Baiting with Curiosity Gaps: Ketika Rasa Penasaran Dijadikan Umpan untuk Menarik Perhatian Anda
Pernahkah Anda melihat judul video
yang membuat Anda penasaran
setengah mati? Contohnya,
“Anda tidak akan percaya apa yang
terjadi selanjutnya.” Atau, “Satu trik
sederhana yang membuat semua
orang terkejut.” Anda sebenarnya
tidak terlalu peduli dengan topiknya.
Tetapi karena judulnya membuat
penasaran, Anda mengklik. Anda
menonton. Anda membaca.
Dan Anda baru menyadari, isinya
tidak seheboh judulnya. Inilah yang
disebut Baiting with Curiosity
Gaps.
Baiting with Curiosity Gaps adalah
teknik manipulasi yang
memanfaatkan celah informasi
untuk memancing rasa penasaran.
Pelaku sengaja memberikan
informasi yang menggantung,
tidak lengkap, atau
setengah-setengah. Tujuannya
adalah membuat Anda merasa
tidak nyaman karena ada celah
antara apa yang Anda ketahui dan
apa yang ingin Anda ketahui.
Rasa tidak nyaman itu mendorong
Anda untuk mencari jawabannya.
Pelaku tinggal menuai perhatian,
klik, atau tindakan lain yang ia
inginkan.
Teknik ini masih berhubungan
dengan Open Loop Statements
yang pernah dibahas sebelumnya.
Perbedaannya, Open Loop
Statements lebih fokus pada kalimat
yang digantung dalam percakapan.
Baiting with Curiosity Gaps lebih
spesifik pada judul, headline, subjek
email, atau pancingan awal yang
membuat orang masuk ke dalam
perangkap.
Eksperimen Ilmiah: Teori Celah
Informasi oleh George
Loewenstein
George Loewenstein, seorang
profesor psikologi dan ekonomi
dari Carnegie Mellon University,
melakukan penelitian yang sangat
berpengaruh tentang rasa penasaran.
Ia mengembangkan Information
Gap Theory atau Teori Celah
Informasi. Teori ini menjelaskan
bahwa rasa penasaran muncul ketika
seseorang menyadari adanya celah
dalam pengetahuannya.
Dalam salah satu eksperimennya,
Loewenstein meminta partisipan
menjawab serangkaian pertanyaan
trivia. Pertanyaan-pertanyaan itu
sengaja dipilih agar sebagian besar
partisipan tidak mengetahui
jawabannya. Setelah menjawab,
partisipan diminta menilai seberapa
penasaran mereka untuk
mengetahui jawaban yang benar.
Loewenstein kemudian memberikan
jawaban kepada sebagian partisipan.
Kepada sebagian lainnya, ia tidak
memberikan jawaban. Ia kemudian
mengukur seberapa besar partisipan
bersedia membayar untuk
mendapatkan jawaban, atau
seberapa lama mereka bertahan
menunggu jawaban.
Hasilnya, partisipan yang tidak
mendapatkan jawaban melaporkan
tingkat rasa penasaran yang jauh
lebih tinggi. Mereka juga lebih
bersedia mengeluarkan usaha,
waktu, atau uang untuk menutup
celah informasi itu.
Semakin spesifik celah informasinya,
semakin kuat rasa penasaran yang
muncul.
Dialog setelah eksperimen:
Loewenstein: “Mengapa Anda ingin
mengetahui jawaban pertanyaan ini?”
Partisipan: “Saya merasa tidak nyaman
karena tidak tahu. Saya ingin tahu.”
Loewenstein: “Apakah Anda akan
membayar untuk mengetahui
jawabannya?”
Partisipan: “Mungkin iya. Saya rasa
saya akan melakukannya.”
Loewenstein menyimpulkan bahwa
rasa penasaran bukanlah sekadar
keinginan biasa. Ia adalah dorongan
kognitif yang kuat. Otak manusia
tidak menyukai celah informasi.
Ia ingin menutupnya. Dan ketika
celah itu tidak bisa ditutup, muncul
perasaan tidak nyaman yang terus
mendorong seseorang untuk
mencari jawaban.
Penelitian lanjutan oleh Loewenstein
dan rekan-rekannya juga menemukan
bahwa rasa penasaran memicu
pelepasan dopamin di otak. Dopamin
adalah zat kimia yang terkait dengan
rasa senang dan motivasi. Pelepasan
dopamin inilah yang membuat rasa
penasaran terasa menyenangkan
sekaligus mendesak. Orang merasa
tertarik. Orang merasa ingin tahu.
Orang terdorong untuk bertindak.
Mengapa Baiting with Curiosity
Gaps Begitu Efektif?
Otak manusia tidak tahan dengan
informasi yang menggantung. Ketika
ada celah antara apa yang diketahui
dan apa yang ingin diketahui, otak
merasa tidak nyaman. Rasa tidak
nyaman itu mendorong seseorang
untuk mencari jawaban.
Pelaku memanfaatkan rasa penasaran
ini untuk menarik perhatian, klik,
atau tindakan lain.
Baiting with Curiosity Gaps juga
memanfaatkan pelepasan dopamin.
Ketika Anda merasa penasaran,
otak melepaskan dopamin.
Dopamin membuat Anda merasa
tertarik dan termotivasi. Anda ingin
menutup celah itu. Anda ingin
mengetahui jawabannya.
Anda mengklik. Anda menonton.
Anda membaca. Dan ketika akhirnya
Anda mendapatkan jawabannya,
Anda merasa lega. Tetapi sering kali,
jawaban itu tidak sepadan dengan
rasa penasaran yang Anda alami.
Selain itu, celah informasi yang tidak
tertutup menciptakan
efek Zeigarnik pada tingkat
kognitif. Tugas yang belum selesai
atau informasi yang belum lengkap
terus berada di pikiran.
Ia mengganggu. Ia menuntut
penyelesaian. Pelaku memanfaatkan
ini dengan sengaja menciptakan
celah yang tidak segera ditutup.
Korban terjebak dalam lingkaran
penasaran yang tidak berujung.
Tiga Fase Baiting with Curiosity
Gaps:
Kisah Rina dan Video Clickbait
Untuk memahami cara kerja teknik ini,
kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia sedang bersantai di rumah dan
membuka aplikasi berbagi video.
Fase 1: Melihat Pancingan
Rina melihat deretan video
di beranda aplikasinya. Salah satu
judul menarik perhatiannya.
Judul video: “Dokter Ini Menemukan
Cara Menghilangkan Lemak Perut
Tanpa Olahraga. Lihat Apa yang
Terjadi Selanjutnya.”
Rina tidak sedang mencari informasi
tentang diet. Ia hanya bersantai.
Tetapi judul itu membuatnya
penasaran. Ia ingin tahu apa yang
terjadi selanjutnya. Ia ingin tahu
cara apa yang ditemukan dokter itu.
Rina: “Apa ya maksudnya?
Kok bisa tanpa olahraga?”
Ia mengklik video itu.
Fase 2: Merasakan Celah
Informasi
Video itu mulai diputar.
Selama satu menit pertama, video
hanya menampilkan gambar-gambar
umum tentang makanan sehat dan
orang berolahraga. Narator
berbicara dengan suara semangat.
Narator: “Apakah Anda sudah
mencoba berbagai cara untuk
menghilangkan lemak perut, tetapi
tidak berhasil? Jangan khawatir.
Ada solusi yang jarang diketahui
orang.”
Rina menunggu. Ia menunggu
penjelasan tentang cara yang
dimaksud. Tetapi video itu terus
berputar tanpa memberikan
jawaban yang jelas. Narator terus
berbicara tentang masalah, tetapi
tidak memberikan solusi spesifik.
Rasa penasaran Rina semakin kuat.
Rina: “Ayo dong, apa caranya?
Kok muter-muter terus?”
Fase 3: Mengklik dan Menyesal
Di akhir video, narator akhirnya
mengatakan bahwa solusinya adalah
sebuah suplemen herbal yang bisa
dibeli melalui tautan di deskripsi.
Tidak ada penjelasan ilmiah. Tidak
ada bukti. Hanya ajakan untuk
membeli.
Rina merasa kecewa. Ia telah
menghabiskan lima menit untuk
menonton video itu. Ia telah
memberikan perhatiannya. Ia telah
menaikkan jumlah penonton.
Tetapi ia tidak mendapatkan
informasi yang ia harapkan.
Ia hanya mendapatkan iklan.
Rina: “Ternyata cuma jualan
suplemen. Aku buang-buang waktu.”
Rina telah menjadi korban Baiting
with Curiosity Gaps. Pelaku tidak
peduli apakah Rina puas atau tidak.
Yang penting, Rina telah mengklik.
Rina telah menonton. Rina telah
memberikan perhatian.
Dan perhatian itulah yang
diinginkan pelaku.
Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal
1. Email dengan Subjek yang
Menggantung
Seorang pelaku mengirim email
kepada banyak karyawan
di sebuah perusahaan.
Subjek emailnya berbunyi:
“Perubahan penting terkait proyek
Anda. Buka untuk detail.”
Bima, seorang karyawan, melihat
email itu. Ia merasa cemas dan
penasaran. Ia membuka email itu.
Bima: “Apa perubahan pentingnya?”
Isi email: “Yth. Bima, ini pengingat
bahwa rapat proyek akan diadakan
besok pukul 10.00 di ruang rapat
utama. Mohon hadir tepat waktu.”
Bima merasa kesal. Ia telah membuka
email itu karena penasaran. Ternyata
isinya hanya pengingat rapat biasa.
Pelaku telah memanfaatkan rasa
penasaran Bima untuk memastikan
emailnya dibuka.
2. Iklan dengan Janji Rahasia
Maya melihat iklan di media sosial.
Iklan: “Rahasia yang Tidak Pernah
Diberitahukan Dokter Kepada
Anda. Klik untuk Mengetahui.”
Maya penasaran. Ia mengklik iklan
itu. Ia diarahkan ke sebuah halaman
yang berisi artikel panjang tentang
pentingnya gaya hidup sehat.
Tidak ada rahasia. Tidak ada
informasi baru. Hanya ajakan
untuk berlangganan buletin.
Maya: “Aku pikir ada informasi
penting. Ternyata cuma artikel
biasa.”
3. Pesan dari Teman yang
Menggantung
Sari menerima pesan dari
temannya, Rina.
Rina: “Sar, kamu tahu nggak apa
yang terjadi kemarin?
Aku nggak bisa cerita di sini.
Buka link ini.”
Sari penasaran. Ia mengklik tautan
itu. Tautan itu mengarah
ke sebuah situs yang meminta data
pribadi. Sari hampir memasukkan
datanya. Ia berhenti saat
menyadari bahwa situs itu
mencurigakan.
Sari: “Rina, ini apa?
Kok minta data pribadi?”
Rina: “Aku nggak kirim pesan itu.
Akunku mungkin diretas.”
Pelaku telah memanfaatkan akun
Rina untuk menyebarkan tautan
phishing dengan pancingan rasa
penasaran.
4. Judul Berita yang Berlebihan
Bima membaca berita di sebuah
portal.
Judul: “Artis Ini Ketahuan
Melakukan Hal Tak Terduga.
Lihat Fotonya di Sini.”
Bima mengklik berita itu. Ia ingin
tahu artis mana yang dimaksud
dan apa yang ia lakukan.
Ternyata berita itu hanya berisi
gosip lama yang sudah pernah
ia baca. Tidak ada hal baru.
Tidak ada hal tak terduga.
Bima: “Aku buang waktu baca ini.”
Pelaku telah memanfaatkan rasa
penasaran Bima untuk menaikkan
jumlah pembaca.
Cara Melindungi Diri dari
Baiting with Curiosity Gaps
Jika Anda merasa sedang dipancing
dengan celah informasi,
ada beberapa langkah yang bisa
dilakukan.
Pertama, sadari bahwa Anda
sedang dipancing. Ketika Anda
melihat judul, subjek, atau pesan
yang membuat Anda penasaran
berlebihan, berhentilah sejenak.
Tanyakan pada diri sendiri:
“Apakah saya benar-benar
membutuhkan informasi ini, atau
saya hanya merasa penasaran?”
Kedua, cek sumbernya.
Jika judul atau pesan itu datang dari
sumber yang tidak jelas,
berhati-hatilah. Sumber yang
kredibel tidak perlu menggunakan
pancingan berlebihan untuk menarik
perhatian. Mereka menyampaikan
informasi dengan jelas dan jujur.
Ketiga, tunda selama sepuluh
menit. Rasa penasaran sering kali
bersifat sementara. Jika Anda
menunda mengklik selama sepuluh
menit, sering kali rasa penasaran
itu mereda. Anda menyadari bahwa
Anda tidak benar-benar
membutuhkannya. Anda bisa
melanjutkan aktivitas Anda tanpa
kehilangan apa pun.
Keempat, tanyakan apa yang
Anda dapatkan.
Sebelum mengklik, tanyakan:
“Apa yang akan saya dapatkan
setelah mengklik ini?
Apakah informasi yang saya
butuhkan?
Atau hanya hiburan sesaat?”
Jika jawabannya tidak jelas,
kemungkinan besar itu hanya
pancingan.
Kelima, jangan biarkan rasa
penasaran mengalahkan logika.
Rasa penasaran adalah emosi. Logika
adalah alat. Ketika rasa penasaran
muncul, gunakan logika untuk
menilainya. Apakah pancingan ini
masuk akal? Apakah ada bukti
bahwa informasi itu benar-benar
ada? Apakah sumbernya terpercaya?
Keenam, latih diri untuk
melewatkan. Semakin sering
Anda melewatkan pancingan rasa
penasaran, semakin mudah bagi
Anda untuk melakukannya lagi.
Anda tidak harus mengklik setiap
judul yang menarik. Anda tidak
harus membuka setiap email yang
menggantung. Anda bisa memilih.
Anda bisa melewatkan.
Baiting with Curiosity Gaps adalah
teknik yang memanfaatkan
kebutuhan manusia untuk menutup
celah informasi. Pelaku tidak perlu
memberikan informasi yang
berharga. Pelaku hanya perlu
membuat celah yang cukup
menggoda. Anda yang akan
mengejar. Anda yang akan mengklik.
Dan pelaku yang akan menuai
perhatian. Kenali polanya. Tunda
rasa penasaran. Dan jangan biarkan
celah informasi yang sengaja
diciptakan membuat Anda
membuang waktu, tenaga, dan
perhatian pada sesuatu yang tidak
sepadan.
kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:
Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya Baiting with Curiosity
Gaps.
Lo pasti pernah liat judul berita atau
video yang bikin lo penasaran
setengah mati. Contohnya,
“You won’t believe what happened
next.” Atau, “Satu trik sederhana
yang bikin semua orang kaget.”
Lo sebenernya nggak terlalu peduli
sama topiknya. Tapi karena judulnya
bikin penasaran, lo klik. Lo tonton.
Lo baca. Dan lo baru sadar, isinya
nggak seheboh judulnya. Nah, itu
yang namanya Baiting with
Curiosity Gaps.
Simpelnya, teknik ini ngajarin
bahwa otak manusia nggak tahan
sama informasi yang menggantung.
Kalau ada celah antara apa yang lo
tau dan apa yang pengen lo tau,
otak lo bakal ngerasa nggak nyaman.
Rasa nggak nyaman itu yang bikin lo
pengen nutup celahnya. Dan pelaku
tinggal manfaatin rasa penasaran lo
buat narik perhatian, klik, atau
tindakan lain.
Kalau lo ingat, ini masih nyambung
sama Open Loop Statements yang
pernah kita bahas sebelumnya.
Di situ kita ngomongin kalimat yang
sengaja digantung biar orang
penasaran. Nah, Baiting with
Curiosity Gaps ini versi yang lebih
spesifik. Bedanya, kalau Open Loop
lebih ke kalimat yang menggantung,
ini lebih ke judul, headline, atau
pancingan awal yang bikin orang
masuk.
Kenapa ini ampuh? Karena otak kita
ngelepas dopamin pas kita ngerasa
penasaran. Dopamin itu bikin kita
pengen tau. Bikin kita ngejar. Bikin
kita nggak bisa berhenti mikir.
Dan pas kita akhirnya dapet
jawabannya, kita ngerasa lega.
Tapi sering kali, jawabannya nggak
sepadan sama rasa penasarannya.
Lo udah buang waktu, tenaga, dan
perhatian, tapi yang lo dapet cuma
biasa aja.
Contoh gampangnya gini. Lo liat iklan,
“Dokter ini menemukan cara
menghilangkan lemak perut tanpa
olahraga. Klik untuk tau rahasianya.”
Lo klik. Ternyata isinya cuma jualan
suplemen. Atau, “Artis ini ketahuan
melakukan hal tak terduga.
Lihat fotonya di sini.” Lo klik.
Ternyata cuma gosip lama yang
nggak penting.
Di dunia kerja juga gitu. Lo dapet
email dengan subject, “Ada perubahan
penting soal proyek Anda. Buka untuk
detail.” Lo buru-buru buka. Ternyata
isinya cuma reminder meeting. Tapi
karena subjectnya bikin penasaran,
lo buka juga.
Cara pakainya, bagi pelaku, gampang.
Pertama, bikin celah informasi.
Jangan kasih semua detail.
Cukup kasih setengah.
Kedua, pake kata-kata yang bikin
penasaran. “Rahasia”, “Ternyata”,
“Jangan percaya”, “Ini yang terjadi”.
Ketiga, janjiin sesuatu yang menarik.
Tapi jangan terlalu spesifik.
Biar orang ngebayangin sendiri.
Keempat, kasih tombol atau link
yang gampang diklik.
Tapi lo nggak perlu jadi pelaku.
Lo perlu tau cara nahan teknik ini.
Pertama, sadar kalau lo lagi dipancing.
Kalau ada judul yang bikin lo
penasaran berlebihan, curigalah.
Kedua, tanya dulu, “Apa gue beneran
butuh ini, atau cuma penasaran?”
Ketiga, cek sumbernya.
Kalau sumbernya nggak jelas,
mending skip.
Keempat, latih diri buat nunda.
Jangan langsung klik.
Tunggu 10 menit. Kalau masih
penasaran, baru buka. Tapi sering
kali, setelah 10 menit, rasa
penasarannya udah ilang.
Jadi, Baiting with Curiosity
Gaps itu ibarat lo lagi dikasih
kotak kado yang dibungkus rapi.
Lo nggak tau isinya apa.
Lo penasaran. Lo buka. Ternyata
isinya cuma batu. Tapi lo udah
buang waktu buat buka. Dan
pelakunya udah dapet yang dia
mau: perhatian lo.
