Psikologi

Shotgunning, Rapid Fire Guesses: Mengapa Tebakan Cepat Membuat Orang Percaya

Pernahkah Anda melihat peramal atau
pembaca kartu tarot yang berbicara
sangat cepat?
Dia menembak banyak tebakan
sekaligus. “Saya lihat ada sosok pria,
mungkin ayah, mungkin kakak, atau
mungkin teman dekat. Ada masalah
keuangan, atau mungkin masalah
pekerjaan. Ada perjalanan yang
tertunda, atau mungkin rencana yang
batal.” Anda mendengarnya, dan
Anda langsung menangkap satu
yang paling mengenai. “Iya, benar!
Saya lagi ada masalah pekerjaan!”
Padahal dia menembak lima tebakan,
dan hanya satu yang kena. Tetapi
Anda mengingat yang kena, dan
Anda lupa yang meleset. Inilah yang
disebut 
Shotgunning, Rapid
Fire Guesses
.

Teknik ini adalah cara menembak
banyak tebakan dengan cepat,
tanpa jeda, agar lawan bicara
tersangkut pada satu atau dua yang
paling cocok. Pelaku tidak perlu
akurat. Dia hanya perlu menembak
banyak. Karena semakin banyak
yang dia tembak, semakin besar
peluang ada yang kena. Dan begitu
ada yang kena, Anda akan
memberinya kredit lebih. Anda akan
berpikir, “Wah, dia pintar sekali
membaca saya.” Padahal dia hanya
bermain probabilitas.

Eksperimen Ilmiah: Bukti bahwa
Tebakan Cepat Membuat Orang
Mengingat yang Kena dan
Melupakan yang Meleset

Eksperimen Ray Hyman (1977):
Cold Reading

Ray Hyman, seorang profesor
psikologi dari University of Oregon,
melakukan penelitian tentang
bagaimana peramal dan pembaca
pikiran bisa tampak akurat.
Ia menyebut teknik ini sebagai
cold reading. Hyman sendiri
pernah bekerja sebagai peramal
selama bertahun-tahun sebelum
menjadi psikolog. Ia tahu betul
trik-trik yang digunakan.

Dalam salah satu eksperimennya,
Hyman berperan sebagai peramal
di depan sekelompok mahasiswa.
Ia tidak tahu apa pun tentang
mereka. Ia hanya menggunakan
serangkaian kalimat yang umum,
samar, dan cepat. Ia menembak
banyak tebakan tentang kehidupan
mereka, kepribadian mereka, dan
masa depan mereka.

Setelah sesi selesai, Hyman meminta
para mahasiswa menilai seberapa
akurat pembacaannya. Rata-rata,
mereka menilai akurasinya sekitar
70 persen. Beberapa bahkan menilai
lebih dari 90 persen. Padahal Hyman
tidak mengenal satu pun dari mereka.

Dialog setelah eksperimen:

Hyman: “Menurut Anda, seberapa
akurat bacaan saya tadi?”

Mahasiswa: “Sangat akurat.
Anda tahu banyak tentang saya.”

Hyman: “Apakah Anda sadar bahwa
saya tidak mengenal Anda?”

Mahasiswa: “Iya, tapi bacaan
Anda tepat sekali.”

Hyman: “Apakah Anda mengingat
semua yang saya katakan, atau
hanya beberapa?”

Mahasiswa: “Saya ingat yang paling
penting. Yang lain saya lupa.”

Hyman menyimpulkan bahwa
manusia cenderung mengingat
tebakan yang mengenai dan
melupakan tebakan yang meleset.
Fenomena ini disebut 
selective
memory
 atau ingatan selektif.
Ketika seseorang menembak
banyak tebakan, Anda akan secara
otomatis menyorot yang paling
cocok. Anda merasa bahwa dia
membaca Anda dengan tepat.
Padahal, dari sepuluh tebakan,
mungkin hanya dua atau tiga
yang benar-benar mengenai.

Eksperimen Wiseman dan
O’Keeffe (2010):
The Psychic Barbe
r

Richard Wiseman dan Ciaran
O’Keeffe, dua peneliti dari University
of Hertfordshire, melakukan
eksperimen tentang bagaimana
tebakan cepat memengaruhi persepsi.
Mereka meminta seorang aktor
berperan sebagai peramal yang
membuat banyak tebakan cepat
tentang partisipan.

Setelah sesi, partisipan diminta
menilai akurasi peramal. Mereka juga
diminta mengingat kembali tebakan
yang diberikan. Hasilnya, partisipan
secara konsisten mengingat lebih
banyak tebakan yang akurat daripada
yang tidak akurat. Mereka juga
menilai peramal itu sebagai orang
yang sangat berbakat, meskipun
sebenarnya tebakannya acak.

Dialog setelah eksperimen:

Peneliti: “Berapa banyak tebakan
yang mengenai?”

Partisipan: “Hampir semuanya.”

Peneliti: “Tapi dari catatan kami,
hanya sekitar tiga puluh persen
yang akurat.”

Partisipan: “Masa? Saya merasa
lebih dari itu.”

Peneliti: “Apakah Anda ingat tebakan
yang meleset?”

Partisipan: “Tidak terlalu. Saya hanya
ingat yang benar.”

Wiseman menyimpulkan bahwa
Shotgunning adalah teknik yang
sangat efektif karena memanfaatkan
cara otak menyimpan informasi.
Otak tidak menyimpan semua detail
secara setara. Ia menyimpan yang
paling menonjol. Dan tebakan yang
mengenai adalah yang paling
menonjol.

Eksperimen Forer (1948) dan
Kaitannya dengan Shotgunning

Eksperimen Bertram Forer yang
sudah dibahas di artikel sebelumnya
juga relevan. Forer menunjukkan
bahwa orang menerima deskripsi
umum sebagai deskripsi pribadi.
Shotgunning memperkuat efek itu
dengan menambahkan kecepatan
dan jumlah. Semakin banyak
tebakan yang diberikan, semakin
besar kemungkinan ada yang
mengenai. Dan semakin cepat
tebakan itu diberikan, semakin
sedikit waktu yang dimiliki otak
untuk memproses dan menolak.

Mengapa Shotgunning Begitu
Efektif?

Otak kita mencari makna. Kita tidak
bisa mendengar serangkaian
tebakan tanpa mengecek mana yang
cocok. Dan begitu ada satu yang
cocok, otak kita langsung menyorot
itu. Kita lupa yang meleset.
Kita hanya ingat yang kena.
Ditambah lagi, kita ingin merasa
dimengerti. Jadi ketika ada yang
terlihat mengerti kita, kita langsung
percaya. Kita tidak mengecek berapa
banyak yang salah. Kita hanya fokus
pada satu yang benar.

Shotgunning juga memanfaatkan
base rate fallacy. Banyak tebakan
yang digunakan dalam Shotgunning
memiliki peluang tinggi untuk
mengenai siapa saja. Misalnya,
“Anda pernah merasa tidak aman”
atau “Anda punya mimpi yang
belum tercapai”. Hampir semua
orang pernah merasa tidak aman.
Hampir semua orang punya mimpi
yang belum tercapai. Jadi tebakan
itu tidak spesifik. Tetapi ketika
diucapkan dengan cepat, tebakan itu
terasa seperti wawasan yang
mendalam.

Selain itu, Shotgunning memberi
pelaku keuntungan 
statistik.
Jika Anda menembak sepuluh
tebakan, dan setiap tebakan
memiliki peluang 30 persen
untuk mengenai, maka peluang
setidaknya ada tiga tebakan yang
mengenai sangat tinggi.
Pelaku tidak perlu akurat.
Dia hanya perlu banyak menembak.
Dan dari tiga yang mengenai, Anda
akan mengingatnya sebagai bukti
bahwa dia hebat.

Tiga Fase Shotgunning:
Kisah Rina dan Peramal
di Pesta

Untuk memahami cara kerja teknik
ini, kita akan mengikuti kisah Rina.
Ia menghadiri pesta dan bertemu
seorang peramal yang sedang
membaca tarot.

Fase 1: Membanjiri dengan
Tebakan Cepat

Rina duduk di hadapan peramal.
Peramal itu membuka kartu tarot,
lalu mulai berbicara dengan cepat.

Peramal: “Saya lihat ada sosok pria
di sini. Mungkin ayah, mungkin
kakak, atau mungkin teman dekat.
Ada masalah keuangan, atau
mungkin masalah pekerjaan.
Ada perjalanan yang tertunda,
atau mungkin rencana yang batal.
Ada perasaan yang belum
tersampaikan, atau mungkin
hubungan yang sedang diuji.”

Rina tertegun. Ia tidak sempat
memproses semua. Tetapi satu
kalimat langsung menangkap
perhatiannya.

Rina: “Iya, saya lagi ada masalah
pekerjaan.”

Peramal: “Nah, itu dia. Saya lihat itu.”

Fase 2: Memperdalam yang
Mengenai

Setelah melihat reaksi Rina, peramal
itu memperdalam tebakan tentang
pekerjaan.

Peramal: “Pekerjaan ini membuat
kamu stres. Kamu merasa tidak
dihargai. Kamu ingin keluar, tapi
kamu takut. Kamu bingung antara
bertahan atau mencari yang baru.”

Rina mengangguk-angguk.
Ia merasa peramal itu benar-benar
memahami dirinya.

Rina: “Kok bisa kamu tahu?”

Peramal: “Kartu tarot ini
menunjukkan itu. Saya juga
merasakan energimu.”

Padahal, peramal itu hanya mengulang
kalimat umum yang bisa berlaku untuk
hampir semua orang yang sedang
mengalami masalah pekerjaan.

Fase 3: Mengabaikan yang
Meleset

Peramal itu juga menembak tentang
masalah keuangan. Rina tidak merasa
itu cocok. Ia juga menembak tentang
perjalanan yang tertunda. Rina juga
tidak merasa itu cocok. Tetapi Rina
tidak mengingat tebakan-tebakan itu.
Ia hanya mengingat tebakan tentang
pekerjaan yang mengenai.

Setelah sesi selesai, Rina berkata
kepada temannya.

Rina: “Peramal itu hebat banget.
Dia tahu semua tentang masalah
kerjaku.”

Teman: “Dia bilang apa aja?”

Rina: “Dia bilang aku stres, nggak
dihargai, bingung mau keluar.
Semuanya bener.”

Teman: “Dia juga bilang soal
keuangan dan perjalanan?”

Rina: “Oh iya ya. Tapi itu nggak
penting.”

Rina mengabaikan tebakan yang
meleset. Ia hanya fokus pada
tebakan yang mengenai.
Ia percaya bahwa peramal itu
memiliki kemampuan khusus.
Padahal peramal itu hanya
menggunakan Shotgunning.

Contoh Nyata dengan Dialog
Orisinal

1. Cold Reading di Acara
Komunitas

Seorang “pembaca aura” mendekati
Maya di acara komunitas. Ia mulai
menembak cepat.

Pembaca: “Saya lihat kamu orang
yang banyak dipikirkan. Kamu sering
membantu orang, tapi kadang
merasa tidak dihargai. Kamu punya
rencana besar, tapi ada yang
menahan. Kamu ingin maju, tapi
takut gagal.”

Maya langsung merasa itu tentang
dirinya. Ia mengangguk.
Ia menceritakan masalahnya.
Pembaca itu hanya mendengarkan
dan mengulang kalimat umum.
Maya merasa terbantu.

2. Sales di Toko Elektronik

Seorang sales mendekati Bima
yang sedang melihat laptop.

Sales: “Bapak ini tipe orang yang
teliti. Bapak tidak suka dipaksa.
Bapak ingin yang praktis, tapi
tetap berkualitas. Bapak sudah
coba banyak pilihan, tapi belum
ada yang pas.”

Bima merasa sales itu memahami
kebutuhannya. Ia menjadi lebih
terbuka pada penawaran. Padahal
sales itu menggunakan tebakan
umum yang bisa berlaku untuk
hampir semua pembeli.

3. Tes Kepribadian Online

Sari mengikuti tes kepribadian online.
Hasilnya keluar dengan cepat dan
berisi banyak kalimat.

Hasil tes: “Kamu adalah orang yang
sensitif dan empatik. Kamu mudah
merasakan perasaan orang lain.
Kadang kamu terlalu memikirkan
apa yang orang lain pikirkan
tentangmu. Kamu punya mimpi
yang belum tercapai. Kamu juga
pernah merasa tidak aman.”

Sari merasa hasil itu sangat akurat.
Ia membagikannya ke media sosial.
Padahal hasil itu adalah template
yang sama untuk semua orang
yang mengikuti tes itu.

4. Ramalan Cinta

Raka mendatangi seorang peramal
cinta. Peramal itu berbicara cepat.

Peramal: “Kamu sedang dalam
hubungan yang tidak pasti. Kamu
mencintai dia, tetapi kamu ragu
apakah dia mencintaimu
sepenuhnya. Kamu butuh
kepastian. Ada juga kemungkinan
orang ketiga. Atau mungkin kamu
yang terlalu banyak berpikir.”

Raka merasa peramal itu membaca
pikirannya. Ia menceritakan semua
masalahnya. Peramal itu hanya
mendengarkan dan mengulang
kalimat umum. Raka merasa
mendapat pencerahan.

Cara Melindungi Diri dari
Shotgunning

Jika Anda merasa seseorang
menggunakan teknik ini untuk
membuat Anda percaya, ada
beberapa langkah yang bisa
dilakukan.

Pertama, sadari bahwa
tebakannya banyak.

Jika seseorang menembak banyak
tebakan dengan cepat, itu tanda
bahaya. Perhatikan berapa banyak
tebakan yang diberikan. Jika lebih
dari tiga, kemungkinan besar itu
Shotgunning.

Kedua, catat yang meleset.
Jangan hanya mengingat yang
mengenai. Ingat juga yang tidak
mengenai. Jika banyak yang
meleset, berarti orang itu tidak
benar-benar memahami Anda.

Ketiga, minta detail yang
spesifik.
 Jika seseorang mengaku
memahami Anda, mintalah contoh
konkret. “Bisa sebutkan kejadian
spesifik yang menunjukkan itu?”
Orang yang benar-benar memahami
Anda akan bisa memberikan contoh.
Orang yang hanya menggunakan
Shotgunning akan kesulitan.

Keempat, jangan langsung
percaya.
 Shotgunning
menciptakan perasaan nyaman.
Perasaan itu bisa membuat Anda
lengah. Beri jeda sebelum Anda
mempercayai seseorang yang
baru Anda kenal.

Kelima, bedakan antara
hiburan dan kenyataan.

Ramalan dan cold reading bisa
menjadi hiburan. Tetapi jangan
jadikan itu dasar pengambilan
keputusan penting.

Keenam, bangun pemahaman
diri dari dalam.
 Semakin Anda
mengenal diri sendiri, semakin
sulit orang lain membuat Anda
percaya dengan tebakan umum.
Anda tahu siapa Anda, dan Anda
tidak perlu validasi dari orang
asing.

Shotgunning, Rapid Fire Guesses
adalah teknik yang memanfaatkan
cara otak menyimpan informasi.
Otak kita mengingat yang
menonjol. Otak kita melupakan
yang biasa. Pelaku tidak perlu
akurat. Dia hanya perlu menembak
banyak. Dan dari banyak tebakan
itu, satu atau dua akan mengenai.
Anda akan mengingat yang
mengenai. Anda akan melupakan
yang meleset. Dan Anda akan
percaya bahwa dia memiliki
kemampuan khusus. Padahal dia
hanya bermain probabilitas. Kenali
polanya. Catat yang meleset. Jangan
biarkan rasa ingin dimengerti
membuat Anda percaya pada
seseorang yang sebenarnya tidak
mengenal Anda.

kalau masih kurang paham ini
versi yang sederhana:

Oke, kita lanjut ke teknik berikutnya.
Namanya 
Shotgunning, Rapid
Fire Guesses
.

Lo pasti pernah liat peramal atau
pembaca kartu tarot yang ngomong
cepet banget. Dia nembak banyak
tebakan sekaligus. “Saya lihat ada
sosok pria, mungkin ayah, mungkin
kakak, atau mungkin teman dekat.
Ada masalah keuangan, atau mungkin
masalah pekerjaan. Ada perjalanan
yang tertunda, atau mungkin rencana
yang batal.” Lo denger itu, dan lo
langsung nangkep satu yang paling
ngena. “Iya, bener! Gue lagi ada
masalah kerjaan!” Padahal dia
nembak lima tebakan, dan cuma satu
yang kena. Tapi lo inget yang kena,
dan lo lupa yang meleset. Nah, itu
yang namanya 
Shotgunning.

Simpelnya, Shotgunning adalah teknik
nembak banyak tebakan dengan
cepat, tanpa jeda, biar lawan bicara
lo nyangkut di satu atau dua yang
paling cocok. Pelaku nggak perlu
akurat. Dia cuma perlu nembak
banyak. Karena semakin banyak
yang dia tembak, semakin gede
peluang ada yang kena. Dan begitu
ada yang kena, lo bakal ngasih dia
kredit lebih. Lo bakal mikir,
“Wah, dia pinter banget baca gue.”
Padahal dia cuma main probabilitas.

Kenapa ini ampuh? Karena otak kita
itu nyari makna. Kita nggak bisa
denger serangkaian tebakan tanpa
ngecek mana yang cocok.
Dan begitu ada satu yang cocok,
otak kita langsung nyorot itu.
Kita lupa yang meleset. Kita cuma
inget yang kena. Ditambah lagi, kita
pengen ngerasa dimengerti. Jadi pas
ada yang keliatan ngerti kita, kita
langsung percaya. Kita nggak
ngecek berapa banyak yang salah.
Kita cuma fokus ke satu yang bener.

Contoh gampangnya gini. Lo lagi
ngobrol sama orang baru. Dia bilang,
“Lo tuh orangnya kalem, tapi kadang
bisa tegas. Lo suka mikir dulu
sebelum ngomong, tapi kadang
juga spontan. Lo punya mimpi yang
belum tercapai, tapi lo juga udah
capai banyak hal.” Lo langsung
mikir, “Iya ya, gue emang gitu.”
Padahal dia cuma nembak empat
kalimat. Dua atau tiga di antaranya
bisa cocok buat hampir semua orang.
Tapi lo nangkep yang paling ngena,
dan lo ngerasa dia ngerti lo.

Di dunia jualan juga gitu. Sales
yang pinter bisa bilang, “Bapak tipe
orang yang nggak suka dipaksa,
tapi juga nggak suka nunggu terlalu
lama. Bapak pengen yang praktis,
tapi tetap berkualitas. Bapak udah
coba banyak pilihan, tapi belum ada
yang pas.” Lo langsung ngerasa,
“Wah, dia paham kebutuhan gue.”
Padahal dia cuma nembak tiga
tebakan yang bisa dipake ke hampir
semua pembeli.

Cara pakainya gampang.
Pertama, siapin beberapa tebakan
yang luas. Jangan yang terlalu
spesifik. Misalnya, “Lo tipe yang
perhatian, tapi kadang lupa sama diri
sendiri.”
Kedua, tembak dengan cepat.
Jangan kasih jeda lama. Biar lawan
bicara lo nggak sempet mikir.
Ketiga, perhatiin reaksinya. Pas dia
ngerespon satu tebakan dengan
antusias, itu yang lo dalami.
Keempat, jangan berhenti di satu
tebakan. Terus tembak yang lain.
Biar dia makin yakin.

Tapi inget, teknik ini sering dipake
buat manipulasi. Jadi kalau ada yang
ngaku bisa baca masa depan lo, atau
ngaku tau banget sama lo padahal
baru kenal, curigalah. Cek dulu,
apakah dia nembak banyak tebakan
atau emang beneran spesifik. Kalau
banyak tebakan, berarti lo lagi kena
Shotgunning.

Jadi, Shotgunning, Rapid Fire
Guesses
 itu ibarat lo lagi mancing
di kolam yang penuh ikan.
Lo nggak perlu joran yang mahal.
Lo cuma perlu banyak kail.
Semakin banyak kail yang lo lempar,
semakin gede peluang ada ikan yang
nyangkut. Dan begitu ada satu yang
nyangkut, lo langsung keliatan
kayak pemancing hebat. Padahal
yang lain kosong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *