Availability Heuristic Distortion: Ketika yang Mudah Diingat Terasa Lebih Mungkin Terjadi
Pernahkah Anda merasa sesuatu itu
sangat berbahaya, padahal
sebenarnya tidak? Misalnya, Anda
mendengar berita kecelakaan pesawat.
Berhari-hari setelahnya, Anda merasa
naik pesawat itu menakutkan.
Padahal menurut statistik, naik mobil
jauh lebih berbahaya. Tetapi karena
berita pesawat ada di kepala Anda,
Anda merasa itu lebih mungkin
terjadi. Inilah yang disebut
Availability Heuristic.
Availability Heuristic adalah cara otak
menilai kemungkinan sesuatu bukan
berdasarkan data, tetapi berdasarkan
seberapa mudah contohnya muncul
di pikiran. Jika sesuatu mudah diingat,
otak merasa itu sering terjadi.
Jika sulit diingat, otak merasa itu
jarang terjadi. Padahal belum tentu.
Pelaku memanfaatkan cara kerja otak
ini untuk mengarahkan persepsi Anda.
Teknik ini berhubungan dengan
The Illusory Truth Effect yang
telah dibahas sebelumnya.
Pada teknik itu, pengulangan
membuat sesuatu terasa benar.
Pada Availability Heuristic
Distortion, kemudahan mengingat
membuat sesuatu terasa lebih
mungkin. Keduanya bermain
di area persepsi, tetapi jalurnya
berbeda.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Kemudahan Mengingat
Memengaruhi Penilaian
Eksperimen Amos Tversky dan
Daniel Kahneman (1973):
Availability Heuristic
Amos Tversky dan Daniel Kahneman
dari Hebrew University melakukan
eksperimen yang sangat terkenal
tentang bagaimana kemudahan
mengingat memengaruhi penilaian.
Eksperimen ini diterbitkan dalam
jurnal Cognitive Psychology.
Dalam eksperimen ini, peneliti
mengajukan pertanyaan sederhana
kepada partisipan.
Mereka bertanya,
“Menurut Anda, apakah lebih
banyak kata dalam bahasa Inggris
yang diawali dengan huruf K, atau
yang memiliki huruf K di posisi
ketiga?”
Partisipan diminta memilih salah satu.
Sebagian besar partisipan menjawab
bahwa lebih banyak kata yang diawali
dengan huruf K. Padahal, jawaban itu
salah. Dalam bahasa Inggris, kata-kata
yang memiliki huruf K di posisi ketiga
jauh lebih banyak daripada kata-kata
yang diawali dengan huruf K.
Mengapa partisipan salah?
Karena kata-kata yang diawali dengan
huruf K lebih mudah diingat.
Otak dapat mengingat kata seperti
“king”, “kite”, “key”, dan “kangaroo”
dengan cepat. Sementara kata-kata
yang memiliki huruf K di posisi
ketiga, seperti “cake”, “lake”, dan
“make”, lebih sulit diingat.
Otak menggunakan kemudahan
mengingat sebagai petunjuk untuk
menilai frekuensi. Semakin mudah
diingat, semakin sering dianggap
terjadi.
Dialog setelah eksperimen:
Tversky: “Mengapa Anda memilih
kata yang diawali huruf K?”
Partisipan: “Karena saya bisa
mengingat lebih banyak kata yang
diawali huruf K.”
Tversky: “Apakah Anda mencoba
mengingat kata yang memiliki
huruf K di posisi ketiga?”
Partisipan: “Saya tidak terpikir
ke sana. Saya hanya mengingat
yang paling mudah.”
Tversky: “Itulah sebabnya Anda salah.
Kata yang memiliki huruf K di posisi
ketiga sebenarnya lebih banyak.”
Tversky dan Kahneman menyimpulkan
bahwa manusia menilai frekuensi dan
probabilitas berdasarkan seberapa
mudah contohnya muncul di pikiran.
Mereka tidak menghitung data.
Mereka hanya mengandalkan
kemudahan mengingat.
Dalam Availability Heuristic
Distortion, pelaku memanfaatkan ini
dengan membuat contoh tertentu
mudah diingat. Korban merasa
contoh itu sering terjadi. Korban
merasa risiko atau peluangnya besar.
Eksperimen Norbert Schwarz,
Herbert Bless, Fritz Strack,
Gisela Klumpp, Helga
Rittenauer-Schatka, dan
Annette Simons (1991):
Ease of Recall
Norbert Schwarz dan timnya dari
University of Heidelberg melakukan
eksperimen tentang bagaimana
kemudahan mengingat
memengaruhi penilaian diri.
Penelitian ini diterbitkan dalam
Journal of Personality and Social
Psychology.
Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta mengingat contoh perilaku
asertif dalam hidup mereka.
Separuh partisipan diminta
mengingat enam contoh.
Separuh lainnya diminta mengingat
dua belas contoh. Setelah itu,
mereka diminta menilai seberapa
asertif diri mereka sendiri.
Hasilnya, partisipan yang diminta
mengingat enam contoh menilai
diri mereka lebih asertif daripada
partisipan yang diminta mengingat
dua belas contoh. Mengapa?
Karena mengingat dua belas
contoh itu sulit. Ketika partisipan
merasa sulit mengingat, mereka
menyimpulkan bahwa mereka
tidak memiliki banyak contoh
perilaku asertif. Mereka merasa diri
mereka kurang asertif. Padahal,
kesulitan mengingat bukan berarti
mereka tidak asertif. Itu hanya
berarti tugasnya sulit.
Dialog setelah eksperimen:
Schwarz: “Mengapa Anda menilai
diri Anda kurang asertif?”
Partisipan yang mengingat dua belas
contoh: “Saya kesulitan mengingat
dua belas contoh. Berarti saya
memang tidak terlalu asertif.”
Schwarz: “Padahal kesulitan itu
karena jumlah contoh yang
diminta terlalu banyak.”
Partisipan: “Saya tidak
menyadarinya. Saya pikir itu
karena saya memang kurang asertif.”
Schwarz menyimpulkan bahwa orang
tidak hanya menilai berdasarkan isi
yang diingat. Mereka juga menilai
berdasarkan seberapa mudah atau
sulit mereka mengingatnya.
Jika mengingat terasa sulit, mereka
menyimpulkan bahwa contoh itu
jarang terjadi. Jika mengingat
terasa mudah, mereka
menyimpulkan bahwa contoh itu
sering terjadi. Dalam Availability
Heuristic Distortion, pelaku
membuat contoh yang
menguntungkan dirinya mudah
diingat. Korban menyimpulkan
bahwa contoh itu sering terjadi.
Korban mengambil keputusan
berdasarkan kesimpulan itu.
Eksperimen Paul Slovic, Baruch
Fischhoff, dan Sarah
Lichtenstein (1982):
Risk Perception
Paul Slovic, Baruch Fischhoff, dan
Sarah Lichtenstein melakukan
penelitian tentang bagaimana orang
menilai risiko. Mereka menemukan
bahwa orang menilai risiko bukan
berdasarkan data statistik, tetapi
berdasarkan seberapa mudah
contoh risiko itu diingat.
Dalam salah satu eksperimen,
partisipan diminta menilai
frekuensi berbagai penyebab
kematian. Mereka diminta
menebak mana yang lebih sering
terjadi: kematian akibat tornado
atau kematian akibat asma.
Kematian akibat serangan hiu
atau kematian akibat jatuh dari
pesawat.
Hasilnya, partisipan secara konsisten
melebih-lebihkan frekuensi penyebab
kematian yang dramatis dan langka.
Mereka merasa kematian akibat
tornado lebih sering daripada asma.
Mereka merasa kematian akibat
serangan hiu lebih sering daripada
jatuh dari pesawat. Padahal, asma
membunuh jauh lebih banyak
orang daripada tornado. Jatuh dari
pesawat membunuh jauh lebih
banyak orang daripada serangan hiu.
Mengapa partisipan salah?
Karena kematian akibat tornado dan
serangan hiu lebih mudah diingat.
Berita tentang tornado dan serangan
hiu lebih dramatis. Berita itu lebih
sering muncul di media. Berita itu
lebih mudah diingat. Sementara
kematian akibat asma dan jatuh dari
pesawat jarang diberitakan.
Contohnya sulit diingat.
Dialog setelah eksperimen:
Slovic: “Mengapa Anda merasa
serangan hiu lebih sering terjadi?”
Partisipan: “Saya sering melihat
beritanya. Ada film tentang hiu.
Ada berita tentang orang
diserang hiu.”
Slovic: “Apakah Anda pernah
melihat berita tentang orang
jatuh dari pesawat?”
Partisipan: “Tidak pernah.
Tapi saya tahu itu terjadi.”
Slovic: “Faktanya, jatuh dari pesawat
membunuh lebih banyak orang
daripada serangan hiu.”
Partisipan: “Serius?
Saya tidak menyangka.”
Slovic menyimpulkan bahwa persepsi
risiko dipengaruhi oleh kemudahan
mengingat. Semakin mudah contoh
risiko diingat, semakin besar risiko
itu terasa. Pelaku Availability
Heuristic Distortion memanfaatkan
ini. Pelaku membuat contoh risiko
mudah diingat. Korban merasa
risiko itu besar. Korban mengambil
tindakan yang pelaku inginkan.
Mengapa Availability Heuristic
Distortion Begitu Efektif?
Otak manusia malas menghitung
statistik. Otak lebih memilih jalan
pintas. Otak bertanya, “Apakah ada
contohnya di kepala saya?”
Jika ada, otak langsung merasa itu
mungkin. Jika tidak ada, otak
merasa itu tidak mungkin. Pelaku
memanfaatkan jalan pintas ini.
Pelaku membuat contoh mudah
diingat. Korban merasa risiko
atau peluang itu besar.
Availability Heuristic Distortion
juga memanfaatkan efek emosi.
Contoh yang emosional lebih
mudah diingat daripada contoh
yang netral. Cerita tentang
kegagalan yang tragis lebih mudah
diingat daripada cerita tentang
keberhasilan yang biasa. Pelaku
memanfaatkan ini. Pelaku
memberikan contoh yang
emosional. Korban merasa
contoh itu sering terjadi.
Selain itu, Availability Heuristic
Distortion memanfaatkan media.
Media cenderung memberitakan
hal-hal yang dramatis dan langka.
Kecelakaan pesawat diberitakan
lebih sering daripada kecelakaan
mobil. Serangan hiu diberitakan
lebih sering daripada serangan
lebah. Akibatnya, orang merasa
hal-hal dramatis itu lebih sering
terjadi. Pelaku memanfaatkan ini.
Pelaku mengarahkan perhatian
korban pada berita atau cerita
tertentu. Korban merasa risiko
itu besar.
Empat Fase Availability
Heuristic Distortion:
Kisah Rina dan Keputusan
Investasi
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia adalah seorang profesional muda
yang ingin berinvestasi.
Fase 1: Menciptakan Contoh
yang Mudah Diingat
Rina bertemu dengan seorang
konsultan investasi bernama Doni.
Doni ingin menjual produk investasi
tertentu. Ia tidak langsung
menawarkan produknya. Ia terlebih
dahulu menceritakan kisah tentang
temannya.
Doni: “Rina, saya punya teman.
Namanya Bima. Ia dulu punya saham
di perusahaan teknologi. Nilainya naik
terus. Ia merasa aman.
Tetapi tiba-tiba, perusahaan itu
bangkrut. Bima kehilangan semua
uangnya. Ia sampai berhutang.
Keluarganya hancur.”
Rina mendengarkan dengan saksama.
Cerita itu emosional. Cerita itu
mudah diingat. Rina mulai merasa
bahwa saham itu berbahaya.
Rina: “Wah, serem juga ya.”
Doni: “Iya. Makanya saya selalu
hati-hati.”
Fase 2: Mengulang Contoh
Doni tidak berhenti di satu cerita.
Ia menceritakan kisah serupa lagi.
Ia menceritakan tentang kerugian
investasi di saham. Ia menceritakan
tentang temannya yang bangkrut.
Ia menceritakan tentang berita
krisis ekonomi.
Doni: “Rina, kamu tahu kan krisis
1998? Banyak orang kehilangan
segalanya. Mereka yang investasi
di saham waktu itu bangkrut.
Rumah mereka disita. Anak-anak
mereka putus sekolah.”
Rina merasa semakin tidak nyaman.
Ia mulai merasa bahwa investasi
saham itu berbahaya.
Contoh-contoh itu mengisi
kepalanya. Ia tidak bisa berhenti
memikirkannya.
Fase 3: Menawarkan Solusi
Setelah Rina merasa takut, Doni
menawarkan solusi. Ia menawarkan
produk investasi yang ia jual.
Doni: “Rina, daripada kamu ambil
risiko di saham, lebih baik kamu
ambil produk ini. Produk ini dijamin
aman. Ada jaminan pemerintah.
Tidak ada risiko kehilangan uang.
Cocok untuk kamu yang ingin aman.”
Rina merasa lega. Ia merasa bahwa
produk itu adalah jalan keluar.
Ia tidak membandingkan produk
itu dengan produk lain. Ia tidak
memeriksa apakah benar ada
jaminan. Ia hanya ingin
menghindari risiko yang
diceritakan Doni.
Fase 4: Kepatuhan dan
Penyesalan
Rina membeli produk investasi yang
ditawarkan Doni. Ia menyerahkan
uangnya. Ia merasa aman. Tetapi
beberapa bulan kemudian,
ia menyadari bahwa produk itu
memiliki biaya administrasi yang
tinggi. Keuntungannya sangat kecil.
Ia hampir tidak mendapatkan
apa-apa. Ia membandingkan
dengan saham yang katanya
berbahaya. Ternyata, saham yang ia
takuti itu justru memiliki potensi
keuntungan yang lebih tinggi.
Rina menyadari bahwa ia telah
mengambil keputusan berdasarkan
cerita yang mudah diingat, bukan
berdasarkan data. Ia menyesal.
Ia merasa telah dimanfaatkan oleh
Doni. Doni berhasil menggunakan
Availability Heuristic Distortion
untuk mengarahkan keputusan Rina.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Keputusan Kesehatan
Seorang ibu, Maya, memiliki anak
yang demam. Ia membawa anaknya
ke dokter. Dokter menyarankan
obat tertentu. Maya menolak karena
ia pernah mendengar berita tentang
anak yang meninggal setelah
mengonsumsi obat itu.
Maya: “Dok, saya takut. Saya pernah
baca berita tentang anak yang
meninggal setelah minum obat ini.”
Dokter: “Berita itu sangat jarang
terjadi. Obat ini sudah diuji dan
aman untuk sebagian besar anak.”
Maya: “Tapi saya tidak bisa
melupakannya. Saya takut anak
saya kenapa-kenapa.”
Maya memilih obat lain yang lebih
mahal dan kurang efektif.
Ia menghindari obat yang
sebenarnya aman karena ia
mengingat satu berita yang
dramatis. Padahal, berita itu adalah
kasus langka yang tidak mewakili
kenyataan.
2. Keputusan Karier
Seorang karyawan, Bima, mendapat
tawaran pekerjaan di perusahaan
baru. Ia ragu karena ia pernah
mendengar cerita tentang orang
yang dipecat setelah pindah kerja.
Bima: “Saya takut pindah kerja.
Saya ingat cerita teman saya.
Dia pindah kerja, terus dipecat.
Sekarang dia susah cari kerja.”
Rekannya: “Tapi itu cuma satu kasus.
Banyak orang yang pindah kerja dan
sukses.”
Bima: “Saya tahu. Tapi cerita itu terus
terngiang di kepala saya.”
Bima menolak tawaran pekerjaan itu.
Ia bertahan di pekerjaan lama yang
tidak lagi menantang. Ia mengambil
keputusan berdasarkan satu cerita
yang mudah diingat. Padahal,
peluang sukses di pekerjaan baru
mungkin lebih besar.
3. Keputusan Keuangan
Seorang investor, Rina, ingin membeli
properti. Ia ragu karena ia mengingat
krisis properti beberapa tahun lalu.
Rina: “Saya takut beli properti.
Saya ingat waktu itu banyak orang
yang kehilangan rumah karena
kredit macet. Harga properti jatuh.
Mereka bangkrut.”
Konsultan: “Krisis itu sudah lama.
Sekarang kondisinya berbeda.
Harga properti sedang naik.”
Rina: “Saya tahu. Tapi saya tidak
bisa melupakan krisis itu.”
Rina memutuskan untuk tidak
membeli properti. Ia menaruh
uangnya di deposito dengan bunga
rendah. Ia mengambil keputusan
berdasarkan satu peristiwa besar
yang mudah diingat. Padahal,
kondisi saat itu sudah berubah.
Cara Melindungi Diri dari
Availability Heuristic Distortion
Jika Anda merasa sedang dinilai
berdasarkan contoh yang mudah
diingat, ada beberapa langkah
yang bisa dilakukan.
Pertama, sadari bahwa Anda
sedang menilai berdasarkan
kemudahan mengingat.
Ketika Anda merasa sesuatu itu
berbahaya atau menguntungkan,
tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya menilai ini dari data,
atau dari cerita yang paling
menempel di kepala saya?”
Kedua, cari data.
Jangan hanya percaya pada satu
cerita. Cari statistik. Cari penelitian.
Cari informasi dari sumber yang
kredibel. Bandingkan cerita
dengan data.
Ketiga, tunda keputusan.
Jangan langsung bereaksi. Beri jeda.
Tarik napas. Pikirkan apakah
keputusan Anda didasarkan pada
fakta atau pada emosi.
Keempat, periksa apakah
contoh yang Anda ingat
mewakili kenyataan.
Satu berita dramatis tidak mewakili
seluruh kenyataan. Satu cerita
kegagalan tidak berarti semua
orang akan gagal. Tanyakan:
“Apakah contoh ini pengecualian
atau aturan?”
Kelima, ingat bahwa mudah
diingat bukan berarti sering
terjadi. Sesuatu yang mudah diingat
mungkin hanya dramatis. Sesuatu
yang sulit diingat mungkin justru
lebih sering terjadi. Jangan biarkan
kemudahan mengingat menipu
Anda.
Keenam, cari contoh yang
berlawanan. Jika Anda hanya
mengingat contoh kegagalan,
cari contoh keberhasilan. Jika Anda
hanya mengingat contoh risiko, cari
contoh keamanan. Ini membantu
menyeimbangkan persepsi Anda.
Ketujuh, jangan biarkan
orang lain mengarahkan
perhatian Anda. Jika seseorang
terus menceritakan contoh yang
membuat Anda takut atau ragu,
tanyakan: “Apa motif orang ini?
Apakah dia ingin membantu saya,
atau ingin menjual sesuatu?”
Anda berhak memilih informasi
yang Anda konsumsi.
Availability Heuristic Distortion
adalah teknik yang memanfaatkan
kecenderungan otak untuk menilai
berdasarkan kemudahan
mengingat. Pelaku tidak perlu
menyerang Anda secara langsung.
Pelaku hanya perlu membuat
contoh tertentu mudah diingat.
Anda merasa risiko atau peluang
itu besar. Anda mengambil
keputusan berdasarkan perasaan
itu. Kenali polanya. Cari data.
Tunda keputusan. Dan ingatlah
bahwa mudah diingat bukan
berarti sering terjadi.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik
berikutnya. Namanya
Availability Heuristic
Distortion.
Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo ngerasa sesuatu itu
bahaya banget, padahal
sebenernya nggak. Misalnya,
lo denger berita kecelakaan pesawat.
Berhari-hari setelahnya, lo ngerasa
naik pesawat itu serem. Padahal
statistiknya, naik mobil jauh lebih
berbahaya. Tapi karena berita
pesawat ada di kepala lo, lo ngerasa
itu lebih mungkin terjadi. Nah, itu
yang namanya Availability
Heuristic.
Simpelnya, availability heuristic
adalah cara otak kita menilai
kemungkinan sesuatu bukan
berdasarkan data, tapi berdasarkan
seberapa gampang contohnya
muncul di pikiran. Kalau sesuatu
gampang diinget, otak ngerasa itu
sering terjadi. Kalau susah diinget,
otak ngerasa itu jarang terjadi.
Padahal belum tentu. Dan pelaku
manfaatin cara kerja otak ini buat
ngerahin persepsi lo.
Kalau lo ingat, ini masih nyambung
sama The Illusory Truth Effect
yang pernah kita bahas. Di situ kita
ngomongin gimana pengulangan
bikin sesuatu keliatan bener.
Nah, kalau availability heuristic ini
lebih ke gimana gampangnya
mengingat bikin sesuatu keliatan
lebih mungkin. Dua-duanya
sama-sama main di persepsi,
tapi beda jalurnya.
Kenapa ini ampuh? Karena otak
kita males ngitung statistik.
Dia lebih milih jalan pintas.
Dia nanya, “Ada contohnya nggak
di kepala gue?” Kalau ada,
dia langsung ngerasa itu mungkin.
Kalau nggak ada, dia ngerasa itu
nggak mungkin. Jadi kalau pelaku
bisa bikin lo inget sesuatu,
dia bisa bikin lo ngerasa sesuatu
itu lebih mungkin terjadi. Entah
itu risiko, entah itu peluang.
Contoh gampangnya gini. Lo takut
jalan di gang gelap karena lo pernah
denger ada begal di situ. Padahal
gang itu udah aman bertahun-tahun.
Tapi karena cerita begalnya nempel
di kepala lo, lo ngerasa gang itu
berbahaya. Itu availability heuristic.
Di dunia kerja juga gitu. Lo ngerasa
proyek baru bakal gagal karena lo
inget dulu ada proyek yang gagal.
Padahal timnya beda, waktunya
beda, dan kondisinya beda.
Tapi karena kegagalan dulu gampang
diinget, lo ngerasa itu bakal kejadian
lagi. Itu availability heuristic.
Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, ciptain satu contoh yang
gampang diinget. Bisa cerita,
bisa berita, bisa pengalaman.
Kedua, ulangin cerita itu. Biar makin
nempel di kepala target.
Ketiga, pas target mulai ngerasa
risiko itu gede, tawarin solusi.
Keempat, target bakal ambil solusi
itu karena dia ngerasa ancamannya
nyata. Padahal bisa jadi cuma efek
dari contoh yang gampang diinget.
Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi
ngejudge sesuatu berdasarkan
contoh yang gampang diinget.
Tanya ke diri lo sendiri:
“Ini gue nilai dari data, atau dari
cerita yang paling nempel
di kepala gue?”
Kedua, cari data. Jangan cuma
percaya sama satu cerita.
Ketiga, tunda keputusan. Jangan
langsung reaksi.
Keempat, cek lagi. Apakah contoh
yang lo inget itu mewakili
kenyataan, atau cuma kebetulan
yang kebetulan viral.
Kelima, inget, gampang diinget
bukan berarti sering terjadi.
Jadi, Availability Heuristic
Distortion itu ibarat lo lagi liat satu
ikan di kolam. Lo langsung mikir,
“Wah, kolam ini penuh ikan.”
Padahal lo cuma liat satu.
Tapi karena satu ikan itu gampang
diinget, lo ngerasa seluruh kolam
isinya ikan. Padahal bisa jadi cuma
satu itu doang. Dan pelaku tinggal
manfaatin persepsi lo.
