Problem of Evil: Jika Tuhan Maha Baik, Mengapa Penderitaan Ada?
Pernahkah Anda melihat berita
tentang bencana alam, anak kecil yang
sakit keras, atau orang baik yang
hidupnya hancur?
Pernahkah Anda bertanya,
“Kalau Tuhan itu baik, mengapa ini
terjadi?” Pertanyaan itu bukan
pertanyaan ringan. Ia sudah berumur
ribuan tahun. Ia menjadi salah satu
pertanyaan paling sulit dalam filsafat
dan teologi. Nama untuk
pertanyaan ini adalah Problem of
Evil, atau Masalah Kejahatan dan
Penderitaan. Mari saya ajak Anda
masuk ke dalamnya.
Apa Itu Problem of Evil?
Problem of Evil adalah pertanyaan
yang mempertanyakan hubungan
antara keberadaan Tuhan yang
Maha Baik dengan adanya
penderitaan di dunia.
Pertanyaannya kira-kira begini.
Jika Tuhan itu Maha Kuasa,
Ia mampu menghilangkan
penderitaan. Jika Tuhan itu
Maha Tahu, Ia tahu semua
penderitaan. Jika Tuhan itu Maha
Baik, Ia ingin menghilangkan
penderitaan. Tetapi penderitaan
masih ada. Mengapa?
Ada dua jenis penderitaan yang
biasanya dibahas.
Pertama, kejahatan moral.
Ini adalah penderitaan yang
disebabkan oleh manusia.
Contohnya perang, pembunuhan,
penindasan, penipuan, dan
kekerasan.
Kedua, kejahatan alam. Ini adalah
penderitaan yang disebabkan oleh
alam atau penyakit. Contohnya
gempa bumi, banjir, kanker, dan
pandemi.
Jika Tuhan bisa mencegah semuanya
tetapi tidak melakukannya, apakah
Ia benar-benar baik?
Jika Tuhan tahu semuanya tetapi
diam saja, apakah Ia peduli?
Jika Tuhan ingin mencegah tetapi
tidak mampu, apakah Ia benar-benar
Maha Kuasa?
Inilah inti dari Problem of Evil.
Cerita Tentang Sebuah
Pertanyaan yang Tidak
Mudah Dijawab
Bayangkan seorang ibu bernama
Sari. Ia rajin beribadah.
Ia membantu tetangga. Ia mendidik
anaknya dengan kasih sayang.
Suatu hari, anaknya sakit keras.
Dokter mengatakan tidak ada
harapan. Sari berdoa setiap malam.
Ia memohon. Ia menangis. Tetapi
anaknya tetap meninggal.
Sari duduk di kamar. Ia melihat
langit. Ia bertanya,
“Tuhan, mengapa anakku?
Mengapa bukan aku?
Aku sudah berbuat baik. Aku sudah
berdoa. Mengapa Engkau diam?”
Pertanyaan Sari bukan pertanyaan
filsafat. Ia pertanyaan hati.
Ia pertanyaan yang keluar dari luka.
Problem of Evil bukan hanya soal
logika. Ia soal hidup yang nyata.
Ia soal air mata.
Jawaban-Jawaban Klasik
Selama berabad-abad, banyak filsuf
dan teolog mencoba menjawab
Problem of Evil. Mari kita lihat
beberapa jawaban yang paling
terkenal.
Pertama, pembelaan kehendak
bebas. Jawaban ini mengatakan
bahwa Tuhan memberi manusia
kehendak bebas. Tanpa kehendak
bebas, manusia tidak bisa
benar-benar mencintai, memilih
kebaikan, atau bertanggung jawab.
Tetapi kehendak bebas juga berarti
manusia bisa memilih kejahatan.
Jadi sebagian penderitaan adalah
akibat dari pilihan manusia yang
salah. Tuhan mengizinkan itu
karena kebebasan lebih berharga
daripada dunia tanpa risiko.
Kedua, teodisi pembentukan jiwa.
Jawaban ini mengatakan bahwa
penderitaan bisa membentuk
karakter. Tanpa kesulitan, manusia
tidak belajar keberanian, belas kasih,
kesabaran, dan ketangguhan.
Penderitaan membuat jiwa matang.
Tuhan mengizinkan penderitaan
karena Ia ingin manusia tumbuh,
bukan hanya merasa nyaman.
Ketiga, misteri ilahi. Jawaban ini
mengatakan bahwa pikiran manusia
terlalu terbatas untuk memahami
rencana Tuhan. Apa yang tampak
tidak masuk akal bagi kita mungkin
punya tujuan yang lebih tinggi.
Kita hanya melihat sebagian kecil
dari gambar besar.
Keempat, argumen kontras.
Jawaban ini mengatakan bahwa
kebaikan tidak bisa dipahami
tanpa kejahatan. Tanpa gelap,
kita tidak tahu terang. Tanpa sakit,
kita tidak menghargai sehat.
Tanpa penderitaan, kita tidak
mengerti kebahagiaan.
Tetapi jawaban-jawaban ini tidak
memuaskan semua orang.
Ada yang bertanya,
mengapa penderitaannya begitu
besar?
Mengapa anak-anak harus menderita?
Mengapa hewan juga menderita?
Mengapa bencana alam terjadi tanpa
pelaku moral?
Jika penderitaan hanya untuk
membentuk karakter, mengapa ada
penderitaan yang menghancurkan,
bukan membentuk?
Atheis dan skeptis mengatakan
bahwa jumlah penderitaan yang
begitu banyak dan begitu kejam
membuat keberadaan Tuhan yang
Maha Baik dan Maha Kuasa
menjadi sulit dipercaya. Mereka
tidak mengatakan bahwa Tuhan
pasti tidak ada. Mereka hanya
mengatakan bahwa bukti
penderitaan membuat keberadaan
Tuhan yang sempurna menjadi
tidak masuk akal.
Mengapa Ini Penting untuk
Anda?
Mungkin Anda tidak sedang
bergulat dengan pertanyaan teologi.
Tetapi Problem of Evil bisa
menyentuh hidup Anda dengan
cara yang sangat pribadi.
Pernahkah Anda mengalami
kehilangan?
Pernahkah Anda sakit?
Pernahkah Anda melihat orang yang
Anda cintai menderita?
Pernahkah Anda merasa doa Anda
tidak dijawab?
Pernahkah Anda merasa Tuhan diam?
Jika ya, Anda sudah menyentuh
Problem of Evil.
Problem of Evil juga penting karena ia
menguji empati kita. Ketika seseorang
menderita, kita sering memberi
jawaban yang cepat. Kita bilang,
“Ini pasti ada hikmahnya.” Kita bilang,
“Tuhan sedang menguji.” Kita bilang,
“Sabarlah.” Kadang jawaban itu
membantu. Tetapi kadang jawaban itu
melukai. Karena orang yang menderita
tidak selalu butuh penjelasan.
Ia butuh ditemani.
Problem of Evil juga muncul dalam
skala besar. Ketika terjadi genosida,
ketika terjadi pandemi, ketika terjadi
bencana, kita bertanya,
“Di mana Tuhan?” Pertanyaan itu
bukan hanya pertanyaan filsafat.
Ia pertanyaan kemanusiaan.
Contoh Sederhana di Kehidupan
Sehari-hari
Seorang ayah kehilangan pekerjaan.
Ia sudah berusaha. Ia sudah berdoa.
Tetapi ia tetap gagal. Anaknya
bertanya, “Ayah, kenapa kita miskin?”
Ayah itu tidak tahu harus menjawab
apa. Ia hanya bisa memeluk anaknya.
Seorang remaja bertanya,
“Mengapa teman saya yang baik harus
mati kecelakaan?
Mengapa bukan penjahat yang mati?”
Ia tidak mendapat jawaban. Ia hanya
merasa marah. Ia merasa tidak adil.
Seorang perempuan yang saleh
bertanya, “Mengapa saya tidak
diberi anak, sementara orang yang
jahat punya banyak anak?”
Ia menangis setiap malam. Ia merasa
Tuhan tidak mendengarnya.
Seorang dokter bekerja di daerah
bencana. Ia melihat ratusan orang
mati. Ia bertanya, “Jika Tuhan itu
baik, mengapa Ia mengizinkan ini?”
Ia tidak kehilangan iman
sepenuhnya. Tetapi ia kehilangan
kata-kata.
Semua contoh ini menunjukkan
bahwa Problem of Evil bukan hanya
teori. Ia adalah luka. Ia adalah
pertanyaan yang lahir dari
pengalaman.
Tiga Fase Menghadapi
Problem of Evil
Fase pertama, Anda terguncang.
Anda mengalami penderitaan
atau melihat penderitaan. Anda
bertanya, “Mengapa?”
Anda merasa dunia tidak adil.
Anda merasa Tuhan jauh. Anda
merasa sendiri.
Fase kedua, Anda bergulat. Anda
mencari jawaban. Anda membaca
buku. Anda bertanya pada pemuka
agama. Anda berdiskusi dengan
teman. Anda berdoa. Anda marah.
Anda menangis. Anda tidak
menemukan jawaban yang
sepenuhnya memuaskan.
Tetapi Anda terus mencari.
Fase ketiga, Anda memilih respons.
Anda bisa memilih untuk tetap
percaya meskipun tidak mengerti.
Anda bisa memilih untuk
meragukan segalanya. Anda bisa
memilih untuk tidak percaya lagi.
Atau Anda bisa memilih untuk
hidup dengan misteri, sambil
tetap berbuat baik dan menemani
mereka yang menderita.
Cara Menyikapi Problem
of Evil
Pertama, jangan terburu-buru
menjawab. Ketika seseorang
bertanya, “Mengapa Tuhan
mengizinkan ini?” jangan langsung
memberi ceramah. Dengarkan dulu.
Terkadang kehadiran lebih penting
daripada penjelasan.
Kedua, akui bahwa Anda tidak tahu.
Tidak ada yang salah dengan
mengatakan, “Saya juga tidak
mengerti.” Mengakui ketidaktahuan
lebih jujur daripada memberi
jawaban palsu.
Ketiga, bedakan antara pertanyaan
dan luka. Kadang orang tidak
benar-benar mencari jawaban.
Mereka mencari teman. Mereka
mencari pelukan. Mereka mencari
seseorang yang mau duduk
bersama mereka dalam kegelapan.
Keempat, bertindaklah. Jika Anda
melihat penderitaan, jangan
hanya bertanya, “Mengapa Tuhan
tidak melakukan apa-apa?”
Tanyakan juga, “Apa yang bisa saya
lakukan?” Anda bisa membantu.
Anda bisa menyumbang. Anda bisa
menemani. Anda bisa berdoa.
Anda bisa hadir.
Kelima, terima batas akal. Tidak
semua pertanyaan bisa dijawab
di dunia ini. Ada misteri yang tetap
misteri. Iman bukan berarti tidak
punya pertanyaan. Iman berarti
tetap melangkah meskipun
pertanyaan belum terjawab.
Keenam, jangan menghakimi
orang yang meragukan.
Orang yang marah pada Tuhan
bukan berarti tidak beriman.
Kadang kemarahan adalah
bentuk kedekatan.
Kadang keraguan adalah
bagian dari perjalanan.
Ketujuh, rawat hati Anda.
Penderitaan bisa membuat hati
keras. Penderitaan bisa membuat
orang sinis. Jangan biarkan
penderitaan menghancurkan
kebaikan Anda. Tetap berbuat
baik. Tetap mencintai.
Tetap berharap.
Penutup
Problem of Evil tidak punya jawaban
yang mudah. Ia tidak bisa diselesaikan
dengan satu rumus. Ia adalah misteri
yang menyentuh hati manusia paling
dalam. Ia membuat kita bertanya
tentang Tuhan, tentang keadilan,
tentang penderitaan, dan tentang
makna hidup.
Mungkin jawabannya bukan
kata-kata. Mungkin jawabannya
adalah kehadiran.
Mungkin jawabannya adalah air
mata yang dibiarkan mengalir.
Mungkin jawabannya adalah
tangan yang diulurkan pada
mereka yang sedang hancur.
Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda, Pembaca. Apakah Anda
pernah bertanya,
“Mengapa Tuhan mengizinkan ini?”
Jika ya, apa yang membuat Anda
bertahan? Apakah iman?
Apakah keluarga? Apakah harapan?
Atau apakah Anda masih mencari
jawabannya sampai sekarang?
Selamat bergulat dengan
pertanyaan Anda. Atau setidaknya,
selamat menemani mereka yang
sedang bergulat.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Problem of Evil: Kalo Tuhan
Maha Baik, Kenapa
Penderitaan Masih Ada?
Coba inget lagi. Momen paling
gelap dalam hidup lo. Momen
di mana lo ngerasa dunia ini
nggak adil. Momen di mana lo
nanya, “Kenapa gue?”
Momen di mana lo ngerasa
sendirian, bahkan sama Tuhan.
Mungkin lo lagi duduk di samping
ranjang rumah sakit.
Mungkin lo lagi nangis di kamar
mandi. Mungkin lo lagi liat berita
bencana yang ngerenggut ratusan
nyawa. Mungkin lo lagi denger
kabar bahwa orang baik yang lo
kenal, yang selalu nolong orang,
yang nggak pernah nyakitin
siapa-siapa, tiba-tiba kena kanker.
Dan lo nanya dalam hati.
“Tuhan, kalau Engkau ada,
kalau Engkau baik, kenapa
Engkau diam?”
Pertanyaan itu bukan pertanyaan
iseng. Bukan pertanyaan buat
debat di kampus. Itu pertanyaan
yang keluar dari luka. Dari air mata.
Dari dada yang sesak.
Dan pertanyaan itu udah berumur
ribuan tahun. Namanya Problem
of Evil. Masalah kejahatan dan
penderitaan. Dan sampe sekarang,
belum ada jawaban yang
bener-bener bisa nenangin
semua orang.
Sebenernya Masalahnya
Apa Sih?
Problem of Evil itu simpelnya gini.
Ada empat hal yang kalo digabung,
bikin kepala pusing.
Pertama: Tuhan itu Maha
Kuasa. Dia bisa ngelakuin apa aja.
Termasuk ngilangin penderitaan.
Kedua: Tuhan itu Maha Tahu.
Dia tau semua penderitaan.
Dia tau anak kecil yang lagi sekarat.
Dia tau orang tua yang ditinggal
mati anaknya. Dia tau.
Ketiga: Tuhan itu Maha Baik.
Dia nggak tega liat makhluknya
menderita. Dia pengen semua
bahagia. Dia pengen semua
baik-baik aja.
Keempat: penderitaan itu ada.
Bukan cuma ada. Tapi banyak.
Banyak banget. Terlalu banyak.
Nah, dari empat hal ini, muncul
pertanyaan yang bikin pusing.
Kalo Tuhan bisa ngilangin
penderitaan, kenapa nggak?
Kalo Tuhan tau penderitaan itu ada,
kenapa diem? Kalo Tuhan baik,
kenapa tega? Kalo Tuhan nggak bisa,
berarti Dia nggak Maha Kuasa.
Kalo Tuhan nggak tau, berarti Dia
nggak Maha Tahu. Kalo Tuhan
nggak peduli, berarti Dia nggak
Maha Baik.
Lo nggak bisa punya keempatnya
sekaligus. Ada yang harus
dikorbankan. Dan itulah
masalahnya.
Ada Dua Jenis Penderitaan
Sebelum lanjut, lo perlu tau satu hal.
Penderitaan itu nggak cuma satu
jenis. Ada dua.
Yang pertama: kejahatan moral.
Ini penderitaan yang disebabkan
sama manusia. Perang. Pembunuhan.
Penindasan. Penipuan. Kekerasan.
Kalo orang bunuh orang, itu
kejahatan moral. Kalo orang korupsi
duit rakyat, itu kejahatan moral.
Kalo orang ngebully sampe
korbannya bunuh diri,
itu kejahatan moral.
Yang kedua: kejahatan alam.
Ini penderitaan yang disebabkan
sama alam atau penyakit. Gempa
bumi. Banjir. Tsunami. Kanker.
Pandemi. Kalo anak kecil kena
leukemia, itu bukan salah siapa-siapa.
Kalo orang mati karena tsunami, itu
bukan karena ada yang jahat.
Dan yang bikin pusing:
kenapa dua-duanya ada?
Kalo kejahatan moral, bisa dibilang
itu ulah manusia. Tapi kejahatan
alam? Siapa yang salah? Nggak ada.
Alam nggak punya moral.
Alam nggak bisa disalahin.
Jadi siapa?
Pertanyaan itu yang bikin banyak
orang kehilangan iman. Bukan
karena mereka jahat. Tapi karena
mereka nggak bisa nerima
jawaban yang ada.
Cerita yang Bikin Hati Berat
Bayangin lo kenal seseorang.
Namanya Sari. Dia rajin ibadah.
Dia nolong tetangga yang kesusahan.
Dia nggak pernah nyakitin orang.
Dia didik anaknya dengan kasih
sayang. Dia orang baik. Beneran
baik.
Suatu hari, anaknya sakit. Awalnya
cuma demam. Terus makin parah.
Dibawa ke dokter. Dokter bilang,
“Ini kanker. Stadium lanjut.
Nggak ada harapan.”
Sari nggak nyerah. Dia berdoa
setiap malam. Dia nangis
di sajadah. Dia minta sama Tuhan,
“Tuhan, sembuhin anakku.
Gue udah berbuat baik. Gue udah
rajin ibadah. Gue nggak pernah
nyakitin orang. Kenapa anak gue?”
Anaknya makin lemah.
Rambutnya rontok. Badannya
kurus. Matanya cekung. Sari terus
berdoa. Terus berharap. Terus
nangis.
Terus suatu pagi, anaknya nggak
bangun.
Sari duduk di kamar. Dia liat langit.
Dia nggak nangis lagi. Dia cuma
diem. Terus dia nanya,
“Tuhan, kenapa anak gue?
Kenapa bukan gue aja?
Gue udah baik. Gue udah berdoa.
Kenapa Engkau diem?”
Pertanyaan Sari itu bukan pertanyaan
filsafat. Itu pertanyaan hati.
Itu pertanyaan yang keluar dari luka.
Problem of Evil bukan cuma soal
logika. Dia soal air mata.
Jawaban-Jawaban yang Pernah
Ditawarin
Selama berabad-abad, banyak filsuf
dan teolog nyoba jawab pertanyaan
ini. Gue nggak akan bilang mana
yang bener. Gue cuma akan kasih tau
jawaban-jawaban yang pernah ada.
Lo bisa nilai sendiri.
Jawaban pertama:
kehendak bebas.
Tuhan ngasih manusia kebebasan.
Tanpa kebebasan, manusia nggak
bisa bener-bener mencintai. Nggak
bisa bener-bener milih kebaikan.
Nggak bisa bener-bener
bertanggung jawab. Tapi kebebasan
juga berarti manusia bisa milih
kejahatan. Jadi sebagian
penderitaan itu akibat pilihan
manusia yang salah. Tuhan ngizinin
itu karena kebebasan lebih berharga
daripada dunia tanpa risiko.
Tapi masalahnya: kehendak bebas
nggak bisa ngejelasin gempa bumi.
Kehendak bebas nggak bisa
ngejelasin kanker. Kehendak bebas
nggak bisa ngejelasin anak kecil
yang lahir cacat.
Jawaban kedua: penderitaan
membentuk jiwa.
Penderitaan bisa bikin orang tumbuh.
Tanpa kesulitan, orang nggak belajar
berani. Nggak belajar sabar. Nggak
belajar belas kasih. Nggak belajar
tangguh. Tuhan ngizinin penderitaan
karena Dia pengen manusia matang,
bukan cuma nyaman.
Tapi masalahnya: ada penderitaan
yang nggak membentuk. Ada
penderitaan yang ngancurin.
Anak yang mati muda nggak belajar
apa-apa. Orang yang kena Alzheimer
nggak tumbuh jadi lebih bijak.
Penderitaan yang keterlaluan nggak
bikin orang matang. Dia bikin
orang hancur.
Jawaban ketiga: misteri ilahi.
Pikiran manusia terlalu terbatas
buat ngerti rencana Tuhan. Apa
yang keliatan nggak masuk akal bagi
kita, mungkin punya tujuan yang
lebih tinggi. Kita cuma liat sebagian
kecil dari gambar besar.
Tapi masalahnya: jawaban ini
kedengeran kayak “pokoknya gitu
deh.” Dia nggak ngejelasin apa-apa.
Dia cuma bilang “jangan nanya.”
Jawaban keempat: argumen
kontras.
Kebaikan nggak bisa dipahami
tanpa kejahatan. Tanpa gelap, kita
nggak tau terang. Tanpa sakit, kita
nggak menghargai sehat. Tanpa
penderitaan, kita nggak ngerti
kebahagiaan.
Tapi masalahnya: apakah harga dari
ngerti kebahagiaan harus
penderitaan yang luar biasa?
Apakah anak kecil harus mati biar
orang tuanya ngerti arti kehilangan?
Kenapa Jawaban-Jawaban Itu
Nggak Cukup?
Ada satu hal yang sering dilupain
sama orang yang ngasih jawaban.
Mereka ngasih jawaban
ke orang yang nggak nanya.
Waktu seseorang lagi menderita,
dia nggak butuh penjelasan.
Dia butuh ditemenin. Dia nggak
butuh ceramah. Dia butuh pelukan.
Dia nggak butuh teori. Dia butuh k
ehadiran.
Coba deh, lo bayangin lo lagi nangis.
Anak lo baru aja meninggal.
Terus ada yang datang dan bilang,
“Ini pasti ada hikmahnya.”
Apa yang lo rasain?
Lo pengen nampol?
Iya, mungkin. Karena lo lagi nggak
butuh hikmah. Lo lagi butuh anak lo.
Atau lo lagi sakit keras. Lo lagi nahan
nyeri. Terus ada yang bilang,
“Tuhan sedang menguji imanmu.”
Apa yang lo rasain? Lo pengen teriak?
Iya. Karena lo lagi nggak butuh ujian.
Lo lagi butuh kesembuhan.
Jawaban-jawaban itu mungkin bener
secara teologis. Tapi waktu disampein
ke orang yang lagi hancur, jawaban itu
bisa jadi pisau. Bukan obat.
Tanda-Tanda Lo Lagi Bergulat
Sama Pertanyaan Ini
Coba jawab dalam hati. Jujur.
Nggak usah jawab ke gue.
Lo pernah nangis sampe
nggak bisa tidur, terus
nanya “kenapa gue?”
Itu tanda lo lagi nyentuh
Problem of Evil.Lo pernah ngeliat orang
jahat hidup enak,
sementara orang baik
menderita?
Itu tanda lo lagi ngerasain
ketidakadilan.Lo pernah berdoa
mati-matian, tapi nggak
ada jawaban?
Itu tanda lo lagi ngerasa
Tuhan diem.Lo pernah ngerasa Tuhan
nggak adil?
Itu tanda lo lagi berjuang
sama iman lo.Lo pernah ngerasa bersalah
karena ngeraguin Tuhan?
Itu tanda lo lagi kejepit antara
iman dan kenyataan.
Kalo lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang berat. Dan itu nggak
apa-apa. Justru itu tanda lo jujur
sama diri sendiri.
Kenapa Ini Penting Banget?
Mungkin lo mikir, “Gue nggak lagi
mikirin Tuhan. Gue cuma pengen
hidup.” Tapi tunggu dulu. Problem
of Evil nyentuh hidup lo dengan
cara yang sangat pribadi.
Pertama, lo mungkin pernah
kehilangan. Lo mungkin pernah
kehilangan orang yang lo sayang.
Lo mungkin pernah sakit.
Lo mungkin pernah ngeliat orang
yang lo cintai menderita. Dan lo
nggak ngerti kenapa.
Kedua, lo mungkin pernah
ngerasa doa lo nggak dijawab.
Lo udah minta. Lo udah merhatin.
Lo udah nangis. Tapi nggak ada
perubahan. Dan lo nanya,
“Tuhan denger nggak sih?”
Ketiga, lo mungkin pernah
marah sama Tuhan. Bukan
karena lo nggak percaya. Tapi justru
karena lo percaya. Kalo lo nggak
percaya, lo nggak akan marah.
Kemarahan lo itu tanda lo masih
peduli.
Keempat, lo mungkin pernah
ngerasa bersalah karena
ngeraguin. Lo ngerasa
“ah, gue kok gini sih?
Kok gue ngeraguin Tuhan?”
Padahal keraguan itu manusiawi.
Bahkan orang-orang suci pun
pernah ragu.
Cara Ngadepin Pertanyaan Ini
Tanpa Kehilangan Diri
1. Jangan terburu-buru jawab.
Waktu seseorang bertanya, “Kenapa
Tuhan ngizinin ini?” jangan langsung
ngasih ceramah. Dengerin dulu.
Terkadang kehadiran lebih penting
daripada penjelasan. Terkadang lo
cuma perlu duduk di samping
mereka. Nggak usah ngomong.
2. Akui kalo lo nggak tau.
Nggak ada yang salah dengan bilang,
“Gue juga nggak ngerti.”
Ngakuin ketidaktahuan lebih jujur
daripada ngasih jawaban palsu.
Lebih baik lo bilang “gue nggak tau”
daripada lo bilang “ini pasti ada
hikmahnya” padahal lo juga nggak
yakin.
3. Bedain antara pertanyaan
dan luka.
Kadang orang nggak bener-bener
nyari jawaban. Mereka nyari temen.
Mereka nyari pelukan. Mereka nyari
seseorang yang mau duduk bareng
mereka dalam kegelapan. Jangan
buru-buru ngasih solusi kalo yang
mereka butuh cuma ditemenin.
4. Bertindaklah.
Kalo lo liat penderitaan, jangan cuma
nanya, “Kenapa Tuhan nggak
ngelakuin apa-apa?” Tanya juga,
“Apa yang bisa gue lakuin?” Lo bisa
bantu. Lo bisa nyumbang. Lo bisa
nemenin. Lo bisa berdoa. Lo bisa
hadir.
5. Terima batas akal.
Nggak semua pertanyaan bisa dijawab
di dunia ini. Ada misteri yang tetep
misteri. Iman bukan berarti nggak
punya pertanyaan. Iman berarti tetep
melangkah meskipun pertanyaan
belum terjawab.
6. Jangan hakimin orang yang
ngeraguin.
Orang yang marah sama Tuhan
bukan berarti nggak beriman.
Kadang kemarahan adalah bentuk
kedekatan. Kadang keraguan
adalah bagian dari perjalanan.
Jangan ngejauhin mereka.
Deketin mereka.
7. Rawat hati lo.
Penderitaan bisa bikin hati keras.
Penderitaan bisa bikin orang sinis.
Jangan biarin penderitaan
ngancurin kebaikan lo. Tetep berbuat
baik. Tetep mencintai. Tetep
berharap. Bukan karena lo punya
jawaban. Tapi karena lo milih buat
tetep jadi manusia.
8. Terima kalo lo nggak akan
pernah punya jawaban yang
sempurna.
Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin
kenapa anak kecil harus mati.
Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin
kenapa bencana harus terjadi.
Lo nggak akan pernah bisa ngejelasin
kenapa orang baik harus menderita.
Dan itu nggak apa-apa. Lo nggak
harus punya jawaban. Lo cuma
harus tetap hidup. Tetap berbuat
baik. Tetap berharap.
Yang Paling Lo Takutin Bukan
Penderitaan
Yang paling lo takutin bukan
penderitaan. Bukan kehilangan.
Bukan sakit.
Yang paling lo takutin adalah:
lo nggak akan pernah ngerti
kenapa. Dan lo harus tetap
hidup dengan itu.
Itu serem. Gue ngerti.
Tapi coba pikir lagi. Kalo lo nggak
pernah nanya, lo nggak akan pernah
ngerti arti kehadiran. Lo nggak akan
pernah ngerti arti empati. Lo nggak
akan pernah ngerti arti menemani
seseorang dalam kegelapan.
Problem of Evil bukan musuh.
Problem of Evil adalah cermin.
Dia nunjukin lo betapa lo butuh
jawaban. Betapa lo butuh
kehadiran. Betapa lo butuh
harapan.
Dan justru karena lo nggak punya
jawaban, kehadiran lo jadi lebih
bermakna. Karena lo milih bua
t hadir. Bukan karena lo punya
solusi. Bukan karena lo bisa
ngejelasin. Tapi karena lo mau.
Penutup: Pertanyaan yang Bakal
Nemenin Lo Tidur
Problem of Evil nggak punya jawaban
yang mudah. Nggak bisa diselesaiin
dengan satu rumus. Dia misteri yang
nyentuh hati manusia paling dalem.
Dia bikin kita nanya tentang Tuhan,
tentang keadilan, tentang
penderitaan, dan tentang makna
hidup.
Mungkin jawabannya bukan kata-kata.
Mungkin jawabannya adalah
kehadiran. Mungkin jawabannya
adalah air mata yang dibiarin ngalir.
Mungkin jawabannya adalah tangan
yang diulurin ke mereka yang lagi
hancur.
Jadi, gue mau nanya ke lo.
Lo pernah nanya,
“Kenapa Tuhan ngizinin ini?”
Kalo iya, apa yang bikin lo bertahan?
Apa iman? Apa keluarga?
Apa harapan? Atau lo masih nyari
jawabannya sampe sekarang?
Lo milih percaya meskipun
nggak ngerti?
Atau lo milih ragu selamanya?
Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus punya
jawaban sekarang. Lo cuma harus
tetap hidup. Tetap berbuat baik.
Tetap berharap.
Selamat bergulat dengan pertanyaan
lo. Atau setidaknya, selamat
menemani mereka yang sedang
bergulat.
