filsafat

Trolley Problem: Apakah Anda Akan Mengorbankan Satu Orang untuk Menyelamatkan Lima?

Pernahkah Anda berada dalam situasi
yang memaksa Anda memilih antara
dua pilihan buruk?
Mungkin Anda harus memilih apakah
akan mengecewakan satu orang atau
mengecewakan banyak orang.
Mungkin Anda harus memilih apakah
akan jujur dan menyakiti seseorang,
atau berbohong dan menyelamatkan
perasaan banyak orang.
Situasi seperti itu tidak nyaman.
Kita sering berharap ada pilihan
ketiga. Tetapi kadang pilihan
ketiga tidak ada.

Trolley Problem adalah versi ekstrem
dari situasi seperti itu. Ia bukan
sekadar teka teki. Ia adalah cermin
yang menunjukkan bagaimana kita
mengambil keputusan moral. Mari
saya ajak Anda masuk ke dalamnya.

Cerita Tentang Troli yang
Lepas Kendali

Bayangkan sebuah troli atau kereta
listrik melaju kencang di atas rel.
Remnya rusak. Troli itu tidak bisa
berhenti. Di depan sana,
ada lima orang yang terikat di rel.
Mereka tidak bisa melepaskan diri.
Jika troli terus melaju, kelima
orang itu akan tewas.

Anda berdiri di dekat sebuah tuas.
Tuas itu bisa membelokkan troli
ke rel lain. Tetapi di rel lain itu,
ada satu orang yang juga terikat.
Ia juga tidak bisa melepaskan diri.

Anda punya dua pilihan.
Pertama, tidak melakukan apa pun.
Troli terus melaju dan menewaskan
lima orang. Kedua, menarik tuas.
Troli berpindah jalur dan
menewaskan satu orang, tetapi
lima orang selamat.

Apa yang Anda lakukan?

Pertanyaan itu sederhana. Tetapi
jawabannya tidak sederhana.
Banyak orang langsung mengatakan,
“Saya akan menarik tuas. Lebih baik
satu orang mati daripada lima orang
mati.” Jawaban itu masuk akal.
Ia mengikuti prinsip yang disebut
utilitarianisme, yaitu memilih
tindakan yang menghasilkan
kebaikan terbesar bagi jumlah
orang terbanyak.

Tetapi ada juga yang mengatakan,
“Saya tidak akan menarik tuas.
Jika saya menarik tuas, saya yang
menyebabkan kematian satu
orang itu. Jika saya diam, saya
tidak membunuh siapa pun. Saya
hanya membiarkan kecelakaan
terjadi.” Jawaban ini mengikuti
prinsip deontologi, yaitu menilai
baik buruknya tindakan
berdasarkan tindakan itu sendiri,
bukan hanya hasilnya.

Kedua jawaban punya alasan.
Kedua jawaban punya risiko.
Di situlah letak dilema.

Apa Maksud Trolley Problem?

Trolley Problem bukan hanya tentang
troli. Ia tentang bagaimana kita
menilai benar dan salah. Ia menguji
apakah kita lebih mementingkan hasil
atau cara. Ia menguji apakah kita
merasa bertanggung jawab ketika kita
diam. Ia menguji apakah kita bisa
menanggung akibat dari pilihan kita.

Yang menarik, jawaban orang sering
berubah ketika situasinya diubah
sedikit. Misalnya, bayangkan Anda
tidak punya tuas. Anda berdiri
di atas jembatan di atas rel.
Di sebelah Anda, ada seorang pria
bertubuh sangat besar. Anda tahu
bahwa jika Anda mendorong pria itu
ke bawah, tubuhnya akan
menghentikan troli. Lima orang
selamat. Satu orang mati.

Banyak orang yang tadinya mau
menarik tuas, sekarang menolak
mendorong pria itu. Padahal
secara angka, hasilnya sama.
Satu orang mati, lima orang
selamat. Mengapa jawabannya
berbeda?

Karena mendorong seseorang secara
langsung terasa lebih dekat, lebih
personal, dan lebih kejam. Menarik
tuas terasa seperti tindakan tidak
langsung. Padahal akibatnya sama.
Ini menunjukkan bahwa keputusan
moral kita tidak selalu logis.
Ia dipengaruhi emosi, jarak, dan
cara kita membayangkan
tindakan itu.

Mengapa Ini Penting untuk Anda?

Anda mungkin berpikir, “Saya tidak
akan pernah menghadapi troli.”
Itu benar. Tetapi Anda mungkin
menghadapi versi kecilnya setiap hari.

Seorang manajer harus memutuskan
apakah akan mempertahankan satu
karyawan atau mempertahankan tim
yang lebih besar. Seorang dokter
harus memutuskan siapa yang
mendapat ruang perawatan terbatas.
Seorang guru harus memutuskan
apakah akan menegur satu murid
yang bersalah atau membiarkan
kelas tetap tenang.
Seorang pengemudi harus
memutuskan apakah akan
membelokkan mobil untuk
menghindari tabrakan, meskipun
itu membahayakan orang lain.

Di era kecerdasan buatan,
Trolley Problem menjadi semakin
nyata. Mobil tanpa pengemudi
harus diprogram untuk mengambil
keputusan dalam situasi darurat.
Jika terjadi kecelakaan yang tidak
bisa dihindari, siapa yang harus
dikorbankan? Penumpang?
Pejalan kaki? Anak anak?
Orang tua?
Programmer harus memilih aturan.
Dan aturan itu akan menentukan
hidup dan mati.

Di bidang medis, saat pandemi,
rumah sakit harus memilih siapa
yang mendapat ventilator.
Di bidang militer, komandan harus
memilih apakah akan mengirim
pasukan ke misi berisiko untuk
menyelamatkan lebih banyak orang.
Di bidang hukum, hakim harus
memutuskan apakah akan
menghukum berat satu orang untuk
mencegah banyak orang melakukan
kejahatan.

Trolley Problem bukan hanya filsafat.
Ia adalah latihan untuk berpikir
jernih ketika tidak ada pilihan yang
bersih.

Contoh Sederhana
di Kehidupan Sehari hari

Di tempat kerja, Anda adalah seorang
manajer. Perusahaan sedang rugi.
Anda harus memilih antara memecat
satu orang atau memotong gaji
seluruh tim. Jika Anda memecat satu
orang, tim lain selamat. Jika Anda
memotong gaji semua orang,
tidak ada yang kehilangan pekerjaan,
tetapi semua orang menderita.
Apa yang Anda pilih?

Di sekolah, Anda seorang guru.
Dua murid berkelahi. Salah satunya
adalah anak yang selalu membuat
masalah. Satunya adalah anak yang
biasanya baik. Jika Anda menghukum
anak yang selalu membuat masalah,
kelas akan tenang. Tetapi Anda
belum tentu tahu siapa yang
sebenarnya memulai.
Apa yang Anda lakukan?

Di keluarga, Anda punya uang
tabungan terbatas. Orang tua Anda
sakit dan membutuhkan biaya
besar. Anak Anda juga membutuhkan
biaya sekolah. Anda tidak bisa
membiayai keduanya.
Apa yang Anda pilih?

Di media sosial, Anda melihat
informasi yang bisa menyelamatkan
banyak orang, tetapi informasi itu
akan merusak reputasi satu orang.
Apakah Anda menyebarkannya?
Apakah Anda diam?

Semua contoh ini adalah Trolley
Problem dalam bentuk yang lebih
dekat dengan hidup kita. Tidak ada
jawaban yang mudah. Tidak ada
jawaban yang bebas dari rasa
bersalah.

Tiga Fase Menghadapi Dilema
Moral

Fase pertama, Anda mengenali dilema.
Anda sadar bahwa apa pun yang Anda
pilih, akan ada yang dirugikan.
Anda tidak bisa menyenangkan semua
orang. Anda tidak bisa
menyelamatkan semua orang.
Anda harus memilih.

Fase kedua, Anda menimbang.
Anda mempertimbangkan jumlah
orang yang terkena dampak. Anda
mempertimbangkan niat Anda.
Anda mempertimbangkan nilai nilai
yang Anda pegang.
Anda mempertimbangkan apakah
Anda bisa hidup dengan pilihan itu.

Fase ketiga, Anda memutuskan dan
menanggung akibatnya.
Anda mungkin merasa lega. Anda
mungkin merasa bersalah. Anda
mungkin merasa ragu. Tetapi Anda
sudah memilih. Anda harus
bertanggung jawab.

Cara Menyikapi Dilema Moral

Pertama, sadari kerangka moral
Anda. Apakah Anda lebih
mementingkan hasil, seperti
utilitarian?
Apakah Anda lebih mementingkan
aturan, seperti deontolog?
Apakah Anda lebih mementingkan
karakter, seperti etika kebajikan?
Tidak ada kerangka yang sempurna.
Yang penting adalah Anda tahu
mengapa Anda memilih.

Kedua, jangan hanya menghitung
angka. Satu orang bukan sekadar
angka. Lima orang juga bukan
sekadar angka. Setiap orang punya
kehidupan, keluarga, dan cerita.
Hitungan matematis bisa
membantu, tetapi tidak bisa
menggantikan pertimbangan
manusiawi.

Ketiga, pikirkan jarak dan cara.
Menarik tuas dan mendorong orang
memang berbeda secara moral.
Tidak apa apa mengakui bahwa cara
melakukan sesuatu memengaruhi
penilaian kita. Yang penting adalah
kita jujur tentang perasaan itu.

Keempat, cari pandangan lain.
Ketika Anda menghadapi dilema,
bicarakan dengan orang lain.
Mereka mungkin melihat hal yang
tidak Anda lihat. Mereka mungkin
mengingatkan Anda pada nilai
yang Anda lupakan.

Kelima, terima bahwa tidak ada
pilihan yang sempurna. Dalam dilema
moral, Anda tidak bisa keluar dengan
tangan bersih. Anda hanya bisa
memilih pilihan yang paling bisa
Anda pertanggungjawabkan.

Keenam, jangan menghakimi
orang lain terlalu cepat. Orang yang
memilih berbeda belum tentu jahat.
Mereka mungkin punya alasan yang
tulus. Kita tidak tahu apa yang akan
kita lakukan sampai kita benar
benar berada di situasi itu.

Ketujuh, belajarlah dari keputusan
Anda. Setiap dilema mengajarkan
sesuatu tentang diri Anda. Apa yang
Anda hargai? Apa yang Anda takuti?
Apa yang Anda siap korbankan?
Jawaban atas pertanyaan itu
membantu Anda tumbuh.

Penutup

Trolley Problem mengajarkan satu
hal yang tidak nyaman. Kadang tidak
ada pilihan yang benar. Kadang kita
harus memilih antara dua hal yang
sama sama buruk. Kadang kita harus
mengorbankan sesuatu yang
berharga untuk menyelamatkan
sesuatu yang lebih berharga.
Dan kadang kita tidak pernah tahu
apakah pilihan kita benar benar tepat.

Tetapi Trolley Problem juga
mengajarkan bahwa kita tidak boleh
berhenti berpikir. Kita tidak boleh
hanya mengikuti perasaan.
Kita tidak boleh hanya mengikuti
aturan. Kita harus menimbang,
merenung, dan bertanggung jawab.

Maka izinkan saya bertanya kepada
Anda. Jika Anda berdiri di dekat tuas
itu, apa yang akan Anda lakukan?
Apakah Anda akan menariknya?
Apakah Anda akan diam?
Dan setelah keputusan itu, apakah
Anda bisa hidup dengan akibatnya?

Selamat berpikir. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertanyakan
pilihan moral Anda sendiri.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Trolley Problem: Kenapa Lo Bisa
Yakin Banget Sama Pilihan Lo,
Sampai Ada yang Nanya
“Kalau Situasinya Beda Dikit,
Lo Masih Pilih Itu?”

Coba inget lagi. Kapan terakhir kali lo
harus milih antara dua hal yang
dua-duanya nggak enak?

Mungkin lo harus milih antara jujur
sama temen lo dan bikin dia kecewa,
atau diem dan biarin dia salah.
Mungkin lo harus milih antara
ngelanjutin hubungan yang udah
nggak sehat, atau ninggalin dan
bikin orang tua lo nangis.
Mungkin lo harus milih antara
ambil kerjaan impian di luar kota,
atau tetap di rumah dan jagain
orang tua yang sakit.

Waktu itu, lo ngerasa nggak sih ada
yang aneh di dalam dada lo?
Kayak ada dua suara yang rebutan.
Satu bilang “pilih ini,” satu lagi
bilang “jangan, itu salah.”

Lo ngerasa nggak sih, lo sebenernya
nggak butuh jawaban yang bener?
Lo cuma butuh jawaban yang bisa
lo hidupin?

Nah, perasaan itu namanya dilema
moral. Dan hari ini, gue mau ajak
lo masuk ke versi paling ekstrem
dari perasaan itu. Bukan buat nyari
jawaban. Tapi buat ngeliat
siapa lo
sebenernya waktu lo lagi
terdesak.

Bayangin Ini Terjadi Ke Lo

Lo lagi jalan santai. Tiba-tiba lo
denger suara berisik. Ada troli,
kereta listrik, melaju kencang
banget. Remnya rusak. Nggak
bisa berhenti.

Di depan sana, ada lima orang
keiket di rel. Mereka nggak bisa
gerak. Nggak bisa lepas. Kalau
troli itu terus jalan, lima orang
itu mati.

Lo berdiri di samping sebuah
tuas. Tuas itu bisa belokin troli
ke rel lain. Tapi di rel lain itu,
ada satu orang. Dia juga keiket.
Dia juga nggak bisa lepas.

Sekarang lo punya dua pilihan.

Satu: Lo diem aja.
Nggak ngapa-ngapain. Troli
terus jalan. Lima orang mati.

Dua: Lo tarik tuas. Troli pindah
jalur. Satu orang mati. Lima
orang selamat.

Apa yang lo pilih?

Jawaban Pertama yang Muncul
di Kepala Lo

Kebanyakan orang bakal bilang,
“Ya tarik tuas lah. Satu mati lebih
baik dari lima mati.”

Masuk akal. Logis. Matematis.
Satu lebih kecil dari lima. Ini yang
disebut
utilitarianisme.
Pilih yang ngasih kebaikan paling
gede buat jumlah orang paling
banyak. Hitung aja. Satu nyawa
versus lima nyawa. Ya jelas lima.

Tapi tunggu dulu. Ada orang
yang jawabnya beda.

“Gue nggak akan tarik tuas.
Kalau gue tarik, gue yang bunuh
satu orang itu. Kalau gue diem,
gue nggak bunuh siapa-siapa.
Gue cuma nggak ngelakuin
apa-apa. Bencana itu terjadi
sendiri.”

Ini yang disebut deontologi.
Nilai baik buruknya tindakan
dilihat dari tindakannya sendiri,
bukan cuma hasilnya. Bunuh itu
salah, walaupun hasilnya
nyelametin lima orang. Diam itu
bukan tindakan, jadi bukan
salah lo.

Dua-duanya punya alasan.
Dua-duanya punya logika.
Dua-duanya bikin lo bingung.

Dan di situlah letak keindahan
sekaligus kengerian dari
Trolley Problem.

Terus Ada Plot Twist

Ini bagian yang bikin Trolley Problem
jadi salah satu eksperimen pikiran
paling terkenal di dunia filsafat.

Bayangin sekarang situasinya beda
dikit.

Lo nggak punya tuas. Lo berdiri
di atas jembatan. Di bawah lo,
rel yang sama. Lima orang keiket.
Troli melaju kencang. Rem rusak.
Nggak bisa berhenti.

Di sebelah lo, ada seorang pria.
Badannya besar banget.
Kayak pegulat sumo. Lo tau kalau
lo dorong dia ke bawah, badannya
bakal ngehentiin troli. Lima orang
selamat. Satu orang mati.

Apa yang lo lakuin?

Kebanyakan orang yang tadinya
bilang “gue tarik tuas,” sekarang
bilang, “Gue nggak akan dorong
orang itu.”

Padahal secara angka, hasilnya sama.
Satu mati. Lima selamat. Nggak ada
yang berubah. Yang berubah cuma
caranya.

Kenapa jawabannya beda?

Karena dorong orang secara
langsung
terasa lebih dekat.
Lebih personal. Lebih jahat.
Lebih “gue banget yang bunuh.”
Sementara
tarik tuas terasa
kayak tindakan nggak langsung.
Kayak cuma ngoper jalan.
Padahal dua-duanya sama-sama
bikin satu orang mati.

Ini ngebuktiin satu hal yang penting
banget:
keputusan moral lo
nggak selalu logis.
Lo dipengaruhi
emosi. Lo dipengaruhi jarak.
Lo dipengaruhi cara lo ngebayangin
tindakan itu. Lo dipengaruhi
seberapa deket lo sama korbannya.

Dan kalau lo ngerasa “ah, gue mah
pasti konsisten,” coba tes diri lo
dengan lebih banyak variasi.
Gue jamin lo bakal kaget sama
jawaban lo sendiri.

Kenapa Ini Penting Buat Lo
yang Nggak Pernah Ketemu
Troli

Lo mungkin mikir, “Gue nggak akan
pernah ngalamin troli, santai aja.”
Itu bener. Tapi lo mungkin ngalamin
versi kecilnya tiap hari. Tiap minggu.
Tiap bulan.

Di kantor. Lo manajer. Perusahaan
lagi rugi. Lo harus milih: pecat satu
orang, atau potong gaji semua orang.
Kalau lo pecat satu, tim lain selamat.
Kalau lo potong gaji semua, nggak
ada yang kehilangan kerja, tapi
semua menderita. Lo pilih mana?

Di sekolah. Lo guru. Dua murid
berantem. Satu anak yang selalu
bikin masalah. Satu anak yang
biasanya baik. Kalau lo hukum
anak yang selalu bikin masalah,
kelas tenang. Tapi lo belum tentu
tau siapa yang sebenernya mulai.
Lo pilih mana?

Di keluarga. Lo punya tabungan
terbatas. Orang tua lo sakit. Butuh
biaya besar. Anak lo butuh biaya
sekolah. Lo nggak bisa biayain
dua-duanya. Lo pilih mana?

Di medsos. Lo liat informasi yang
bisa nyelametin banyak orang.
Tapi informasi itu bakal ngerusak
reputasi satu orang. Lo sebarin?
Lo diem?

Di jalan. Lo nyetir. Tiba-tiba ada
musibah. Lo harus milih: belok dan
bahayain pejalan kaki, atau tabrak
sesuatu dan bahayain penumpang
lo sendiri. Lo pilih mana?

Semua ini Trolley Problem. Cuma
versi yang lebih deket sama hidup
lo. Dan sama kayak Trolley Problem,
nggak ada jawaban yang bersih.
Nggak ada jawaban yang bebas dari
rasa bersalah.

Yang Paling Bikin Lo Nggak
Tenang

Ada satu hal yang jarang dibahas
soal Trolley Problem.

Lo nggak pernah tau apakah
pilihan lo bener.

Kalaupun lo pilih tarik tuas, dan
lima orang selamat, lo nggak akan
pernah tau apakah itu pilihan yang
tepat. Mungkin kalau lo diem,
salah satu dari lima orang itu bakal
nemuin obat kanker. Mungkin
yang satu orang di rel lain itu bakal
jadi pemimpin dunia. Lo nggak tau.
Lo nggak akan pernah tau.

Dan yang lebih nggak tenang:
lo harus hidup dengan
pilihan itu.

Setiap hari. Setiap malam.
Setiap kali lo sendirian. Suara
di kepala lo bakal nanya, “Lo yakin?”
Dan lo nggak punya jawaban yang
memuaskan.

Itu harga dari keputusan moral.
Lo nggak bisa lari dari tanggung
jawab. Lo cuma bisa belajar
hidup dengannya.

Tanda-Tanda Lo Lagi
Ngadepin Dilema Moral

Coba jawab dalam hati. Jujur.

  1. Lo ngerasa dua-duanya
    salah?

    Itu tanda lo lagi di tengah
    dilema moral.

  2. Lo ngerasa pengen ada
    pilihan ketiga,
    tapi nggak ada?

    Itu tanda lo lagi dipaksa milih.

  3. Lo ngerasa bersalah
    meskipun lo belum milih?
    Itu tanda lo udah tau akibatnya.

  4. Lo takut milih karena
    takut nyesel?

    Itu tanda lo sadar pilihan lo
    bakal nempel seumur hidup.

  5. Lo ngerasa nggak ada
    yang bisa ngerti kenapa
    lo milih itu?

    Itu tanda lo lagi sendirian
    di dalam keputusan lo.

Kalau lo jawab iya di dua atau lebih,
selamat. Lo sadar lo lagi ngadepin
sesuatu yang berat. Itu langkah
pertama buat ngadepinnya dengan
jujur.

Cara Ngadepin Dilema Moral
Tanpa Kehilangan Akal

1. Sadari kerangka moral lo.
Lo tipe yang milih berdasarkan hasil?
Berarti lo utilitarian. Lo tipe yang
milih berdasarkan aturan?
Berarti lo deontolog. Lo tipe yang
milih berdasarkan karakter lo?
Berarti lo etika kebajikan. Nggak ada
yang sempurna. Yang penting lo tau
kenapa lo milih.

2. Jangan cuma ngitung angka.
Satu orang bukan cuma angka.
Lima orang juga bukan cuma angka.
Setiap orang punya hidup.
Punya keluarga. Punya cerita.
Hitungan matematis bisa ngebantu.
Tapi nggak bisa gantiin
pertimbangan manusiawi.

3. Pikirin jarak dan cara.
Tarik tuas dan dorong orang emang
beda secara moral. Nggak apa-apa
ngaku kalau cara nge-lakuin sesuatu
memengaruhi penilaian lo. Yang
penting lo jujur soal perasaan itu.
Jangan pura-pura logis kalau
sebenernya lo dipengaruhi emosi.

4. Cari pandangan lain.
Waktu lo ngadepin dilema, obrolin
sama orang yang lo percaya. Mereka
mungkin liat hal yang lo nggak liat.
Mereka mungkin ngingetin lo sama
nilai yang lo lupa.

5. Terima kenyataan nggak ada
pilihan yang sempurna.

Dalam dilema moral, lo nggak bisa
keluar dengan tangan bersih.
Lo cuma bisa milih pilihan yang
paling bisa lo pertanggungjawabkan.
Dan setelah itu, lo harus belajar
hidup dengannya.

6. Jangan hakimin orang lain
terlalu cepet.

Orang yang milih beda belum tentu
jahat. Mereka mungkin punya
alasan yang tulus. Lo nggak tau apa
yang bakal lo lakuin sampai lo
bener-bener ada di situasi itu.
Jadi jangan sok suci.

7. Belajar dari keputusan lo.
Setiap dilema ngajarin sesuatu soal
diri lo. Apa yang lo hargai?
Apa yang lo takutin?
Apa yang lo siap korbankan?
Jawaban dari pertanyaan itu
bantu lo tumbuh.

Yang Paling Lo Takutin
Bukan Mati

Yang paling lo takutin bukan mati.
Bukan juga salah pilih.

Yang paling lo takutin adalah:
lo nggak akan pernah tau
apakah pilihan lo bener.
Dan lo harus hidup dengan itu.

Itu serem. Gue ngerti.

Tapi coba pikir lagi. Kalau lo nggak
pernah ngadepin dilema, lo nggak
akan pernah tau siapa lo sebenernya.
Lo nggak akan pernah tau apa yang
lo pegang. Lo nggak akan pernah tau
seberapa kuat lo nanggung beban.

Dilema moral bukan musuh. Dilema
moral adalah
cermin. Dia nunjukin
lo yang paling dalem. Yang paling
jujur. Yang paling telanjang.

Penutup: Pertanyaan yang
Bakal Nemenin Lo Tidur

Trolley Problem ngajarin satu hal
yang nggak nyaman.

Kadang nggak ada pilihan yang
bener. Kadang lo harus milih antara
dua hal yang sama-sama buruk.
Kadang lo harus korbanin sesuatu
yang berharga buat nyelametin
sesuatu yang lebih berharga.
Dan kadang lo nggak akan pernah
tau apakah pilihan lo tepat.

Tapi Trolley Problem juga ngajarin
lo buat
terus mikir. Nggak boleh
cuma ikutin perasaan. Nggak boleh
cuma ikutin aturan. Lo harus
nimbang. Lo harus renung.
Lo harus tanggung jawab.

Jadi, gue mau nanya ke lo.

Kalau lo berdiri di deket tuas
itu, apa yang lo lakuin?

Lo tarik? Lo diem?
Lo cari pilihan ketiga yang
sebenernya nggak ada?

Dan setelah keputusan itu,
lo bisa hidup dengan
akibatnya?

Gue nggak bisa jawab buat lo.
Nggak ada yang bisa. Tapi gue bisa
ngingetin: lo nggak harus jadi
sempurna. Lo cuma harus jujur.

Selamat berpikir. Atau setidaknya,
selamat mulai mempertanyakan
pilihan moral lo sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *