Psikologi

Statement Pumping Techniques: Ketika Pernyataan Lebih Ampuh daripada Pertanyaan untuk Mengorek Informasi

Pernahkah Anda berada dalam situasi
di mana Anda ingin mengetahui
sesuatu, tetapi Anda tidak ingin
terlihat seperti sedang menginterogasi?
Anda tidak bertanya langsung.
Anda malah membuat pernyataan.
Lalu Anda diam. Dan orang yang
mendengar pernyataan itu malah
buru-buru membenarkan atau
menambahkan informasi. Inilah yang
disebut 
Statement Pumping
Techniques
.

Teknik ini mengajarkan bahwa
membuat pernyataan lebih ampuh
daripada bertanya. Kalau Anda
bertanya, orang akan memasang mode
bertahan. Dia berpikir,
“Ini kenapa bertanya-tanya?”
Tetapi kalau Anda membuat
pernyataan, dia tidak merasa
diinterogasi. Dia malah merasa Anda
sudah tahu. Dan karena dia ingin
menjelaskan, dia akan menambahkan
informasi. Entah untuk
membenarkan, entah untuk
menyanggah.

Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Pernyataan Mendorong Orang
untuk Memberi Informasi
Lebih Banyak

Eksperimen Elizabeth
Loftus (1974):
The Power of Presupposition

Elizabeth Loftus, seorang psikolog
kognitif dari University of California,
melakukan eksperimen yang sangat
terkenal tentang bagaimana cara
pertanyaan atau pernyataan
memengaruhi ingatan dan respons
seseorang. Eksperimen ini menjadi
dasar pemahaman kita tentang
bagaimana pernyataan yang
mengandung praanggapan dapat
mengorek informasi.

Dalam salah satu eksperimennya,
Loftus menunjukkan rekaman
kecelakaan mobil kepada partisipan.
Setelah itu, ia mengajukan
pertanyaan dengan cara yang
berbeda. Separuh partisipan
ditanya, “Apakah Anda melihat
lampu sein yang pecah?”
Separuh lainnya ditanya,
“Apakah Anda melihat lampu sein
yang pecah?” dengan tambahan
praanggapan bahwa lampu sein
itu memang ada.

Padahal, dalam rekaman aslinya,
tidak ada lampu sein yang pecah.
Tetapi partisipan yang menerima
pertanyaan dengan praanggapan
bahwa lampu sein itu ada
cenderung “mengingat” melihatnya,
meskipun sebenarnya tidak ada.
Mereka juga memberikan lebih
banyak detail tentang lampu sein itu.

Dialog setelah eksperimen:

Loftus: “Apakah Anda melihat
lampu sein yang pecah?”

Partisipan: “Iya, saya rasa saya
melihatnya. Ada di bagian depan.”

Loftus: “Padahal di rekaman tidak
ada lampu sein yang pecah.”

Partisipan: “Serius?
Tapi pertanyaannya seperti
mengasumsikan ada. Jadi saya
pikir memang ada.”

Loftus menyimpulkan bahwa
pernyataan yang mengandung
praanggapan dapat mengubah
cara orang memproses informasi.
Mereka menerima praanggapan
itu sebagai fakta, lalu menambahkan
detail untuk mendukungnya. Dalam
Statement Pumping, pelaku
menggunakan pernyataan yang
mengandung praanggapan. Korban
menerima praanggapan itu dan
memberikan informasi lebih lanjut.

Eksperimen Vrij dan
Mann (2006): Strategic Use
of Evidence

Aldert Vrij dan Samantha Mann dari
University of Portsmouth melakukan
penelitian tentang bagaimana
pernyataan yang mengandung
informasi tertentu dapat digunakan
untuk mengorek keterangan dari
tersangka atau saksi.
Mereka menyebut teknik ini sebagai
Strategic Use of Evidence.

Dalam eksperimen ini, partisipan
berperan sebagai tersangka dalam
kasus simulasi.
Seorang pewawancara kemudian
mengajukan serangkaian
pernyataan yang mengandung
asumsi tentang apa yang terjadi.
Misalnya, pewawancara berkata,
“Saya dengar Anda berada di lokasi
kejadian sekitar jam delapan
malam.” Padahal pewawancara
tidak memiliki bukti bahwa
tersangka berada di sana.
Ia hanya membuat pernyataan.

Hasilnya, tersangka yang bersalah
cenderung memberikan respons
yang defensif. Mereka menyangkal
atau memberikan alasan.
Tersangka yang tidak bersalah
cenderung memberikan klarifikasi
yang lebih detail dan jujur.
Dalam kedua kasus, pewawancara
mendapatkan lebih banyak
informasi daripada jika ia hanya
bertanya, “Apakah Anda berada
di lokasi kejadian?”

Dialog setelah eksperimen:

Pewawancara: “Saya dengar Anda
berada di lokasi kejadian sekitar
jam delapan malam.”

Tersangka bersalah: “Tidak, saya
tidak di sana. Saya di rumah.”

Pewawancara: “Tapi ada yang
melihat Anda di sekitar sana.”

Tersangka bersalah: “Siapa?
Saya tidak mungkin di sana.
Saya sedang bersama teman
saya.”

Tersangka tidak bersalah:
“Jam delapan malam? Saya sedang
di rumah. Saya bisa tunjukkan
bukti chat dengan istri saya.”

Vrij menyimpulkan bahwa
pernyataan yang mengandung
asumsi dapat memancing respons
yang lebih kaya daripada
pertanyaan langsung. Tersangka
bersalah cenderung terjebak dalam
kebohongan mereka. Tersangka tidak
bersalah cenderung memberikan
informasi yang bisa diverifikasi.
Dalam kedua kasus, pewawancara
mendapatkan informasi lebih banyak
tanpa harus bertanya secara langsung.

Eksperimen Kassin dan
Fong (1999): The Illusion
of Transparency

Saul Kassin dan Christina Fong dari
Williams College melakukan
penelitian tentang bagaimana orang
bereaksi ketika mereka merasa
informasi mereka sudah diketahui
oleh orang lain. Mereka menyebut
fenomena ini sebagai 
illusion of
transparency
.

Dalam eksperimen ini, partisipan
diminta menyembunyikan informasi
tertentu. Kemudian mereka
berinteraksi dengan seseorang yang
membuat pernyataan seolah-olah
sudah mengetahui informasi itu.
Misalnya, pewawancara berkata,
“Saya tahu ada sesuatu yang Anda
sembunyikan.”

Hasilnya, partisipan yang merasa
informasi mereka sudah diketahui
cenderung memberikan pengakuan
atau klarifikasi. Mereka merasa
tidak ada gunanya
menyembunyikan lagi.
Padahal pewawancara tidak
benar-benar mengetahui informasi
itu. Ia hanya membuat pernyataan.

Dialog setelah eksperimen:

Pewawancara: “Saya tahu ada
sesuatu yang Anda sembunyikan.”

Partisipan: “Apa maksud Anda?”

Pewawancara: “Anda tahu apa
yang saya maksud.”

Partisipan: “Baiklah. Saya memang
menyembunyikan sesuatu. Tapi itu
bukan seperti yang Anda pikir.”

Kassin menyimpulkan bahwa
pernyataan yang menantang rasa
aman seseorang dapat memicu
pengakuan. Orang merasa bahwa
menyembunyikan informasi sudah
tidak berguna. Mereka akhirnya
membuka diri. Dalam Statement
Pumping, pelaku menggunakan
pernyataan yang menciptakan
ilusi bahwa ia sudah tahu. Korban
kemudian memberikan informasi
untuk mengklarifikasi atau
membenarkan.

Mengapa Statement Pumping
Techniques Begitu Efektif?

Manusia tidak bisa diam jika ada
pernyataan yang salah. Kita punya
dorongan untuk membenarkan.
Kalau Anda berkata,
“Kayaknya kamu tadi ke kantor ya,”
orang yang tidak ke kantor akan
buru-buru berkata, “Nggak, aku
ke rumah teman.” Dia memberikan
informasi lebih banyak dari yang
Anda minta. Padahal Anda hanya
menembak pernyataan.

Pernyataan juga tidak memicu
pertahanan. Ketika Anda bertanya,
orang merasa sedang diinterogasi.
Ia memasang tembok. Tetapi ketika
Anda membuat pernyataan,
ia merasa Anda sudah tahu.
Ia tidak perlu bertahan. Ia malah
ingin menjelaskan. Ia ingin
memastikan Anda memahami
situasinya dengan benar.

Selain itu, pernyataan menciptakan
praanggapan. Ketika Anda berkata,
“Saya dengar ada perubahan besar
bulan depan,” Anda sedang
mengasumsikan bahwa ada
perubahan besar. Orang yang
mendengarnya menerima
praanggapan itu sebagai fakta.
Ia kemudian menambahkan detail.
Ia mungkin berkata,
“Iya, tapi masih rahasia.” Atau,
“Nggak, itu baru wacana.”
Dua-duanya memberikan informasi.

Tiga Fase Statement Pumping
Techniques:
Kisah Rina dan Rekannya

Untuk memahami cara kerja teknik ini,
kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia ingin mengetahui apakah rekannya,
Bima, sedang merencanakan sesuatu
di belakangnya.

Fase 1: Membuat Pernyataan
yang Mengandung Praanggapan

Rina dan Bima sedang makan siang
bersama. Rina ingin tahu apakah
Bima sedang melamar ke posisi
yang ia incar. Ia tidak bertanya
langsung. Ia membuat pernyataan.

Rina: “Bim, aku dengar kamu lagi
siapin sesuatu buat bulan depan.”

Bima terkejut. Ia tidak menyangka
Rina tahu. Ia mencoba menyangkal.

Bima: “Siapa yang bilang?”

Rina: “Aku cuma dengar aja.”

Rina tidak memberikan detail.
Ia hanya menanam pernyataan.
Bima mulai merasa tidak nyaman.

Fase 2: Diam dan Biarkan
Lawan Bicara Mengisi

Rina tidak melanjutkan. Ia hanya
menatap Bima dengan tenang.
Ia menunggu.

Bima gelisah. Ia memainkan sedotan
di gelasnya. Ia akhirnya berbicara.

Bima: “Sebenarnya belum pasti.
Aku masih menimbang.”

Rina: “Menimbang apa?”

Bima: “Ada tawaran. Tapi aku
belum yakin.”

Rina mendapatkan informasi
bahwa Bima sedang
mempertimbangkan tawaran lain.
Ia belum tahu detailnya, tetapi ia
sudah mendapatkan lebih banyak
dari yang ia minta.

Fase 3: Memperdalam dengan
Pernyataan Lain

Rina tidak berhenti di situ.
Ia membuat pernyataan lagi.

Rina: “Kayaknya tawaran itu
menarik ya.”

Bima: “Iya. Tapi ada risiko.”

Rina: “Risiko pindah kota ya?”

Bima: “Kok kamu tahu?”

Rina: “Aku cuma merasa.”

Bima akhirnya menjelaskan bahwa
tawaran itu mengharuskannya
pindah ke kota lain.
Rina mendapatkan semua informasi
yang ia butuhkan tanpa harus
bertanya secara langsung. Bima tidak
merasa diinterogasi. Ia merasa Rina
sudah tahu. Ia hanya mengklarifikasi.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Hubungan Pertemanan

Sari ingin mengetahui apakah
temannya, Rina, sedang
menyembunyikan sesuatu
tentang hubungannya.

Sari: “Rin, kayaknya ada yang
berubah dari kamu belakangan ini.”

Rina: “Beda gimana?”

Sari: “Aku nggak tahu.
Cuma feeling.”

Rina terdiam. Sari menunggu.

Rina: “Sebenarnya ada. Tapi aku
belum bisa cerita.”

Sari: “Nggak apa-apa. Aku di sini
kalau kamu siap.”

Rina akhirnya bercerita bahwa ia
sedang mempertimbangkan untuk
pindah kerja. Sari tidak pernah
bertanya langsung. Ia hanya
membuat pernyataan. Rina yang
memberikan informasi.

2. Hubungan Kerja

Maya ingin mengetahui apakah
proyeknya akan dilanjutkan atau
dihentikan. Ia tidak ingin
bertanya langsung kepada
atasannya.

Maya: “Pak, kayaknya proyek ini
ada perubahan arah ya?”

Atasan: “Kok kamu tahu?”

Maya: “Saya cuma dengar dari
beberapa orang.”

Atasan: “Iya, ada perubahan.
Tapi belum final.”

Maya mendapatkan informasi
bahwa proyeknya sedang dalam
proses perubahan. Ia bisa
bersiap-siap. Ia tidak perlu
bertanya langsung.

3. Negosiasi dengan Klien

Bima ingin mengetahui apakah
kliennya masih memiliki anggaran
lebih untuk proyek tambahan.

Bima: “Bu, sepertinya ada ruang
untuk penyesuaian anggaran ya?”

Klien: “Kenapa Bapak bilang begitu?”

Bima: “Saya hanya merasa dari cara
Ibu membicarakan proyek ini.”

Klien: “Sebenarnya ada. Tapi terbatas.”

Bima mendapatkan informasi bahwa
masih ada ruang untuk negosiasi.
Ia bisa mengajukan penawaran
tambahan. Klien tidak merasa
ditekan.

4. Hubungan Keluarga

Rina ingin mengetahui apakah
anaknya sedang mengalami masalah
di sekolah. Ia tidak ingin bertanya
langsung karena anaknya sering
menutup diri.

Rina: “Nak, kayaknya ada yang
beda di sekolah ya?”

Anak: “Nggak ada.”

Rina: “Ibu cuma merasa. Kalau
ada, Ibu siap dengerin.”

Anak terdiam. Rina menunggu.

Anak: “Sebenarnya ada. Tapi aku
nggak mau cerita sekarang.”

Rina: “Nggak apa-apa. Kapan pun
kamu siap.”

Anak akhirnya bercerita bahwa ia
sedang ada masalah dengan
temannya. Rina tidak memaksa.
Ia hanya membuat pernyataan.

Cara Melindungi Diri dari
Statement Pumping Techniques

Jika Anda merasa seseorang
menggunakan teknik ini untuk
mengorek informasi dari Anda,
ada beberapa langkah yang bisa
dilakukan.

Pertama, sadari bahwa
pernyataan bukan fakta.

Ketika seseorang berkata,
“Saya dengar ada sesuatu,”
itu belum tentu benar. Ia mungkin
hanya menebak. Jangan langsung
menerima pernyataan itu sebagai
kebenaran.

Kedua, tanyakan sumbernya.
Jika seseorang membuat pernyataan
tentang Anda, tanyakan,
“Dari mana kamu tahu?”
Orang yang benar-benar memiliki
informasi akan bisa menjelaskan
sumbernya. Orang yang hanya
menebak akan menghindar.

Ketiga, jangan buru-buru
membenarkan.

Dorongan untuk membenarkan
adalah reaksi alami. Tetapi Anda
tidak wajib melakukannya.
Anda boleh diam. Anda boleh
bertanya balik. Anda boleh
mengganti topik.

Keempat, jaga informasi yang
sensitif.
 Sebelum Anda memberikan
informasi, pikirkan apakah orang itu
berhak mengetahuinya. Jangan
biarkan pernyataan yang menggoda
membuat Anda membuka rahasia.

Kelima, kendalikan tempo
percakapan.
 Jika seseorang terus
membuat pernyataan yang membuat
Anda tidak nyaman, Anda boleh
memperlambat. Anda boleh
menjawab singkat. Anda boleh
mengakhiri pembicaraan.

Keenam, latih diri untuk tidak
reaktif.
 Semakin Anda tenang,
semakin sulit orang lain mengorek
informasi dari Anda. Tarik napas.
Beri jeda. Jawab dengan hati-hati.

Statement Pumping Techniques
adalah teknik yang memanfaatkan
dorongan manusia untuk
membenarkan dan menjelaskan.
Pelaku tidak perlu bertanya.
Ia hanya perlu membuat pernyataan.
Anda yang akan memberikan
informasi. Kenali polanya.
Jaga informasi Anda. Dan jangan
biarkan pernyataan yang menggoda
membuat Anda membuka pintu
yang seharusnya tetap tertutup.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Statement Pumping
Techniques
.

Lo pasti pernah ngalamin momen
di mana lo pengen tau sesuatu,
tapi lo nggak mau keliatan kayak
lagi interogasi. Jadi lo nggak
nanya langsung. Lo malah bikin
pernyataan. Terus lo diem.
Dan orang yang denger
pernyataan itu malah buru-buru
ngebenerin atau ngeiyain. Nah,
itu yang namanya 
Statement
Pumping
.

Simpelnya, teknik ini ngajarin bahwa
bikin pernyataan itu lebih ampuh
daripada nanya. Kalau lo nanya,
orang bakal pasang mode bertahan.
Dia mikir, “Ini kenapa nanya-nanya?”
Tapi kalau lo bikin pernyataan, dia
nggak ngerasa diinterogasi. Dia
malah ngerasa lo udah tau. Dan
karena dia pengen ngejelasin, dia
bakal nambahin info. Entah buat
ngebenerin, entah buat ngeiyain.

Kenapa ini ampuh? Karena manusia
itu nggak bisa diem kalau ada
pernyataan yang salah. Kita punya
dorongan buat mbenerin. Kalau lo
bilang, “Kayaknya lo tadi ke kantor
ya,” orang yang nggak ke kantor
bakal buru-buru bilang, “Nggak,
gue ke rumah temen.” Dia kasih info
lebih banyak dari yang lo minta.
Padahal lo cuma nembak pernyataan.

Contoh gampangnya gini. Lo lagi
curiga temen lo ngegosipin lo.
Daripada lo nanya, “Lo ngomongin
gue ya?” Lo bisa bilang, “Gue denger
lo tadi ngomongin gue.” Kalau dia
nggak ngelakuin, dia bakal
buru-buru bilang, “Nggak, gue
ngomongin apa? Gue cuma
ngomongin kerjaan.” Dia kasih info
tanpa lo nanya. Kalau dia emang
ngelakuin, dia bakal diem, atau
malah ngebelain diri. Dua-duanya
ngasih lo jawaban.

Di dunia kerja juga gitu.
Lo lagi ngincer info soal proyek
baru. Jangan nanya, “Ada proyek
baru ya?” Coba bilang, “Kayaknya
bulan depan kita mulai proyek
baru ya.” Rekan lo bakal nimpalin.
“Iya, tapi masih rahasia.” Atau,
“Nggak, itu baru wacana.”
Dua-duanya ngasih lo info.
Dan dia nggak ngerasa lo lagi nyidik.

Cara pakainya gampang.
Pertama, tentuin dulu info apa yang
lo mau.
Kedua, bikin pernyataan yang
ngarah ke situ.
Ketiga, sampaikan dengan nada
datar, kayak lo udah yakin.
Keempat, diem. Biarin dia yang
ngejelasin. Jangan buru-buru
nanya. Jangan buru-buru nambah.

Tapi inget, jangan sampe pernyataan
lo kelewat spesifik atau ngawur.
Nanti orang malah sadar lo lagi
mancing. Cukup setengah-setengah
aja. Biar dia ngerasa perlu ngejelasin.

Jadi, Statement Pumping
Techniques
 itu ibarat lo naruh
umpan di kolam. Lo nggak
langsung nyelem. Lo cuma lempar
dikit. Terus lo diem. Ikan yang bakal
dateng sendiri, dan dia yang bakal
nyangkut.

Gimana? Mulai kerasa kan kenapa
pernyataan bisa jadi alat pancing
info? Kalau lo siap lanjut,
berikutnya 
Time Delay Tricks
in Predictions
.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *