The Sunk Cost Fallacy Trap: Ketika Anda Terus Melanjutkan Hanya Karena Sudah Terlanjur Mengeluarkan Banyak
Pernahkah Anda mengalami momen
ketika Anda sudah mengeluarkan
banyak biaya, waktu, atau tenaga
untuk sesuatu? Tetapi hasilnya tidak
sesuai harapan. Harusnya Anda
mundur. Harusnya Anda berhenti.
Tetapi Anda malah melanjutkan.
Anda berkata, “Sayang sekali, saya
sudah keluar banyak.” Inilah yang
disebut Sunk Cost Fallacy.
Sunk cost fallacy adalah
kecenderungan manusia untuk
terus melanjutkan sesuatu hanya
karena sudah terlanjur berinvestasi
di dalamnya. Bukan karena hasilnya
bagus. Tetapi karena tidak ingin
merasa rugi. Padahal, jika dipikir
logis, biaya yang sudah keluar tidak
bisa kembali. Yang tersisa hanyalah
pilihan: lanjut atau berhenti.
Tetapi otak sering memilih lanjut,
walaupun sebenarnya berhenti
lebih masuk akal.
Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Orang Terus Melanjutkan karena
Sudah Terlanjur Berinvestasi
Eksperimen Hal Arkes dan
Catherine Blumer (1985):
The Theater Ticket Experiment
Hal Arkes dan Catherine Blumer dari
Ohio University melakukan
eksperimen klasik tentang sunk cost
fallacy. Mereka ingin menguji apakah
orang yang sudah membayar tiket
akan lebih cenderung menonton
pertunjukan meskipun mereka
tidak menikmatinya.
Dalam eksperimen ini, partisipan
dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama membeli tiket
teater seharga 15 dolar.
Kelompok kedua mendapatkan
tiket teater secara gratis.
Semua partisipan diberi tahu bahwa
pertunjukan itu mungkin tidak
menarik. Mereka bebas untuk tidak
datang jika tidak ingin.
Setelah pertunjukan berlangsung,
peneliti menghubungi partisipan
dan menanyakan apakah mereka
datang menonton. Mereka juga
menanyakan seberapa menikmati
pertunjukan itu.
Hasilnya, partisipan yang membayar
tiket jauh lebih cenderung datang
menonton dibandingkan partisipan
yang mendapat tiket gratis.
Mereka merasa bahwa jika tidak
datang, uang 15 dolar mereka akan
sia-sia. Padahal, uang itu sudah
tidak bisa kembali, baik mereka
datang maupun tidak.
Dialog setelah eksperimen:
Arkes: “Mengapa Anda datang
menonton pertunjukan itu?”
Partisipan: “Saya sudah membayar
tiketnya. Sayang kalau tidak datang.”
Arkes: “Apakah Anda menikmati
pertunjukannya?”
Partisipan: “Tidak terlalu. Tapi saya
merasa harus datang.”
Arkes: “Jika tiket itu gratis, apakah
Anda akan datang?”
Partisipan: “Mungkin tidak. Saya
akan melakukan hal lain.”
Arkes dan Blumer menyimpulkan
bahwa orang cenderung melanjutkan
sesuatu hanya karena sudah
mengeluarkan biaya, meskipun
biaya itu tidak bisa dikembalikan.
Mereka tidak menghitung apakah
melanjutkan akan memberikan
manfaat. Mereka hanya menghitung
apakah berhenti akan membuat
mereka merasa rugi.
Dalam The Sunk Cost Fallacy Trap,
pelaku memanfaatkan
kecenderungan ini untuk membuat
korban terus mengeluarkan lebih
banyak.
Eksperimen Barry Staw (1976):
Escalation of Commitment in
Business
Barry Staw, seorang profesor perilaku
organisasi dari University of
California, Berkeley, melakukan
eksperimen tentang bagaimana
manajer membuat keputusan
investasi. Ia ingin menguji apakah
manajer akan terus menginvestasikan
uang ke dalam proyek yang gagal
hanya karena mereka sudah
menginvestasikan banyak
sebelumnya.
Dalam eksperimen ini, partisipan
adalah para manajer dan mahasiswa
MBA. Mereka diberi skenario tentang
seorang manajer yang telah
menginvestasikan 10 juta dolar
ke dalam proyek penelitian dan
pengembangan. Proyek itu mengalami
kegagalan. Pasar tidak merespons.
Biaya terus meningkat. Manajer itu
harus memutuskan apakah akan
melanjutkan investasi atau
menghentikan proyek.
Partisipan dibagi menjadi
dua kelompok.
Kelompok pertama diberi tahu
bahwa manajer itu sendiri yang
memutuskan untuk memulai
proyek itu.
Kelompok kedua diberi tahu bahwa
manajer sebelumnya yang
memutuskan untuk memulai
proyek itu.
Hasilnya, partisipan yang diberi tahu
bahwa manajer itu sendiri yang
memulai proyek lebih cenderung
merekomendasikan untuk
melanjutkan investasi.
Mereka merasa bahwa manajer itu
bertanggung jawab atas keputusan
awal, sehingga harus bertanggung
jawab untuk menyelesaikannya.
Mereka tidak ingin mengakui
bahwa keputusan awal itu salah.
Mereka terus menginvestasikan
uang ke dalam proyek yang sudah
jelas gagal.
Dialog setelah eksperimen:
Staw: “Mengapa Anda
merekomendasikan untuk
melanjutkan?”
Partisipan: “Karena sudah terlalu
banyak uang yang diinvestasikan.
Tidak mungkin berhenti sekarang.”
Staw: “Tetapi proyeknya gagal.
Bukankah lebih baik
menghentikannya?”
Partisipan: “Iya, tapi kalau berhenti,
semua uang itu sia-sia. Saya tidak
mau bertanggung jawab atas
kegagalan itu.”
Staw: “Apakah Anda akan
merekomendasikan hal yang sama
jika Anda tidak terlibat dalam
keputusan awal?”
Partisipan: “Mungkin tidak.
Saya akan melihat proyek ini sebagai
proyek yang gagal dan
menghentikannya.”
Staw menyimpulkan bahwa orang
cenderung meningkatkan komitmen
pada proyek yang gagal karena
mereka tidak ingin mengakui
bahwa investasi awal mereka salah.
Mereka terus mengeluarkan uang,
waktu, dan tenaga untuk menutupi
kerugian. Pelaku The Sunk Cost
Fallacy Trap memanfaatkan ini.
Pelaku membuat korban
berinvestasi terlebih dahulu.
Setelah korban terlanjur berinvestasi,
pelaku meminta lebih banyak.
Eksperimen Christopher Olivola
dan Timnya (2018): Sunk Cost in
Relationships
Christopher Olivola dari Carnegie
Mellon University dan timnya
melakukan eksperimen tentang
bagaimana sunk cost fallacy
memengaruhi keputusan dalam
hubungan romantis. Penelitian ini
diterbitkan dalam jurnal
Psychological Science.
Dalam eksperimen ini, partisipan
diberi skenario tentang seseorang
yang telah menjalin hubungan
selama beberapa tahun.
Hubungan itu tidak lagi
membahagiakan. Pasangannya
sering bertengkar. Mereka tidak
memiliki tujuan yang sama.
Partisipan diminta memutuskan
apakah orang itu harus melanjutkan
hubungan atau mengakhirinya.
Partisipan dibagi menjadi dua
kelompok.
Kelompok pertama diberi tahu
bahwa hubungan itu telah
berjalan selama lima tahun.
Kelompok kedua diberi tahu
bahwa hubungan itu telah berjalan
selama satu tahun.
Semua partisipan diberi informasi
bahwa hubungan itu tidak sehat.
Hasilnya, partisipan yang diberi tahu
bahwa hubungan itu telah berjalan
lima tahun lebih cenderung
merekomendasikan untuk
melanjutkan. Mereka merasa
bahwa lima tahun adalah waktu
yang terlalu berharga untuk
dibuang. Mereka tidak ingin melihat
investasi waktu itu sia-sia. Padahal,
melanjutkan hubungan yang tidak
sehat hanya akan membuang lebih
banyak waktu.
Dialog setelah eksperimen:
Olivola: “Mengapa Anda
merekomendasikan untuk
melanjutkan?”
Partisipan: “Karena sudah lima
tahun. Sayang kalau berakhir
begitu saja.”
Olivola: “Tetapi hubungan itu
tidak membahagiakan.”
Partisipan: “Iya. Tapi mungkin masih
bisa diperbaiki. Saya tidak mau
menyesal.”
Olivola: “Jika hubungan itu baru
berjalan satu tahun, apakah Anda
akan merekomendasikan hal
yang sama?”
Partisipan: “Mungkin tidak.
Saya akan menyarankan untuk
mengakhirinya.”
Olivola menyimpulkan bahwa orang
cenderung bertahan dalam
hubungan yang tidak sehat karena
mereka sudah berinvestasi waktu
dan tenaga. Mereka tidak ingin
merasa bahwa investasi itu sia-sia.
Pelaku The Sunk Cost Fallacy Trap
memanfaatkan ini dalam hubungan.
Pelaku membuat korban berinvestasi
lebih banyak, lalu mengancam akan
pergi jika korban tidak menuruti.
Korban menuruti karena tidak ingin
kehilangan investasinya.
Mengapa The Sunk Cost Fallacy
Trap Begitu Efektif?
Manusia tidak tahan dengan rasa rugi.
Kehilangan 100 ribu terasa dua kali
lebih menyakitkan daripada
senangnya mendapatkan 100 ribu.
Jadi ketika sudah mengeluarkan
sesuatu, otak memaksa untuk
melanjutkan. Agar investasi tidak
sia-sia. Tetapi justru karena
memaksa melanjutkan, kerugian
bertambah. Pelaku memanfaatkan
rasa sayang itu.
Sunk cost fallacy juga memanfaatkan
ego. Orang tidak ingin mengakui
bahwa keputusan awalnya salah.
Mengakui kesalahan berarti
mengakui bahwa dirinya bodoh.
Jadi ia terus melanjutkan, berharap
bahwa keputusannya akan terbukti
benar. Pelaku memanfaatkan ego
ini. Pelaku membuat korban merasa
bahwa berhenti berarti kalah.
Selain itu, sunk cost fallacy
memanfaatkan harapan.
Orang berharap bahwa sesuatu akan
membaik. Orang berharap bahwa
investasinya akan terbayar.
Harapan itu menahan mereka
untuk berhenti.
Pelaku memanfaatkan harapan
ini. Pelaku memberikan sedikit
harapan, lalu meminta lebih
banyak investasi.
Empat Fase The Sunk Cost
Fallacy Trap:
Kisah Rina dan Proyek yang
Gagal
Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia adalah seorang pengusaha yang
memulai sebuah proyek.
Fase 1: Investasi Awal
Rina memulai sebuah usaha kecil.
Ia menginvestasikan tabungannya
sebesar 50 juta rupiah. Ia menyewa
tempat. Ia membeli peralatan.
Ia mempekerjakan dua orang
karyawan. Ia merasa yakin bahwa
usahanya akan berhasil.
Rina: “Saya akan fokus. Saya akan
kerja keras. Saya yakin ini akan
berhasil.”
Doni, seorang konsultan,
mendekatinya. Ia menawarkan
bantuan.
Doni: “Rina, saya bisa bantu
mengembangkan usaha Anda.
Tapi saya butuh biaya
konsultasi 10 juta.”
Rina berpikir. Ia belum memiliki
banyak uang. Tetapi ia merasa
bahwa ia membutuhkan bantuan.
Ia membayar Doni.
Fase 2: Hasil Tidak Sesuai
Harapan
Setelah tiga bulan, usaha Rina tidak
berkembang. Pelanggan sedikit.
Pendapatan tidak menutupi biaya
operasional. Rina mulai khawatir.
Rina: “Doni, usaha saya belum
berkembang. Apa yang salah?”
Doni: “Rina, usaha butuh waktu.
Anda harus bersabar.
Tapi saya punya solusi.
Saya bisa bantu Anda dengan
strategi baru. Tapi saya butuh
biaya tambahan 15 juta.”
Rina ragu. Ia sudah mengeluarkan
60 juta. Ia tidak ingin menambah
beban. Tetapi ia juga tidak ingin
usahanya gagal.
Rina: “Apakah ini akan berhasil?”
Doni: “Saya yakin. Tapi Anda harus
berinvestasi lebih. Tidak ada usaha
yang berhasil tanpa investasi.”
Fase 3: Terjebak dalam Rasa
Sayang
Rina memutuskan untuk melanjutkan.
Ia membayar Doni 15 juta. Ia berharap
bahwa strategi baru akan berhasil.
Tetapi setelah tiga bulan, hasilnya
tetap sama. Usaha Rina masih merugi.
Rina: “Doni, saya sudah mengeluarkan
75 juta. Tapi usaha saya masih gagal.
Saya harus bagaimana?”
Doni: “Rina, Anda tidak bisa berhenti
sekarang. Anda sudah mengeluarkan
75 juta. Sayang jika berhenti.
Anda harus terus. Saya punya strategi
lain. Tapi butuh 20 juta lagi.”
Rina merasa terjebak. Ia sudah
mengeluarkan 75 juta. Ia tidak ingin
uangnya sia-sia. Ia membayar Doni
lagi. Ia berharap bahwa kali ini akan
berhasil. Tetapi usahanya tetap gagal.
Ia akhirnya kehilangan seluruh
tabungannya. Doni menghilang.
Rina menyesal. Ia menyadari bahwa
ia telah menjadi korban The Sunk
Cost Fallacy Trap.
Doni memanfaatkan rasa sayang
Rina pada investasinya.
Fase 4: Kehilangan Segalanya
Rina tidak bisa lagi membayar sewa.
Ia harus menutup usahanya.
Ia kehilangan 95 juta rupiah.
Ia juga kehilangan kepercayaan
pada dirinya sendiri. Ia merasa
bodoh. Ia merasa gagal. Padahal,
jika ia berhenti setelah tiga bulan
pertama, ia hanya kehilangan
60 juta. Jika ia berhenti setelah
enam bulan, ia kehilangan 75 juta.
Tetapi karena ia terus melanjutkan,
ia kehilangan lebih banyak.
Doni tidak pernah peduli pada
usaha Rina. Doni hanya peduli pada
biaya konsultasi yang ia terima.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Investasi Saham yang Merugi
Seorang investor, Bima, membeli
saham sebuah perusahaan seharga
100 juta rupiah. Setelah sebulan,
harga saham itu turun menjadi
80 juta. Bima seharusnya menjual
saham itu dan memotong kerugian.
Tetapi ia tidak mau.
Bima: “Saya sudah beli 100 juta.
Kalau saya jual sekarang, saya rugi
20 juta. Saya tunggu sampai
harganya naik lagi.”
Saham itu terus turun. Menjadi
60 juta. Menjadi 40 juta. Bima
terus menunggu. Ia terus berharap.
Ia akhirnya kehilangan seluruh
uangnya. Ia tidak pernah menjual.
Ia terjebak dalam sunk cost fallacy.
Ia tidak ingin mengakui bahwa
investasinya salah.
2. Hubungan yang Tidak Sehat
Seorang wanita, Sari, telah menjalin
hubungan dengan Doni selama lima
tahun. Hubungan itu tidak lagi
membahagiakan. Doni sering
berbohong. Doni sering mengabaikan
Sari. Sari ingin mengakhiri hubungan
itu. Tetapi ia tidak bisa.
Sari: “Saya sudah bersama dia selama
lima tahun. Sayang jika berakhir
begitu saja.”
Sari bertahan. Ia bertahan selama
lima tahun lagi. Hubungan itu
semakin buruk. Doni semakin
sering berbohong. Sari semakin
menderita. Ia akhirnya menyadari
bahwa ia telah membuang sepuluh
tahun hidupnya. Padahal, jika ia
berhenti di tahun kelima, ia hanya
membuang lima tahun. Tetapi
karena ia terus bertahan,
ia membuang lebih banyak.
3. Proyek Pekerjaan yang
Gagal
Seorang karyawan, Bima, telah
mengerjakan proyek selama enam
bulan. Proyek itu tidak menunjukkan
kemajuan. Atasannya sudah
memberi sinyal untuk menghentikan
proyek itu. Tetapi Bima tidak mau.
Bima: “Saya sudah mengerjakan
proyek ini selama enam bulan.
Sayang jika dihentikan sekarang.”
Bima melanjutkan proyek itu selama
enam bulan lagi. Proyek itu tetap
gagal. Bima akhirnya kehilangan
satu tahun waktunya. Ia tidak pernah
menyelesaikan proyek itu. Ia tidak
pernah mendapatkan hasil yang
diharapkan. Ia hanya membuang
waktu.
4. Membeli Barang yang Tidak
Dibutuhkan
Seorang pembeli, Maya, membeli
tiket konser seharga 500 ribu rupiah.
Pada hari konser, ia sakit. Ia tidak
bisa datang. Ia seharusnya
memberikan tiket itu kepada
orang lain atau menjualnya.
Tetapi ia tidak mau.
Maya: “Saya sudah beli tiketnya
500 ribu. Sayang jika tidak datang.”
Maya memaksakan diri datang
ke konser. Ia merasa semakin sakit.
Ia tidak menikmati konser itu.
Ia akhirnya pulang lebih awal.
Ia membuang 500 ribu dan juga
kesehatannya. Ia terjebak dalam
sunk cost fallacy.
5. Bisnis yang Tidak
Menguntungkan
Seorang pengusaha, Doni, memiliki
bisnis restoran yang merugi selama
setahun. Ia sudah mengeluarkan
200 juta rupiah. Ia seharusnya
menutup restoran itu dan beralih
ke usaha lain. Tetapi ia tidak mau.
Doni: “Saya sudah mengeluarkan
200 juta. Saya tidak bisa menyerah
sekarang.”
Doni terus mengeluarkan uang.
Ia berhutang ke bank. Ia berhutang
ke teman. Ia akhirnya kehilangan
500 juta rupiah. Restorannya tetap
tutup. Ia tidak pernah mengakui
bahwa keputusan awalnya salah.
Cara Melindungi Diri dari
The Sunk Cost Fallacy Trap
Jika Anda merasa terjebak dalam
sunk cost fallacy, ada beberapa
langkah yang bisa dilakukan.
Pertama, sadari bahwa Anda
sedang terjebak.
Ketika Anda merasa ingin
melanjutkan sesuatu hanya karena
sudah terlanjur mengeluarkan
banyak, berhentilah sejenak.
Tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya melanjutkan karena
hasilnya bagus, atau karena saya
sudah keluar banyak?”
Kedua, pisahkan biaya yang
sudah keluar dari keputusan
ke depan. Biaya yang sudah keluar
tidak bisa kembali. Yang penting
adalah keputusan ke depan.
Tanyakan: “Jika saya baru memulai
hari ini, apakah saya akan memilih
ini?”
Ketiga, jangan takut merasa
rugi. Rasa rugi lebih baik daripada
rugi benar-benar. Mengakui bahwa
Anda telah membuat kesalahan
lebih baik daripada terus
mengeluarkan uang, waktu, dan
tenaga untuk sesuatu yang tidak
berhasil.
Keempat, berani berhenti.
Jika memang tidak berjalan,
lebih baik mundur. Berhenti
bukan berarti kalah. Berhenti
berarti Anda memilih untuk
tidak menambah kerugian.
Kelima, belajar dari kesalahan.
Setiap keputusan yang salah adalah
pelajaran. Jangan biarkan rasa malu
menghalangi Anda untuk belajar.
Akui kesalahan. Perbaiki. Lanjutkan
hidup.
Keenam, jangan biarkan
orang lain memanfaatkan rasa
sayang Anda. Jika seseorang terus
meminta Anda untuk berinvestasi
lebih banyak ke dalam sesuatu yang
jelas gagal, curigalah. Tanyakan:
“Apakah orang ini peduli pada
keberhasilan saya, atau hanya peduli
pada keuntungannya sendiri?”
Ketujuh, buat batas kerugian.
Sebelum memulai sesuatu, tentukan
batas kerugian yang bisa Anda
terima. Jika batas itu tercapai,
berhenti. Jangan biarkan emosi
mengalahkan logika.
The Sunk Cost Fallacy Trap adalah
teknik yang memanfaatkan rasa
sayang manusia pada investasi yang
sudah dikeluarkan. Pelaku tidak
perlu menyerang Anda secara
langsung. Pelaku hanya perlu
membuat Anda berinvestasi terlebih
dahulu. Setelah Anda terlanjur
berinvestasi, pelaku meminta lebih
banyak. Anda menuruti karena
tidak ingin merasa rugi. Kenali
polanya. Pisahkan biaya yang sudah
keluar dari keputusan ke depan.
Berani berhenti. Dan ingatlah bahwa
berhenti bukan berarti kalah.
Berhenti bisa menjadi kemenangan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya The Sunk Cost Fallacy
Trap.
Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo udah keluar banyak biaya,
waktu, atau tenaga buat sesuatu.
Tapi hasilnya nggak sesuai harapan.
Harusnya lo mundur. Harusnya lo
berhenti. Tapi lo malah lanjut.
Lo bilang, “Sayang ah, gue udah
keluar banyak.” Nah, itu yang
namanya Sunk Cost Fallacy.
Simpelnya, sunk cost fallacy adalah
kecenderungan kita buat nerusin
sesuatu cuma karena kita udah
terlanjur investasi di situ. Bukan
karena hasilnya bagus. Tapi karena
kita nggak mau ngerasa rugi.
Padahal, kalau dipikir logis, yang
udah keluar nggak bisa balik.
Yang ada cuma pilihan: lanjut atau
berhenti. Tapi otak kita sering milih
lanjut, walau sebenernya berhenti
lebih masuk akal.
Kenapa ini ampuh?
Karena manusia itu nggak tahan
sama rasa rugi. Kehilangan
100 ribu itu rasanya dua kali lebih
nyakitin daripada senengnya dapet
100 ribu. Jadi pas kita udah keluar
sesuatu, otak kita bakal maksa kita
buat lanjut. Biar investasi kita
nggak sia-sia. Tapi justru karena
maksa lanjut, kita malah nambah
kerugian. Dan pelaku manfaatin
rasa sayang itu.
Contoh gampangnya gini. Lo beli tiket
bioskop 50 ribu. Pas nonton, ternyata
filmnya jelek. Lo pengen keluar.
Tapi lo mikir, “Ah, sayang udah
bayar.” Akhirnya lo duduk sampe
selesai. Lo buang 2 jam buat sesuatu
yang nggak lo nikmatin. Padahal
50 ribu udah nggak bisa balik. Yang
bisa lo selametin cuma 2 jam lo. Tapi
lo nggak selametin. Itu sunk cost
fallacy.
Di dunia kerja juga gitu. Lo udah
ngerjain proyek 6 bulan. Ternyata
proyeknya nggak jalan. Harusnya
dihentikan. Tapi lo lanjut. Lo bilang,
“Udah keluar banyak tenaga.”
Akhirnya lo buang 6 bulan lagi.
Padahal yang 6 bulan pertama
nggak bisa balik. Yang bisa lo
selametin cuma 6 bulan berikutnya.
Tapi lo nggak selametin.
Di hubungan juga bisa. Lo udah
pacaran 5 tahun. Tapi hubungannya
udah nggak sehat. Harusnya udah
selesai. Tapi lo bertahan. Lo bilang,
“Sayang ah, udah 5 tahun.” Akhirnya
lo buang 5 tahun lagi. Padahal yang
5 tahun pertama udah lewat.
Yang bisa lo selametin cuma 5 tahun
berikutnya. Tapi lo nggak selametin.
Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, bikin target investasi dulu.
Entah uang, waktu, atau tenaga.
Kedua, pas target udah investasi
banyak, masuk dengan permintaan
atau tawaran.
Ketiga, mainin rasa sayang.
“Kan sayang kalau berhenti sekarang.”
Keempat, tawarin jalan keluar yang
sebenernya nambah kerugian.
Kelima, target bakal nurut karena
dia nggak mau ngerasa rugi.
Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi kejebak
sunk cost. Tanya ke diri lo sendiri:
“Apa gue lanjut karena hasilnya
bagus, atau karena gue udah keluar
banyak?” Kedua, pisahin biaya yang
udah keluar sama keputusan
ke depan. Yang udah keluar,
lupakan. Yang penting cuma
ke depan. Ketiga, jangan takut
ngerasa rugi. Rasa rugi itu lebih
baik daripada rugi beneran.
Keempat, berani berhenti.
Kalau memang nggak jalan,
mending mundur. Kelima, inget,
berhenti bukan berarti kalah.
Berhenti bisa jadi kemenangan.
Jadi, The Sunk Cost Fallacy Trap
itu ibarat lo lagi naik perahu yang
bocor. Lo udah dayung jauh.
Lo udah capek. Lo nggak mau balik.
Lo bilang, “Sayang ah, udah jauh.”
Akhirnya lo terus dayung. Padahal
perahunya makin bocor. Dan lo
makin tenggelam. Padahal kalau
lo balik lebih awal, lo selamet.
