menolak
atau meragukan gagasan ini.

Pertama, apakah mungkin
membayangkan diri kita tanpa
identitas?
Manusia selalu punya identitas.
Manusia selalu punya kepentingan.
Apakah kita benar-benar bisa
melepaskan semua itu?
Apakah eksperimen pikiran ini
realistis?

Kedua, apakah orang di balik tabir
akan benar-benar memilih keadilan?
Mungkin mereka akan memilih
aturan yang menguntungkan semua
orang. Tetapi mungkin juga mereka
akan memilih aturan yang
menguntungkan sebagian orang,
karena mereka berharap mereka
akan menjadi bagian dari kelompok
itu.

Ketiga, apakah keadilan bisa
dirumuskan tanpa memperhatikan
konteks? Setiap masyarakat punya
sejarah, budaya, dan kebutuhan yang
berbeda. Apakah satu prinsip
keadilan bisa berlaku untuk semua?

Keempat, apakah fokus pada orang
yang paling tidak beruntung selalu
tepat? Mungkin ada situasi di mana
fokus pada orang yang paling tidak
beruntung justru menghambat
kemajuan. Mungkin ada situasi
di mana insentif diperlukan untuk
mendorong inovasi dan
pertumbuhan.

Kelima, apakah Rawls terlalu optimis
tentang sifat manusia? Apakah
manusia benar-benar mau menyerahkan
keuntungan mereka untuk kebaikan
bersama? Apakah manusia
benar-benar mau membuat aturan
yang adil jika mereka tidak
diuntungkan?

Tanggapan terhadap Kritik

Pendukung Veil of Ignorance punya
tanggapan. Mereka tidak selalu
mengatakan bahwa eksperimen
pikiran ini sempurna. Mereka sering
mengatakan bahwa ini adalah alat
untuk berpikir. Ini adalah cara untuk
menguji intuisi kita tentang keadilan.

Mereka juga mengatakan bahwa Veil
of Ignorance bukan tentang
menciptakan masyarakat yang
sempurna. Ia tentang mencari
prinsip-prinsip yang bisa diterima
oleh semua orang. Ia tentang mencari
titik temu di antara perbedaan.

Mereka juga mengatakan bahwa
keadilan tidak berarti semua orang
harus sama. Rawls sendiri mengakui
bahwa ketidaksetaraan bisa diterima,
asalkan menguntungkan orang yang
paling tidak beruntung. Yang penting
adalah tidak ada yang dikorbankan
demi keuntungan orang lain.

Mereka juga mengatakan bahwa Veil
of Ignorance adalah ideal. Ia mungkin
tidak bisa dicapai sepenuhnya. Tetapi
ia memberi arah. Ia memberi standar.
Ia memberi harapan.

Tiga Fase Menghadapi Veil of
Ignorance

Fase pertama, Anda merasa yakin.
Anda merasa bahwa sistem yang ada
sekarang ini sudah adil. Anda merasa
bahwa orang kaya pantas kaya. Anda
merasa bahwa orang miskin pantas
miskin. Anda merasa bahwa setiap
orang bertanggung jawab atas
hidupnya sendiri.

Fase kedua, Anda meragukan. Anda
mulai bertanya, “Apakah saya
benar-benar bertanggung jawab atas
semua yang terjadi pada saya?
Apakah saya memilih untuk
dilahirkan dalam keluarga ini?
Apakah saya memilih untuk
dilahirkan dengan bakat ini?
Apakah saya memilih untuk
dilahirkan di negara ini?”
Anda mulai melihat bahwa banyak
hal di luar kendali Anda.

Fase ketiga, Anda memilih sikap.
Anda bisa tetap percaya bahwa
sistem ini adil. Anda bisa mulai
memperjuangkan keadilan yang
lebih besar. Anda bisa mulai melihat
bahwa orang yang kurang beruntung
bukanlah orang yang malas. Mereka
mungkin hanya kurang beruntung.
Anda mulai berpikir dari perspektif
mereka.

Cara Menyikapi Veil of Ignorance

Pertama, bayangkan diri Anda di balik
tabir. Ini bukan untuk menakut-nakuti
Anda. Ini untuk membuat Anda sadar.
Jika Anda tidak tahu siapa Anda
nantinya, aturan seperti apa yang akan
Anda buat? Apakah aturan itu
menguntungkan semua orang?
Atau hanya sebagian orang?

Kedua, pikirkan orang yang paling
tidak beruntung. Ketika Anda
membuat keputusan, pikirkan
bagaimana dampaknya pada mereka.
Apakah keputusan Anda membantu
mereka? Atau apakah keputusan
Anda semakin menenggelamkan
mereka?

Ketiga, jangan hanya melihat dari
posisi Anda. Anda mungkin beruntung.
Anda mungkin punya pendidikan.
Anda mungkin punya kesehatan.
Anda mungkin punya keluarga yang
mendukung. Tetapi tidak semua
orang seberuntung Anda. Cobalah
melihat dari posisi mereka.

Keempat, uji keadilan dengan
pertanyaan sederhana. Ketika
Anda melihat aturan atau
kebijakan, tanyakan, “Apakah saya
akan setuju dengan aturan ini jika
saya tidak tahu siapa saya nantinya?”
Jika jawabannya tidak, maka aturan
itu mungkin tidak adil.

Kelima, perjuangkan keadilan.
Veil of Ignorance bukan hanya alat
untuk berpikir. Ia juga panggilan
untuk bertindak. Jika Anda melihat
ketidakadilan, jangan diam.
Berbicaralah. Bertindaklah.
Perjuangkan perubahan.

Keenam, jangan jadi sinis. Veil of
Ignorance mengajak kita untuk
bermimpi tentang dunia yang lebih
adil. Jangan biarkan sinisme
menghalangi mimpi itu. Dunia yang
lebih adil mungkin sulit diwujudkan.
Tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Ketujuh, rendah hati. Anda tidak tahu
segalanya. Anda tidak tahu siapa yang
menderita. Anda tidak tahu siapa
yang berjuang. Anda tidak tahu siapa
yang berjuang tanpa harapan.
Dengarkan. Belajar. Terbuka.

Kedelapan, mulai dari diri sendiri.
Keadilan tidak hanya tentang sistem.
Keadilan juga tentang bagaimana
Anda memperlakukan orang lain.
Apakah Anda adil pada karyawan
Anda? Apakah Anda adil pada anak
Anda? Apakah Anda adil pada teman
Anda? Mulailah dari sana.

Penutup

Veil of Ignorance mengajarkan satu
hal yang menantang. Keadilan bukan
tentang menguntungkan diri sendiri.
Keadilan adalah tentang
menciptakan aturan yang bisa
diterima oleh semua orang. Keadilan
adalah tentang melindungi mereka
yang paling lemah. Keadilan adalah
tentang membayangkan diri Anda
di posisi mereka.

Rawls mengajak kita untuk berpikir
dari balik tabir. Ia mengajak kita
untuk melepaskan kepentingan
pribadi. Ia mengajak kita untuk
mencari prinsip yang adil.
Ia mengajak kita untuk bermimpi
tentang masyarakat yang lebih baik.

Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Jika Anda berada
di balik tabir ketidaktahuan, jika
Anda tidak tahu siapa Anda
nantinya, aturan seperti apa yang
akan Anda buat? Apakah aturan
itu akan menguntungkan semua
orang? Atau hanya sebagian orang?
Dan jika aturan itu hanya
menguntungkan sebagian orang,
apakah Anda berani mengatakan
bahwa itu adil?

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai berpikir dari balik tabir.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Veil of Ignorance: Kalo Lo Bisa
Rancang Dunia, Tapi Lo Nggak
Tau Bakal Jadi Siapa, Aturan
Apa yang Lo Bikin?

Coba inget lagi. Waktu lo kecil. Lo lagi
main sama temen-temen. Lo bikin
permainan. Lo bikin aturannya.
Lo bagi perannya. Lo nentuin siapa
jadi apa.

Tapi ada satu masalah. Lo selalu
pengen jadi yang menang. Lo selalu
pengen jadi yang paling kuat.
Lo selalu pengen jadi yang paling
pinter. Lo bikin aturan yang
ngeuntungin diri lo sendiri. Lo nggak
peduli temen lo ngerasa nggak adil.
Yang penting lo seneng.

Sekarang, coba bayangin lo diminta
bikin aturan buat sebuah permainan.
Tapi ada satu syarat:
lo nggak tau
lo bakal jadi siapa.

Lo nggak tau lo bakal jadi pemain
yang kuat atau lemah. Lo nggak tau
lo bakal jadi pemain yang cepet atau
lambat. Lo nggak tau lo bakal jadi
tim A atau tim B. Lo nggak tau lo
bakal jadi yang jago atau yang
biasa aja.

Nah, aturan apa yang bakal lo bikin?

Kalo lo nggak tau lo bakal jadi siapa,
lo bakal bikin aturan yang adil buat
semua orang. Karena kalo lo bikin
aturan yang ngeuntungin satu pihak,
lo nggak tau apakah lo bakal ada
di pihak itu. Kalo lo bikin aturan yang
nyusahin satu pihak, lo nggak tau
apakah lo bakal jadi bagian dari
pihak itu.

Itulah inti dari gagasan yang namanya
Veil of Ignorance. Dan gue jamin,
setelah baca ini, lo bakal liat keadilan
dengan mata yang beda.

Sebenernya Veil of Ignorance Itu
Apa Sih?

Veil of Ignorance itu gagasan dari
filsuf Amerika namanya
John
Rawls.
Dia nulis di bukunya yang
berjudul A Theory of Justice.
Terbit tahun 1971.

Rawls ngajak lo buat ngebayangin
diri lo di
posisi awal. Sebelum lo
dilahirkan. Sebelum lo jadi
siapa-siapa. Di posisi itu, lo harus
ngerancang aturan dasar buat
masyarakat. Tapi ada satu syarat.

Lo ada di balik tabir
ketidaktahuan.

Apa maksudnya? Di balik tabir itu,
lo nggak tau siapa lo nantinya.
Lo nggak tau lo bakal lahir kaya
atau miskin. Lo nggak tau lo bakal
lahir pinter atau biasa aja.
Lo nggak tau lo bakal lahir sehat
atau sakit. Lo nggak tau lo bakal
lahir sebagai laki-laki atau
perempuan. Lo nggak tau lo bakal
lahir di negara maju atau negara
berkembang. Lo nggak tau lo bakal
lahir dengan bakat atau tanpa bakat.

Lo nggak tau apa pun tentang diri
lo nanti. Lo cuma tau satu hal:
lo bakal hidup di masyarakat
yang lo rancang.

Karena lo nggak tau siapa lo nantinya,
lo harus bikin aturan yang adil buat
semua orang. Lo nggak bisa bikin
aturan yang cuma ngeuntungin satu
kelompok, karena lo nggak tau
apakah lo bakal jadi bagian dari
kelompok itu.

Kenapa Ini Penting Banget
Buat Lo?

Mungkin lo mikir, “Ah, itu kan cuma
khayalan filsuf. Gue nggak peduli.”
Tapi tunggu dulu. Gagasan ini
nyentuh hidup lo dengan cara yang
sangat pribadi.

Pertama, lo mungkin pernah
nanya kenapa ada orang kaya
dan ada orang miskin.

Kenapa ada yang punya kesempatan
gede dan ada yang nggak punya
kesempatan sama sekali?
Kenapa ada yang bisa sekolah tinggi
dan ada yang harus kerja dari kecil?
Apakah itu adil?
Atau apakah itu cuma
keberuntungan?

Kedua, lo mungkin pernah
ngerasa nggak adil.

Lo ngerasa udah usaha mati-matian.
Tapi hasilnya nggak sebanding.
Lo liat orang yang kerjanya nggak
sekeras lo, tapi dapet lebih banyak.
Lo nanya, “Kok bisa?”

Ketiga, lo mungkin pernah
ngerasa bersalah.

Lo ngerasa hidup lo lebih enak
dari orang lain. Lo ngerasa lo
punya lebih banyak kesempatan.
Lo nggak tau harus ngapain sama
perasaan itu. Lo nanya,
“Apa yang bisa gue lakuin?”

Keempat, lo mungkin pernah
mikir “ah, yang penting gue
mah udah usaha.”
Tapi lo nggak pernah nanya,
“Apa yang bikin gue bisa usaha?
Apa yang bikin gue punya
kesempatan buat usaha?”

Analogi: Lo Kayak Desainer
Game yang Nggak Tau Bakal
Jadi Pemain Apa

Coba bayangin lo lagi bikin game.
Game online. Banyak pemain.
Banyak karakter. Banyak aturan.

Lo duduk di depan laptop. Lo nulis
kode. Lo bikin sistem. Lo tentuin
gimana game ini jalan. Lo tentuin
gimana pemain bisa menang.
Lo tentuin gimana pemain bisa
kalah. Lo tentuin gimana poin
dibagi. Lo tentuin gimana hadiah
diberikan.

Tapi ada satu hal yang bikin lo nggak
bisa sembarangan.
Lo nggak tau
lo bakal jadi pemain yang mana.

Lo nggak tau lo bakal jadi pemain yang
kuat atau lemah. Lo nggak tau lo bakal
jadi pemain yang kaya atau miskin.
Lo nggak tau lo bakal jadi pemain yang
jago atau newbie. Lo nggak tau lo
bakal jadi pemain yang punya waktu
banyak atau pemain yang cuma bisa
main sejam sehari.

Lo cuma tau satu hal. Setelah game
ini jadi, lo bakal masuk
ke dalamnya. Lo bakal jadi
salah satu pemain. Dan lo nggak
bisa milih jadi siapa.

Sekarang, aturan apa yang bakal lo
bikin?

Kalo lo bikin aturan yang cuma
ngeuntungin pemain kaya, lo nggak
tau apakah lo bakal jadi pemain
kaya. Kalo lo bikin aturan yang
nyusahin pemain lemah, lo nggak
tau apakah lo bakal jadi pemain
lemah.

Jadi lo bakal bikin aturan yang adil.
Aturan yang nggak nyusahin
siapa pun. Aturan yang ngeuntungin
semua orang. Aturan yang bikin
game ini seru buat semua pemain,
bukan cuma buat segelintir orang.

Itulah Veil of Ignorance.

Dua Prinsip yang Bakal Lo Pilih

Rawls bilang kalo lo ada di balik tabir
ketidaktahuan, lo bakal milih dua
prinsip keadilan.

Prinsip pertama: setiap orang
harus punya kebebasan dasar
yang sama.

Kebebasan itu meliputi kebebasan
ngomong. Kebebasan beragama.
Kebebasan berkumpul. Hak buat
milih. Hak buat hidup dengan aman.
Hak buat ngejar kebahagiaan lo
sendiri.

Nggak ada yang boleh punya
kebebasan lebih dari yang lain.
Nggak ada yang boleh punya hak
istimewa yang nggak dimiliki
orang lain. Semua orang sama.
Di depan hukum. Di depan
negara. Di depan masyarakat.

Prinsip kedua: ketidaksetaraan
sosial dan ekonomi harus
diatur sedemikian rupa
sehingga ngeuntungin mereka
yang paling nggak beruntung.

Dengan kata lain, kalo ada orang kaya,
kekayaan itu harus ngasih manfaat
buat orang miskin. Kalo ada orang
berkuasa, kekuasaan itu harus dipake
buat kebaikan bersama. Kalo ada
orang yang punya kesempatan lebih,
kesempatan itu harus bisa diakses
oleh orang yang kurang beruntung.

Rawls nggak bilang semua orang
harus sama rata. Dia nggak bilang
orang kaya harus jadi miskin. Dia
nggak bilang orang pinter harus
jadi bodoh. Dia cuma bilang satu
hal.

Kalo ada yang punya lebih,
yang punya lebih itu harus
bantu yang punya kurang.
Bukan karena dipaksa.
Tapi karena itu adil.

Tanda-Tanda Lo Lagi Nyentuh
Gagasan Ini

Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.

  1. Lo pernah ngerasa hidup ini
    nggak adil?

    Lo liat orang yang lahir kaya,
    langsung punya segalanya.
    Lo liat orang yang lahir miskin,
    harus berjuang dari nol. Dan lo
    nanya, “Kok bisa?”

  2. Lo pernah mikir “kalo gue
    lahir di keluarga lain,
    hidup gue bakal beda”?

    Itu tanda lo sadar banyak hal
    di luar kendali lo.

  3. Lo pernah ngerasa
    bersalah karena lo lebih
    beruntung dari orang lain?

    Itu tanda lo mulai mikirin
    keadilan.

  4. Lo pernah mikir “ah, yang
    penting gue udah usaha”?
    Itu tanda lo mungkin lupa
    bahwa kesempatan buat usaha
    itu juga keberuntungan.

  5. Lo pernah ngerasa nggak
    tau harus ngapain buat
    bikin dunia ini lebih adil?
    Itu tanda lo peduli. Dan lo
    cuma butuh alat buat mikir.

Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang bener-bener penting.
Dan itu nggak apa-apa. Itu tanda
lo mikir.

Contoh yang Bikin Lo Sadar

Di kantor. Lo lagi bikin aturan buat
perusahaan. Aturan soal gaji. Aturan
soal cuti. Aturan soal promosi. Lo ada
di posisi bos. Lo pengen gaji pekerja
ditekan biar untung perusahaan gede.
Tapi tunggu dulu. Lo nggak tau
apakah lo bakal jadi bos atau pekerja.
Kalo lo nggak tau, lo bakal bikin
aturan gaji yang layak. Bukan cuma
buat bos. Tapi juga buat pekerja.

Di sekolah. Lo lagi bikin sistem
penerimaan siswa. Lo pengen
sekolah ini cuma nerima anak-anak
pinter. Anak-anak kaya. Anak-anak
yang punya kesempatan.
Tapi tunggu dulu. Lo nggak tau
apakah anak lo bakal jadi anak pinter
atau anak biasa. Lo nggak tau apakah
anak lo bakal jadi anak kaya atau
anak miskin. Kalo lo nggak tau, lo
bakal bikin sistem yang ngasih
kesempatan buat semua anak.
Bukan cuma yang pinter. Tapi juga
yang biasa.

Di rumah sakit. Lo lagi bikin
aturan soal siapa yang dapet
perawatan dulu. Lo pengen yang
bayar lebih banyak dapet perawatan
lebih cepet. Tapi tunggu dulu.
Lo nggak tau apakah lo bakal jadi
orang kaya atau orang miskin. Lo
nggak tau apakah lo bakal jadi
orang sehat atau orang sakit. Kalo
lo nggak tau, lo bakal bikin sistem
yang nggak ngebedain siapa yang
dapet perawatan. Semua orang
punya hak yang sama.

Di lingkungan. Lo lagi bikin
aturan soal siapa yang boleh tinggal
di komplek lo. Lo pengen cuma
orang-orang tertentu yang boleh
masuk. Orang yang selevel sama lo.
Orang yang sepaham sama lo. Tapi
tunggu dulu. Lo nggak tau apakah
lo bakal jadi orang yang diterima
atau orang yang ditolak. Kalo lo
nggak tau, lo bakal bikin aturan
yang terbuka buat semua orang.

Di negara. Lo lagi bikin
undang-undang. Lo pengen hukum
yang ngeuntungin kelompok lo.
Kelompok lo yang mayoritas.
Kelompok lo yang punya kekuasaan.
Tapi tunggu dulu. Lo nggak tau
apakah lo bakal jadi bagian dari
mayoritas atau minoritas. Kalo lo
nggak tau, lo bakal bikin hukum
yang nglindungin semua orang.
Bukan cuma yang mayoritas.

Semua contoh ini nunjukin satu hal:
Veil of Ignorance bukan cuma
teori. Dia alat buat ngetes
apakah aturan lo udah adil.

Bedanya sama Social
Contract Theory

Veil of Ignorance sering dikaitkan
sama Social Contract Theory.
Dua-duanya emang mirip.
Dua-duanya ngomongin kesepakatan
buat membentuk masyarakat. Tapi
ada perbedaan penting.

Social Contract Theory klasik
kayak yang dikemukain Hobbes atau
Locke, ngebayangin manusia yang
udah punya kepentingan. Mereka
bikin kesepakatan buat nglindungin
kepentingan itu. Mereka udah tau
siapa mereka. Mereka udah tau apa
yang mereka pengen.

Veil of Ignorance ngehapus
pengetahuan itu. Lo nggak tau siapa
lo. Lo nggak tau apa kepentingan lo.
Lo cuma tau bahwa lo bakal hidup
di masyarakat yang lo rancang.
Karena itu, lo bakal bikin aturan
yang adil buat semua orang. Bukan
cuma buat diri lo sendiri.

Rawls nyebut situasi ini sebagai
posisi awal. Posisi awal adalah
situasi hipotetis yang setara. Nggak
ada yang punya kekuasaan lebih.
Nggak ada yang punya pengetahuan
lebih. Semua orang ada di posisi
yang sama. Dari posisi itu, keadilan
bisa lahir.

Kritik: Kenapa Banyak yang
Nggak Setuju?

Veil of Ignorance nggak lepas dari
kritik. Banyak filsuf nolak atau
ngeraguin gagasan ini.

Pertama, apa mungkin
ngebayangin diri lo tanpa
identitas?

Manusia selalu punya identitas.
Manusia selalu punya kepentingan.
Apa lo bener-bener bisa ngelepasin
semua itu? Apa eksperimen
pikiran ini realistis?

Kedua, apa orang di balik tabir
bakal bener-bener milih
keadilan?
Mungkin mereka bakal milih aturan
yang ngeuntungin semua orang.
Tapi mungkin juga mereka bakal
milih aturan yang ngeuntungin
sebagian orang. Karena mereka
berharap mereka bakal jadi bagian
dari kelompok itu.

Ketiga, apa keadilan bisa
dirumusin tanpa
memperhatiin konteks?

Setiap masyarakat punya sejarah.
Punya budaya. Punya kebutuhan
yang beda. Apa satu prinsip
keadilan bisa berlaku buat
semua?

Keempat, apa fokus pada
orang yang paling nggak
beruntung selalu tepat?

Mungkin ada situasi di mana fokus
pada orang yang paling nggak
beruntung justru ngehambat
kemajuan. Mungkin ada situasi
di mana insentif diperlukan buat
ngedorong inovasi dan
pertumbuhan.

Kelima, apa Rawls terlalu
optimis tentang sifat manusia?
Apa manusia bener-bener mau
nyerahin keuntungan mereka buat
kebaikan bersama?
Apa manusia bener-bener mau
bikin aturan yang adil kalo mereka
nggak diuntungin?

Tanggapan dari Pendukung

Pendukung Veil of Ignorance punya
tanggapan. Mereka nggak selalu
bilang eksperimen pikiran ini
sempurna. Mereka sering bilang ini
alat buat berpikir. Ini cara buat
ngetes intuisi kita tentang keadilan.

Mereka juga bilang Veil of Ignorance
bukan tentang nciptain masyarakat
yang sempurna. Dia tentang nyari
prinsip yang bisa diterima semua
orang. Dia tentang nyari titik temu
di antara perbedaan.

Mereka juga bilang keadilan nggak
berarti semua orang harus sama.
Rawls sendiri ngakui
ketidaksetaraan bisa diterima.
Asalkan ngeuntungin orang yang
paling nggak beruntung.
Yang penting nggak ada yang
dikorbankan demi keuntungan
orang lain.

Mereka juga bilang Veil of Ignorance
adalah ideal. Mungkin nggak bisa
dicapai sepenuhnya. Tapi dia ngasih
arah. Dia ngasih standar. Dia ngasih
harapan.

Cara Nyikapin Gagasan Ini
Tanpa Kehilangan Akal

1. Bayangin diri lo di balik tabir.
Ini bukan buat nakut-nakutin lo. Ini
buat bikin lo sadar. Kalo lo nggak tau
siapa lo nantinya, aturan kayak apa
yang bakal lo bikin? Apa aturan itu
ngeuntungin semua orang?
Atau cuma sebagian orang?

2. Pikirin orang yang paling
nggak beruntung.

Waktu lo bikin keputusan, pikirin
gimana dampaknya ke mereka.
Apa keputusan lo ngebantu mereka?
Atau apa keputusan lo makin
nenggelamin mereka?
Jangan cuma mikirin diri lo sendiri.
Jangan cuma mikirin kelompok lo
sendiri.

3. Jangan cuma liat dari posisi
lo.

Lo mungkin beruntung. Lo mungkin
punya pendidikan. Lo mungkin
punya kesehatan. Lo mungkin punya
keluarga yang mendukung.
Tapi nggak semua orang seberuntung
lo. Cobalah liat dari posisi mereka.
Cobalah ngerasain apa yang mereka
rasain.

4. Uji keadilan dengan
pertanyaan sederhana.

Waktu lo liat aturan atau kebijakan,
tanya: “Apa gue bakal setuju sama
aturan ini kalo gue nggak tau siapa
gue nantinya?” Kalo jawabannya
nggak, maka aturan itu mungkin
nggak adil. Pertanyaan ini
sederhana. Tapi jawabannya bisa
ngubah cara lo liat dunia.

5. Perjuangin keadilan.
Veil of Ignorance bukan cuma alat buat
berpikir. Dia juga panggilan buat
bertindak. Kalo lo liat ketidakadilan,
jangan diem. Bicaralah. Bertindaklah.
Perjuangin perubahan. Keadilan nggak
datang sendiri. Dia harus diperjuangin.

6. Jangan jadi sinis.
Veil of Ignorance ngajak kita buat
bermimpi tentang dunia yang lebih
adil. Jangan biarin sinisme
ngehalangin mimpi itu. Dunia yang
lebih adil mungkin susah diwujudin.
Tapi bukan berarti nggak mungkin.
Setiap langkah kecil berarti.

7. Rendah hati.
Lo nggak tau segalanya. Lo nggak tau
siapa yang menderita. Lo nggak tau
siapa yang berjuang. Lo nggak tau
siapa yang berjuang tanpa harapan.
Dengerin. Belajar. Terbuka. Jangan
ngerasa paling bener. Jangan
ngerasa paling tau.

8. Mulai dari diri sendiri.
Keadilan bukan cuma tentang sistem.
Keadilan juga tentang gimana lo
memperlakukan orang lain.
Apa lo adil ke karyawan lo?
Apa lo adil ke anak lo?
Apa lo adil ke temen lo?
Apa lo adil ke orang yang lo nggak
kenal? Mulailah dari sana.
Mulailah dari hal kecil.

9. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban sempurna.

Lo nggak akan pernah bisa nentuin
dengan pasti apa yang adil dalam
setiap situasi. Lo cuma bisa hidup
dengan ketidakpastian itu. Dan itu
nggak apa-apa. Itu bagian dari jadi
manusia.

Yang Paling Lo Takutin Bukan
Ketidakadilan

Yang paling lo takutin bukan
ketidakadilan. Bukan sistem yang
rusak. Bukan aturan yang nggak fair.

Yang paling lo takutin adalah:
kalo lo diem aja. Kalo lo nggak
peduli. Kalo lo cuma mikirin
diri lo sendiri. Kalo lo lupa
bahwa lo punya kekuasaan
buat ngubah sesuatu. Kalo lo
lupa bahwa lo punya suara.
Kalo lo lupa bahwa lo punya
tanggung jawab.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalo lo diem,
orang lain yang nentuin. Kalo lo
nggak peduli, orang lain yang
ngatur. Kalo lo cuma mikirin diri
lo sendiri, orang lain yang
ngerugiin. Dan lo cuma bisa
ngerasa “ah, gue mah cuma warga
biasa.” Padahal lo punya
kekuasaan. Lo punya hak.
Lo punya suara.

Veil of Ignorance bukan cuma soal
mikir. Dia soal bertindak. Dia soal
ngambil peran. Dia soal jadi bagian
dari solusi. Bukan cuma jadi
penonton.

Penutup: Pertanyaan yang Bakal
Nemenin Lo Tidur

Veil of Ignorance ngajarin satu hal
yang menantang. Keadilan bukan
tentang ngeuntungin diri sendiri.
Keadilan adalah tentang nciptain
aturan yang bisa diterima semua
orang. Keadilan adalah tentang
nglindungin mereka yang paling
lemah. Keadilan adalah tentang
ngebayangin diri lo di posisi
mereka.

Rawls ngajak kita buat berpikir dari
balik tabir. Dia ngajak kita buat
ngelepasin kepentingan pribadi.
Dia ngajak kita buat nyari prinsip
yang adil. Dia ngajak kita buat
bermimpi tentang masyarakat
yang lebih baik.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Kalo lo ada di balik tabir
ketidaktahuan, kalo lo nggak
tau siapa lo nantinya, aturan
kayak apa yang bakal lo bikin?

Apa aturan itu bakal
ngeuntungin semua orang?
Atau cuma sebagian orang?

Dan kalo aturan itu cuma
ngeuntungin sebagian orang,
apa lo berani bilang itu adil?

Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
mulai mikir dari balik tabir. Mulai
dari sekarang. Mulai dari hal kecil.

Selamat merenung. Atau setidaknya,
selamat mulai berpikir dari balik
tabir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *